Nurfiarini, Amula
Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Published : 6 Documents
Articles

Found 6 Documents
Search

PRESENT STATUS OF NESTING HABITAT OF GREEN TURTLE (Chelonia mydas) lN WEST JAVA-INDONESIA

Indonesian Fisheries Research Journal Vol 15, No 1 (2009): (June 2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7546.555 KB)

Abstract

The coastal habitat condition much influences the moving of sea turtles to coast for nesting. In West Java Province there are some potential coasts as nesting habitat of sea turtles, but it has experiencing of many damage and has not been touched yet as the protected area for sea turtle nesting habitat.

KEANEKARAGAMAN HAYATI SUMBER DAYA IKAN DI ESTUARI SEGARA ANAKAN, CILACAP JAWA TENGAH

BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 7, No 1 (2015): (April 2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (407.152 KB)

Abstract

Estuari Segara Anakan dikenal sebagai salah satu estuari yang potensial dan menjadi habitat penting dalam menyediakan ruang bagi beragam fauna akuatik, khususnya ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuikeanekaragaman sumber daya ikan di Estuari Segara Anakan. Penelitian dilakukan pada bulan Maret - Juni 2014. Pengambilan contoh dilakukan di 4 zona, yaitu mulut estuari, muara sungai, paparan laguna, dan alur sungai berhutan mangrove. Spesimen ikan dikumpulkan dengan alat tangkap jaring apong, jaring kantong, jaring tek tek (tram-mel net), surungan, dan widey. Ikan yang terkumpul sebanyak 23.521 ekor, terdiri atas 45 famili dan 87 spesies yang didominasi oleh famili Ambassidae, Engraulidae, Leognathidae, Mugilidae, Atherinidae, dan Bagridae. Berdasarkan habitat yang didiami, spesies terbanyak ditemukan di mulut estuari sebanyak 55 spesies, 53 spesies ditemukan di laguna, 54 spesies di muara sungai, dan 50 spesies di alur sungai berhutan mangrove, dan 22 spesies ditemukan diseluruh tipe habitat. Keberadaan juvenil ikan sebagai bagian dari komposisi terbesar dari spesies menunjukkan peran ekologis penting estuari sebagai daerah pemijahan, asuhan dan pembesaran, serta sumber makanan.

KEBIASAAN MAKANAN, LUAS DAN TUMPANG TINDIH RELUNG BEBERAPA JENIS LOBSTER DI TELUK PRIGI, KABUPATEN TRENGGALEK

BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 9, No 3 (2017): (Desember) 2017
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (530.044 KB)

Abstract

Sampai saat ini, informasi mengenai kebiasaan makan, luas relung dan tumpang tindih relung mengenai lobster di Indonesia belum banyak diketahui. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji kebiasaan makan, luas relung dan tumpang tindih relung beberapa jenis lobster di Teluk Prigi, Kabupaten Trenggalek. Pengambilan sampel isi lambung lobster diperoleh dari hasil tangkapan nelayan lobster di Teluk Prigi, Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur. Pengumpulan data dilakukan pada Mei dan November 2016. Jumlah sampel lobster yang diamati isi lambungnya berjumlah 63 ekor dengan kisaran panjang karapas 4,6-8,2 mm. Kebiasaan makanan beberapa jenis lobster di Teluk Prigi terdiri dari moluska, krustasea, detritus, karang, tumbuhan (makrofita) dan pasir. Luas relung tertinggi dimiliki oleh lobster bambu (Panulirus versicolor) dan lobster batik (Panulirus longipes). Tumpang tindih relung yang tinggi mengindikasikan tingginya peluang kompetisi dalam memanfaatkan makanan kecuali lobster batik merah (Panulirus longipes femoristriga).Information on feeding habits, niches breadth and overlap of some lobsters in Indonesia have not been widely known. The purposes of this study are to obtain information on the food habit, niches breadth and overlap of some lobsters in Gulf of Prigi, Trenggalek Regency. Sample of the lobster were obtained from the catch of lobster fishermen in Prigi Waters, Trenggalek Regency, East Java Province. This study was conducted on May and November 2016. The number of lobster samples observed for stomach content analysis were 63 specimen individuals with a carapace length range 4.6-8.2 mm. Food habit of some types of spiny lobsters in Gulf of Prigi consisted molluscs, crustaceans, detritus, corals, plants (macrophyta) and sands. Bamboo lobster (Panulirus versicolor) and batik lobsters (Panulirus longipes) have the highest nice breadth. Niche overlap that indicate a high chance of food competition was indicated by almost all species of spiny lobsters except batik merah lobster (Panulirus longipes femoristriga).

