Hufiadi, Hufiadi
Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Published : 9 Documents
Articles

Found 9 Documents
Search

PENGARUH UKURAN MATA JARING BUBU LIPAT TERHADAP JUMLAH DAN UKURAN HASIL TANGKAPAN RAJUNGAN DI PERAIRAN UTARA LAMONGAN, JAWA TIMUR Mahiswara, Mahiswara; Hufiadi, Hufiadi; Baihaqi, Baihaqi; Budiarti, Tri Wahyu
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 24, No 3 (2018): (September) 2018
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (388.072 KB) | DOI: 10.15578/jppi.24.3.2018.175-185

Abstract

Bubu lipat merupakan alat tangkap yang banyak dioperasikan nelayan untuk menangkap rajungan, namun memiliki selektivitas rendah tergantung pada ukuran mata jaring yang digunakan. Tingkat selektivitas bubu lipat perlu ditingkatkan agar tangkapan rajungan memiliki ukuran layak tangkap sesuai peraturan. Penelitian uji coba pengoperasian bubu lipat rajungan dengan berbagai ukuran mata jaring yaitu 1¼ , 2, 2½ dan 3 inci, berbentuk bujur sangkar telah dilakukan di perairan utara Lamongan, Jawa Timur. Jumlah bubu lipat yang dioperasikan untuk setiap ukuran mata jaring sebanyak 150 unit per tawur/setting. Tujuan penelitian, untuk mengetahui pengaruh ukuran mata jaring bubu terhadap jumlah dan ukuran hasil tangkapan rajungan. Hasil analisis menunjukkan bahwa perbedaan ukuran mata jaring berpengaruh nyata terhadap hasil tangkapan bubu lipat rajungan. Hasil tangkapan rajungan dari bubu lipat mata jaring 2 inci (2,17 kg/setting) tidak berbeda nyata dengan mata jaring 1¼ inci (2,08 kg/setting). Ukuran lebar karapas (CW=carapace width) rajungan layak tangkap (> 100 mm) semakin besar dengan meningkatnya ukuran mata jaring. Nilai tertinggi prosentase tangkapan rajungan ukuran besar (CW > 100 mm), ditemukan pada bubu lipat ukuran mata jaring 3 inci mencapai 98 % dari total rajungan yang tertangkap. Collapsible crab pot is a common fishing gear that has been operated by many fishermen, however this kind of fishing gear has a low selectivity. The selectivity level of crab pot needs to be increased so that the size of crab catch comply to the allowable legal size. Fishing trials of crab pot with the mesh size of 1¼, 2, 2½ and 3 inch square-shaped has been done in the waters of north Lamongan, East Java. The objectives of this research is to determine the effect of mesh size to the number and size of the catches. The results showed that different mesh size has significant effect on the catch of pot. However the catch of a 2 inch mesh size pot (of 2.17 kg / setting) was not significantly different with the catch of pot with 1¼ inch mesh size (of 2.08 kg / setting). Percentage of BSC catch with carapace width (CW) > 100 mm increased by increasing of mesh size of net. The highest percentage (98 % of the total catch) was obtained from  the 3-inch mesh sizes.
EFISIENSI PENANGKAPAN PUKAT CINCIN DI BEBERAPA DAERAH PENANGKAPAN WATAMPONE Hufiadi, Hufiadi; Nurdin, Erfind
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 19, No 1 (2013): (Maret 2013)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (526.627 KB) | DOI: 10.15578/jppi.19.1.2013.39-45

Abstract

Kajian pengelolaan perikanan berbasis kapasitas penangkapan merupakan alternatif pendekatan guna mengendalikan faktor-faktor input yang tidak efisien yang digunakan dalam usaha penangkapan. Efisiensi input sangat berhubungan erat dengan konsep kapasitas penangkapan. Tujuan penelitian ini adalah mengukur tingkat efisiensi teknis dan pemanfaatan kapasitas alat tangkap pukat cincin di Watampone. Tingkat pemanfaatan kapasitas dari alat tangkap pukat cincin yang dikaji berdasarkan pada daerah penangkapan dan dianalisis melalui pendekatan matematika dengan data envelopment analysis (DEA). Hasil analisis menunjukkan bahwa kapasitas perikanan pukat cincin di Watampone sebagian besar telah memanfaatkan kapasitas penangkapan secara optimal. Peningkatan efisiensi pukat cincin dapat ditempuh dengan mengurangi input (effort) yang tidak efisien atau meningkatkan output tangkapan yang dominan yaitu hasil tangkapan layang dan cakalang.  Fisheries management based on fishing capacity is an alternative approach to control inefficient input factors used in fishing business. Input efficiency is closely related to the concept of fishing capacity. The objective of this study is to measure the level of technical efficiency and utilization capacity of purse seines in Watampone. Utilization capacity level of purse seines were examined based on fishing grounds and the fishing efficiency measurement was mathematical approach by using data envelopment analysis (DEA). Results showed that generally fishing capacity of purse seines in Watampone was optimum. Increasing the efficiency of purse seine can be done by reducing the input (effort) of inefficiency or increasing dominated catch output for scad mackarel (Decapterus sp) and skipjack (Katsuwonus pelamis) catches.
SELEKTIVITAS ALAT TANGKAP IKAN PARI DI PERAIRAN LAUT JAWA Nurdin, Erfind; Hufiadi, Hufiadi
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 1, No 1 (2006): (April 2006)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (836.132 KB) | DOI: 10.15578/bawal.1.1.2006.25-30

