Purnomo, Kunto
Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Published : 14 Documents
Articles

Found 14 Documents
Search

BEBERAPAASPEK BIOLOGI IKAN BILIH (Mystacoleucus padangensis) DI DANAU SINGKARAK Purnomo, Kunto; Sunarno, Mas Tri Djoko
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 2, No 6 (2009): (Desember 2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (679.985 KB) | DOI: 10.15578/bawal.2.6.2009.265-271

Abstract

Sebagai ikan endemik di Danau Singkarak dan ekonomis penting, ikan bilih (Mystacoleucus padangensis) menyumbang sekitar 71,2% dari total produksi ikan pada tahun 2003 dan cenderung menurun populasinya akibat tangkap lebih dan degradasi lingkungan. Untuk kelestarian ikan tersebut,antara lain perlu didukung oleh data dan informasi mengenai aspek biologinya. Oleh karena itu, suatu penelitian telah dilakukan untuk pengumpulan beberapa aspek biologi ikan bilih mulai bulan Agustus 2003-Oktober 2004 di Danau Singkarak. Contoh ikan bilih diambil dari stasiun penelitian yang ditetapkan secara sengaja di empat tempat. Contoh ikan diukur panjang dan bobotnya, isi saluran pencernaannya, serta diameter dan jumlah telurnya. Parameter pertumbuhan von Bertalanffy(L dan K), mortalitas alami (M), mortalitas penangkapan (F), mortalitas total (Z), dan laju eksploitasi (E) dihitung dengan menggunakan data frekuensi panjang total, kemudian diolah dengan menggunakan program FiSAT. Pola kebiasaan makan dari ikan dianalisis memakai indeks preponderan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa panjang total ikan bilih berkisar 4,2-8,6 cm (rata-ratanya 6,2 cm). Pertumbuhan ikan bilih bersifat alometrik positif (p<0,05). Rasio ikan jantandan betina adalah 2:1. Ikan betina mempunyai 5.830-7.390 butir telur per ekor atau 436-628 butir per gram bobot tubuh. Ikan bilih secara teoritis dapat tumbuh sampai mencapai panjang 11,6 cm (L ) dengan laju pertumbuhan (K) 0,5 cm per tahun. Mortalitas alami (M) sebesar 1,46 tahun-1, Nilaimortalitas penangkapan (F)=1,56 tahun-1 dan mortalitas total (Z)=3,02 tahun-1 (kisarannya 2,47-3,55) serta laju eksploitasi (E) sebesar 0,52. Makanan ikan bilih terdiri atas detritus (38,9±7,1%), fitoplankton (33,0±9,2%), zooplankton (22,6±13,6%), dan tumbuhan air (5,4±2,7%).
EFISIENSI PEMANFAATANENERGICAHAYAMATAHARIOLEHFITOPLANKTON DALAMPROSES FOTOSINTESISDIWADUKMALAHAYU Warsa, Andri; Purnomo, Kunto
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 3, No 5 (2011): (Agustus 2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.906 KB) | DOI: 10.15578/bawal.3.5.2011.311-319

