Priatna, Asep
Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Published : 11 Documents
Articles

Found 11 Documents
Search

POLA SEBARAN IKAN PELAGIS DAN KONDISI OSEANOGRAFI DI WILAYAH PENGELOLAAN PERIKANAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA 715 (WPP NRI 715) PADA MUSIM PERALIHAN BARAT Mamun, Asep; Priatna, Asep; Herlisman, Herlisman
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 24, No 3 (2018): (September) 2018
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (282.039 KB) | DOI: 10.15578/jppi.24.3.2018.197-208

Abstract

Nelayan penangkap ikan yang efektif membutuhkan informasi sumberdaya ikan dan pola penyebarannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola sebaran sumber daya ikan yang dikaitkan dengan kondisi oseanografi WPP-NRI 715. Analisis dilakukan berdasarkan kombinasi metode hidroakustik dan profiling CTD pada stasiun oseanografi yang dirancang secara parallel pada jarak tertentu di lintasan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan, estimasi ukuran ikan pelagis yang terdeteksi didominasi oleh ukuran kecil. Ikan pelagis kecil yang terdeteksi didominasi ukuran ikan antara 12-14 cm dan ikan pelagis besar ukuran ikan 28-31 cm. Kepadatan ikan pelagis kecil cenderung menurun dengan rerata faktor 0,4 dengan bertambahnya kedalaman, sebaliknya meningkat dengan rerata faktor 1,7 untuk ikan pelagis besar. Pada saat observasi, dikawasan perairan Laut Maluku bagian timur diindikasikan terjadinya upwelling ditandai dengan suhu rendah, salinitas tinggi, dan klorofil tinggi. Ikan pelagis besar lebih banyak ditemukan pada lokasi yang memiliki karakteristik suhu dan DO yang relatif lebih tinggi sedangkan salinitas lebih rendah dibandingkan dengan lapisan air yang didominasi ikan pelagis kecil. Informasi pola sebaran ikan pelagis ini diharapkan dapat dijadikan rujukan bagi pelaku perikanan tangkap dan masukan untuk bahan perumusan kebijakan pengelolaan perikanan tangkap yang berkelanjutan.Effective commercial fishers need information on fish resources and their distribution pattern. This study aims to determine distribution of fish resources in Indonesian FMA 715 through tracking hydroacoustic method and CTD profiling at stations within regular distances. The results showed that the estimated size of pelagic fish was dominated by small size fish groups. Small pelagic fish were detected at the size ranged between 12-14 cm and large pelagic fish was dominated by the size of 28-31cm. The density of small pelagic fish decreases with depth with average factor of 0.4, while the large pelagic fish with average factor of 1.7.  An indicated upwelling incidence was likely occurred in the eastern part of Mollucas sea region, which were characterized by the low temperature, high salinity and high chlorophyll concentrations. Large pelagic fish were more occasionally found in locations with relatively higher temperature, DO characteristics and lower salinity compared with small pelagic fish. Information on the distribution pattern of pelagic fish is expected to be used as a reference for capture fishermen and inputs in formulating the policy the sustainable fisheries management.
DISTRIBUSI UKURAN PANJANG DAN PARAMETER POPULASI LOBSTER LUMPUR (Panulirus polyphagus Herbst, 1793) DI PERAIRAN SEBATIK, KALIMANTAN UTARA (WPPNRI-716) Chodrijah, Umi; Priatna, Asep; Nugroho, Duto
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 24, No 1 (2018): (Maret 2018)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (113.127 KB) | DOI: 10.15578/jppi.1.1.2018.11-23