Abstract

Pengamatan di beberapa lokasi pendaratan ikan di pantai utara Jawa menunjukkan gill net dasar (lokal; jaring liongbun) dan rawai dasar tanpa umpan (lokal: pancing senggol) merupakan alat tangkap utama bagi ikan pari, sedangkan pada alat tangkap cantrang merupakan hasil tangkapan sampingan. secara teknis, gill net yang digunakan lebih seleKif dari pada cantrang, karena mempunyai ukuran mata jaring relatif besar (antara 40 sampai dengan 50 cm) dibandingkan dengan cantrang. Demikian pula hasil tangkapannya. Cantrang tidak memiliki target hasil tangkapan yang lebih spesifik, baik terhadap jenis maupun ukuran ikan. Di perairan Cirebon, hasil tangkapan pancing senggol didominasi oleh ikan pari jenis Himantura gerradi dan H. bleekeri dengan ukuran lebar cawan antara 43 sampai dengan 96 cm.
SELEKTIVITAS JARING ARAD (MINI BOTTOM TRAWL) YANG DILENGKAPI JTEDs TERHADAP IKAN BELOSO (Saurida sp.) Hufiadi, Hufiadi; Mahiswara, Mahiswara
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 2, No 6 (2009): (Desember 2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.929 KB) | DOI: 10.15578/bawal.2.6.2009.315-322

Abstract

Hasil tangkapan sampingan dan tertangkapnya ikan target di bawah ukuran sebagai akibat dari penggunaan alat tangkap non selektif telah menjadi permasalahan dunia pada akhir dekade ini. Upaya konservasi ikan target di bawah ukuran dan hasil tangkapan sampingan melalui peningkatan selektivitas alat tangkap merupakan bagian dari code of conduct for responsible fishing yang telah dicanangkan oleh FAO. Perikanan arad yang berkembang di perairan utara Jawa merupakan alat tangkap yang efektif dalam memanfaatkan sumber daya ikan demersal. Permasalahan utama pada perikanan ini adalah banyaknya jumlah hasil tangkap sampingan berukuran kecil yang belum layak tangkap. Dalam upaya untuk mengurangi tangkapan ikan muda yang belum layak tangkap telah dilakukan observasi dan uji coba operasi penangkapan melalui penggunaan perangkat JTEDs pada alat tangkap arad yang digunakan nelayan Pekalongan. Perangkat JTEDs yang digunakan dibedakanpada ukuran jarak antar kisi-kisi, yaitu 10,0, 17,5, dan 25,4 mm. Analisis selektivitas kisi menggunakan model kurva logistik dengan bantuan solver pada Microsoft Excel. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan JTEDs pada arad dapat meloloskan ikan beloso (Saurida sp.) ukuran kecil rata-rata berkisar 10,21-63,76%. JTEDs dengan ukuran kisi-kisi 25,4 mm memiliki tingkat seleksi ikan beloso terbaik pada tingkat seleksi 50% (FL50%).
KARAKTERISTIK PUKAT CINCIN MINI DI PEMALANG. JAWA TENGAH Nurdin, Erfind; Hufiadi, Hufiadi
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2480.492 KB) | DOI: 10.15578/bawal.1.3.2006.89-94

Abstract

Penelitian mengenai karakteristik pukat cincin mini di Pemalang, Jawa Tengah merupakan bagain dari hasal penelitian cahaya pada tahun 2004 di Pemalang, Jawa Tengah, dengan cara mengikuti kapal mini purse sene komersil yang menggunakan alat bantu cahaya. Pengukuran dimensi alat tangkap dan biologi ikan dominan hasil tangkapan dilakukan di atas kapal.
PROPORSI DAN KOMPOSISI HASIL TANGKAPAN JARING TIGA LAPIS (TRAMMEL NET) DI PELABUHAN RATU Hufiadi, Hufiadi
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 2, No 2 (2008): (Agustus 2008)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.072 KB) | DOI: 10.15578/bawal.2.2.2008.69-74