Abstract

Cahaya matahari merupakan sumber energi utama yang menentukan produktivitas suatu ekosistem akuatik. Ketersediaan cahaya akan menentukan kecepatan fotosintesis yang akan menentukan kecepatan pertumbuhan produsen primer. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efisiensi pemanfaatan cahaya matahari oleh fitoplankton di Waduk Malahayu. Penelitian ini dilakukan di Waduk Malahayu, Kabupaten Brebes, Jawa Barat, pada bulan Oktober 2010. Pengamatan produktivitas primer kotor, kelimpahan fitoplankton, intensitas cahaya, dan klorofil-a dilakukan pada dua stasiun yaitu stasiun keramba jaring apung dan dam pada kedalaman 0,5; 2; dan 4 m dengan metode survei berstrata. Pengukuran produktivitas primer kotor dilakukan dengan metode botol gelap dan terang. Hasil penelitian menunjukkan nilai produktivitas primer kotor diWadukMalahayu berkisar 45,6-121,9 mgC/jamdan konsentrasi klorofil-a berkisar 3,7-11,8mg/m3. Kelimpahan individu fitoplankton diWaduk Malahayu berkisar 100,6-112,67 ind./l dengan genera yang dominan adalah Oscillatoria (Cyanophyceae) dan Peridinium (Dinophyceae). Efisiensi penggunaan cahaya matahari oleh fitoplankton di Waduk Malahayu berkisar 0,5-2,7%. Efisiensi cahaya matahari menurun dengan bertambahnya kedalaman air. Sunlight is primary energy resource that determine the productivity of aquatic ecosystem. Its availability will determines the photosynthetic rate and primary producer growth rate. Study in order to know thr effeciency of sunlight uptake by phytoplankton inMalahayu Reservoir, Brebes Regency, Central Java in October 2010. Sampling were for gross primary productivity, phytoplankton abudance, light intensity, and chlorophyll-a carried at two stations, keramba jaring apung and dam and at three water depth, surface, 2 and 4 m with stratified sampling method. Measurement of gross primary productivity was conducted with dark and ight botle method. Gross primary productivity ranged from 45.6-121.9 mgC/hr with chlorophyll-a concentration between 3.7-11.8 mg/m3. Phytoplankton abundance ranged from 10.06-112.67 ind./l with Oscilatoria and Peridinium as dominant genera. Efficiency of sunlight uptake by phytoplankton ranged from 0.5-2.7% and its value decreased along with an increasing water depth.
PRODUKTIVITAS PRIMERFITOPLANKTONDI SITUPANJALU, KABUPATENCIAMIS, JAWABARAT Warsa, Andri; Purnomo, Kunto
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 3, No 4 (2011): (April 2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.506 KB) | DOI: 10.15578/bawal.3.4.2011.245-253

Abstract

Situ Panjalu merupakan badan air yang secara administratif terdapat di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat dengan luas 45 ha. Produktivitas primer adalah laju produksi karbon organik per satuan waktu pada suatu ekosistem akuatik yangmerupakan hasil penangkapan energimatahari oleh tumbuhan hijau untuk diubahmenjadi energi kimia melalui fotosintesis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui produktivitas primer fitoplankton di Situ Panjalu. Penelitian di lakukan pada bulanAgustus 2010. Pengukuran produktivitas primer fitoplankton horisontal dilakukan pada tiga stasiun penelitian yaitu Kampung Duku, BanjarWaru, dan Simpar sedangkan secara vertikal pada kedalaman 0,5 m(permukaan) dan 2 mdenganmetode botol gelap dan terang. Hasil penelitian inimenunjukan bahwa Situ Panjalu merupakan perairan yang subur (eutrofik dan hipertrofik) dengan nilai produktivitas primerkotor, bersih, dan respirasi masing-masing berkisar antara 47,1-207,8; 2,2-193,8; dan 9,4-173,3 mgC/m3/jam.Kelimpahan individu fitoplankton berkisar 1.006-437.610 ind./L dengan genera yang banyak ditemukan adalah genera Closterium dari kelas Chlorophyceae, genera Oscillatoria dari kelas Cyanophycea, dan genera Peridinium dari kelas Dinophyceae. Panjalu Pond located at Ciamis Regency,West Java Province with area is 45 ha. Primary productivity represents the synthesis of organic matter of aquatic system. The aim of this research to know primary productivity of phytoplankton at Panjalu Pond. This research was done in August 2010 at 3 stations include Kampung Duku, BanjarWaru, and Simpar. Sampling site was at 2 in depth that were surface (0.5 m) and 2 m. Sampling method was done with dark light bottlemethod. Result of the research showed that Panjalu Pondwas eutrophic and hypereutrophic level with gross primary productivity, net primary productivity, and respiration respectively range from 47.1- 207.8; 2.2-193.8; and 9.4-173.3 mgC/m3/h. Abundance of phytoplankton range from 1,006-437,610 ind./L with dominant genera Closterium from class Chlorophyceae, genera Oscillatoria from class Cyanophycea, and genera Peridinium from class Dinophyceae.
PERIKANAN BUNBUN (BRUSH PARK FISHERIES) DI SITU BAGENDIT KABUPATEN GARUT PROPINSI JAWA BARAT Nurfiarini, Amula; Purnomo, Kunto
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 2, No 4 (2009): (April 2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.063 KB) | DOI: 10.15578/bawal.2.4.2009.139-142

