Tirtadanu, Tirtadanu
Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Published : 11 Documents
Articles

Found 11 Documents
Search

LAJU TANGKAP, KOMPOSISI, SEBARAN, KEPADATAN STOK DAN BIOMASA UDANG DI LAUT JAWA Tirtadanu, Tirtadanu; Suprapto, Suprapto; Ernawati, Tri
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 22, No 4 (2016): (Desember 2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.384 KB) | DOI: 10.15578/jppi.22.4.2016.243-252

Abstract

Penangkapan udang di Laut Jawa telah dilakukan sejak lama dan aktivitasnya berpengaruh besar terhadap perubahan stok dan ekologi perairan. Data dan informasi terbaru terkait laju tangkap, komposisi, sebaran dan kepadatan stok udang diperlukan sebagai dasar dalam pengelolaan sumberdaya udang yang berkelanjutan di Laut Jawa. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui laju tangkap, komposisi, sebaran dan kepadatan stok udang di Laut Jawa. Penelitian dilakukan pada Oktober dan November 2015 dengan menggunakan armada Kapal Riset Madidihang 02 di Laut Jawa. Kepadatan stok diestimasi dengan metode sapuan. Enam belas spesies dari 6 genera udang ditemukan di Laut Jawa dengan lima spesies dominan adalah Metapenaeopsis palmensis (53,33%), Metapenaeus ensis (14,98%), Trachypenaeus malaiana (12,89%), Penaeus semisulcatus (6,16%) dan Metapenaeopsis stridulans (5,21%). Rerata panjang karapas udang yang dominan yaitu udang krosok (M. palmensis) adalah 14 mm untuk udang jantan dan 16 mm untuk udang betina. Secara horisontal, penyebaran udang tertinggi ditemukan di perairan selatan Kalimantan Tengah, perairan utara Sumenep, perairan sekitar Pulau Bawean dan utara Tegal. Berdasarkan pengalaman, penyebaran udang tertinggi ditemukan pada kedalaman 40-50 m. Rerata kepadatan stok udang di Laut Jawa sebesar 21,34 ± 16,81 kg/km2 dan laju tangkap sebesar 1 ± 0,5 kg/jam. Estimasi biomasa udang di Laut Jawa sebesar 9.938 ton. Shrimp resources in Java Sea have been exploited for years and its activity affected the changes of shrimps stock abundance  and aquatic ecology. Data and the latest information about catch rate, composition, distribution, density and biomass of shrimps were required as a basis of sustainable management in Java Sea. The aim of this research were to determine catch rate, composition, distribution, density and biomass of shrimps in Java Sea. The Research was conducted from October until November 2015 using Research vessel Madidihang 02 in Java Sea. Swept Area Method was used for stock density estimation. The aims of this research were to determine catch rate, composition, distribution and stock density of shrimps in Java Sea. Sixteen species from 6 genera of shrimps were found in Java Sea. The Dominant species of shrimps in Java sea were Metapenaeopsis palmensis (53,33%), Metapenaeus ensis (14,98%), Trachypenaeus malaiana (12,89%), Penaeus semisulcatus (6,16%) and Metapenaeopsis stridulans (5,21%). The most dominant shrimps caught were velvet shrimps (M. palmensis) of the average size of 14 mm carapace length for males and 16 mm carapace length for females. The highest stock density of Penaeid shrimps were found in the southern waters of Kalimantan Central, northern waters of Sumenep and the waters around Bawean island and Northern waters of Tegal. The highest stock density were found in depth of 40-50 m. The average density of Penaeid shrimps in the Java sea was 21.34 ± 16.81 kg/km2 and the catch rate was 1±0,5 kg/hour. Biomass estimation of shrimps in Java Sea were 9.938 ton.
KOMPOSISI JENIS, SEBARAN DAN KEPADATAN STOK UDANG PADA MUSIM SELATAN DI PERAIRAN TIMUR KALIMANTAN Tirtadanu, Tirtadanu; Suprapto, Suprapto; Putri Pane, Andina Ramadhani
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 10, No 1 (2018): April (2018)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.139 KB) | DOI: 10.15578/bawal.10.1.2018.41-47

