Hidayat, Thomas
Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Published : 13 Documents
Articles

Found 13 Documents
Search

DISTRIBUSI DAN POTENSI SUMBER DAYA IKAN PELAGIS DI WILAYAH PENGELOLAAN PERIKANAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA 573 (WPP NRI 573) SAMUDERA HINDIA Mamun, Asep; Priatna, Asep; Hidayat, Thomas; Nurulludin, Nurulludin
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 23, No 1 (2017): (Maret, 2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.964 KB) | DOI: 10.15578/jppi.23.1.2017.47-56

Abstract

Pengelolaan perikanan tangkap yang lestari membutuhkan informasi potensi dan pola penyebaran sumber daya ikan yang dimanfaatkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi dan potensi sumber daya ikan pelagis di WPP NRI 573 (perairan Samudera Hindia) dengan metode akustik. Hasil penelitian menunjukan, penyebaran densitas cukup tinggi untuk ikan pelagis ditemukan di perairan selatan Pangandaran hingga wilayah Jogjakarta. Sumber daya ikan pelagis kecil yang terdeteksi didominasi oleh ukuran ikan dengan kisaran panjang antara 25-28 cm dan ikan pelagis besar di dominasi oleh ukuran ikan 28-31 cm. Nilai rata-rata kepadatan stok untuk ikan pelagis kecil 0,041 ton/km2 dan ikan pelagis besar sebesar 0,14 ton/ km2. Potensi lestari ikan pelagis kecil sebesar 292.092 ton/tahun dan ikan pelagis besar sebesar 505.941 ton/tahun. Nilai tersebut dapat dijadikan dasar dalam upaya pengelolaan dan pemanfaatan perikanan pelagis.The sustainable management is needed information on the stock and distribution pattern of fish.This study aims to determine distribution and potential of fish resources especially for pelagic species in FMA 573 (Indian Ocean) by using acoustic method. Result of research indicated that, high density for pelagic fish found in south Pangandaran to Jogjakarta. The results obtained also that, the detected small pelagic fish were dominated by the fish size ranged between 25-28 cm and large pelagic fish was dominated by fish size of 28-31cm.The average of the stock density for small pelagic fish was 0,041 ton/km2 and large pelagic fish of 0.14 ton/km2.The sustainable potential of the small pelagic fish amounted to 292.092 ton/year and the large pelagic fish amounted to 505.941 ton/year. These values can be used as the basic management and utilization of pelagic fisheries in the waters region.
TRUKTUR UKURAN DAN BEBERAPA PARAMETER POPULASI IKAN CAKALANG (Katsuwonus pelamis Linnaeus, 1758) DI SAMUDERA PASIFIK UTARA PAPUA Hidayat, Thomas; Noegroho, Tegoeh; Wagiyo, Karsono
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 9, No 2 (2017): (Agustus 2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (746.666 KB) | DOI: 10.15578/bawal.9.2.2017.113-121