PERIKANAN BUNBUN (BRUSH PARK FISHERIES) DI SITU BAGENDIT KABUPATEN GARUT PROPINSI JAWA BARAT

BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 2, No 4 (2009): (April 2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.063 KB)

Abstract

Situ Bagendit, Kabupaten Garut Propinsi Jawa Barat mempunyai luas 20-57 ha dan berfungsi utama sebagai obyek wisata ziarah, meskipun aktivitas lainnya juga berkembang cukup pesat, yakniperikanan tangkap. Bunbun merupakan salah satu jenis alat tangkap yang menyerupai rumpon, berbahan ranting bambu dengan luas 15-30m2. Bunbun dioperasikan dengan cara menenggelamkan rumpon yang telah diberi tiang penahan ke perairan pada kedalaman tertentu, dan membiarkannya selama suatu periode tertentu. Pemanenan ikan dilakukan dengan menggunakan bantuan perangkap bambu (wide). Produksi tangkapan bunbun berkisar antara 40-60 kg/unit/musim dengan jenis dan ukuran ikan sangat beragam. Hasil analisis usaha menunjukkan bahwa untuk setiap 5 unit bunbun yang dioperasikan dengan periode penenggelaman 3 bulan akan menghasilkan nilai produksi sebesar Rp 2.192.250, dan keuntungan bersih Rp.558.775 per musim dengan nilai B/C ratio sebesar 2,03. Artinya, bahwa usaha penangkapan dengan bunbun cukup layak diusahakan. Namun demikian perlu diwaspadai bahwa perkembangan bunbun yang pesat tanpa diiringi aturan mengenai jumlah optimal yang diperkenankan, lokasi peletakkan, dan sistem operasional bunbun termasukpemeliharaannya, keberadaan bunbun dapat mengurangi nilai estetika situ, bahkan dapat mempercepat terjadinya pendangkalan.

PENCATATAN KEDUA DAN BEBERAPA ASPEK BIOLOGI LOBSTER BATIK MERAH (Panulirus longipes femoristriga Von Martens, 1872) YANG DITANGKAP DI TELUK SEPI, LOMBOK BARAT

Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 23, No 3 (2017): (September 2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.28 KB)

Abstract

Panulirus longipes femoristriga atau lobster batik merah merupakan salah satu jenis tropical spiny lobster dari Famili Palinuridae yang jarang ditemukan di Perairan Indonesia. Untuk itu penting dilakukan pengamatan aspek biologi lobster batik merah ini dan sejarah penemuannya di perairan Indonesia. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan metode percobaan penangkapan dengan tangan dan bantuan kompresor. Beberapa analisis yang dilakukan antara lain analisis komposisi, kelas ukuran, kebiasaan makanan, analisis tingkat kematangan gonad dan fekunditas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan sejarah ditemukan, lobster batik merah (P. l. femoristriga) merupakan tropical spiny lobster dari kelompok Palinuridae dan merupakan salah satu sub varian dari lobster batik (P. longipes). Jenis ini tercatat ditemukan di perairan Lombok sebagai lokasi ke empat di Indonesia setelah Perairan Sulawesi, Papua Barat, dan Ambon. Komposisinya di perairan menempati nilai prosentase bobot dan jumlah masing masing dalam kisaran 11,26-12,03 % dan 21,28- 22,5 %, berada di urutan ke empat setelah lobster batu, bambu dan batik. Struktur ukuran hasil tangkapan didominasi ukuran larang tangkap. Kebiasaan makanan dari lobster batik merah terdiri atas kelompok moluska: jenis gastropoda dan bivalvia, krustasea jenis udang udangan dan kepiting serta makrofita. Fekunditas bekisar antara 8.332 – 66.076 butir dengan diameter telur berkisar antara 0,45-0,79 mm. Panjang karapas dan bobot pada saat pertama kali matang gonad masing-masing adalah 3,8 – 4,7 cm (4.3 cm) dan 66,12 – 106,45 gr. (rata rata 87,58 gr).Panulirus longipes femoristriga or red batik lobster (white-whiskered coral crayfish) is one type of tropical spiny lobster from the Family of Palinuridae that is rarely found in Indonesian waters. It is important to observe the biological aspects of this red batik lobster and the history of its discovery in Indonesian waters. The research was carried out using a hand-held method of and compressor equipment. Several analyzes were performed, among others, composition analysis, class size, food habits, maturity level analysis of gonad and fecundity. The results showed that based on the history of the red batik lobster (P. l. femoristriga) tropical spiny lobster of one of sub variants of batik lobster (P. longipes). This species recorded is found in the waters of Lombok as the fourth location in Indonesia after the waters of Sulawesi, West Papua, and Ambon. Its composition occupies precentage value of weight and number of each in the range of 11.26 to 12.03% and 21.28 to 22.5% respectively, ranked as fourth after rock, bamboo and batik lobsters. The size of the catch is dominated by the size of the ban. The food habit of red batik lobsters of mollusks: gastropods and bivalves, crustaceans (shrimps) and crabs as well as macrophytes. Fecundity ranged between 8,332 - 66,076 eggs, with diameter ranging from 0.45 to 0.79 mm. The carapace length and weight at the first mature gonad ranged between 3.8 - 4.7 cm (4.3 cm) and 66.12 - 106.45 gr (average 87.58 gr), respectively.