Abstract

Kajian tentang komposisi, sebaran dan kepadatan stok udang merupakan informasi penting sebagai evaluasi dampak aktivitas penangkapan udang saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji komposisi jenis, sebaran dan kepadatan stok udang pada saat musim selatan di perairan Timur Kalimantan. Penelitian dilakukan pada bulan September – Oktober 2016 menggunakan trawl pada Kapal Riset Baruna Jaya IV (tali ris atas 36 m). Lama penarikan jaring 1 jam dengan kecepatan kapal sekitar 3 knot. Analisis terhadap 11 stasiun pengamatan yang berhasil menunjukkan komposisi udang terdiri dari 14 spesies yang tergolong dalam 7 genera dan 3 famili. Spesies yang dominan meliputi udang dogol (Metapenaeus ensis), udang windu (Penaeus monodon) dan udang jerbung (Penaeus merguiensis). Berdasarkan lokasinya, kepadatan stok tertinggi ditemukan di sebelah timur Balikpapan dan secara umum kepadatan stok tertinggi ditemukan pada kedalaman kurang dari 40 m. Kepadatan stok udang berkorelasi dengan kedalaman di mana udang jerbung hanya tertangkap pada kedalaman kurang dari 40 m. Udang dogol ditemukan pada kedalaman hingga 60 m namun lebih padat pada kedalaman kurang dari 40 m, sedangkan udang windu lebih padat pada perairan yang lebih dalam yaitu antara 40-60 m. Total kepadatan stok udang pada musim selatan di perairan Timur Kalimantan adalah 16,5 ± 9,7 kg/km2.Study of species composition, distribution and stock density of shrimp was vital to evaluate of the impact of current shrimp fishing to its sustainability. The research aims to study composition, distribution and stock density of shrimps during south monsoon in the East of Kalimantan which was conducted in September – October 2016 by conducting exploratory survey using trawling with R.V. Baruna Jaya IV (headrope length of 36 m). Towing duration of 1 hour and vessel speed around 3 knots. The result from 11 stations showed that the composition of shrimps consists of 14 species from 7 genera and 3 family. The dominant species (38.4%) were greasyback shrimp (Metapenaeus ensis), while giant tiger prawn (Penaeus monodon) by 22.2% and banana prawn (Penaeus merguiensis) by 16.7%. Based on the geographic location, the highest stock density was found in the eastern part of Balikpapan waters (< 40 m depth). The shrimp density found have association with depths where banana prawn found in depths of less than 40 m. Greasyback shrimp found in depths of more than 60 m with more abundant in depth less than 40 m, while giant tiger prawn was more abundant in deeper water in depths between 40 – 60 m. Total density of shrimps during south monsoon in the eastern part of Kalimantan waters was 16.5 ± 9.7 kg/km2.
ASPEK BIOLOGI DAN PARAMETER POPULASI UDANG JINGA (Metapenaeus affinis H. Milne Edwards, 1837) DI PERAIRAN KOTABARU, KALIMANTAN SELATAN Tirtadanu, Tirtadanu; Suprapto, Suprapto; Suman, Ali
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 9, No 1 (2017): (April, 2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (924.229 KB) | DOI: 10.15578/bawal.9.1.2017.11-20