Abstract

Situ Bagendit, Kabupaten Garut Propinsi Jawa Barat mempunyai luas 20-57 ha dan berfungsi utama sebagai obyek wisata ziarah, meskipun aktivitas lainnya juga berkembang cukup pesat, yakniperikanan tangkap. Bunbun merupakan salah satu jenis alat tangkap yang menyerupai rumpon, berbahan ranting bambu dengan luas 15-30m2. Bunbun dioperasikan dengan cara menenggelamkan rumpon yang telah diberi tiang penahan ke perairan pada kedalaman tertentu, dan membiarkannya selama suatu periode tertentu. Pemanenan ikan dilakukan dengan menggunakan bantuan perangkap bambu (wide). Produksi tangkapan bunbun berkisar antara 40-60 kg/unit/musim dengan jenis dan ukuran ikan sangat beragam. Hasil analisis usaha menunjukkan bahwa untuk setiap 5 unit bunbun yang dioperasikan dengan periode penenggelaman 3 bulan akan menghasilkan nilai produksi sebesar Rp 2.192.250, dan keuntungan bersih Rp.558.775 per musim dengan nilai B/C ratio sebesar 2,03. Artinya, bahwa usaha penangkapan dengan bunbun cukup layak diusahakan. Namun demikian perlu diwaspadai bahwa perkembangan bunbun yang pesat tanpa diiringi aturan mengenai jumlah optimal yang diperkenankan, lokasi peletakkan, dan sistem operasional bunbun termasukpemeliharaannya, keberadaan bunbun dapat mengurangi nilai estetika situ, bahkan dapat mempercepat terjadinya pendangkalan.
INTERAKSI PEMANFAATAN PAKAN ALAMI OLEH KOMUNITAS IKAN DI WADUK PENJALIN, JAWA TENGAH Hedianto, Dimas Angga; Purnomo, Kunto; Warsa, Andri
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 5, No 1 (2013): (April 2013)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.548 KB) | DOI: 10.15578/bawal.5.1.2013.33-40

Abstract

Faktor ketersediaan pakan alami di perairan waduk dapat menentukan komposisi dan penyebaran serta proses adaptasi beberapa jenis ikan (adaptasi dari lingkungan mengalir menjadi tergenang). Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji interaksi dalam memanfaatkan pakan alami yang tersedia dari komunitas ikan di Waduk Penjalin. Pengambilan ikan contoh dilakukan pada bulan Juni dan Agustus 2011 menggunakan jaring insang percobaan (ukuran 1-3 inci dengan interval 0,25 inci) dan hasil tangkapan nelayan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan beunteur (Puntius binotatus), nila (Oreochromis niloticus) dan tawes (Barbonymus gonionotus) tergolong sebagai planktivora dengan makanan utama berupa fitoplankton masing-masing sebesar 92,23%, 86,91% dan 70,00%. Ikan nilem (Osteochilus vittatus) tergolong sebagai herbivora dengan makanan utama berupa tumbuhan/makrofita sebesar 100,00%. Ikan betutu (Oxyeleotris marmorata) dan manila gift (Parachromis managuensis) tergolong sebagai predator dengan makanan utama berupa ikan masing-masing sebesar 89,33% dan 95,34%. Ikan manila gift merupakan jenis ikan introduksi yang saat ini mendominasi perairan Waduk Penjalin. Interaksi komunitas ikan dalam memanfaatkan pakan alami cenderung memiliki kompleksitas yang rendah. Hal ini diduga akibat tingginya tingkat predasi oleh ikan predator asing, sehingga mengakibatkan ketidakseimbangan antara jumlah ikan predator dan ikan yang dimangsa.The availability of food resources in water reservoir determine the composition, dispersal rate and adaptation of some species of fish (an adaptation from riverine to lacustrine). The purpose of this study is to analysing the interaction in utilizing the available of natural resources by fish communities in Penjalin Reservoir. Research was done on June and August 2011 using experimental gillnets (size 1-3 inches with intervals about 0.25 inches) and the catch of fishermen. The results showed that spotted barb (Puntius binotatus), nile tilapia (Oreochromis niloticus) and silver barb (Barbonymus gonionotus) classified as planktivora with the primary food were phytoplankton respectively 92.23%, 86.91% and 70.00%. Bonylip Barb (Osteochilus vittatus) classified as herbivores with the primary food were plant/macrophyte 100.00%. Marble goby (Oxyeleotris marmorata) and jaguar guapote (Parachromis managuensis) classified as a predator with the primary food were fish (prey) respectively 89.33% and 95.34%. Jaguar guapote was aliens species who dominated Penjalin Reservoir. Interaction of food resource utilization of fish communities in Penjalin Reservoir tend to have a lower complexity. This is due to the high levels of predation by dominance of alien predatory species, thus resulting in an imbalance comparison between population of predator and prey.
LUAS RELUNG DAN KOMPETISI PAKAN KOMUNITAS IKAN DI SITU PANJALU, JAWA BARAT Suryandari, Astri; Purnomo, Kunto
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 3, No 3 (2010): (Desember 2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (140.614 KB) | DOI: 10.15578/bawal.3.3.2010.159-164