Abstract

Nelayan di Pelabuhan Ratu banyak mengoperasikan alat tangkap Jaringan tiga lipat (jatilap) yang memiliki perbedaan ukuran mata jaring, khususnya jaring lapisan dalam (inner net). Hal ini diduga dapat mempengaruhi komposisi hasil tangkapan ikan yang diperoleh berdasarkan pada jatilap yang diujicobakan yaitu dengan cara terjerat, terpuntal, terkantung, dan tersangkut. Ikan yang tertangkap dengan cara terpuntal paling dominan dibandingkan dengan cara lainnya. Jatilap dengan jaring lapisan dalam 1,75" memperoleh total tangkapan 259 ekor (51,59%) terdiri atas udang dogol (sasaran tangkapan) 10 ekor dan tangkapan lain (bukan sasaran) 249 ekor. Sementara itu, untuk jaring lapisan dalam 2,0" menangkap udang 9 ekor dan tangkapan lainnya 234 ekor dengan total tangkapan 243ekor (48,41%). Ikan yang dominan tertangkap jatilap adalah ikan bilis (Thryssa sp.) (25,5%), pepetek (Leiognathus spp) (19,7%), dan senangin (Polynemus sp.) (16,3%).
KONSENTRASI DAN TINGKAT EFISIENSI PENANGKAPAN PUKAT CINCIN PEKALONGAN DI BEBERAPA DAERAH PENANGKAPAN Hufiadi, Hufiadi; Wiyono, Eko Sri
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 16, No 2 (2010): (Juni 2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.265 KB) | DOI: 10.15578/jppi.16.2.2010.107-114

Abstract

Kapasitas upaya penangkapan ditentukan oleh beberapa peubah, seperti ukuran kapal, ukuran mesin kapal, ukuran jaring, dan teknologi alat bantu penangkapan. Kajian pengelolaan perikanan pukat cincin di Laut Jawa berbasis kapasitas penangkapan merupakan alternatif pendekatan guna mengendalikan faktor-faktor input yang tidak efisien yang digunakan dalam usaha penangkapan. Tujuan penelitian ini adalah mengukur tingkat efisiensi teknis dan pemanfaatan kapasitas alat tangkap pukat cincin di Pekalongan. Efisiensi penangkapan dan pemanfaatan kapasitas dari alat tangkap pukat cincin yang dikaji dianalisis berdasarkan pada daerah penangkapan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pemanfaatan kapasitas penangkapan pukat cincin Pekalongan di utara Jawa, Bawean, Maburit, Matasiri, Kangean, dan Masalima tidak optimum, di Maburit pada musim barat, Masalima pada musim peralihan I dan di Bawean pada musim timur telah melebihi jauh dari nilai optimum dan tingkat pemanfaatan kapasitas yang optimum hanya terjadi di perairan Lumu-Lumu pada musim peralihan II (bulan September sampai Desember). Fishing effort capacity is determined by several variables, such as the ships size, engine size, nets size, and fishing agregatting technology. Fisheries management based on fishing capacity is an alternative approach to control inefficient input factors used in fishing business. The objective of this study is to measure the level of technical efficiency and utilization capacity of purse seine in Pekalongan. The technical efficiency and utilization capacity were analyzed based on fishing grounds. The fishing efficiency measurement was performed by using data envelopment analysis. Results showed that generally fishing capacity of Pekalongan purse seiner in several fishing grounds was still not optimum and moreover exceeded its fishing capacity. Fishing capacity utilization for optimum level was only in Lumu-Lumu on monsoon period between September to December.
UJI COBA PENANGKAPAN JARING INSANG DUA LAPIS UNTUK MENANGKAP IKAN TERUBUK (Tenualosa macrura Bleeker, 1852) HIDUP DI BENGKALIS Hufiadi, Hufiadi; Baihaqi, Baihaqi; Mahiswara, Mahiswara
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 24, No 1 (2018): (Maret 2018)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (81.996 KB) | DOI: 10.15578/jppi.1.1.2018.25-36