Abstract

Udang jinga (Metapenaeus affinis H. Milne Edwards, 1837) merupakan salah satu jenis udang ekonomis penting yang diusahakan di perairan Kotabaru dan saat ini produksinya cenderung mengalami penurunan. Salah satu data dan informasi yang diperlukan dalam mengkaji tingkat pemanfaatan dan dasar pengelolaannya adalah aspek biologi dan parameter populasi. Penelitian ini bertujuan mengkaji aspek biologi dan parameter populasi udang jinga sebagai bahan kebijakan pengelolaan perikanan udang di perairan Kotabaru, Kalimantan Selatan. Penelitian dilakukan pada bulan Januari – November 2016 di perairan Kotabaru. Parameter pertumbuhan diestimasi berdasarkan pergeseran modus struktur ukuran panjang dengan metode ELEFAN I. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata ukuran udang jinga (M. affinis) betina yang tertangkap adalah 23,6 ± 3,45 mmCL dengan modus ukuran 24 mmCL dan rata-rata ukuran udang jantan adalah 20,7 ± 2,9 mm dengan modus ukuran 18 mmCL. Nisbah kelamin udang jinga jantan dan betina adalah 1 : 2,5. Musim pemijahan udang jinga diduga berlangsung sepanjang tahun dan puncak pada bulan Maret. Ukuran rata-rata pertama kali tertangkap (Lc) udang lebih kecil dari ukuran rata-rata pertama kali matang gonad (Lm) (21,7 < 28,5 mm CL) sehingga sebagian besar udang tertangkap berukuran kecil dan belum memijah. Persamaan pertumbuhan udang jinga jantan  CL(t)=35,95(1-e-2.02(t+0,31) dan udang jinga betina CL(t)= 38,3(1-e-1,92(t+0,29)). Tingkat pemanfaatan udang (E) menunjukkan lebih tangkap (overfishing) yakni 0,70/tahun pada jantan dan 0,73/tahun pada betina. Dengan demikian disarankan untuk melakukan pengurangan upaya penangkapan sebesar 40% dan penutupan musim penangkapan di bulan Maret.The jinga shrimp (Metapenaeus affinis H. Milne Edwards, 1837) was one of important commodity that was exploited in Kotabaru Waters, yet the production tend to be declined recently. The data and information on biological aspects and population parameters are needed to investigate the exploitation level and the basis of management measures. This research aims to investigate the biological aspects and population parameters of jinga shrimp Kotabaru waters, South of Kalimantan. This research was conducted on January – November 2016. The growth parameters were estimated as movement of length frequency mode by ELEFAN I method. The results showed that the mean size of female jinga shrimp (M. affinis) was 23,6 ± 3,45 mm CL and the mode was 24 mmCL. While, the mean size of male jinga shrimp was 20,7 ± 2.9 mm CL and the mode was 18 mmCL. The sex ratio of male and female shrimp was 1 : 2,5 . Spawning season of jinga shrimp was estimated throughout the year and the peak was in March. The length at first captured (Lc) was shorter than length at first matured (Lm) (21,7 < 28,5 mm CL). That means most of the catches was immature. The growth function of male and female jinga shrimp were and, CL(t)=35,95(1-e-2.02(t+0,31) respectively and CL(t)= 38,3(1-e-1,92(t+0,29)). The exploitation rate (E) of male and female shrimp fishing were  0,70/year 0,73/year, respectively. The reduction of fishing effort needed by 40% of the actual combined with the temporal fishing closure March.
SEBARAN FREKUENSI PANJANG, HUBUNGAN PANJANG-BERAT, TINGKAT KEMATANGAN GONAD DAN RATA-RATA UKURAN PERTAMA KALI MATANG GONAD UDANG PUTIH (Penaeus merguiensis De Man, 1888) DI PERAIRAN KOTABARU, KALIMANTAN SELATAN Tirtadanu, Tirtadanu; Suprapto, Suprapto; Suman, Ali
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 9, No 3 (2017): (Desember) 2017
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.058 KB) | DOI: 10.15578/bawal.9.3.2017.145-152

