Tarunamulia, Tarunamulia
Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Published : 8 Documents
Articles

Found 8 Documents
Search

MODEL ANALISIS SPASIAL KESESUAIAN LAHAN TAMBAK SKALA SEMI-DETAIL BERDASARKAN PEUBAH KUNCI TAMBAK SISTEM EKSTENSIF DAN SEMI-INTENSIF Tarunamulia, Tarunamulia; Mustafa, Akhmad; Sammut, Jesmond
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1692.522 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.3.2008.449-461

Abstract

Penerapan metode evaluasi multi-kriteria dalam penilaian spasial kesesuaian lahan tambak terbukti belum efektif di Indonesia. Hal ini terutama dipengaruhi oleh tidak cukup tersedianya data spasial pendukung dalam analisis tersebut. Analisis spasial yang diterapkan dalam penilaian kesesuaian lahan tambak selama ini lebih banyak mengadopsi model evaluasi multikriteria seperti yang umumnya diterapkan pada analisis kesesuaian lahan terdahulu seperti analisis kesesuaian lahan pertanian atau pemukiman yang tentunya memiliki karakteristik yang berbeda. Beberapa peubah lingkungan yang digunakan dalam analisis multikriteria tersebut kadangkala tidak memperhatikan kesesuaian skala peta yang berhubungan dengan level informasi. Tulisan ini bertujuan untuk menguraikan metode alternatif penilaian kesesuaian lahan tambak ekstensif dan semiintensif pada skala semidetail (1:50.000) dengan memanfaatkan peubah kunci lingkungan tambak yang mempengaruhi keberhasilan sistem budidaya tersebut. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Barru, dengan memanfaatkan informasi spasial berupa ketinggian lahan, kawasan sempadan pantai dan sungai, penggunaan lahan eksisting, dan jangkauan pasang surut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan memanfaatkan peubah kunci dalam model, sudah dapat ditentukan wilayah kelayakan lahan tambak secara umum di lokasi penelitian. Studi ini juga menguraikan manfaat peta kesesuaian lahan tambak dari model tersebut untuk kepentingan perencanaan dan penelitian lebih lanjut. Model ini secara umum berhasil memberikan dasar penting dalam analisis spasial lingkungan pantai untuk kepentingan budidaya sesuai dengan tingkat skala peta yang dibahas. Penelitian ini juga memberikan peluang dalam proses pemetaan potensi lahan tambak secara cepat dengan tingkat akurasi yang cukup baik tanpa harus dibatasi oleh ketidaklengkapan data spasial pendukung.Application of multi-criteria evaluation (MCE) for land suitability assessment of brackishwater pond in Indonesia has been hindered by the unavailability of supporting spatial data for the analysis. The existing spatial analysis methods in aquaculture mainly adopt the previously developed spatial assessment techniques in agriculture, urban planning or transportation network that certainly have different characteristics as well as environmental requirements. A number of environmental factors used in the MCE analysis are sometimes inappropriate with the map scale with respect to the level of information presented. The goal of this study was to provide an alternative spatial assessment method for the evaluation of land suitability for brackishwater aquaculture at semi-detailed scale by employing key environmental/ecological factors that influence the success and the sustainability of the coastal industry. This model was developed by employing spatial dataset of Barru coastal areas which include digital land elevation data, map of buffer zone (green belt), existing land use/cover map and information of local tidal range. The research shows that the overall land suitability for brackishwater aquaculture at the scale of 1:50,000 can be achieved despite using only limited number of key environmental factors in the model. This research has also demonstrated the potential application of the map in coastal planning and in a more detailed research. Overall this study has provided a fundamental approach of spatial analysis for coastal management particularly in land-based aquaculture development at respective scale. This model has also offered an alternative solution to quickly and accurately map the potential land for brackishwater aquaculture regardless of partial availability of supporting spatial dataset for the analysis.
EVALUASI RINCI KARAKTERISTIK DAN TINGKAT KESESUAIAN LAHAN TAMBAK DI KECAMATAN BALUSU KABUPATEN BARRU PROVINSI SULAWESI SELATAN Tarunamulia, Tarunamulia; Mustafa, Akhmad
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (843.659 KB) | DOI: 10.15578/jra.4.3.2009.425-438