Abstract

Sumberdaya udang barong lumpur (Panulirus polyphagus Herbst, 1793) atau dalam bahasa lokal dikenal sebagai lobster Pakistan telah dimanfaatkan sebagai salah satu komoditas yang bernilai ekonomis di perairan pulau Sebatik, Kalimantan Utara. Data statistik perikanan menunjukkan produksi udang barong di perairan Timur Kalimantan tahun 2005 – 2015 meningkat pesat dengan kelipatan 10 kalinya. Terkait dengan fenomena tersebut, penelitian tentang aspek biologi populasi telah dilakukan pada bulan Maret sampai dengan November 2016. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan parameter populasi sebagai landasan untuk mengetahui status stok pada tingkat pemanfaatan terkini. Hasil penelitian menunjukkan udang betina tertangkap pada ukuran rata-rata 86,9+ 8,58 mmCL sedangkan udang jantan pada ukuran 81,5 + 9,63 mmCL. Pola pertumbuhan udang jantan dan betina bersifat allometrik negatif (b<3). Estimasi panjang asimtotis (CL) sebesar 124,1 mm dengan laju pertumbuhan (K) 0,598/tahun. Rata-rata ukuran pertama tertangkap (CLc) adalah 84,5 mmCL. Nilai tersebut lebih rendah dari pertama kali matang gonad (CLm) sebesar 90,74 mmCL. Laju kematian total (Z) sebesar 2,26/tahun, laju kematian alamiah (M) 0,87/tahun serta laju kematian akibat penangkapan (F) 1,39/tahun. Estimasi laju eksploitasi cenderung mengarah kepada penangkapan berlebih (E = 0,61), oleh karena itu perlu dilakukan tindakan pengelolaan melalui pendekatan pengendalian upaya penangkapan dan pembatasan ukuran minimum yang boleh ditangkap. Mud spiny lobster (Panulirus polyphagus Herbst, 1793) or locally known as Pakistan lobster has been exploited as an important economic species in the waters of Sebatik Island, North Kalimantan. The best available capture fisheries statisticon 2005-2015 indicates the production of marine lobster were significantly increased by 10. Based on this phenomenon, observations on biological aspects were carried out during period of March to November 2016. The aim of this study were to estimate of stock status under existing fisheries condition. The result showed that the average size of females was 86.9+ 8.58 cmCL and males was 81.5 + 9.63 mmCL. The growth pattern indicates allometric negative (b<3). Population parameter performed by length based analysis indicates that asymptotic length (CL) was 124.1 mmCL with growth rate (K) of 0.598/yr.The average size of first capture (Lc) was estimated at 84.5 mmCL. This value was less than average size of first mature (CLm) of 90.7 cmCL.The predicted annual total mortality rates (Z) was 2.26/yr, the natural mortality (M) was 0.87/yr, and fishing mortalities (F) was 1.39/yr. The exploitation rates (E) of 0.61 tend to be beyond the sustainable exploitation level. To reduce the fishing mortality, the initiative of specific local management plan on restructuring active fleet and establishing minimum legal size should be implemented. 
DISTRIBUSI DAN POTENSI SUMBER DAYA IKAN PELAGIS DI WILAYAH PENGELOLAAN PERIKANAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA 573 (WPP NRI 573) SAMUDERA HINDIA Mamun, Asep; Priatna, Asep; Hidayat, Thomas; Nurulludin, Nurulludin
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 23, No 1 (2017): (Maret, 2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.964 KB) | DOI: 10.15578/jppi.23.1.2017.47-56

Abstract

Pengelolaan perikanan tangkap yang lestari membutuhkan informasi potensi dan pola penyebaran sumber daya ikan yang dimanfaatkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi dan potensi sumber daya ikan pelagis di WPP NRI 573 (perairan Samudera Hindia) dengan metode akustik. Hasil penelitian menunjukan, penyebaran densitas cukup tinggi untuk ikan pelagis ditemukan di perairan selatan Pangandaran hingga wilayah Jogjakarta. Sumber daya ikan pelagis kecil yang terdeteksi didominasi oleh ukuran ikan dengan kisaran panjang antara 25-28 cm dan ikan pelagis besar di dominasi oleh ukuran ikan 28-31 cm. Nilai rata-rata kepadatan stok untuk ikan pelagis kecil 0,041 ton/km2 dan ikan pelagis besar sebesar 0,14 ton/ km2. Potensi lestari ikan pelagis kecil sebesar 292.092 ton/tahun dan ikan pelagis besar sebesar 505.941 ton/tahun. Nilai tersebut dapat dijadikan dasar dalam upaya pengelolaan dan pemanfaatan perikanan pelagis.The sustainable management is needed information on the stock and distribution pattern of fish.This study aims to determine distribution and potential of fish resources especially for pelagic species in FMA 573 (Indian Ocean) by using acoustic method. Result of research indicated that, high density for pelagic fish found in south Pangandaran to Jogjakarta. The results obtained also that, the detected small pelagic fish were dominated by the fish size ranged between 25-28 cm and large pelagic fish was dominated by fish size of 28-31cm.The average of the stock density for small pelagic fish was 0,041 ton/km2 and large pelagic fish of 0.14 ton/km2.The sustainable potential of the small pelagic fish amounted to 292.092 ton/year and the large pelagic fish amounted to 505.941 ton/year. These values can be used as the basic management and utilization of pelagic fisheries in the waters region.
DISTRIBUSI SPASIALDANTEMPORALPLANKTON DI PERAIRANTELUKTOMINI, SULAWESI Setyadji, Bram; Priatna, Asep
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 3, No 6 (2011): (Desember 2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.608 KB) | DOI: 10.15578/bawal.3.6.2011.387-395