PERCOBAAN PENANDAAN LOBSTER PASIR (Panulirus homarus Linnaeus, 1758) DI TELUK PRIGI

Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 24, No 4 (2018): (Desember) 2018
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.393 KB)

Abstract

Percobaan penebaran lobster pasir (Panulirus homarus) di Perairan Teluk Prigi, Kabupaten Trenggalek dilakukan pada 2015. Percobaan dilakukan dengan cara memberi tanda (tag) pada seluruh sampel lobster pasir yang ditebar, dikenal sebagai metode Capture-mark-recapture (CMR) dan sudah banyak digunakan untuk mempelajari populasi biota di alam. Penelitian bertujuan untuk mengetahui tingkat tertangkap kembali, laju pertumbuhan, dan pergerakan lobster pasir bertanda di Teluk Prigi. Penebaran lobster pasir bertanda dilakukan pada tiga lokasi yaitu Damas, Karanggongso dan Karangasem dengan jumlah 2.784 ekor dan diberi tanda jenis T-bar berwarna merah yang memiliki kode. Pengamatan lobster pasir bertanda yang tertangkap kembali dilakukan sepanjang tahun 2016 di Teluk Prigi (Februari-Desember). Tingkat tertangkap kembali lobster bertanda dihitung menggunakan proporsi antara lobster bertanda yang tertangkap dengan lobster bertanda yang ditebar. Laju pertumbuhan lobster bertanda yang tertangkap kembali dihitung berdasarkan pertumbuhan per satuan waktu yang sama dengan perubahan panjang dibagi dengan perubahan umur. Pergerakan lobster bertanda diukur melalui jarak dari lokasi tebar sampai dengan lokasi lobster bertanda yang tertangkap kembali. Tingkat tertangkap kembali lobster pasir (P. homarus) bertanda di Teluk Prigi sebanyak 4,7 %. Laju pertumbuhan lobster pasir yang tertangkap kembali rata-rata 0,09±0,05 mm/hari. Pergerakan lobster pasir bertanda yang tertangkap kembali di Teluk Prigi berkisar antara 0,1-11,36 km. Pergerakan lobster pasir bertanda memiliki kecenderungan acak dan tetap pada wilayah pantai.In 2015, restocking experiment of Scalloped spiny lobster (Panulirus homarus) was conducted in Gulf of Prigi, Trenggalek Regency and the  lobsters were tagged. This methods is known as Capture-mark-recapture (CMR). CMR is widely used to study of biota populations in wild nature. The aims of this study are to determine the recapture rate, growth rate, and movement of tagged scalloped spiny lobster in Prigi Bay.The tagged spiny lobster release was realesed at three locations, namely Damas, Karanggongso and Karangasem with 2,784 lobsters and was tagged with a red T-bar type that has a code. Observations of tagged scalloped spiny lobsters were carried out again throughout 2016 in Prigi Bay (February-December). The recapture rate of tagged spiny lobster is calculated using the proportion between the tagged lobster with the tagged lobster released. The tagged tagged spiny lobster growth rate is calculated again based on growth per unit time which is equal to the change in length divided by the change in age. Tagged spiny lobster movements are measured by distance from the location of release to the location of the tagged tagged spiny lobster is capture again. The recapture rate of tagged spiny lobster (P. homarus) marked in Gulf of Prigi as much as 4.7%. The growth rate of tagged spiny lobster averaged 0.09 ± 0.05 mm/day. The movement of tagged spiny lobster in Gulf of Prigi ranges from 0.1 to 11.36 km. The movement of tagged spiny lobster has a random movement  and remains in the coastal region.