Abstract

Upaya peningkatan produksi tambak yang optimal dan berkelanjutan mutlak didukung oleh informasi karakteristik lahan yang rinci dan mudah diinterpretasi oleh berbagai stakeholder. Ketersediaan informasi spasial tambak di berbagai daerah di Indonesia utamanya masih diperuntukkan bagi kebutuhan umum perencanaan tata ruang wilayah pesisir dan pantai tingkat provinsi dan kabupaten. Dengan demikian data tersebut tentunya belum memuat informasi yang berhubungan langsung dengan upaya pengelolaan dan peningkatan produktivitas lahan tambak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan menilai tingkat kesesuaian secara rinci lahan tambak pada salah satu kawasan tambak di Kecamatan Balusu Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan melalui analisis spasial. Informasi spasial secara rinci yang meliputi tata letak tambak dan saluran tambak termasuk penggunaan lahan di sekitar tambak diekstrak dari citra satelit resolusi tinggi Quickbird akuisisi tahun 2007. Pengambilan sampel tanah tambak mengikuti metode acak bertingkat (Stratified random sampling) pada wilayah pertambakan. Hasil analisis spasial peubah kimia tanah yang secara rinci dikelompokkan menurut peubah yang mewakili tingkat kemasaman dan kesuburan tanah menunjukkan bahwa hamparan tambak eksisting umumnya memiliki karakteristik tanah yang masam dengan tingkat kesuburan yang rendah. Lebih lanjut diketahui bahwa dari total lahan tambak 548,33 ha yang disurvai; 260,6 ha lahan tersebut berkategori kurang layak; 283,3 ha layak; dan hanya sekitar 4,43 ha yang berkategori sangat layak. Namun demikian 52,47% lahan yang berstatus layak hingga sangat layak tersebut juga masih dapat berubah status menjadi kurang layak dengan adanya batasan aspek hidrologis, utamanya tingkat ketersediaan air yang mengandalkan jaringan saluran tambak.The current national plan to increase shrimp production to the optimum and sustainable level must be supported by adequate and accurate information on detailed spatial characteristics of coastal areas. The spatial characteristics must also be interpretable or readable to most aquaculture stakeholders. However, the existing available spatial information of land-based aquaculture in most of regions in Indonesia is so far only employed for the global spatial planning of coastal areas (provincial and regency level). In fact, the available information does not have enough detail if it is intended for pond management and engineering applications with respects to upgrading pond productivity. The purpose of this study was to understand the detailed soil characteristics and to assess the level of suitability of the existing brackishwater pond areas in Balusu Sub-district Barru Regency, South Sulawesi with the application of spatial analysis. The detailed spatial information comprising pond layout, canal network and adjacent land use/land cover around the pond unit area was extracted from quickbird satellite imagery acquired in 2007. Soil samples were collected following a stratified random sampling method over shrimp farming areas. Output of spatial analysis of chemical soil variables that were divided into variables representing the level of soil acidity and variables indicating soil fertility showed in general that most of the pond units have high level of soil acidity and can be categorized as marginal land  with low level of soil fertility. Furthermore, the analysis showed that from 548.33 ha area of surveyed fish pond areas, 260.6 ha were categorized as less suitable, 283.3 ha were suitable, and only 4.43 ha were in the category of highly suitable. Although there were 52.47% of the total area classified in the category of suitable to highly suitable, the status might switch to less suitable if there is not enough attention paid onto the existing limiting factors such as the less optimal function of the present canal networks as the main source of tide-water supply for all pond units.
KETERKAITAN SPASIAL KUALITAS LINGKUNGAN DAN KEBERADAAN FITOPLANKTON BERPOTENSI HABs PADA TAMBAK EKSTENSIF DI KECAMATAN LOSARI KABUPATEN CIREBON, JAWA BARAT Tarunamulia, Tarunamulia; Kamariah, Kamariah; Mustafa, Akhmad
Jurnal Riset Akuakultur Vol 11, No 2 (2016): (Juni 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (498.662 KB) | DOI: 10.15578/jra.11.2.2016.181-195

