HESTIANTORO, A.
Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Published : 11 Documents
Articles

Found 11 Documents
Search

Perbandingan kadar interleukin-10 serum antara wanita hamil normal dan hamil dengan ancaman persalinan preterm SURYANA, H.; KAMPONO, N.; HESTIANTORO, A.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 30, No. 2, April 2006
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (155.542 KB)

Abstract

Tujuan: Membandingkan kadar interleukin-10 serum wanita hamil normal dan wanita hamil dengan ancaman persalinan preterm. Tempat: Poliklinik Kebidanan dan lantai III Instalasi Gawat Darurat, Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo, Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Bahan dan cara kerja: Penelitian ini menggunakan metode potong lintang, dinilai secara acak serentak 2 populasi yaitu kehamilan normal dan ancaman persalinan preterm dengan jumlah sampel masing-masing 26 pasien. Pemeriksaan kadar interleukin-10 serum dilakukan dengan metode ELISA. Hasil: Kadar interleukin-10 serum wanita yang mengalami ancaman persalinan preterm (8,28+6,87) pg/ml lebih tinggi bermakna dari kadar interleukin serum wanita hamil normal (4,00+2,40) pg/ml p
Evaluasi pasca Radiofrequency Thermal Ablation pada Mioma Uteri dan Adenomiosis DINATA, F.; WIWEKO, B.; HESTIANTORO, A.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 31, No. 2, April 2007
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (630.743 KB)