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari luas relung dan kompetisi komunitas ikan di Situ Panjalu. Pengambilan contoh ikan dilakukan pada bulan Mei dan September 2008 denganmenggunakan jaring insang berukuran 2,5; 3,0; dan 3,5 inci. Komunitas ikan di Situ Panjalu terdiri atas ikan nila (Oreochromis niloticus), kongo (Parachromis managuensis), oskar (Amphilophus citrinellus), golsom (Aequidens goldsom), selebra (Amphilopus sp.), dan keril (Aequidens rivulatus). Berdasarkan atas analisis luas relung dan kompetisi pakan, ikan golsom mempunyai potensi untuk berkembang menjadi populasi yang besar di perairan Situ Panjalu dibandingkan jenis ikan lain.Relung pakan yang dapat dioptimalkan adalah fitoplankton sehingga untuk pengkayaan stok dapat dilakukan melalui penebaran ikan herbivora pemakan plankton. The aim of the research was to identified niche breadth and competition among of fishes community in Situ Panjalu. Samples were collected by gill net of 2.5; 3.0; and 3.5 inches mesh size in Mei and September 2008. Fish community in Panjalu consist of tilapia (Oreochromis niloticus), kongo (Parachromis naguensis), midas cichlid (Amphilopus citrinellus), golsom (Aequidens goldsom), selebra (Amphilophus sp.) and keril (Aequidens rivulatus). Based on niche breadth and competition index, goldsom is potentially growth into great population compare to another fishes species in Panjalu. Food niche that could be optimimized was phytoplankton so that stock enhancement could be conducted by stocking the herbivorous fishes feed on phytolankton.
PARAMETER POPULASI IKAN LOHAN (Cichlasoma trimaculatum, Günther 1867) DI WADUK SEMPOR, JAWA TENGAH Hedianto, Dimas Angga; Purnomo, Kunto; Kartamihardja, Endi Setiadi; Warsa, Andri
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 20, No 2 (2014): (Juni 2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.20.2.2014.81-88