Abstract

Ikan terubuk (Tenualosa macrura Bleeker, 1852) merupakan komoditas perikanan yang penting di Bengkalis, Provinsi Riau. Populasi terubuk di Bengkalis sangat menurun akibat dieksploitasi meskipun pembatasan penangkapan juga telah diterapkan melalui metode konservasi. Upaya selain konservasi juga melalui budidaya ikan namun upaya ini terkendala oleh ketersedian ikan terubuk hidup baik sebagai induk maupun ikan dewasa. Tulisan ini membahas hasil uji coba pengoperasian alat penangkap ikan jaring dua lapis untuk menangkap ikan terubuk hidup. Uji coba penangkapan dilaksanakan pada tahun 2015 – 2016 di perairan Selat Bengkalis dan sekitarnya. Hasil uji coba penangkapan menunjukkan bahwa jenis ikan yang dominan tertangkap adalah ikan biang-biang (Setipinna breviceps) dan nomei (Harpodon sp). Laju tangkap jaring dua lapis terhadap ikan terubuk berkisar 0,7 - 2,6 ekor/setting. Jumlah ikan terubuk yang tertangkap dalam kondisi hidup mencapai 27,1% dari total tangkapan ikan terubuk. Nilai ukuran panjang pertama kali tertangkap ikan terubuk dengan jaring dua lapis (Lc) yaitu 17,43 cmFL. Terubok (Tenualosa macrura Bleeker, 1852) is an important fish commodity in Bengkalis, Riau Province. The terubok resosurce in Bengkalis is heavily degraded due to the high exploitation even fishing limitation was applied in term of species conservation. Conservation efforts through fishculture are constrained by the availability of live terobuk fish as both parent and adult fish. This paper present the results of fishing trial of double-net fishing gear for catching alive terubok fish. Fishing trial was conducted in 2015-2016 periods in Bengkalis strait waters and its adjascent. The results shown that the dominant fish catches of doublé net were Shorthead hairfin anchovy (Setipinna breviceps) and bombay duck (Harpodon sp). Double gill net catch rate for terubok were between 0,7 -2,6 fish/setting. Number of alive terubok fish was 27,1% of total terubok catches, length of first capture (Lc) value of terubok by using doublé net was 17.4 cm FL.
SELEKTIVITAS MATA JARING BUJUR SANGKAR (SQUARE MESH WINDOW) PADA ALAT TANGKAP CANTRANG DI PERAIRAN JAWA Hufiadi, Hufiadi; Baihaqi, Baihaqi; Mahisworo, Mahisworo
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 20, No 3 (2014): (September 2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.457 KB) | DOI: 10.15578/jppi.20.3.2014.153-160

Abstract

Penelitian selektivitas alat tangkap cantrang dilakukan dengan memasang BRD/square mesh window di bagian kantong jaring. Upaya rancang bagun jaring cantrang yang lebih selektif dilakukan melalui ujicoba pengoperasian secara langsung di lapangan. Untuk mengetahui tingkat kelolosan ikan muda (juvenil)/ukuran kecil melalui square mesh window menggunakan metode cover cod end. Penelitian dilakukan di Brondong, Lamongan Jawa Timur di 39 stasiun penangkapan. Selama penelitian, Rata-rata laju tangkap cantrang yang dilengkapi dengan perangkat square mesh window  2 inci, 3 inci dan 4 inci masing-masing  berkisar 54,03 - 101,34 kg/tarikan, 36,84 - 72,34 kg/tarikan dan 46,51 - 99,98 kg/tarikan dari subtotal tangkapan. Tingkat pelolosan cantrang yang dilengkapi square mesh window 2 inci, 3 inci dan 4 inci masing-masing berkisar antara 4,13 - 9,06% ,7,66 - 10,47% dan 14,94 - 39,80%. Perangkat square mesh window berukuran 3 inci (7, 62 cm) dan 4 inci (10,16 cm) efektif dalam meloloskan ikan-ikan berukuran kecil.The study of Danish seine selectivity was conducted by installing the square mesh window on the cod end. Experimental fishing operation on the sea was conducted to design of danish seine for increasing its selectivity. The rate escapement of fish juvenile through the square mesh window was determined by using cover cod end method. The study was done in 39 stations of Fishing trials at Brondong, Lamongan, East Java. During this study, catch rate of the square mesh window 2 inch, 3 inch and 4 inch ranged between 54.03 - 101.34kg/hauling, 36.84 - 72.34 kg/hauling and 46.51 - 99.98 kg/hauling, respectively. Escapement rate of danish seine with square mesh window 2 inch,3 inch and 4 inch, were between 4.13 -9.06%, 7.66-10.47% and 14,94-39.80%, respectively. The square mesh window devices with mesh size of 3 inch (7.62cm) and 4 inch (10.16 cm) were more effective for escaping of fish juvenile.