Abstract

Tujuan: Untuk mengetahui manfaat miolisis dengan radiofrequency thermal ablation terhadap mioma uteri dan adenomiosis. Tempat: RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Rancangan/rumusan data: Penelitian ini bersifat deskriptif. Bahan dan cara kerja: Delapan orang pasien yang menderita mioma uteri dan atau adenomiosis bergejala menjalani miolisis dengan radiofrequency thermal ablation baik transvaginal maupun per laparoskopik. Satu bulan pascaoperasi, pasien dievaluasi kembali ukuran massa dengan ultrasonografi dan perubahan gejala yang berkaitan dengan kedua patologi uterus tersebut. Hasil: Dari pasien yang diteliti, 5 pasien (62,5%) menderita adenomiosis, dan 3 pasien (37,5%) menderita mioma uteri. Rata-rata diameter dan volume massa paling besar per pasien berturut-turut adalah 4,6 cm (1,4 - 9,0) dan 694,3 cm3 (11,5 - 3061,8). Tujuh pasien (87,5%) mengeluh dismenorea, dan hanya 1 pasien mengeluh menorragia. Tiga pasien (37,5%) menjalani miolisis laparoskopik. Tidak terdapat komplikasi intraoperatif atau pascaoperatif. Rata-rata reduksi volume massa pada follow-up 1 bulan adalah 67,5%; reduksi mioma uteri mencapai 81,5%; sedangkan adenomiosis 59,1%. Pada follow-up tersebut, semua pasien menyatakan keluhan dismenorea atau menorragia menghilang. Kesimpulan: Pada penelitian pendahuluan ini, miolisis dengan radiofrequency thermal ablation telah berhasil mengurangi volume mioma uteri dan adenomiosis serta menghilangkan gejalanya. Diperlukan follow-up serial dan penelitian tambahan untuk menilai efikasi dan keamanan teknik ini. [Maj Obstet Ginekol Indones 2007; 31-2: 79-85] Kata kunci: mioma uteri, adenomiosis, miolisis, radiofrequency
Efek zat aromatase inhibitor dan GnRH agonis terhadap kadar Vascular Endothelial Growth Factor-A pada kultur jaringan endometriosis AS’ADI, A.S.; HESTIANTORO, A.; ARLENI, ARLENI
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 32, No. 1, January 2008
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan: Menganalisa efek zat aromatase inhibitor, GnRH agonis dan kombinasi keduanya terhadap kadar Vascular Endothelial Growth Factor-A (VEGF-A) pada kultur jaringan endometriosis dalam lingkungan kadar steroid seks yang berbeda. Tempat: RS Fatmawati, RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Klinik Kesehatan Reproduksi Raden Saleh Jakarta dan Laboratorium MAKMAL FKUI. Rancangan/rumusan data: Penelitian eksperimental. Bahan dan cara kerja: Selama kurun waktu Juni 2006 - April 2007, terkumpul 15 sampel jaringan endometriosis dari 15 pasien endometriosis. Sampel yang didapat berasal dari dinding kista endometriosis dan dari bercak-bercak endometriosis pada genitalia interna. Semua sampel diolah sesuai protokol yang dibuat. Ada 4 sampel (27%) yang berhasil tumbuh baik dalam medium kultur. Dari 4 sampel tersebut hanya 3 sampel yang mendapat perlakuan. Masing-masing sampel dibagi ke dalam 7 well dengan jumlah sel pada masing-masing well 7,1 - 9,1 x 103 sel/ml : well 1 ditambahkan Testosteron 100 nM/L, well 2 ditambahkan Testosteron 100 nM/L dan Estradiol 10 nM/L, well 3 ditambahkan Testosteron 100 nM/L, Estradiol 10 nM/L dan Letrozol (aromatase inhibitor) 10 nM/L, well 4 ditambahkan Testosteron 100 nM/L dan Letrozol 10 nM/L, well 5 ditambahkan Testosteron 100 nM/L, Letrozol 10 nM/L dan Leuprolide asetat (GnRH agonis) 100 ng/ml, well 6 ditambahkan Testosteron 100 nM/L dan Leuprolide asetat 100 ng/ml, well 7 tanpa perlakuan (kontrol). Setelah diinkubasi selama 72 jam, supernatannya diambil dan dilakukan pemeriksaan kadar VEGF-A dengan teknik ELISA. Hasil: Nilai median kadar VEGF-A yang paling tinggi terjadi pada pemberian Testosteron + Estradiol yaitu 20,228 pg/ml dan ini lebih tinggi bila dibandingkan kontrol yang hanya 9,233 pg/ml, maupun dengan sampel yang hanya diberikan Testosteron saja yaitu 9,944 pg/ml. Nilai median kadar VEGF-A pada sediaan yang diberikan Testosteron + Estradiol yaitu 20,228 pg/ml, bila dibandingkan dengan sampel yang mendapatkan perlakuan yang sama dan ditambahkan Letrozol (aromatase inhibitor) terjadi penurunan menjadi 14,205 pg/ml. Nilai median kadar VEGF-A pada sampel yang diberikan Testosteron + Letrozol (aromatase inhibitor) 16,335 pg/ml, Testosteron + Letrozol + Leuprolide asetat (GnRH agonis) 10,653 pg/ml dan Testosteron + Leuprolide asetat 11,364 pg/ml. Nilai terendah terjadi pada sampel yang diberikan Aromatase inhibitor + GnRH agonis. Kesimpulan: Nilai median kadar VEGF-A cenderung meningkat pada sampel yang diberikan Testosteron dan Estradiol. Nilai median kadar VEGF-A cenderung lebih rendah pada sampel yang diberikan kombinasi aromatase inhibitor dan GnRH agonis. [Maj Obstet Ginekol Indones 2008; 32-1: 11-21] Kata kunci: kultur jaringan endometriosis, testosteron, estradiol, letrozol, leuprolide asetat, VEGF-A, ELISA
Pengaruh Isoflavon Terhadap Profil Lipid pada Perempuan Menopause/pascamenopause LASMINI, P. S.; HESTIANTORO, A.; RACHMAN, I. A.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 30, No. 3, July 2006
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.261 KB)

