Sadhotomo, Bambang
Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Published : 20 Documents
Articles

Found 20 Documents
Search

POPULATION DYNAMICS OF THE MAIN PELAGIC SPECIES EXPLOITED IN THE JAVA SEA: BIOLOGICAL PARAMETERS ESTIMATES Sadhotomo, Bambang
Indonesian Fisheries Research Journal Vol 12, No 1 (2006): (June 2006)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (13597.866 KB) | DOI: 10.15578/ifrj.12.1.2006.37-63

Abstract

several sets of length frequency data (1991 to 1995) of the six species were used to estimate the growth parameters and to discuss the results in relation to possible influence of data structure on the parameter estimates
POPULATION DYNAMICS OF THE MAIN PELAGIC SPECIES EXPLOITED IN THE JAVA SEA: STOCK EVALUATION Sadhotomo, Bambang
Indonesian Fisheries Research Journal Vol 12, No 1 (2006): (June 2006)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10844.075 KB) | DOI: 10.15578/ifrj.12.1.2006.65-90

Abstract

This study was based on length composition data collected from purse seine fleets operating in the Java Sea, and aimed to elaborate the state ofthe stock of the main species.
PERKEMBANGAN KEMATANGAN GONAD IKAN BENTONG, Selar crumenophtalmus (CARANGIDAE) DI LAUT JAWA Suwarso, Suwarso; Sadhotomo, Bambang
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 1, No 2 (1995): (Vol.1 No.2 1995)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.1.2.1995.77-88

Abstract

Kajian mengenai perkembangan karakteristik kematangan gonad ikan bentong(S.crumenophtalmus) didasarkan pada hasil pengamatan mikroskopis dan visual terhadaf gonad (ovarium) serta pengukuran nilai indcks gonad telah dilakukan.
KETERKAITAN FAKTOR OSEANOGRAFI DENGAN SUMBER DAYA IKAN PELAGIS Sadhotomo, Bambang; Nurhakim, Subhat
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 6, No 3-4 (2000): (Vol.6 No.3-4 2000)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.6.3-4.2000.1-9

Abstract

Berlandaskan anggapan bahwa sumber daya ikan pelagis kecil menempati wilayah perairan yang luas, mencakup perairan Laut Flores, sehingga peningkatan produksi ikan masih layak dilaksanakan. Berbasis pada data survai akustik dan oseanografi yang dikumpulkan pada bulan November 1999, penelitian ini bertujuan merangkum berbagai informasi mengenai dinamika spasial agregasi ikan dan hubungannya dengan karakteristik perairan yang diperlukan dalam pengembangan penangkapan.
DINAMIKA POPULASI IKAN SWANGGI (Priacanthus tayenus) DI PERAIRAN TANGERANG – BANTEN Prihatiningsih, Prihatiningsih; Sadhotomo, Bambang; Taufik, Muhamad
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 5, No 2 (2013): (Agustus 2013)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (427.411 KB) | DOI: 10.15578/bawal.5.2.2013.81-87