Abstract

Ikan cakalang (Katsuwonus pelamis Linnaeus, 1758) merupakan salah satu sumberdaya ikan pelagis besar yang mempunyai nilai ekonomis penting. Informasi mengenai struktur ukuran dan beberapa parameter populasinya masih sangat terbatas khususnya di perairan Indonesia timur. Penelitian ini dilakukan di Morotai, Biak dan Jayapura dari Januari sampai Desember 2013. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis ukuran ikan yang tertangkap dan menganalisis parameter populasi meliputi laju pertumbuhan, mortalitas dan tingkat eksploitasi. Estimasi parameter pertumbuhan, mortalitas dan laju eksploitasi dihitung menggunakan program FiSAT (FAO-ICLARM Stock Assessement Tools). Ukuran ikan cakalang hasil tangkapan pancing tonda dan pancing ulur berkisar antara 15 – 94 cmFL (Fork Length), dengan modus antara 40-45 cmFL. Ukuran pertama kali tertangkap sebesar 40,1 cmFL dan kebanyakan adalah ukuran ikan yang sedang memijah. Hasil analisis menggunakan FiSAT II diperoleh laju pertumbuhan (K) sebesar 0,41/tahun, panjang asimptotik (L) 101,85 cmFL. Laju kematian alami (M) 0,6 / tahun, laju kematian karena penangkapan (F) 0,62 /tahun dan laju mortalitas total (Z) 1,22 /tahun. Tingkat eksploitasi ikan cakalang hampir fully exploited (E= 0,46). Disarankan tidak perlu ada penambahan upaya penangkapan atau status quo untuk menjaga agar sumberdaya ikan cakalang tetap terjaga kelestariannya. Skipjack tuna (Katsuwonus pelamis Linnaeus, 1758) is one of the large pelagic fish resources which have high economic value. Information on the size structure and population parameters is still limited especially in the waters of eastern Indonesia. The Research was conducted from January to December 2013 at Morotai, Biak and Jayapura. The aim of this study was to analyze the size of the fish caught and some of population parameters such as the growth rate, mortality rates, and exploitation rate. Estimated of growth parameters, mortality and exploitation rate using the program FiSAT (FAO-ICLARM Stock Assessement Tools). The size of skipjack tuna caught by troll line and handline in between 15-94 cmFL, with a mode of 40-45 cmFL. The Length at first capture was 40.1 cmFL, most of them had condition of spawning. By using program FiSAT II analysis resulted that growth rate (K) of skipjack tuna was 0.41/year, with length asimptotik (L) reaches 101.85 cmFL. The natural mortality rate (M) was 0.6 / year. The fishing mortality rate (F) was 0.62 / year and total mortality rate (Z) was 1.22 / year. The exploitation rate of skipjack tuna was nearly fully exploited (E = 0.46). It was recommended the exploitation rate of this fish should be no additional effort (status quo) to keep sustainability of the skipjack tuna resource.
ESTIMASI PARAMETER POPULASI IKAN TONGKOL KOMO (Euthynnus affinis) DI PERAIRAN LAUT JAWA Chodrijah, Umi; Hidayat, Thomas; Noegroho, Tegoeh
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 5, No 3 (2013): (Desember 2013)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.425 KB) | DOI: 10.15578/bawal.5.3.2013.167-174

Abstract

Tongkol komo (Euthynnus affinis) yang dikenal dengan nama perdagangan kawa-kawa termasuk dalam family Scombridae. Sebagai ikan pelagis mereka membentuk gerombolan, perenang cepat dan pemakan daging (carnivore). Penelitian tentang estimasi parameter populasi ikan tongkol komo di Laut Jawa didasarkan pada pengumpulan data di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pekalongan, pada bulan Februari-Desember 2012. Analisis parameter populasi menggunakan program “Electronic Length Frequency Analysis (ELEFAN-1). Hasil penelitian menunjukkan sebaran frekuensi panjang cagak ikan tongkol komo selama penelitian diperoleh panjang minimum 11,7 cm FL, panjang maksimum 55,4 cmFL dan panjang-rata-rata 34,1 cm. Persamaan dari hubungan panjang dan bobot ikan tongkol komo adalah W=0,00001L3,1267 (r2=0,986). Parameter populasi menunjukkan panjang asimtotik (L∞) = 59,63 cm, kecepatan pertumbuhan ikan tongkol (K) =  0,91 per tahun dan umur pada saat ditetaskan (t0)  = 0,178 tahun. Mortalitas total (Z) adalah 2,64 per tahun dengan mortalitas alami (M) dan mortalitas penangkapan (F) masing-masing 1,13/tahun dan  1,51/tahun. Rasio eksploitasi ikan tongkol adalah 0,57 pertahun. Hal ini berarti bahwa pemanfaatan ikan tongkol komo di Laut Jawa sudah dimanfaatkan secara penuh (fully exploited).As pelagic fish, kawa-kawa (Euthynnus affinis) were included in the family Scombridae, Schooling behaviours, fast swimmers and carnivore. Research on population parameter estimates of kawa-kawa of the Java Sea conducted in the Pekalongan fishing port during February to December 2012. Data analyzed using analytical model application with program of “Electronic Length Frequency Analysis (ELEFAN -1)”. The results showed that the frequency distribution of fish during sampling periods ranged of 11.7 cm FL to 55.4 cmFL with average length of 34.1 cmFL. Equation of a length and weight relationship of W = 0.00001 L3, 1267 (r2 = 0.986). Population parameters included asymptotic length growth rate (L∞) was 59.63 cmFL, growth rate (K) = 0.91 per year and zero age (t0) was 0.178 years. The total mortality (Z) was 2.64 per year, natural mortality (M) and fishing mortality (F) were 1.13 per year and 1.51 per year,  respectively. Exploitation rate (E) was 0.57 per year, it mean that utilization stage of kawa-kawa in the area sampling was fully exploited.
PARAMETER POPULASI LOBSTER BAMBU (Panulirus versicolor) DI PERAIRAN SIMEULUE Yusuf, Helman Nur; Suman, Ali; Hidayat, Thomas; Panggabean, Anthony Sisco
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 9, No 3 (2017): (Desember) 2017
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.404 KB) | DOI: 10.15578/bawal.9.3.2017.185-195

