Articles

Found 3 Documents
Search

TUNGKAL HILIR-HULU Sopiyan, Sopiyan
Laga-Laga : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 1, No 2 (2017): Laga-Laga : Jurnal Seni Pertunjukan
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (594.334 KB)

Abstract

Tulisan ini membahas karya komposisi musik yang berjudul “Tungkal Hilir-Hulu” dengan pengkarya Sopiyan (penulis), yang dipergelarkan pada tanggal 11 januari 2017 di Gedung Auditorium Boestanoel Arifin Adam ISI Padangpanjang. Karya ini terinspirasi dari kesenian kelintang tungkal, yaitu pada teknik pengulangan hilir dan hulu, ritme dasar dari serame, begubang, dan tupai begelut menjadi media garap dengan menggunakan pendekatan garap tradisi. Dalam hal ini pengkarya menciptakan kembali bentuk musikal yang baru dari teknik hilir dan hulu serta laras yang mendekati Bes-C-D-Dis-G-Bes1-C1 ke dalam bentuk karya komposisi musik karawitan yang masih memakai idiom-idiom tradisi dalam penggarapannya. Metode tradisi kekaryaan antara lain: obsevasi, eksplorasi, penyusunan, dan perwujudan. Karya komposisi ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu (1) Pertama : pengkarya memfokuskan pada pengarapan teknik hilir dengan menghadirkan ritme dasar dari serame, begubang, dan tupai begelut. Ritme dasar dimainkan hingga membetuk formulasi melodi yang baru. (2) bagian keduapengkarya memfokuskan garapan pada penggarapan teknik hulu dengan tempo yang tidak terikat. Bagian ini didominasi oleh instrumen melodis. (3) bagian ini pengkarya menggabungkan teknik hilir dan hulu yang digarap secara bersilang. Pengkarya juga memasukan ornamentasi berbentuk garapan vokal. This writing discusses about music composition entitled “Tungkal Hilir-Hulu” composed by Sopiyan (writer) and performed on January 11th 2017 in Hoeridjah Adam Performance Building of ISI Padangpanjang. This composition is inspired from kelintang tungkal art, namely in hilir and hulu repetition technique, basic rhythm of serame, begubang, and tupai begelut become composition media by using traditional composition approach. In this matter, composer recreates new musical form of hilir and hulu technique and harmony that approaches Bes-C-DDis-G-Bes1-C1 into karawitan composition music that still uses traditional idioms in its composition. Method of compositional tradition consists of observation, exploration, arrangement, and materialization. This composition is divided into three parts namely (1) first, composer focuses on the composition of hilir technique by bring out basic rhythm of serame, begubang, and tupai begelut; basic rhythm is played until it forms new melody formulation; (2) second part, composer focuses his composition on the composition of hulu technique with unbound tempo; this part is dominated by melodious instrument; (3) in this part, composer combines hilir and hulu techniques that are composed alternately. Composer also inserts ornamentation in the form of vocal composition.  
PENGARUH ARUS TERHADAP KENYAMANAN WELDER, CACAT LAS DAN KEKERASAN HASIL HARDFACING BAJA KARBON Sopiyan, Sopiyan; Susetyo, Ferry Budhi; Syamsuir, Syamsuir
JURNAL KAJIAN TEKNIK MESIN Vol 3, No 2 (2018): JURNAL KAJIAN TEKNIK MESIN
Publisher : JURNAL KAJIAN TEKNIK MESIN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4282.315 KB)

Abstract

Abstrak Semakin tinggi arus, maka akan semakin tinggi nilai kekerasan, namun bagaimana dengan kenyamanan dari welder itu sendiri serta bagaimana cacat yang terjadi. Umumnya arus tinggi akan menyebabkan cacat undercut maupun spatter. Sehingga perlu dilakukan penelitian ini supaya ditemukan hasil hardfacing dan parameter yang optimum. Proses penelitian ini dilaksanakan pada bulan April-September 2018. Lokasi pengelasan, pembuatan spesimen serta uji kekerasan di laboratorium yang ada di Rumpun Teknik Mesin FT Universitas Negeri Jakarta. Dari tiga variasi arus pengelasan yang digunakan, tidak semua arus cocok digunakan untuk mengelas material dengan dimensi tersebut, ada korelasi arus terhadap ketebalan dari material. Hasil penelitian menunjukkan bahwa spesimen dengan arus 130A merupakan arus yang cocok digunakan untuk pengelasan hardfacing. Kata kunci : hardfacing, SMAW,  kekerasan, kenyamanan AbstractIncrease the current on welding process will affected value of the weld speciment hardness , but howe about comfort of the welder itself and how defects occur on weld speciment. Commonly high currents will cause  undercut or spatter defects. So it is necessary to do this research to find the optimum hardfacing result  and parameters of welding process. The research process was carried out in April-September 2018. The location of welding, specimen making and hardness testing in the laboratory in the Mechanical Engineering Faculty of Engineering Universitas Negeri Jakarta. The results showed that specimens with 130A current were optimum currents used for hardfacing. Keywords: hardfacing, SMAW, hardness, comfort
PENGARUH BESAR SUDUT KAMPUH TERHADAP KEKUATAN TARIK HASIL PENGELASAN GMAW Sopiyan, Sopiyan; Susetyo, Ferry Budhi
JURNAL KAJIAN TEKNIK MESIN Vol 2, No 2 (2017): Jurnal Kajian Teknik Mesin
Publisher : JURNAL KAJIAN TEKNIK MESIN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2344.558 KB)

Abstract

Hasil pengelasan yang baik merupakan tujuan utama dari proses pengelasan. Banyak terjadi hasil pengelasan yang kurang baik seperti cacat-cacat las, kekuatan yang dihasilkan kurang baik dan lain sebagainya. Hasil pengelasan tersebut dipengaruhi oleh parameter-parameter pengelasan seperti besar sudut kampuh, kadar campuran dalam elektroda, material yang di las, posisi pengelasan dan sebagainya. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh variasi sudut kampuh terhadap cacat las pada hasil pengelasan dengan melalui uji visual, mengetahui pengaruh variasi sudut kampuh terhadap sifat mekanis kekuatan tarik, dan menentukan besar sudut kampuh v yang mempunyai hasil pengelasan terbaik. Bahan yang digunakan adalah ASTM A36 dengan ketebalan 8 mm. Jenis elektroda yang digunakan yaitu ER-70S2. Jenis kampuh yang digunakan adalah kampuh V tunggal. Variasi sudut kampuh yang digunakan yaitu 56º, 60º, 64º, 68º dan 72º. Manggunakan arus 150 A, posisi pengelasan 1G dan spesimen dilas tanpa perlakuan panas. Hasil pengelasan spesimen F terdapat cacat las undecutting, spesimen G terdapat cacat las weld spatter, spesimen H tidak terdapat cacat las, spesimen I terdapat cacat las weld spatter, dan spesimen J terdapat cacat undercutting dan weld spatter. Kekuatan tarik (tensile strenght) rata-rata dari spesimen F 13,1992 kgf/mm2, spesimen G 15,5006 kgf/mm2, spesimen H 16,9862 kgf/mm2, spesimen I 16,9862 kgf/mm2, dan spesimen J 17,9774 kgf/mm2. Sudut kampuh 72o yaitu pada spesimen J, menghasilkan kekuatan tarik paling tinggi jika dibandingkan dengan sudut kampuh 56º, 60º, 64º, dan 68º. Kata kunci: GMAW, A36, V tunggal, AWS ER70S-6