Abstract

Waduk Sempor di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah dengan luas 270 ha merupakan waduk serbaguna yang berfungsi untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA), pariwisata, irigasi dan perikanan. Aktivitas perikanan yang berkembang di waduk ini adalah perikanan tangkap meskipun saat ini mengalami penurunan sebagai akibat dari berkurangnya hasil tangkapan ikan ekonomis yang digantikan oleh jenis ikan asing invasif yang bernilai ekonomis rendah. Jenis ikan asing invasif yang mendominasi adalah ikan lohan (Cichlasoma trimaculatum, Günther, 1867). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji beberapa parameter populasi yakni hubungan panjang berat, parameter pertumbuhan, mortalitas dan laju eksploitasi ikan lohan di Waduk Sempor. Pengambilan sampel ikan lohan dilakukan menggunakan alat tangkap jaring insang berbagai ukuran mata jaring selama periode Maret sampai Desember 2012. Sebanyak 1.962 ekor sampel ikan lohan yang tertangkap dianalisis untuk menghitung parameter populasinya. Estimasi parameter pertumbuhan, mortalitas dan laju eksploitasi dihitung menggunakan paket program FiSAT II. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola pertumbuhan ikan lohan bersifat isometrik dengan estimasi parameter pertumbuhan sebagai berikut: L∞ = 20,5 cmTL, K = 0,37 tahun-1, to = -0,4955 tahun dan tmax = 8,11 tahun. Laju mortalitas total (Z) sebesar 1,29 tahun-1, mortalitas alami (M) sebesar 1,05 tahun-1, mortalitas penangkapan (F) sebesar 0,24 tahun-1 dengan laju eksploitasi (E) sebesar 0,18 yang menunjukkan laju eksploitasi yang rendah.Sempor reservoir at Kebumen Regency, Central Java with a waters surface area of 270 ha is a multi-purpose reservoir for hydroelectric power generation, tourism, irrigation and fisheries. Currently, capture fisheries activity developed in the reservoir tend to decrease as a result of decreasing economical fish yield which was replaced by invasive alien species of low economic value. The dominant invasive alien species catches was three spot cichlid (Cichlasoma trimaculatum, Günther, 1867). The purpose of this study was to analyze some population parameters i.e., length-weight relationship, growth parameters, mortality and exploitation rate of the three spot cichlid. The fish samples were collected using experimental gillnet with difference mesh sizes during the period of March to December 2012. Population parameters of the three spot cichlid were analyzed from 1,962 individual samples. The population parameters were estimated by using package program of FiSAT II. Results of the study showed that growth pattern of the three spot cichlid was isometric with estimated of growth parameters L∞ = 20.5 cmTL, K = 0.37yr-1, to = -0.4955 years and tmax = 8.11 years. The total mortality rate (Z) was 1.29 yr-1, natural mortality (M)1.05yr-1, fishing mortality (F) 0.24 yr-1 and the exploitation rate (E) was 0.18 which was indicated very low exploitation.
FISHERY RESOURCES AND ECOLOGY OF TOBA LAKE Wijopriono, Wijopriono; Purnomo, Kunto; Kartamihardja, Endi Setiadi; Fahmi, Zulkarnaen
Indonesian Fisheries Research Journal Vol 16, No 1 (2010): (June 2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5621.392 KB) | DOI: 10.15578/ifrj.16.1.2010.7-14

Abstract

Investigatiorr of stock and distribution of fishery resources was done in Toba Lake in October 2005, at the time when the wet season prevailed, using acoustic method. Split-beam echosounder SIMRAD Ey-60 operated at frequency ol iZO KHz and 0.512 ms pulse duration was used.
PERTUMBUHAN, MORTALITAS, DAN KEBIASAAN MAKAN IKAN TAWES (Barbodes gonionotus) DI WADUK WONOG|RI Purnomo, Kunto; Kartamihardja, Endi Setiadi
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 11, No 2 (2005): (Vol. 11 No. 2 2005)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.11.2.2005.1-8

Abstract

Total produksi perikanan tangkap Waduk Wonogiriyang memiliki luas sekitar 6.480 ha antara tahun 1998- 2000 berkisar antara 3.300,-3.510 ton per lahun. 
PARAMETER POPULASI, KEBIASAAN MAKAN, DAN TOTAL HASIL TANGKAPAN IKAN DOMINAN DI WADUK WADASLINTANG, JAWA TENGAH Kartamihardja, Endi Setiadi; Purnomo, Kunto
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 12, No 1 (2006): (April 2006)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.12.1.2006.13-24

Abstract

Waduk Wadaslinlang dengan luas 1.400 ha merupakan perairan dengan tingka kesuburan sedang (mesotsofik) s€hingga potensial untuk pengembangan perikanan tangkap. Penelitian tentang p€rtumbuhan, mortalitas, tingkat eksploitasi, kebiGaan makan, dan total hasiltangkapan beberapa jenis ikan dominan yaitu tawes (Barbodes genionotus), bader (Barbodes bramoides, hampal (Hampala macroleFidota, dan baung (Myslus nernurus) telah dilakukan di Waduk Wadaslintang dari bulan Juni 2003 sampai dengan Maret 2004.