Abstract

Lobster bambu (Panulirus versicolor) merupakan komoditas perikanan penting yang telah diekspolitasi di perairan Simeulue. Peningkatan permintaan dan pengusahaan lobster menyebabkan tekanan penangkapan terhadap populasi lobster semakin intensif dan tidak terkendali. Untuk itu  diperlukan informasi tentang biologi reproduksi dan parameter populasi lobster dalam rangka pengelolaan sumberdaya lobster yang berkelanjutan. Penelitian dilaksanakan pada Mei sampai dengan Desember 2015 diperairan Simeulue dengan tujuan untuk mengestimasi parameter populasi lobster bambu. Pengamatan dan pengukuran lobster dilakukan di tempat pengumpul lobster dengan sistem sampling acak (random sampling). Analisis data parameter populasi menggunakan software FiSAT (Stock Assessement Tools). Dari hasil penelitian diperoleh bahwa kondisi lobster bambu jantan dan betina tidak seimbang (1 : 1,5),  pola pertumbuhan bersifat alometrik negatif dengan nilai b sebesar 2,924 dan rata-rata pertama kali tertangkap (Lc) = 86 mmCL. Laju pertumbuhan (K) = 0,320 per tahun dan panjang karapas asimtotik (CL) 149,1 mm. Laju mortalitas alami (M) = 0,99 per tahun, laju kematian akibat penangkapan (F) sebesar 0,84 per tahun dan laju kematian total (Z) sebesar 1,83 per tahun. Tingkat eksploitasi (E) sebesar 0,46 atau pemanfaatan sumberdaya lobster bambu belum optimum. Penambahan baru dalam populasi berlangsung sepanjang tahun dan mencapai puncaknya pada Juni dan Juli bersamaan dengan musim timur. Untuk itu perlu adanya regulasi pemerintah dalam pengelolaan perikanan lobster yang berkelanjutan dengan menerapkan close season lobster pada puncak musim pemijahan.The painted green/bamboo lobster (Panulirus versicolor) is an important fish commodities that have been exploited in the waters of Simeulue. Increased utilization and uncontrolled exploitation of lobster causing pressure on the lobster population. For this reason, there is a need for information about the parameters of the lobster population in the management for the sustainability of lobster resource. The experiment was conducted in May to December 2015 Simeulue waters for the purpose of estimating the population parameters lobster green. Sampel collected randomly in the lobster landing site. Analysis of the data using FiSAT II software (FAO-ICLARM Stock Assessement Tools). The results obtained unbalanced condition of green lobster (1:1.5), the growth pattern is allometrically negative with value b of 2,924, length at fish first caught (Lc) = 86 mm CL. The lobster growth rate (K) = 0,320 per year and asymptotic carapace length (CL) 149.10 mm. The rate of natural mortality (M) = 0.99 per year, the mortality rate due to the arrest of (F) of 0.84 per year and total mortality rate (Z) of 1.83 per year. The rate of exploitation (E) 0,46 or green lobster resource was not optimum. Recruitment occur throughout the year with peak recruitment in June and July of the southeast monsoon. A government regulation is needed for the sustainable management of lobster resources by applying a close season during the peak spawning peri.
BIOLOGI REPRODUKSI IKAN TONGKOL ABU-ABU (Thunnus tonggol) DI PERAIRAN LAUT CINA SELATAN Hidayat, Thomas; Noegroho, Tegoeh
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 10, No 1 (2018): April (2018)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1104.874 KB) | DOI: 10.15578/bawal.10.1.2018.17-28