Abstract

Planktonmerupakan komponen penting dalamkehidupan akuatik karena fungsi biologisnya yang penting sebagaimata rantai paling dasar dalam rantai makanan dan merupakan organisme yang menduduki kunci utama di dalam ekosistem bahari. Penelitian ini dilakukan pada bulanMei, Juli, dan Nopember 2010 yangmewakili musimperalihan I, musim timur dan musim barat dengan tujuan mengetahui distribusi kelimpahan spasial dan temporal fitoplankton dan zooplankton di Teluk Tomini. Kelimpahan fitoplankton dan zooplankton tertinggi terdapat pada musim barat sebesar 177.666 sel/m3 dan 7.088 ind/m3, sedangkan terendah pada musim timur sebesar 4.878 sel/m3 dan 1.118 ind/ m3. Tingkat indek keaneka-ragaman (H) baik fitoplankton dan zooplankton sedang, indek keseragaman (E) rendah hingga sedang, dan tidak ditemukan jenis tertentu yang dominan. Chaetoceros, Coscinodiscus, dan Rhizosolenia dari kelas Bacillariophyceae merupakan fitoplankton yangmempunyai frekuensi kehadiran yang tinggi, sedangkan Crustaceae merupakan zooplankton yang dominan. Konsentrasi sebaran terdapat dimulut teluk dan tersebar relatif sesuai dengan musim. Plankton plays important role in aquatic life due to its significant biological function as basic food chain in oceanic ecosystem. This studywas conducted on May, July, and November representing north-west monsoon, east monsoon, and west monsoon, respectively. The purposed of this study is to know the spatial and temporal distribution and the abundance of phytoplankton and zooplankton in Tomini Bay. Results showed that the highest abundance of phytoplankton and zooplankton were 177.667 cell/m3 and 7.088 ind/m3 that appeared at north-west monsoon, while the lowest were 4.878 cell/m3 and 1.118 ind/m3 that shown in south-east monsoon. The diversity index (H) for both Phytoplankton and Zooplankton were in medium (1<H<3), while the eveness index (E) range from low (d”1) to medium. There were no dominance species found. However, Chaetoceros, Coscinodiscus and Rhizosolenia that representing Bacillariophyceae showed a high frequency of appearance, while Crustaceae group were the dominance of zooplankton. The distribution of plankton concentrated in the mouth of the bay and relatively distributed according to seasons.
KARAKTERISTIK OSEANOGRAFI DAN KELIMPAHAN FITOPLANKTON DI PERAIRAN SELAT SUNDA PADA MUSIM TIMUR Amri, Khairul; Priatna, Asep; Suprapto, Suprapto
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 6, No 1 (2014): (April 2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (804.984 KB) | DOI: 10.15578/bawal.6.1.2014.11-20