Abstract

Pengusahaan udang putih (Penaeus merguiensis De Man, 1888) di perairan sekitar Kotabaru memerlukan upaya pengelolaan agar perikanan udang dapat berkelanjutan.Salah satu informasi penting yang diperlukan sebagai dasar dalam pengelolaannya yaitu aspek biologi.Tujuan penelitian adalah mengkaji sebaran frekuensi panjang, hubungan panjang-berat, tingkat kematangan gonad dan rata-rata ukuran pertama kali matang gonad udang putih di perairan sekitar Kotabaru. Pengumpulan data diperoleh dari tempat pendaratan udang di Kotabaru pada bulan Januari – November 2016. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah random sampling. Hasil penelitian menunjukkan ukuran udang putih yang tertangkap cenderung kecil dengan ukuran berkisar antara 14 - 46 mmCL dan rata-rata sebesar 26 ± 3,7 mmCL pada udang jantan dan 28,5 ± 5,3 mmCL pada udang betina. Pola pertumbuhan bersifat allometrik negatif dan telah terjadi penurunan bobot dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Proporsi tertinggi udang matang gonad terjadi pada bulan Maret sehingga diduga merupakan puncak pemijahan udang putih.Ukuran pertama kali tertangkap udang (Lc = 28,1 mmCL) lebih kecil dibandingkan ukuran pertama kali matang gonad (Lm = 35,3 mmCL) sehingga sebagian besar udang yang tertangkap belum melakukan pemijahan. Dalam rangka menjaga keberlanjutan sumberdaya udang putih di Kotabaru, disarankan melakukan penutupan penangkapan di bulan Maret dan penggunaan alat tangkap ramah lingkungan dengan ukuran minimum tertangkap lebih besar dari 35 mmCL atau kurang dari 27 ekor dalam 1 kg.The exploitation of banana prawn (Penaeus merguiensis De Man, 1888) in Kotabaru Waters need management strategy, so the prawn fisheries in Kotabaru waters could be sustainably exploited. The important information needed for its basis management are was biological aspects of banana prawn. The aim of this research were to study about length frequency, length-weight relationship, maturity stages and length at first first mature of banana prawn in Kotabaru Waters. The research was conducted at landing site of prawn in Kotabaru and the samples were collected in January – November 2016. The method used for sampling was random sampling. The results showed that the size of banana prawn tend to become smaller with the size between 14-46 mmCL and the mean size were 26 ± 3,7 mmCL for male and 28,5 ± 5,3 mmCL for female. The growth pattern of banana prawn was allometric negative and the weights decreased from the previous years. The highest proportion of mature prawns was in March, likely suggestes to be the spawning season of banana prawn. Length at first captured of banana prawns (Lc = 28,1 mmCL) was lower than length at first matured (Lm = 35,3 mmCL) so most of prawns captured has not spawn yet. For sustainability of banana prawn resources in Kotabaru Waters, it is suggested to close fishing season in March and minimum legal size should be bigger than 35 mmCL or less than 27 prawns in 1 kg.
KEPADATANSTOKDANASPEKBIOLOGI LOBSTERPASIR (Thenus orientalis) DI LAUT JAWA Tirtadanu, Tirtadanu; Kembaren, Duranta Diandra; Suprapto, Suprapto
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 8, No 3 (2016): (Desember, 2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.136 KB) | DOI: 10.15578/bawal.8.3.2016.131-136

Abstract

Informasi kepadatan stok dan asepk biologi lobster pasir di Laut Jawa merupakan informasi penting dalam melakukan pengelolaan yang rasional. Jenis lobster ini rentanmengalami penurunan populasi disebabkan lambatnya pertumbuhan dan rendahnya fekunditas. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kepadatan stok dan aspek biologi lobster pasir. Penelitian kepadatan stok dan biologi lobster pasir dilakukan pada bulan Oktober dan November 2015 dengan menggunakan Kapal Latih dan Riset Madidihang-02. Penentuan kepadatan stok mengggunakan metode sapuan area dengan alat tangkap trawl yang dioperasikan pada 39 stasiun penelitan denganwaktu hauling satu jamper stasiun.Hasil penelitian diperoleh bahwa kepadatan stok lobster pasir dipengaruhi oleh kedalaman dan jenis substrat dasar. Kepadatan tinggi ditemukan pada habitat dengan substrat pasir dan kedalaman antara 10-30 m. Rata-rata kepadatan stok sebesar 15,65 ± 6,73 kg/km2 dan laju tangkap 0,6 ± 0,27 kg/jam. Modus ukuran panjang karapas lobster jantan dan betina masing-masing sebesar 55 mm dan 65 mm. Pola pertumbuhan lobster bersifat allometrik negatif.Rasio kelaminmenunjukkan kondisi tidak seimbang dengan jumlah lobster jantan yang lebih dominan.Tingkat KematanganGonad lobster betina didominasi oleh lobster belummatang gonad (stadia I dan II).Stock density and biological aspect of slippery lobsters in the Java Sea are important information for developing appropriatemanagement measure. Slippery lobster was susceptible of declining population due slow growth and low fecundity. This research aims to investigate stock density and biological parameter of slippery lobster. Study conducted in October and November 2015 using Research Vessel Madidihang 02. Stock density calculated using the swept areamethod with trawl that investigated on 39 stations with one hour per hauling. The results show that stock density of slippery lobsters associated with depths and type of substrate. The highest density found in depth between 10-30 m and sand bottom substrate. The average density and catch rate of sand lobsters were 15.65 ± 6.73 kg/km2 and 0.6 ± 0.27 kg/hour respectively. The dominated size was 55 mm carapace length for male and 65 mm carapace length for female. The growth type was negative allometry. There is unequal sex ratio where male was more abundant than female. During October and November, the maturity stages of female was dominated by immature stage (stadia I and II).
KAJIAN BIOLOGI UDANG JERBUNG (Penaeus merguiensis De Man, 1888) DI PERAIRAN UTARA JAWA TENGAH Tirtadanu, Tirtadanu; Ernawati, Tri
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 8, No 2 (2016): (Agustus 2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (244.43 KB) | DOI: 10.15578/bawal.8.2.2016.109-116