Abstract

Ikan tongkol abu-abu (Thunnus tonggol) tertangkap di Laut Cina Selatan dan bernilai ekonomis penting. Trend produksi berfluktuatif, 2009-2011 meningkat, menurun pada 2013 dan 2015 meningkat kembali. Seiring dengan meningkatnya permintaan, pemanfaatan tongkol abu-abu harus dikelola agar ketersediaannya tetap berkesinambungan. Tujuan penelitian adalah mengkaji biologi reproduksi ikan tongkol abu-abu sebagai bahan kebijakan pengelolaan yang lestari. Kajian yang dilakukan meliputi struktur ukuran, hubungan panjang dan berat, nisbah kelamin, tingkat kematangan gonad (TKG), indeks kematangan gonad (IKG), rata-rata ukuran pertama kali tertangkap dan matang gonad serta kebiasaan makanan. Pengumpulan sampel dilakukan oleh enumerator di PPN Pemangkat, Kalimantan Barat pada Januari sampai November 2014. Data yang dikumpulkan meliputi panjang, berat, jenis kelamin, tingkat kematangan gonad, dan isi lambung. Hasil penelitian menunjukkan sebaran panjang ikan tongkol abu-abu pada kisaran 29-80 cmFL dan modus 47-49 cmFL, pertumbuhan bersifat isometrik, nisbah kelamin jantan dan betina menunjukkan kondisi seimbang, ukuran rata-rata pertama kali tertangkap (Lc) pada panjang 47,8 cmFL, ukuran pertama kali matang gonad (Lm) 41,1 cmFL. Dari data TKG dan IKG, prediksi musim pemijahan berlangsung pada Mei dan Agustus. Hasil pengamatan isi lambung menunjukkan bahwa ikan tongkol abu-abu tergolong ikan karnivora. Dari hasil penelitian rekomendasi untuk kebijakan pengelolaan adalah penetapan penutupan musim dan daerah penangkapan pada bulan Mei dan Agustus pada wilayah perairan yang diduga sebagai daerah pemijahan, penetapan kuota ukuran tangkapan lebih besar dari Lm 41,1 cmFL dan alternatif wisata pancing dengan ukuran mata pancing yang hanya menangkap ukuran yang sudah matang gonad.Longtail tuna (Thunnus tonggol) were caught in the South China Sea has important economic value. The catch trend fluctuates, increase in 2009 - 2011, decrease in 2013 and increase in 2015. High demand of this resource asked a proper management to ensure sustainability. The objective of the research was to investigate the reproductive biology of longtail tuna as an recommendation of fisheries management. Analysis was conducted to examine the size structure, the length and weight relationship, sex ratio, maturity stage, gonad somatic index (GSI), Length at first capture and Length at first maturity and food habits. Sample collection was conducted monthly by enumerators in the Pemangkat Fishing Port, West Kalimantan in January to November 2014. Data containing length, weight, sex, maturity stage, and stomach contents. The results showed that the length of longtail tuna in range of 29-80 cmFL and the mode of 47-49 cmFL, the growth is isometric, the sex ratio male and female showed a balanced condition, the average Length at first capture (Lc) at 47.8 cmFL, Length at first maturity (Lm) 41.1 cmFL. Based on maturity stage and GSI data, it predict that the spawning season takes place in May and August. Observations of the stomach contents showed longtail tuna is carnivorous fish. It suggest the close seasons and close areas in May and August on the location suspected as spawning areas, determination of the legal size is bigger than 41.1 cmFL and encourage the recreational fishing as an alternative with specific size of the hook that caught the mature size fish.
BIOLOGI REPRODUKSI IKAN TENGGIRI (Scomberomorus commerson Lacepede, 1800) DI PERAIRAN TELUK KWANDANG, LAUT SULAWESI Noegroho, Tegoeh; Hidayat, Thomas; Chodriyah, Umi; Patria, Mufti P
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 10, No 1 (2018): April (2018)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.4 KB) | DOI: 10.15578/bawal.10.1.2018.69-84