Abstract

Tujuan: Untuk menentukan efek perubahan profil lipid pada perempuan menopause/pascamenopause yang diberi fitoestrogen (isoflavon). Tempat: Poliklinik Menopause RSCM/FKUI Jakarta. Rancangan/rumusan data: Uji klinis cara tersamar ganda dengan desain paralel tanpa matching. Bahan dan cara kerja: Selama kurun waktu April 2005 - September 2005, terkumpul 48 orang perempuan menopause/pascamenopause berusia < 65 tahun yang sehat, telah mengalami henti haid minimal selama 1 tahun dengan kadar FSH ≥ 30 mIU/L. Setelah dilakukan randomisasi sederhana dengan tabel random dan tersamar ganda, subjek penelitian dibagi dua kelompok, kelompok pertama diberi obat fitoestrogen isoflavon oral 100 mg/hari (2 x 50 mg), kelompok kedua diberi plasebo oral. Sebelum minum obat, diperiksa kadar lipid serum berupa kolesterol total, LDL kolesterol, HDL kolesterol dan trigliserida. Pemeriksaan kadar lipid serum kedua diperiksa setelah minum obat selama 12 minggu untuk melihat perubahan profil lipid setelah minum obat. Hasil: Dari 48 orang yang ikut penelitian, 2 orang dikeluarkan dari penelitian. Ditemukan kenaikan rerata kadar kolesterol total serum setelah 12 minggu pada kelompok obat sebesar -17,21 mg/dl (8,1%), tetapi secara statistik tidak bermakna. Pada kelompok plasebo sebesar -33,04 mg/dl (15%), secara statistik tidak bermakna. Pada kelompok obat ditemukan kenaikan kadar LDL sebesar -20,43 mg/dl, lebih sedikit dibanding kelompok plasebo sebesar -30,92 dan secara statistik bermakna setelah minum obat. Ditemukan penurunan kadar rerata HDL sebesar 3,99 mg/dl, secara statistik tidak bermakna pada kelompok obat setelah 12 minggu. Pada kelompok plasebo ditemukan kenaikan sebesar 1,40 dan tidak bermakna secara statistik. Pada kedua kelompok obat dan plasebo terdapat kenaikan rerata kadar trigliserida (secara statistik tidak bermakna) yaitu berturut-turut sebesar 3,54 mg/dl dan 4,16 mg/dl. Kesimpulan: Tidak ditemukan perubahan profil lipid pada pemberian isoflavon 100 mg/hari selama 12 minggu pada perempuan menopause/ pascamenopause yang sehat. [Maj Obstet Ginekol Indones 2006; 30-3: 156-63] Kata kunci: profil lipid, perempuan menopause/pascamenopause, isoflavon.
Hubungan antara Penyakit Radang Panggul Asimptomatik dengan Ekspresi Integrin αvβ3 Endometrium Fase Luteal Madya pada Wanita Infertil PRASOJO, S. D.; HESTIANTORO, A.; SURJANA, E.; INDARTI, J.; KUSUMA, F.; ENDARDJO, S.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 30, No. 4, October 2006
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (221.55 KB)

Abstract

Tujuan: Mengetahui gambaran integrin αvβ3 endometrium wanita infertilitas dan kaitannya dengan penyakit radang panggul (PRP) asimptomatik pada saat fase luteal madya. Rancangan: Penelitian kuantitatif dengan rancangan penelitian potong lintang. Bahan dan cara kerja: Penelitian dilakukan pada 32 orang pasien infertilitas yang datang ke klinik Yasmin RSCM kemudian dilakukan biopsi endometrium pada hari ke 19 - 21 dan pemeriksaan progesteron hari ke 21 siklus haid. Hasil biopsi dianalisa untuk dating endometrium, pemeriksaan imunohistokimia di Makmal terpadu RSCM - FKUI (Hasil pewarnaan dievaluasi untuk mendapatkan HSCORE) dan untuk penilaian endometritis histologik di Laboratorium Patologi FKUI. Hasil: Dari 32 sampel biopsi endometrium didapatkan ekspresi integrin αvβ3: (25%) dengan intensitas lemah, (50%) dengan intesitas sedang dan (25%) dengan intesitasnya kuat. Pada 16 (50%) sampel terbukti endometritis dengan 15 (93,8%) sampel ekspresi integrin αvβ3 endometrium adalah lemah - sedang dan 1 (6,3%) sampel ekspresi integrin αvβ3 endometrium adalah kuat, pada uji t tidak berpasangan didapatkan nilai t = -2,631; df = 30 dan nilai p = 0,013. Kesimpulan: Endometritis pada wanita infertilitas dengan PRP asimtomatik, mungkin memiliki hubungan dengan lemahnya ekspresi αvβ3 integrin endometrium pada populasi infertilitas wanita. [Maj Obstet Ginekol Indones 2006; 30-4: 229-33] Kata kunci: integrin αvβ3 endometrium, Penyakit radang panggul (PRP) asimptomatik, Infertilitas, Fase luteal madya
Gambaran Kadar Interleukin-6 Serum dan Sekret Serviks pada Wanita Infertilitas yang Dicurigai Menderita Penyakit Radang Panggul Subklinik SURJANA, E.; DHANASARI, N.K.Y.; HESTIANTORO, A.; ENDARDJO, S.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 30, No. 1, January 2006
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.64 KB)