Abstract

Selat Sunda merupakan salah satu perairan yang penting dalam sirkulasi massa air di Indonesia. Dinamika oseanografinya dipengaruhi massa air Laut Jawa dan Samudera Hindia. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji karaktersitik oseanografi (suhu, salinitas, arus dan kecerahan) dan kelimpahan fitoplankton di Selat Sunda. Penelitian dilakukan bulan Juni-Juli 2010 (musimtimur). Hasil penelitian menunjukkan nilai sebaran suhu dan salinitas bervariasi, terkait pengaruh massa air yang dominan. Pada area mendekati pesisir barat Banten suhu lebih hangat dan salinitas lebih rendah, terkait pengaruh daratan (river discharge) dan aliran massa air dari Laut Jawa. Indikasi upwelling ditemukan di daerah tubir sebelah selatan Selat Sunda, disebabkan benturan arus kuat Samudera Hindia. Pada bulan Juni-Juli intensitasnya masih lemah, menandakan fase awal dari proses terjadinya upwelling di perairan ini. Nilai indeks keanekaragaman dan keseragaman fitoplankton yang tertinggi berasosiasi dengan lokasi upwelling. Terdapat korelasi yang kuat antara peningkatan konsentrasi kesuburan perairan akibat terjadinya upwelling padamusimtimur dengan hasil tangkapan ikan pelagis. Jenis ikan yang dominan tertangkap musim timur adalah kelompok ikan pelagis kecil oseanik.The Sunda strait is an importance area of Indonesian troughflow. The dynamic oceanographyc of this waters is influenced by Java Sea and Indian Ocean water mass. The objectives of this study to known the physical oceanographyc parameters (temperature, salinity, current and turbidity) and biology aspect (phytoplankton abundance) by analyize used in-situ data. The study were canied out June to July 2010 (east monsoon). The result showed that variability of temperature and salinity related to kind of dominan water masses. The high temperature and low salinity founded in western part of Banten waters, its rivers discharge and Java Sea waters influenced. The low upwelling intensity is finded in the slope area, caused by strong flow from Indian Ocean as indicated fre-phase of upwelling process in this water. The diversity index and evenness index with high value is associatedwith upwelling area. There is a stong correlation betwen elevated coneentrations of primary productivity due to upwelling in the east monsoon with an inerease in pelagic fish catches. The dominant species of fish caught in east monsoon was oceanic small pelagic fish group.
SPATIAL DISTRIBUTION AND SHOALING BEHAVIOUR OF FISHERY RESOURCES lN THE WATERS OFF WESTERN COAST OF ACEH: PRELIMINARY RESULTS FROM THE POST TSUNAMI EXPEDITION 2OO5 Wijopriono, Wijopriono; Natsir, Mohamad; Slotte, Aril; Priatna, Asep
Indonesian Fisheries Research Journal Vol 12, No 1 (2006): (June 2006)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4681.91 KB) | DOI: 10.15578/ifrj.12.1.2006.15-25

Abstract

Acoustic investigation, which is one of the programmes of the Post Tsunami Expedition, was done in Aceh waters during 24 July to 14 August 2005. Research vessel Bawal Putih I and Baruna Jaya Vlll were used for the survey.
POLA SEBARAN IKAN PADA MUSIM BARAT DAN PERALIHAN DI PERAIRAN UTARA JAWA TENGAH Priatna, Asep; Natsir, Mohammad
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 14, No 1 (2008): (Maret 2008)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (430.86 KB) | DOI: 10.15578/jppi.14.1.2008.67-76