Abstract

Penelitian tentang aspek biologi tenggiri di Indonesia masih jarang dilakukan, padahal upaya pemanfaatannya telah lama dilakukan oleh nelayan. Ikan tenggiri di Teluk Kwandang penangkapannya dilakukan dengan alat tangkap purse seine dan pancing ulur. Data-data terkait biologi reproduksi ikan tenggiri di perairan Kwandang belum tersedia dengan baik, oleh sebab itu perlu dilakukan kajian yang lebih lengkap. Pelabuhan Perikanan Pantai Kwandang merupakan pelabuhan baru, sehingga informasi terkait perikanan tenggiri pada khususnya sangat bermanfaat dalam pendataan dan rencana pengelolaannya. Penelitian telah dilakukan pada Februari-Desember 2012 di perairan Teluk Kwandang, Kabupaten Gorontalo Utara, dengan tujuan mengkaji aspek perikanan meliputi struktur ukuran, panjang bertama kali tertangkap dan biologi reproduksi meliputi: Tingkat Kematangan Gonad, Gonado Somatic Index (GSI), nisbah kelamin, panjang pertama kali matang gonad, diameter dan jumlah telur. Dari penelitian ini diperoleh struktur ukuran pada kisaran 25-138 cmFL, dengan rata-rata modus 60 cmFL. Panjang pertama kali tertangkap dengan purse seine dan pancing ulur masing-masing 64,7 cmFL dan 71,9 cmFL. Tingkat Kematangan Gonad ikan tenggiri didominasi oleh gonad belum matang 61,2%, dan kondisi matang gonad 38,8%. Puncak Gonado Somatic Index (GSI) terjadi pada bulan Mei, sehingga ikan tenggiri di Teluk Kwandang diduga memijah pada Mei-Juli. Nilai GSI mencapai puncaknya pada panjang ikan 98 cmFL, dan akan turun pada panjang ikan lebih dari 100 cmFL. Panjang pertama kali matang gonad ikan tenggiri adalah 80,4 cmFL, pada kisaran 79,3-81,6 cmFL. Jumlah telur ikan tenggiri berkisar 417.360-9.476.520 butir pada panjang ikan 65-103 cmFL. Berdasarkan perkembangan diameter telur setiap bulan menunjukkan tipe pemijahan ikan tenggiri adalah asynchronous dengan pola pemijahan partial spawner.The study on biological aspects of spanish mackerel in Indonesia is uncommon, whereas the exploitation have been conducted historically. Spanish mackerel in the Kwandang Bay caught by purse seiner and handliner. The reproductive biology of mackerel fish in Kwandang waters was unavailable, therefore more study needed. Kwandang is a new port, so the information related to Spanish mackerel in particular is very useful in data collection and management plan. This research aims to assess biological aspect such as the size structure, the length at first captured and reproductive biology aspects (gonad maturity stage, Gonado Somatic Index (GSI), sex ratio, length at first maturity, number and diameter of oosit). The study was conducted in February-December 2012 in the Kwandang Bay waters, North Gorontalo regency. The results showed that the size structure ranged between 25-138 cmFL, with average mode 60 cmFL. The length at first capture caught (Lc) with purse seine and handline by 64,7 cmFL and 71,9 cmFL, respectively. The gonad maturity stage of the was dominated by 61,2% of immature and 38,8% of mature gonad. Gonado Somatic Index (GSI) peak was reached in May, and from this GSI value it is concluded that the Spanish mackerel spawned in May-July. The maximum GSI reached at 98 cmFL and decreased at fish length exceeded 100 cmFL. Length at first maturity (Lm) of the gonad was approximately 80,4 cmFL, within the size range between 79,3-81,6 cmFL. The number of spanish mackerel oosit ranged between 417.360-9.476.520, with size ranged between 65-103 cmFL. The monthly fluctuations of oosit diameter implied that spawning type of spanish mackerel was asynchronous with partial spawner spawning pattern.
POLA DAN MUSIM PEMIJAHAN IKAN TONGKOL KOMO (Euthynnus affinis Cantor, 1850) DI LAUT JAWA Hidayat, Thomas; Febrianti, Endah; Restiangsih, Yoke Hani
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 8, No 2 (2016): (Agustus 2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.486 KB) | DOI: 10.15578/bawal.8.2.2016.101-108