Abstract

Tujuan: Mendapatkan gambaran kadar IL-6 serum dan sekret serviks pada kasus infertilitas yang terbukti mengalami Penyakit Radang Panggul dan bukan Penyakit Radang Panggul. Rancangan penelitian: Penelitian ini bersifat deskriptif dan dilakukan secara potong lintang. Sebanyak 20 wanita infertilitas tersangka PRP subklinik dilakukan pengambilan darah dan sekret servikal untuk diperiksa kadar IL-6 serum maupun sekret serviks serta dilakukan biopsiendometrium untuk menegakkan ada tidaknya PRP sesuai dengan kriteria Kiviat. Hasil: Rerata kadar IL-6 serum pada wanita yang terbukti PRP tidak menunjukkan perbedaan dengan yang tidak terbukti PRP (Rerata 2,56 vs 2,47 pg/ml; median 1,90 vs 1,95 pg/ml; minimum 0,80 vs 0,73 pg/ml;maksimum 10,65 vs 4,87 pg/ml dengan p=0,74) Sedangkan rerata kadar IL-6 sekret serviks pada wanita yagn terbukti PRP lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak terbukti PRP (Rerata (SD) 1275,8 (1073,9) vs 330,7 (178,2) pg/ml; kisaran 85,86 - 3928,86 vs 120,28 - 520,82 pg/ml dengan p= 0,016). Kesimpulan: Rerata kadar IL-6 sekret serviks pada wanita dengan PRP lebih tinggi dibandingkan pada wanita tanpa PRP. Sedangkan rerata kadar IL-6 serum pada wanita dengan PRP dan tanpa PRP tidak menunjukkan perbedaan. [Maj Obstet Ginekol Indones 2006; 30-1: 30-5] Kata kunci: IL-6, Penyakit Radang Panggul Subklinik, endometritis, sekret serviks. Objective: To obtain profile of IL-6 serum level and cervical secretes in infertility proved to have experienced pelvic inflammatory disease and not pelvic inflammatory disease. Design: This study was a descriptive, cross-sectional trial. As many as 20 infertile women suspected of subclinical PID (pelvic inflammatory disease) were submitted to blood taking and cervical secretes for the examination of IL-6 serum level and cervical secretes, and endometrial biopsy to confirm the presence or absence of PID in accordance with Kiviat criteria. Results: Mean IL-6 serum level in women with confirmed PID did not show any difference from that in women without confirmed PID (mean 2.56 vs 2.47 pg/ml; median 1.90 vs 1.95 pg/ml; minimum 0.80 vs 0.73 pg/ml; maximum 10.65 vs 4.87 pg/ml with p = 0.74. On the other hand, mean IL-6 level of cervical secretes in women with confirmed PID was higher than that in women without confirmed PID (mean (SD) 1275.8 (1073.9) vs 330.7 (178.2) pg/ml; range 85.86 - 3928.86 vs 120.28 - 520.82 pg/ml, with p = 0.016). Conclusion: Mean IL-6 level of cervical secretes in women with PID was higher than that in women without PID. On the other hand, means IL-6 serum level in women with PID and without PID did not show any difference. [Indones J Obstet Gynecol 2006; 30-1: 30-5] Keywords: IL-6, subclinical pelvic inflammatory disease, endometriosis, cervical secretes.
Profil siklus menstruasi dan kejadian ovulasi perempuan usia reproduksi pecandu heroin WIRIAWAN, W.; HESTIANTORO, A.; PRIHARTONO, J.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 32, No. 4, October 2008
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (39.695 KB)