Abstract

Ikan swanggi merupakan ikan ekonomis dan ekologis penting dan statusnya di perairan belum terevaluasi dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan, umur dan mortalitas ikan swanggi yang dapat memberikan kontribusi terhadap pengelolaan sumber daya ikan yang berkelanjutan dan lestari. Data frekuensi panjang dan berat ikan pada Januari – Desember 2012 diperoleh dari perairan Tangerang dan sekitarnya berasal dari hasil tangkapan jaring cantrang. Sebaran frekuensi panjang ikan dipisahkan kedalam sebaran normal menggunakan metode Bhattacharya. Hubungan panjang-berat ikan swanggi jenis jantan dan betina bersifat allometrik negatif dan memiliki faktor kondisi yang baik (k=1,26). Rata-rata ukuran pertama kali tertangkap ikan swanggi (Lc=20,84 cm) lebih besar dibandingkan dengan ukuran pertama kali matang gonad (Lm=16,03 cm). Ikan swanggi dapat tumbuh hingga mencapai panjang infinitive (L∞) = 32,34 cm dengan laju pertumbuhan (K) sebesar 0,91 tahun-1 dan nilai dugaan umur teoritis pada saat panjang ikan sama dengan nol (t0) adalah 0,14 tahun-1. Panjang maksimal ikan swanggi  diduga berumur 3,5 tahun dan rata-rata panjang ikan pertama kali matang gonad (Lm) diduga berumur 0,75 tahun. Mortalitas alami (M) ikan swanggi adalah 1,67, mortalitas karena penangkapan (F) 0,83, mortalitas total (Z) 2,50 dan tingkat eksploitasi (E) sebesar 0,33 yang berarti pemanfaatannya masih dapat ditingkatkan sekitar 34% dari keadaan saat ini. The purple spotted bigeye an economically and ecologically important fish and status  in the waters have not been evaluated well. This research was aimed to understand the growth, age and mortality of the purple spotted bigeye. It was hoped that the results of this research can be contributed in sustainable fisheries management. The  length frequency data and weight of fish in January - December 2012 was obtained from Tangerang and surrounding waters derived from trawl’s catch,. The size distribution of the fish was divided into normal distribution by using Battacharya Method. Length weight relationship of the male and female fish were negative allometric and has a good condition factor (K=1,26). The average length at first capture of the purple spotted bigeye (Lc = 20,84) was higher than the average length at first maturity (Lm=16,03). The purple spotted bigeye can grow into infinitive length of (L∞) = 32,34 cm with growth rate (K) of 0,91 year-1 and (t0) value of 0,14 year-1. The maximum length of the fish was predicted reach at age of 3,5 years with the average length of first maturity predicted reach at age 0,75 years. Natural mortality value (M) of the purple spotted bigeye was 1,67; fishing mortality (F) value was 0,83; total mortality value (Z) was 2,5 and exploitation rate (E) was at 0,33 which mean utilization can be improved about 34% from the current state.
SEJARAHPERKEMBANGANRISETDANPERIKANANPELAGISKECILDI LAUTJAWA Sadhotomo, Bambang
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 1, No 6 (2007): (Desember 2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2156.093 KB) | DOI: 10.15578/bawal.1.6.2007.221-231

Abstract

Tulisan ini merupakan review perkembangan perikanan pelagis kecil di Laut Jawa, dan rangkuman ringkas hasil penelitian dalam 2 dasawarsa terakhir. Evolusi perikanan tangkap terjadi sampai dengan tahun 1970, dan perubahan cepat dalam teknik dan strategi penangkapan berlangsung sesudah awal dekade tahun 1980. Perkembangan fase ke-2 memicu kenaikan upaya penangkapan secara drastis, sampai dengan melampaui batas optimum. Kajian stok selalu menghadapi kendala dalam pembakuan upaya penangkapan, masalah yang berhubungan dengan migrasi dan unit stok serta variabilitasi lingkungan dalam jangka panjang.
PERKEMBANGAN PERIKANAN PELAGIS KECIL DI TELUK TOMINI: Suatu Pendekatan ke Arah Manajemen yang Bertanggung jawab Suwarso, Suwarso; Sadhotomo, Bambang; Wudianto, Wudianto
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 1, No 6 (2007): (Desember 2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (815.602 KB) | DOI: 10.15578/bawal.1.6.2007.233-244

Abstract

Kajian yang bersifat desk study telah dilakukan untuk memperoleh data dan informasi yang dapat bermanfaat sebagai pertimbangan dalam strategi pengelolaan perikanan pelagis kecil yang tepat dan bertanggungjawab di Teluk Tomini. Kajian stok tahun 2003 sampai dengan 2004 di daerah ini yang dilaksanakan oleh Balai Riset Perikanan Laut menjadi bahan utama, dilengkapi dengan hasil observasi dan monitoring terkini (tahun 2005) serta pustaka yang tersedia. Kondisi perikanan tetap bersifat skala kecil dengan ukuran armada penangkap <30 GT, terdiri atas perikanan payang atau pajala yang beroperasi di sekitar pantai dan pukat cincin mini yang beroperasi di daerah penangkapan lebih jauh di perairan Sulawesi Tengah. Tingkat eksploitasi dipertimbangkan aman, kendati upaya penangkapan berjalan cukup intensif. Kondisi lingkungan yang baik dan spesifik serta status perikanan yang berjalan saat ini dimungkinkan dapat menjamin kelestarian sumber daya yang dapat menjamin kelangsungan hasil tangkapan. Meski penambahan upaya (jumlah kapal ukuran <30 GT) dapat disarankan, namun pengelolaan secara terpadu yang melibatkan daerah-daerah otonomi sekitar dan pengelolaan bertanggungjawab yang berbasis kelestarian habitat. Hal-hal menyangkut sistim monitoring perikanan juga diuraikan.
DINAMIKA SPASIAL PERIKANAN PUKAT CINCIN DI LAUT JAWA DAN SAMUDERA HINDIA Atmaja, Suherman Banon; Natsir, Muhamad; Sadhotomo, Bambang
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 18, No 2 (2012): (Juni) 2012
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.18.2.2012.69-76