Abstract

Penangkapan berlebih dapat menyebabkan penurunan stok udang jerbung di Perairan Utara Jawa Tengah sehingga mengancam kelestariannya. Oleh sebab itu, diperlukan penelitian tentang kajian biologi udang jerbung sebagai dasar pengelolaan perikanan udang di Perairan Utara Jawa Tengah. Penelitian dilakukan di tempat pendaratan udang di Cirebon dan Pemalang dari bulan April – Agustus 2015. Tujuan penelitian adalah mengkaji aspek biologi udang jerbung melalui pengamatan frekuensi panjang, hubungan panjang berat, faktor kondisi, nisbah kelamin, tingkat kematangan gonad, rata-rata panjang karapas udang matang gonad (Lm) dan rata-rata panjang karapas udang tertangkap (Lc). Hasil penelitian menunjukkan, modus panjang karapas udang jantan dan betina sebesar 28 mm. Pertambahan panjang udang jantan dan betina, lebih cepat dari beratnya dengan tingkat kegemukan yang rendah. Nisbah kelamin seimbang pada bulan April-Mei dan tidak seimbang pada bulan Juli dan Agustus. Persentase tertinggi udang betina matang gonad yaitu pada bulan Mei sebesar 40,2 %. Nilai Lc sebesar 29,4 mmCL lebih rendah dari Lm sebesar 42,85 mmCL yang berarti rata-rata udang yang tertangkap merupakan udang yang belum matang gonad. Biological information of banana prawn as crucial for managing shrimp fishery in the northern waters of Central Java. The research aims to biological aspects of banana prawn. The study was conducted in landing site of prawn in Cirebon and Pemalang on April-August 2015. Length frequency, length weight relationship, Condition Factor, sex ratio, gonadal maturity, length at first capture (Lc) and length at first mature at gonad maturity (Lm) were determined. The results showed that the mode of carapace length was 28 mm. The growth of length (both male and female) were faster than the weight. The sex ratio was equal on April-Mei and unequal on July and August. The highest percentage of mature female was on May (40.2%) which indicates as spawning season. The length at first capture was 29.4 mmCL which was lower than length at first mature (42.85 mmCL). That finding implied that the average size of prawn being captured was immature prawns.
ASPEK BIOLOGI, DINAMIKA POPULASI DAN TINGKAT PEMANFAATAN RAJUNGAN (Portunus pelagicus Linnaeus, 1758) DI PERAIRAN KOTABARU, KALIMANTAN SELATAN Tirtadanu, Tirtadanu; Suman, Ali
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 23, No 3 (2017): (September 2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.866 KB) | DOI: 10.15578/jppi.23.3.2017.205-214