Abstract

Ikan tongkol komo (Euthynnus affinis, Cantor 1850) merupakan salah satu jenis kelompok ikan pelagis besar yang banyak didaratkan oleh armada jarring insang dan pukat cincin di Tegal. Tersedianya data dan informasi tentang pola dan musim pemijahan merupakan bagian dari pengetahuan yang diperlukan untuk mengetahui status sumberdaya bagi upaya pengelolaanya. Penelitian ini ditujukan untuk mendapatkan pola dan musim pemijahan ikan tongkol komo di Laut Jawa khususnya di pantai Tegal dan sekitarnya. Penelitian dilakukan pada bulan Februari-Desember 2012 di tempat pendaratan ikan kota Tegal, Jawa Tengah. Pendugaan pola pemijahan berdasarkan pengamatan sebaran frekuensi diameter telur sedangkan pendugaan musim pemijahan menggunakan pendekatan Indeks Kematangan Gonad (IKG) atau Gonado somatic index (GSI) bulanan. Analisis data oseanografi khususnya suhu permukaan laut (SPL) dan konsentrasi klorofil-a berdasarkan citra satelit Aqua Modis digunakan sebagai data dukung musim pemijahan. Hasil penelitian menunjukkan pola pemijahan tongkol komo di Laut Jawa memiliki strategi reproduksi beberapa kali memijah (partial spawner). Fekunditas berkisar antara 225.760-2.601500 telur. Musim pemijahan terjadi pada Juni-Agustus dimana konsentrasi klorofil-a tinggi.Kawakawa (Euthynnus affinis, Cantor 1850) is one of large pelagic species group caught by drift gill nets and purse seine fisheries in the Java Sea. The information of spawning characteristics is crucial for fisheries management. This research aims to determine the spawning strategy of kawakawa in the Java Sea mainly in Tegal and adjacent waters. Observation has been conducted during February-December 2012 in Tegal, Central Java. The estimation the spawning season determined by using Gonad somatic index (GSI) and investigated with profiling oceanographic data on sea surface temperature (SST) and concentration of chlorophyll-a derived from Aqua Modis satellite imagery. The results showed the reproductive strategy of kawakawa in the Java Sea is partial spawner. Fecundity ranged between 225,760-2,601,500 eggs and the spawning season occurs in June-August where concentrations of chlorophyll-a high.
KARAKTERISTIK PERIKANAN PANCING TONDA DI LAUT BANDA CHARACTERISTICS TROLL LINE FISHERY IN THE BANDA SEA Hidayat, Thomas; Chodrijah, Umi; Noegroho, Tegoeh
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 20, No 1 (2014): (Maret 2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.20.1.2014.43-51