Abstract

Harmful Algal Blooms (HABs) dapat memberikan dampak negatif secara ekologis, ekonomis dan kesehatan.  Kejadian dapat bervariasi menurut faktor lingkungan lokal pemicu serta kemampuan adaptasi spesies.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keterkaitan antara karakteristik kualitas lingkungan dengan keberadaan fitoplankton berpotensi HABs pada tambak ekstensif di Kecamatan Losari Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.  Sebanyak masing-masing 45 contoh air dan tanah diambil pada total luas petakan tambak ±2300 ha dengan metode transek yang dimodifikasi. Peubah kualitas air yang diukur meliputi; Total Amonia Nitrogen (TAN), Nitrit (NO2-N), Nitrat (NO3-N), Fosfat (PO4-P), Bahan Organik Total (BOT) dan Plankton.  Sedangkan peubah kualitas tanah tambak meliputi pH, total nitrogen (NTOT), fosfat (PO4-P) dan BOT. Analisis keterkaitan kualitas lingkungan dengan keberadaan fitoplankton berpotensi HABs dilakukan dengan BIO-ENV analysis, Cluster analysis, dan analisis spasial dengan software PRIMER 5.0 dan ArcGIS 10.0.  Dari  23 spesies yang diidentifikasi terdapat 5 spesies (21%) yang potensial sebagai HABs meliputi Prorocentrum sp, Ceratium sp, Gymnodinium sp, Thalassiosira sp dan Nitzchia sp.   Prorocentrum sp ditemukan pada 21 stasiun  dari total 45 stasiun dengan kepadatan tertinggi (508 ind/L). Hasil analisis selanjutnya menunjukkan bahwa distribusi spasial spesies berkaitan erat dengan distribusi nilai TAN dan BOT air serta nilai N-Total tanah. Jika tidak ada upaya pengelolaan dan mitigasi sehubungan keberadaan HABs tersebut maka dikhawatirkan dapat mempengaruhi produktivitas dan keberlanjutan kegiatan budidaya di lokasi penelitian.Harmful Algal Blooms (HABs) can cause serious negative ecological, economical and human health impacts. The occurrence of HABs may vary according to local environmental factors and the adaptability level of the causative species. This study aims to determine the relationship between environmental quality and the presence of causative phytoplankton species of HABs at extensive brackishwater aquaculture ponds located in Losari District, Cirebon Regency, and West Java Province. The sampling method followed a modified transect method by which a total of 45 each water and soil samples were taken from pond units, covering the total area of about 2300 ha. Water quality parameters comprised total ammonia nitrogen (TAN), nitrite, nitrate, phosphate and total organic matter (TOM). Whilst the pond soil quality variables included pH, total nitrogen (NTOT), phosphate and TOM. Spatial relationship between environmental quality and the presence of potentially causative phytoplankton species of HABs conducted through BIO-ENV analysis, cluster analysis and spatial analysis with the help of software PRIMER 5.0 and ArcGIS 10. Of the total 23 identified phytoplankton species, 5 species (21%) were classified as potentially causative sepecies of HABs including Prorocentrum sp, Ceratium sp, Gymnodinium sp, Thalassiosira sp and Nitzchia sp.  Prorocentrum sp was discovered in 21 stations of a total of 45 stations and accounted for the highest density (508 ind. / L). The results further indicated that the spatial distribution of the causative species is closely related to the distribution of values of TAN and TOM (water) and NTOT (soil).  Unless effective management and mitigation efforts are undertaken, the presence of the potentially causative species could affect the sustainability of aquaculture activities at the study sites.
HUBUNGAN ANTARA FAKTOR KONDISI LINGKUNGAN DAN PRODUKTIVITAS TAMBAK UNTUK PENAJAMAN KRITERIA KESESUAIAN LAHAN: 2. KUALITAS TANAH Mustafa, Akhmad; Paena, Mudian; Tarunamulia, Tarunamulia; Sammut, Jesmond
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 1 (2008): (April 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (463.807 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.1.2008.105-121