Abstract

Tujuan: Mengetahui pola siklus menstruasi dan angka kejadian ovulasi perempuan usia reproduksi pecandu heroin dan diketahuinya sebaran angka kejadian ovulasi perempuan usia reproduksi pecandu heroin menurut pola siklus menstruasinya. Rancangan/rumusan data: Studi deskriptif dengan rancangan potong lintang. Bahan dan cara kerja: Selama kurun waktu Januari sampai Juni 2007 dilakukan pengumpulan data terhadap 40 responden yang diambil secara consecutive sampling di RSKO Fatmawati dan beberapa puskesmas di Jakarta. Semua responden dilakukan wawancara mengenai pola siklus menstruasi tiga bulan sebelumnya dan dilakukan pemeriksaan kadar progesteron pada fase luteal madya. Hasil: Subjek yang diteliti berjumlah 40 perempuan usia reproduksi pecandu heroin yang berusia antara 20 sampai 40 tahun dengan rata-rata usia responden 26 (20 - 37) tahun. Rata-rata lamanya menggunakan heroin 7,1±3,1 tahun, sedangkan rerata usia responden pertama kali menggunakan heroin adalah 18 (13 - 31) tahun. Pola menstruasi yang didapatkan yaitu oligomenorea sebesar 67,5 %, siklus normal 22,5 %, dan amenorea sebesar 10 %. Pada penilaian kadar progesteron fase luteal madya didapatkan siklus menstruasi yang tidak berovulasi sebesar 77,5 % dan siklus yang berovulasi sebesar 22,5 %. Tidak ada perbedaan yang bermakna secara statistik (p > 0,005) di antara kelompok faktor risiko umur, lama pemakaian heroin, jumlah paritas, dan indeks massa tubuh mengenai gangguan ovulasi pada perempuan pecandu heroin. Kesimpulan: Pola menstruasi perempuan usia reproduksi pecandu heroin yang terbanyak adalah oligomenorea (67,5 %) dengan siklus yang berovulasi sebesar 26 %. [Maj Obstet Ginekol Indones 2008; 32-4: 223-8] Kata kunci: heroin, usia reproduksi, siklus menstruasi, ovulasi.
Korelasi antara Hormon Reproduksi dengan Tampilan Integrin Endometrium pada Wanita dengan Infertilitas SURJANA, E.; SANTY, D.; HESTIANTORO, A.; INDARTI, J.; KUSUMAH, F.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 30, No. 2, April 2006
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.305 KB)

Abstract

Tujuan: Untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara hormon reproduksi terhadap tampilan integrin endometrium. Tempat: Klinik Yasmin bagian Obstetri dan Ginekologi RSCMFKUI. Rancangan/rumusan data: Penelitian ini bersifat klinis retrospektif. Bahan dan cara kerja: 53 orang wanita usia antara 20-40 tahun. Pada semua pasien dilakukan biopsi endometrium pada fase sekresi dan pemeriksaan hormon FSH, LH, Prolaktin, estradiol dan progesteron, dan tampilan integrin dari biopsi endometrium dianalisa dengan pemeriksaan imunohistokimia. Hasil: Nilai rerata tampilan integrin pada penelitian ini 1,3. Dan didapatkan angka korelasi progesteron terhadap tampilan integrin endometrium 0,285 dengan nilai probabilitas 0,04 dan koefisien determinasi 0,081. Kadar hormon FSH, LH, Prolaktin dan estradiol tidak bermakna terhadap tampilan integrin. Kesimpulan: Terdapat hubungan positif antara kadar hormon progesteron terhadap tampilan integrin endometrium di fase luteal madya. Diperlukan adanya faktor-faktor lain untuk memperkuat nilai prediktor hormon progesteron. [Maj Obstet Ginekol Indones 2006; 30-2: 112-5] Kata kunci: integrin, FSH, LH, Estradiol, Progesteron, Infertilitas, Jendela implantasi.
Pemeriksaan Antigen pp65 dan mRNA pp67 Cytomegalovirus (CMV) Pada Wanita Hamil dengan IgG anti-CMV positif di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta UTAMI, T. W.; HESTIANTORO, A.; BUSTAMI, A.; SURJANA, E. J.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 30, No. 4, October 2006
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.854 KB)