Abstract

Perikanan pancing tonda yang berbasis rumpon di Laut Banda telah lama berkembang. Penelitian ini dilakukan mulai Februari sampai Desember 2011 di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Kendari yang bertujuan untuk memperoleh data dan informasi tentang laju tangkap, komposisi hasil tangkapan, dan  ukuran ikan yang tertangkap pancing tonda dari Laut Banda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju tangkap rata-rata pancing tonda di Laut Banda   adalah  3.492 kg/trip dengan lama trip10-12 hari. Komposisi jenis hasil tangkapan pancing tonda di Laut Banda yaitu : cakalang (Katsuwonus pelamis) 67 %, madidihang (Thunnus albacares) 27 %, tuna mata besar (Thunnus obesus) 5 %, lemadang (Coryphaena hippurus) 1%. Ukuran ikan cakalang dan madidihang yang tertangkap pancing tonda antara  20-70 cm, sedangkan ukuran keduanya paling banyak  tertangkap antara 40-50 cm. Ikan madidihang yang tertangkap pancing tonda di Laut Banda masih tergolong ikan yang masih muda. Penangkapan juvenil tuna dalam jumlah besar dan terus-menerus dapat menyebabkan sumber daya ikan tuna akan terus menurun di masa mendatang. Troll line fishery operated around FADs in the Banda Sea has been long developing.  The study was conducted from February to December 2011 in  Kendari Fishing Port aimed to obtain data and information on the catch rate, catch composition and size structure of the fish caught by trolling line in the Banda Sea. The study was conducted by recording catches of troll line fishing boats. The results showed that the average catch rate of  trolling in the Banda Sea is 3,492 kg / trip (10-12 days trip). Catch composition consist of  skipjack tuna (Katsuwonus pelamis) 67%, yellowfin tuna (Thunnus albacares), bigeye tuna (Thunnus obesus) 5 %, common dolphin fish (Coryphaena hippurus) 1%, The length  of skipjack tuna and yellowfin tuna were caught troll line  ranged of 20-70 cm, while the dominant caught with length was 40-50 cm. Yellowfin tuna caught by troll line in the Banda Sea is still  juvenile fish stage. Catching  juvenile tuna in large numbers and continuously in this stage causes tuna  resources  become to  continue decline in the future.
INDEKS KEANEKARAGAMAN HAYATI SUMBERDAYA IKAN DEMERSAL DI PERAIRAN SAMUDERA HINDIA SELATAN JAWA Hidayat, Thomas; Nurulludin, Nurulludin
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 23, No 2 (2017): (Juni 2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6030.678 KB) | DOI: 10.15578/jppi.23.2.2017.123-130

Abstract

Penelitian telah dilakukan di perairan Samudera Hindia Selatan Jawa pada bulan September-Oktober 2015. Peneletian ini bertujuan mendapatkan informasi indeks keanekaragaman jenis ikan demersal, yang diharapkan dapat dijadikan sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan pengelolaan perikanan. Pengumpulan data spesies dilakukan melalui survei pukat dasar (bottom trawl) menggunakan KR. Baruna Jaya IV (1200 GT). Hasil penelitian mendapatkan 70 spesies ikan demersal yang tergolong dalam 36 famili. Spesies yang mendominasi adalah famili Sciaenidae (ikan tigawaja), Trichiuridae (ikan layur) dan Ariidae (manyung), Haemulidae (ikan kaci-kaci) dan Mullidae (kuniran). Tingkat keanekaragaman jenis ikan demersal termasuk dalam kategori “sedang” dengan indeks “Shanon-Wiener” (H’) berkisar 2,5. Indeks kekayaan jenis “Margalef” (R1 ) sebesar 7,9. Penyebaran diantara spesiesnya bersifat sedang, dengan indeks kemerataan jenis “Pielou” (E) rata-rata 0,30 dan tidak banyak jenis yang mendominasi kelimpahannya, dengan nilai indeks dominasi (C) rata-rata sebesar 0,12.  The research was conducted in the Indian Ocean southern part of  Java during September-October 2015. This research aims to examine species diversity indices of demersal fish. Data collection was carried through a survey bottom trawl using KR. Baruna Jaya IV (1200 GT). The results showed that catch consisted of 70 species (36 families). The dominant families were the Sciaenidae, Trichiuridae Ariidae, Haemulidae and Mullidae. The level of species diversity of demersal fish was medium category. The species diversity indices of “Shanon-Wiener” (H ‘),  “Margalef” (R1), Evennes indices of “Pielou” (E1) and dominant indices (C) were 2.5, 7.9, 0.30 and 0.12, respectively. 
DINAMIKA POPULASI IKAN TENGGIRI (Scomberomorus commerson) DI PERAIRAN TELUK KWANDANG, LAUT SULAWESI Noegroho, Tegoeh; Hidayat, Thomas
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 20, No 4 (2014): (Desember 2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.20.4.2014.251-258