Abstract

Penangkapan rajungan yang intensif di perairan Kotabaru memerlukan kajian biologi dan dinamika populasi sebagai dasar dalam menentukan pengelolaan yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aspek biologi, dinamika populasi dan tingkat pemanfaatan sumberdaya rajungan di perairan Kotabaru. Penelitian dilakukan pada Januari – November 2016 di daerah pendaratan rajungan di Kotabaru. Pengambilan sampel dilakukan tiap bulan berbasis enumerator dengan metode random sampling. Analisis dinamika populasi dilakukan dengan model analitik berdasarkan pergeseran modus struktur ukuran lebar karapas. Hasil penelitian menunjukkan modus ukuran rajungan tertangkap adalah 110 mmCW pada jantan dan 120 mmCW pada betina. Pertumbuhan bobot rajungan jantan lebih tinggi dibandingkan betina. Nisbah kelamin rajungan tidak seimbang dengan perbandingan jantan dan betina adalah 1,7 : 1. Ukuran rata-rata pertama kali matang gonad (Lm) rajungan betina adalah 110,25 mmCW. Lebar karapas asimptotik (CW) rajungan adalah 179,2 mmCW pada jantan dan 183,6 mmCW pada betina. Laju pertumbuhan rajungan (K) adalah 1,36 per tahun pada jantan dan 1,11 per tahun pada betina. Laju eksploitasi (E) rajungan sebesar 0,68 pada jantan dan 0,77 pada betina menunjukkan tingkat pemanfaatan lebih tangkap (overfishing). Pengelolaan yang disarankan adalah mengurangi upaya penangkapan sekitar 54% dari 4.190 unit armada jaring rajungan, penentuan ukuran minimum rajungan yang boleh tertangkap sebesar 110 mmCW sebagai masukan bila ada revisi terhadap peraturan tentang penangkapan rajungan dan dilakukan penutupan penangkapan pada beberapa daerah asuhan. Intensive fishing on blue swimming crab (Portunus pelagicus Linnaeus, 1758) in Kotabaru waters requires biological study and population dynamic as bases to determine proper management. The current research aims to study biological aspects, population dynamic and exploitation rate of crab in Kotabaru waters. The research was conducted on January-November 2016 at landing site of crab in Kotabaru. Samples were collected every month by enumerator with random sampling method. Population dynamic was analysed by analytical model. Results show that the mode of carapace width was 110 mmCW in males and 120 mmCW in females. The growth in weight of male was greater than female. Sex ratio of male and female crabs was (1.7:1). Length at first (Lm) of female crab was 110.25 mmCW. The asymptotic carapace width (CW) of crab was 179.2 mmCW for male and 183.6 mmCW for female. The growth rate of crab (K) was 1.36 year-1 for male and 1.11 year-1 for female. The explotation rate (E) of crab was 0.68 for males and 0.77 for female so that the exploitation was overfished. From the results obtained, it suggests that the fishing effort should be reduced to 54% of 4.190 gillnet fleet and the minimum legal size would be at 110 mmCW as input for regulation if is needed and it should be determined the closure of fishing activities in some nursery grounds. 
DINAMIKA POPULASI DAN TINGKAT PEMANFAATAN UDANG WINDU (Penaeus semisulcatus de Haan, 1844) DI PERAIRAN BALIKPAPAN Tirtadanu, Tirtadanu; Wedjatmiko, Wedjatmiko; Lestari, Pratiwi
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 23, No 1 (2017): (Maret, 2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.711 KB) | DOI: 10.15578/jppi.23.1.2017.37-46