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari perbedaan pola sebaran ikan pada musim barat dan peralihan di perairan utara Semarang sampai dengan Brebes, berdasarkan pada pengambilan contoh akustik dan oseanografi pada bulan Desember 2005 dan Mei 2006. Hasil menunjukkan secara spasial, pada musim barat di perairan utara Semarang sampai dengan Brebes kepadatan ikan pelagis lebih besar di daerah yang lebih dangkal yaitu sebelah selatan pada kedalaman <40 m, semakin ke tengah kepadatan semakin berkurang. Dilihat dari nilai target strength yang terdeteksi yaitu antara -60 sampai dengan -50 dB bahkan didominasi oleh ikan -60 sampai dengan -55 dB, sasaran merupakan ikan pelagis kecil yang rata-rata mempunyai ukuran 4 sampai dengan 12,5 cm. Pada musim peralihan sebaran kepadatan ikan pelagis kecil cenderung lebih merata dengan jumlah yang lebih rendah daripada jumlah ikan pada musim barat. Faktor pergerakan arah arus dan keberadaan sumber makanan yang lebih besar pada musim barat diduga merupakan penyebab perbedaan tersebut. Ikan pelagis kecil pada musim peralihan berukuran lebih besar dibandingkan ketika musim barat, dengan nilai target strength yang terdeteksi antara -60 sampai dengan -45 dB atau sekitar 4 sampai dengan 22 cm dan didominasi oleh ikan yang berukuran -55 sampai dengan -50 dB atau sekitar 7 sampai dengan 12,5 cm. Sebaran kepadatan Ikan demersal hampir merata pada ke-2 musim tersebut, pada musim peralihan kepadatan lebih rendah daripada musim barat. Ikan demersal pada musim barat terdiri atas ikan berukuran kecil (-55 sampai dengan -50 dB) atau sekitar 7 sampai dengan 12,5 cm terutama di daerah pada kedalaman <40 m, semakin ke tengah ukuran semakin besar yaitu antara -50 sampai dengan -45 dB atau sekitar 12,5 sampai dengan 22 cm. Pada musim peralihan, ikan demersal dengan target strength -55 sampai dengan -50 dB terdapat di kedalaman <40 m. Ikan demersal dengan ukuran -50 sampai dengan -45 dB mendominasi periode ini. Pada kedalaman >45 m terdeteksi ikan -45 sampai dengan -35 dB yang berkisar 22 sampai dengan 70 cm. The aim of this study is to understood the difference of fish pattern distributions at North West and intermonsoon in North of Central Java waters, based on acoustic and oceanography sampling in December 2005 and May 2006. At North West monsoon, the density of pelagic fishes was more gathering in narrower areas <40 m, and low fish density was going to middle areas. Seen from target strength the value was detected about -60 to -50 dB and it was dominated by fishes -60 to -55 dB, the targets for small pelagic fishes are about 4 to 12,5 cm. At the intermonsoon, distribution of small pelagic fishes density tends to be flat, but fish density at this time was the lower than North West monsoon. The higly current direction and food source factor at North West monsoon may cause this difference. The size of small pelagic fishes at the intermonsoon was bigger than fishes at North West monsoon, which target strength value was detected about -60 to -45 dB or 4 to 22 cm and dominated by fishes -55 to -50 dB of about 7 to 12,5 cm. The density distribution of demersal fishes almost flat at both monsoon. How ever at intermonsoon, the demersal fishes density was lower than that at North and West season. Demersal fishes at North West monsoon consisted of small fishes (-55 to -50 dB) with size of about 7 to 12,5 cm especially in narrow areas <40 m, and fish sizes the larger (-50 to -45 dB or 12,5 to 22 cm) were going to the middle areas. At intermonsoon, there were demersal fishes with target strength -55 to -50 dB at <40 m. Demersal fishes with target strength -55 to -50 dB were dominant at this time. At areas >45 m it was detected fishes of -45 to -35 dB target strength of about 22 to 70 cm.
ESTIMASIBIOMASSA IKAN DEMERSAL Dl PERAIRAN GUGUSAN PULAU PARI Priatna, Asep; Hartati, Sri Turni
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 15, No 3 (2009): (September 2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2361.322 KB) | DOI: 10.15578/jppi.15.3.2009.185-189