Abstract

Ikan tenggiri merupakan komoditas penting yang pengusahaannya telah dilakukan secara intensif untuk memenuhi kebutuhan pasar, baik dalam negeri  maupun ekspor.Belum adanya kontrol baik penangkapan dan biologi terhadap pemanfaatannya dapat membahayakan keberlanjutan perikanan ikan tenggiri. Penelitian telah dilakukan pada Februari-Desember 2012 di Kwandang, Kabupaten Gorontalo Utara yang potensial sebagai daerah produsen ikan tenggiri. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis parameter dinamika populasi seperti laju pertumbuhan, tingkat kematian, tingkat eksploitasi, dan pola rekrutmen ikan tenggiri (Scomberomorus commerson). Sampel ukuran ikan tenggiri diambil secara acak dari hasil tangkapan kapalpurse seine(pajeko) dan pancing ulur (handline). Data ukuran ikan yang diperoleh digunakan untuk perhitungan frekuensi panjang, hubungan panjang berat, dan dinamika populasi. Beberapa parameter dinamika populasi diestimasi dengan menggunakan program FISAT II. Dari parameter pertumbuhan Von Bertalanffy diperoleh L∞ (cm) dan laju pertumbuhan (K) masing-masing 142,3 cm dan 0,81/ tahun. Laju mortalitas total (Z) sebesar 1,19 per tahun. Tingkat kematian karena penangkapan (F) sebesar 0,53/tahun lebih rendah jika dibandingkan dengan tingkat kematian alami (M) sebesar 0,66/tahun. Tingkat eksploitasi (E) ikan tenggiri di Teluk Kwandang adalah 0,39/tahun, yang artinya dalam kondisi hampir fullexsploited (Eoptimalsebesar 0,40/tahun). Pola rekrutmen ikan tenggiri terjadi dua kali, puncak pertama terjadi pada Maret-Juli (76,37%), dan yang kedua pada September-Oktober (23,63%).Narrow barred spanish mackerel is an an important commodity that has commercialized intensively to fulfill needs of the market, both domestic and exports. A research has been conducted in February-December 2012 in Kwandang, North Gorontalo regency. The purpose of this study is to analyze the dynamics of population parameters such as growth rate, mortality rate, exploitation rates, and recruitment patterns of spanish mackerel (Scomberomorus commerson). Sample size of spanish mackerel was taken at randomly from the purse seiner and handline catches. Data of size obtained were used for analyzed of population dynamics parameter. Some population dynamics parameters wereestimated using the program FISAT II. Von Bertalanffy growth parameters was derived L∞ and growth rate (K), 142.3 cm and 0.81/year cm, respectively. Total mortality was 1.19/year. Fishing mortality rate (F) was 0.53/year lower than natural mortality rate (M) 0.66/year. Exploitation rate (E) of spanish mackerel in the Kwandang Bay was 0.39, that almost full exploited when compared with Eoptimum 0.40. Recruitment pattern of spanish mackerel was occured twice, the first take a place in March-July (60.09%), and the second in September-October (18.14%).