Abstract

Udang windu (Penaeus semisulcatus de Haan, 1844) di perairan Kalimantan Timur saat ini diduga berada dalam tahapan lebih tangkap, sehingga kajian dinamika populasi udang windu di perairan Balikpapan merupakan informasi yang penting untuk dilakukan.Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dinamika populasi dan tingkat pemanfaatan udang windu sebagai dasar dalam pengelolaan perikanan udang di Balikpapan.Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari – November 2016.Metode yang digunakan adalah random sampling dengan analisis menggunakan model analitik. Hasil penelitian menunjukkan ukuran panjang karapas asimptotik (CL∞) udang jantan sebesar 47,5 mmCL dengan laju pertumbuhan (K) 1,72 per tahun dan panjang karapas asimptotik (CL∞) udang betina 53,7 mmCL dengan laju pertumbuhan (K) 1,53 per tahun. Ukuran rata-rata pertama kali tertangkap udang (Lc) sebesar 31,5 mmCL lebih kecil dibandingkan ukuran rata-rata pertama kali matang gonad (Lm) sebesar 39,63 mmCL, menunjukkan sebagian besar udang tertangkap sebelum memijah. Tingkat pemanfaatan udang windu berada pada tahap lebih tangkap (overfishing) dengan nilai laju pengusahaan (E) sebesar 0,65 pada jantan dan 0,77 pada betina, sehingga disarankan untuk melakukan pengurangan upaya penangkapan sebesar 42% dan pengaturan jaring dengan ukuran tertangkap lebih besar dari 39 mmCL.The green tiger prawn (Penaeus semisulcatus de Haan, 1844) in Kalimantan Timur were estimated in stages of overfishing, so dynamic population of green tiger prawn was important information needed to do. Aim of this research were to study about dynamic population and exploitation rate of green tiger prawn as basis management  for shrimp fisheries in Balikpapan. This research conducted  on February – November 2016. The method used was random sampling and the analysis used was analytical model. The results showed that carapace asymptotic length (CL∞) of male green tiger prawn was 47,5 mmCL and the growth rate was 1,72 year-1. Carapace asymptotic length (CL∞) of female prawn was 53,7 mmCL and the growth rate was 1,53 year-1. Length at first captured was 31,5 mmCL, smaller than length at first matured that was 39,63 mmCL so most of shrimps captured hadn’t spawned yet. Exploitation rate of the green tiger prawn was on stage of overfishing with the value of exploitation rate was 0,65 for male and 0,77 for female, so it was suggested to reduce fishing effort by 42% and mesh size regulation with the size allowable catch was bigger than 39 mmCL.     
PERTUMBUHAN, HASIL PER PENAMBAHAN BARU DAN RASIO POTENSI PEMIJAHAN IKAN KAKAP MERAH (Lutjanus malabaricus Schneider, 1801) DI PERAIRAN SINJAI DAN SEKITARNYA Tirtadanu, Tirtadanu; Wagiyo, Karsono; Sadhotomo, Bambang
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 24, No 1 (2018): (Maret 2018)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.291 KB) | DOI: 10.15578/jppi.1.1.2018.1-10

Abstract

Pengusahaan ikan kakap merah (Lutjanus malabaricus Schneider, 1801) sebagai salah satu bisnis perikanan utama di Sinjai memerlukan informasi tingkat pemanfaatan sebagai dasar dalam merumuskan pengelolaan yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pertumbuhan, hasil per penambahan baru dan estimasi rasio potensi pemijahan ikan kakap merah di perairan Sinjai dan sekitarnya. Penelitian dilakukan pada Januari – November 2016 dengan pengukuran sampel ikan dilakukan oleh enumerator di Sinjai. Analisis hasil per penambahan baru menggunakan metode Beverton & Holt dan analisis rasio potensi pemijahan menggunakan metode berbasis panjang (Length Based SPR). Hasil penelitian menunjukkan ikan kakap merah memiliki panjang asimptotik 77,3 cm dan laju pertumbuhan 0,293 tahun-1. Tingkat pemanfaatan (E) sebesar 0,35 dan upaya penangkapan (F) lebih kecil dari titik acuan (Fcur=0,25; Fmax=1,2; F0,1=0,9) pada ukuran rata-rata pertama tertangkap (Lc) sebesar 38,1 cm, menunjukkan upaya penangkapan mendekati optimum dan masih dapat dikembangkan. Estimasi rasio pemijahan sebesar 51% pada panjang rata-rata 48,17 cm TL lebih besar dari titik referensi minimum ikan kakap sebesar 26%. Pengelolaan yang disarankan berdasarkan penelitian ini adalah upaya pengusahaan kakap merah dapat dikembangkan hingga 30% dari upaya saat ini dengan diikuti oleh pengaturan ukuran ikan tertangkap lebih besar dari ukuran pertama kali memijah yaitu sebesar 45 cm.Red snapper (Lutjanus malabaricus Schneider, 1801) fishing as one of the main fisheries business in Sinjai need information on exploitation level as basis for formulating proper management. The aims of this research were to study growth, yield per recruit and spawning potential ratio (SPR) of red snapper in Sinjai and adjacent waters. This research was conducted in January – November 2016 and fish samples were measured by enumerator. Yield per recruit analysis used Beverton & Holt method and spawning potential ratio analysis used length based SPR. The results showed that the asymptotic length was 77,3 cm and the growth parameter of red snapper was 0,293 year-1. Exploitation rate (E) was 0,35 and fishing effort (F) less than reference point (Fcur=0,25,;Fmax=1,2 ; F0,1=0,9) on size at first captured (Lc) 38,1 cm, indicating fishing effort has closed to optimum and can be developed. Spawning potential ratio was 51%, with 48,17 cmTL of mean size, larger than limit reference point that was 26%. Recommended management measures based on this research were that fishing effort of red snapper can be increased until 30% from current effort followed by size regulation to catch above size at first matured at 45 cm.
PARAMETER POPULASI DAN TINGKAT PEMANFAATAN KEPITING BAKAU (Scylla serrata Forsskal, 1775) DI PERAIRAN SEBATIK, KALIMANTAN UTARA Tirtadanu, Tirtadanu; chodrijah, Umi
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 24, No 3 (2018): (September) 2018
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (384.793 KB) | DOI: 10.15578/jppi.24.3.2018.187-196