Abstract

Nelayan mempunyai kemampuan yang fleksibel dan adaptif dalam usaha perikanan. Mereka terus menerus dihadapkan pada suatu situasi perubahan lingkungan eksternalnya, seperti cuaca, perubahan harga ikan dan akses terhadap sumber daya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberlanjutan perikanan purse seine terjadi melalui ekspansi daerah penangkapan. Kini daerah operasi pukat cincin tidak hanya terbatas di wilayah teritorial dan perairan Nusantara tetapi sudah sampai ke perairan Samudera. Rata-rata CPUE (tawur) terendah dijumpai di perairan Laut Jawa bagian timur, yakni 1,4 ton per tawur dan hasil tangkapan didominasi oleh ikan pelagis kecil, sedangkan CPUE (tawur) yang tertinggi diperoleh di Selatan Pulau Jawa bagian timur, dimana hasil tangkapan didominasi oleh ikan pelagis besar. Walaupun CPUE (jumlah hari di daerah penangkapan) menunjukkan aktivitas penangkapan di Samudera Hindia namun kerapkali operasi penangkapan dipengaruhi oleh kondisi cuaca yang buruk. Sementara itu, kapal yang masih beroperasi di Laut Jawa dan sekitarnya dalam menghadapi ketidakpastian dan rendahnya peluang keberhasilan, melakukan perpanjangan masa melaut dari rata-rata sebulan menjadi dua hingga empat bulan.Fishermen have flexible and adaptive ability in the fisheries business. They are constinuosly faced with a situation change of external environment, such as weather, fish prices and access to the fish resources. The research indicated that the sustainability of purse seine fisheries due to the expansion of fishing ground. The purse seine operation was not only limited in the territory and territorial waters of the archipelago, but also to the Ocean. The lowest average of catch per haul found in the waters of the eastern part of Java Sea around 1,4 ton/haul which was dominated by small pelagic fish. While the highest CPUE was obtained in the South eastern part of Java Island and the catch was dominated by large pelagic fish. Although CPUE (number of day in the fishing ground) indicates the activity of fishing in the Indian Ocean, their operation was often influenced by bad weather conditions. Meanwhile, the vessels still operate in the Java Sea and its adjacent waters in the face of uncertainty and low probability of success, they do extension of the day at sea from an average of one month to two until four months.
AKTIVITAS KAPAL PUKAT CINCIN SIBOLGA TAHUN 2002-2005 DAN LAJU TANGKAP PUKAT RAPAT DAN PUKAT JARANG PADA PERIODE BULAN JANUARI–JULI 2005 (PASCA TSUNAMI) Hariati, Tuti; Sadhotomo, Bambang
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 13, No 3 (2007): (Desember 2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.13.3.2007.179-190