Abstract

Perairan gugusan Pulau Pari merupakan salah satu ekosistem terumbu karang yang mempunyai sumber daya perikanan demersal ekonomis tinggi. Penelitian yang dilaksanakan pada bulan Maret 2008 di perairan Gugusan  Pulau Pari, Kepulauan  Seribu, bertujuan  untuk  mengetahui estimasi biomassa ikan demersal dengan metode akustik. Alat yang digunakan adalah Biosonics DT-X Scientific Digital  Echosounder untuk akuisisi data akustik. Komposisi ukuran panjang  dan bobot ikan  ekor kuning (Lutjanus vittus)  digunakan untuk verifikasi data akustik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa estimasi biomassa ikan demersal yang hidupnya tidak bergerombol sekitar 142 ton atau rata-rata 4 ton/km2, sedangkan  untuk  ikan yang hidupnya  bergerombol sekitar  1,3 ton. Berdasarkan  pada komposisi  ukuran  panjang, 80% ikan  demersal di daerah penelitian  adalah kurang  dari 7,5 em. Faktor ukuran tubuh lebih signifikan daripada jumlah individu ikan dalam estimasi biomassa dengan aplikasi hidroakustik.Pari Island waters is one of the coral reef ecosystem having high economic demersal fish resources. The  aim of the  research  is to obtain  the biomass  estimation of demersal  fish based  on  the survey conducted in March 2008 in the waters around  Pari Island of Jakarta  Bay. Biosonics DT-X Scientific Digital Echosounder System was used for acquisition  of acoustic  data. The body length  and weight composition of Lutjanus vittus was used for acoustic data verification. Results  show that total fish biomass estimation for solitary  fish distribution was  about 142 ton  or equal to 4 tonlkm2 while  for schooling traces were about 1.3 ton. About 80% of demersal  fish composition in the research location consisted of fish having  less  than  7.5 em body  length.  The body  length  weight  of fish  are  more significant than individual amount  of fish to improve the biomass.
FISHERIES SANCTUARY PLANNING IN PRACTICE: LESSON LEARNT FROM ECOSYSTEM APPROACH TO FISHERIES MANAGEMENT IN NORTH KALIMANTAN PROVINCE Prasetyo, Andhika Prima; Priatna, Asep; Setiyawan, Agus; Lasnihora, Rodo; Yahya, Fadli; Oktaviani, Dian; Nugroho, Duto; Purwoko, Rudy Masuswo; Nurmayanti, Nurmayanti; Dirgantara, Ersant; Antoro, Hendri; Burkiki, Dahlan
Indonesian Fisheries Research Journal Vol 24, No 1 (2018): (June) 2018
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (135.769 KB) | DOI: 10.15578/ifrj.24.1.2018.45-52

Abstract

Governor Decree of North Kalimantan No. 26 in 2014 concerning Management of Bombay Duck in the North Kalimantan Province Waters was established in order to address over-exploitation of bombay duck (Harpadon nehereus) population. Fisheries sanctuary is the feasible solution that was agreed by comprehensive stakeholder discussion. This research aims to extract and elaborate our experiences on establishing fisheries sanctuary in the Bangkudulis waters which focus on science communication and in the fisheries sanctuary planning. The acoustic and larva survey conducted to support the consensus and to proof the traditional ecological knowledge of the communities. The results showed that the proposed conservation area of the Bangkudulis waters has significant ecological function to ensure the sustainability of bombay duck population. The distribution and abundance of larva and juveniles were found higher in that area. The approach and challenges to deal with ecological and socio-economic aspects as well as recommendations were discussed in this paper.
FACTORS INFLUENCING THE PERFORMANCE OF TRAWL OPERATION IN THE WATERS AREA OF TARAKAN Priatna, Asep; Suprapto, Suprapto
Indonesian Fisheries Research Journal Vol 23, No 2 (2017): (December, 2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (40.408 KB) | DOI: 10.15578/ifrj.23.2.2017.79-87

Abstract

Any fish on swept area of bottom trawl could not be caught due to some technical factors during towing. However, it could be estimated by integrated of bottom trawl and acoustic survey. This paper describes the determination of some factors that affect the performance of trawl net during the bottom trawl survey in the waters of Tarakan. Surveys were carried out in May, August, and November 2012. A total of 57 stations of simultaneously acoustic-trawl were completed. Data collected from each station include catch composition, and variables of trawling operation (i.e. bottom depth, warp length, trawl door opening, towing speed, towing duration, and acoustic fish density). Principal component analysis was applied to identify variables might impact of trawling performance (i.e. fish density at the waters area, towing speed, towing duration, warp length, horizontal opening of trawl door, density of non-demersal at cod end, and bottom depth). Both towing speed and towing duration were not major component for trawl operation. According to test of significance for four variables (i.e. bottom depth, warp length, horizontal opening, biota non-demersal at cod end) which affected to fish density at waters area, that both of variable (i.e. warp length and bottom depth) were significant as the principal components for the performance of bottom trawl.