Abstract

Salah satu informasi yang diperlukan untuk merumuskan pengelolaan kepiting bakau (Scylla serrata Forsskal, 1775) yang berkelanjutan adalah parameter populasi dan tingkat pemanfaatannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji parameter populasi dan tingkat pemanfaatan kepiting bakau di perairan Sebatik. Penelitian dilakukan pada Maret-Desember 2017. Sampel kepiting bakau di peroleh dari hasil tangkapan nelayan dengan alat tangkap bubu di perairan Sebatik. Pertumbuhan dianalisis berdasarkan persamaan Von Bertalanffy dengan mengamati pergeseran struktur ukuran kepiting tiap bulan dan tingkat pemanfaatan diperoleh dari metode kurva konversi panjang dengan hasil tangkapan. Hasil penelitian menunjukkan kepiting bakau yang tertangkap bubu di perairan Sebatik berukuran lebar karapas (carapace width) antara 84-144 mmCW dengan rata-rata ukuran yang tertangkap adalah 107,05±12,3 mmCW pada kepiting jantan dan 110,2±8,86 mmCW pada kepiting betina. Pertumbuhan berat kepiting bakau jantan lebih cepat dibandingkan ukurannya (b=3,6) sebaliknya pertumbuhan berat kepiting bakau betina lebih lambat dibandingkan ukurannya (b=2,5). Nisbah kelamin kepiting bakau menunjukkan kondisi tidak seimbang (5,5 : 1) dengan proporsi jantan lebih dominan dibandingkan betina. Lebar karapas asimptotik (CW) kepiting bakau jantan adalah 151,2 mmCW dan betina adalah 140,5 mmCW. Laju pertumbuhan (K) kepiting bakau adalah 0,75 tahun-1 pada kepiting jantan dan 0,79 tahun-1 pada kepiting betina. Status pemanfaatan kepiting bakau telah berada dalam tahapan mendekati lebih tangkap (E=0,5-0,55) sehingga disarankan tidak melakukan penambahan upaya penangkapan kepiting bakau di perairan Sebatik. One of the information needed for formulating the sustainable management of mud crab is the availability of information on the population parameters and its exploitation rate. The current research aimed to study the population parameters and the exploitation rate of mud crab in Sebatik Waters. Field research was conducted in March – December 2017. Samples of mud crab were obtained from the catch of fisherman by trap in Sebatik Waters. The Von Bertalanffy growth parameters were constructed through monthly modals progression analysis of the size of carapace width frequencies distributions and the exploitation rate was estimated through the method of length converted catch curve. The results showed that the carapace width of mud crabs caught by trap in Sebatik Waters ranged between 84 to 144 mmCW with the mean size of 107.05±12.3 mmCW for male and 110.2±8.86 mmCW for female. The growth of weights of male crab (b=3.6) is faster than its size, while the growth of weight of female crab was slower than its size (b=2,5). The sex ratio of mud crab was unbalanced (5.5 : 1) that the proportion of male was more dominant than female. Asymptotic carapace width (CW) of mud crab was 151.2 mmCW for male and 140.5 mmCW for female. The growth rate (K) of mud crab was 0.75 year-1 for male and 0.79 year-1 for female. The exploitation status of mud crab was starting to overfishing (E=0,5-0,55) so it suggest to not increase the fishing effort of mud crab fishery  in Sebatik Waters.