Abstract

Sumber daya ikan pelagis di perairan barat Sumatera dimanfaatkan antara lain oleh armada pukat cincin di Sibolga, menggunakan 2 jenis pukat antara lain pukat rapat yang berukuran mata jaring 1 inci pada bagian kantung, adalah untuk menangkap ikan pelagis kecil, dan pukat jarang yang berukuran mata jaring 3 inci untuk menangkap ikan pelagis besar. Dalam 1 trip hanya dioperasikan 1 jenis pukat. Tujuan riset adalah untuk memperoleh informasi upaya penangkapan (jumlah trip) selama tahun 2002 sampai dengan 2005; serta hasil tangkapan, jumlah hari di laut dan laju tangkap pukat cincin Sibolga pada periode bulan Januari sampai dengan Juli 2005 (pasca Tsunami). Data hasil tangkapan dan jumlah hari di laut 13 kapal contoh dikumpulkan dari salah satu tangkahan, lalu di rise terhadap total jumlah trip untuk memperoleh dugaan hasil tangkapan kapal pukat cincin di seluruh Sibolga. Hasil riset menunjukkan, pada tahun 2004 di Sibolga terjadi penurunan jumlah trip kapal pukat cincin yang tajam dibandingkan pada tahun 2002 dan 2003. Pada tahun 2004 beberapa kapal pukat cincin Sibolga tidak dapat melaut karena belum memiliki surat perpanjangan izin beroperasi. Pada bulan Januari dan Pebruari 2005 penurunan aktivitas berlanjut karena ada kerusakan tangkahan dan armada akibat Tsunami dan gempa, sedangkan pada pertengahan tahun terjadi kenaikan jumlah trip dari kapal yang sudah memperoleh perpanjangan izin. Bulan September sampai dengan Desember tahun 2005 penurunan aktivitas terutama disebabkan oleh kelangkaan dan naik harga bahan bakar minyak sehingga biaya operasi semakin tinggi. Selama periode bulan Januari sampai dengan Juli 2005, meningkat laju tangkap pukat rapat dan pukat jarang diduga akibat dari turun jumlah hari di laut ke-2 jenis pukat tersebut. Jenis-jenis ikan yang tertangkap sesudah Tsunami sama dengan sebelum. The pelagic resources from the waters of western Sumatera were exploited among other thing purse seiner fleet of Sibolga. Two kinds of seine were used; pukat rapat (1 inch mesh size in the bag part) to catch small pelagic fishes, and pukat jarang (3 inches mesh size) to catch some big pelagic fishes. During one trip only one kind of seine was used. The aim of this research was to get the information of the efforts (number of trip) during years 2002 until 2005, and the catch, days at sea, and catch rate of Sibolga’s purse seiners in the periods of January until July 2005 (after Tsunami disaster). Catch by the species, number of trip, as well as days at sea data of the 13 unit of purse seiners of a private landing site were collected, then they were rised to the total number of trip in Sibolga, to estimate the total catch of the purse seiners in Sibolga. The result shows that during the year of 2004 the activities (trip) of the purse seiners decreased sharply, since several of purse seiners which had not got the recent document of permission could not go fishing. During January and February 2005, declining of the activities were continued since Tsunami and earth quake disaster had destroyed landing site and vessels. The rising of operational cost from September to December 2004 which were caused by the rareness of oil and rising of oil price had also decreased the number of active vessel. It was estimated that during the period of January until July 2005, the rise of catch rates of both pukat rapat and pukat jarang was caused by the decrease of days at sea. The species of fishes caught after Tsunami disaster were still the same with species of fishes caught before.
EVALUASI STOK KEPITING BAKAU Scylla serrata (Forskal, 1775) DI PERAIRAN PATI DAN SEKITARNYA SERTA OPSI PENGELOLAANNYA Ernawati, Tri; Kembaren, Duranta Diandria; Sadhotomo, Bambang
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 22, No 2 (2016): (Juni 2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Eksploitasi kepiting bakau secara berlebihan berdampak pada penurunan populasi kepiting bakau sehingga keberlanjutan stok akan terancam. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji status stok kepiting bakau di perairan Pati serta kemungkinan pengelolaannya. Penelitian dilakukan pada April-Desember 2015. Data-data parameter pertumbuhan, rata-rata matang gonad, rata-rata pertama kali tertangkap dan lain-lain sebagai bahan input untuk analisa SPR dan Y/R telah diperoleh pada hasil penelitian sebelumnya. Analisa data dilakukan dengan SPR (Spawning Potential Ratio), Y/R (Yield per Recruit) dan B/R (Biomass per Recruit). Hasil analisa diperoleh SPR sebesar 7%, Y/R sebesar 55,03 gram per recruit (g/r) dan tersisa biomasa per recruit (B/R) sebesar 7,9% dari biomassa virgin. Pada F0.1 dengan nilai F sebesar 1,56 diperoleh Y/R sebesar 49 (g/r) dan tersisa B/R sebesar 15% dari biomassa virgin. Hasil-hasil tersebut menunjukkan bahwa status stok kepiting bakau di perairan sekitar Pati telah mengalami lebih tangkap. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya-upaya yang tepat dan rasional dalam pengelolaan, diantaranya dengan penutupan area penangkapan di nursery ground agar kepiting-kepiting muda memiliki peluang untuk tumbuh dewasa, pengurangan upaya penangkapan sebesar 30 – 43% dari upaya yang ada dan penentuan ukuran minimal yang tertangkap pada lebar karapas sebesar 12 cm.