Abstract

Tujuan: Mengetahui proporsi seropositif CMV pada wanita hamil dengan riwayat abortus dan gambaran hasil pemeriksaan antigen pp65 CMV, mRNA pp67 CMV, serta kesesuaiannya pada wanita hamil dengan IgG anti-CMV yang positif. Rancangan/rumusan data: Studi deskriptif. Kesesuaian hasil pemeriksaan antara antigen pp65 dan mRNA pp67 CMV dinilai dengan menghitung nilai kappa (k). Tempat: (1) IGD lantai III dan Poliklinik kebidanan dan kandungan RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta, (2) Bagian Mikrobiologi dan (3) Makmal Terpadu Imunoendokrinologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta. Bahan dan cara kerja: Sampel berasal dari darah wanita hamil dengan riwayat abortus dan darah tali pusat janin yang dilahirkan. Pemeriksaan IgM dan IgG CMV dilakukan dengan metode ELISA, pemeriksaan antigen pp65 CMV dengan teknik imunohistokimia, dan pemeriksaan mRNA pp67 CMV dengan teknik NASBA. Hasil: Selama kurun Januari - Juni 2005, terkumpul 50 sampel yang berasal dari 25 subjek; terdiri dari 25 darah ibu dan 25 darah janin. Seluruh (100%) wanita hamil dengan riwayat abortus dalam penelitian ini memberikan hasil IgG antiCMV yang positif. Tidak ada subjek dengan IgM anti-CMV yang positif. Pada pemeriksaan antigen pp65 CMV terdapat 6% hasil yang positif, yaitu 2% dari sampel ibu dan 4% sampel tali pusat. Tidak terdapat hasil yang positif pada pemeriksaan NASBA mRNA pp67 CMV. Terdapat 26% sampel, yaitu 12% sampel ibu dan 14% sampel janin dengan hasil mRNA pp67 CMV tidak dapat ditentukan. Kesimpulan: Proporsi seropositif IgG anti-CMV pada wanita hamil dengan riwayat abortus dalam penelitian ini adalah sangat tinggi. Pada pemeriksaan antigen pp65 CMV terdapat 6% hasil yang positif. Tidak ada hasil mRNA pp67 CMV yang positif. Penelitian ini menunjukkan bahwa pada individu yang imunokompeten, jarang sekali terjadi reaktivasi sehingga risiko infeksi CMV kongenital adalah kecil. Dalam penelitian ini tidak terdapat kesesuaian hasil antara pemeriksaan antigen pp65 dan NASBA mRNA pp67 CMV, dengan nilai kappa 0%. [Maj Obstet Ginekol Indones 2006; 30-4: 203-12] Kata kunci: antigen pp65, mRNA pp67 CMV, IgG anti-CMV, wanita hamil, riwayat abortus.
Tampilan integrin ανβ3 endometrium pada wanita infertil dengan penyakit radang panggul subklinik SURJANA, E.; AFRIANA, N.; HESTIANTORO, A.; INDARTI, J.; KUSUMAH, F.; PRATAMA, G.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 30, No. 2, April 2006
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.118 KB)

Abstract

Tujuan: Diketahuinya tampilan integrin ανβ3 pada wanita infertil dengan penyakit radang panggul (PRP). Rancangan/rumusan data: Penelitian bersifat klinis retrospektif. Bahan dan cara kerja: Penelitian dilakukan pada 52 orang pasien infertilitas dengan penyakit radang panggul subklinik yang datang ke klinik Yasmin RSCM. Dilakukan biopsi endometrium pada hari ke 20- 24 siklus haid. Hasil biopsi dianalisa dengan pemeriksaan imunositokimia di Makmal terpadu RSCM-FKUI. Hasil pewarnaan dievaluasi untuk mendapatkan HSCORE. Hasil: Didapatkan 26 sampel (50%) dengan intensitas lemah, 16 sampel (30,7%) dengan intensitas sedang, 5 sampel (9,6%) dengan intensitas kuat dan 3 sampel (5,7%) dengan intensitas sangat kuat. Kesimpulan: Intensitas tampilan integrin endometrium yang rendah pada 50% pasien infertilitas dengan penyakit radang panggul subklinik, menunjukkan kemungkinan adanya kaitan sebab-akibat antara penyakit radang panggul dan kejadian infertilitas. [Maj Obstet Ginekol Indones 2006; 30-2:116-9] Kata kunci: integrin ανβ3, reseptivitas endometrium, hidrosalping, imunositokimia.