Abstract

Selain kualitas air, faktor lingkungan lain yang dipertimbangkan dalam evaluasi kesesuaian lahan untuk budidaya tambak adalah kualitas tanah. Namun kriteria kualitas tanah yang digunakan masih bersifat umum untuk semua komoditas perikanan budidaya tambak. Oleh karena itu, dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara produktivitas tambak dari berbagai komoditas dengan berbagai peubah kualitas tanah untuk penajaman kriteria kesesuaian lahan untuk budidaya tambak. Penelitian dilaksanakan di kawasan pertambakan yang ada di Kabupaten Pinrang, Sinjai, Luwu, dan Luwu Utara Provinsi Sulawesi Selatan dan Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung. Metode penelitian yang diaplikasikan adalah metode survai, termasuk untuk mendapatkan data primer dari produksi yang dilakukan melalui pengajuan kuisioner dan perekaman pada saat wawancara kepada responden. Pengukuran langsung terhadap peubah kualitas tanah tertentu dilakukan di lapangan dan pengambilan contoh tanah untuk dianalisis di laboratorium dilakukan terhadap peubah kualitas tanah lainnya. Pemilihan model regresi “terbaik” didasarkan pada metode kuadrat terkecil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan pHH2O tanah dari 6,34 menjadi 8,10 dan peningkatan kandungan pasir tanah lebih besar 21,8% dapat meningkatkan produksi dan sebaliknya peningkatan kandungan liat tanah lebih besar 30,0% dapat menurunkan produksi udang vannamei. Produksi rumput laut  yang lebih tinggi didapatkan pada tanah dengan pHF lebih besar 6,5; pHFOX lebih besar 4,0; pHF-pHFOX lebih kecil 2,5; dan SPOS lebih kecil 1,00%. Kandungan Fe tanah yang lebih besar 5.000 mg/L dan Al lebih besar 490 mg/L menyebabkan penurunan produksi rumput laut. Peningkatan pHF dan pHFOX tanah masing-masing lebih besar 7,5 dan 7,0 sampai nilai tertentu dapat meningkatkan produksi dan sebaliknya peningkatan kandungan Fe dan Al dapat menurunkan produksi udang windu dan ikan bandeng, terutama melalui pengaruh toksisitas dan dampaknya terhadap ketersediaan fosfor.Soil quality is an important environmental factor to consider in land capability assessment for brackish water aquaculture ponds. However, soil quality criteria are often generalized for all commodities produced in brackish water ponds. This study aims to evaluate the relationship between brackish water pond productivity for common commodities and soil quality factors to improve the underlying criteria for land capability assessment. The research was conducted in the brackish water ponds of Pinrang, Sinjai, Luwu, and North Luwu Regencies South Sulawesi Province and South Lampung Regency Lampung Province. The study involved the collection and analysis of farm management and production data and physicochemical properties of soils. A regression model based on the least quadratic method showed that the pHH2O of soil in the range of 6.34 to 8.10 and a sand content of more than 21.8% was associated with high pond production provided soils had sufficient clay content. The model also showed that heavy clays (30% clay content) decreased production of the whiteleg shrimp. High seaweed production occurred in ponds with a soil pHF of more than 6.5, pHFOX more than 4.0, pHF-pHFOX less than 2.5, and SPOS less than 1.00%. Fe concentration in soil more than  5,000 mg/L and Al more than 490 mg/L decreased the productivity of seaweed ponds. The optimal pHF and pHFOX of soil for tiger prawn and milkfish production was more than 7.5 and 7.0, respectively under polyculture. Elevated concentrations of Fe and Al were found to reduce shrimp and fish production in ponds, principally through their toxic effects and impacts on available phosphorus.
PERBAIKAN METODE IDENTIFIKASI POTENSI PENGEMBANGAN LAHAN UNTUK TAMBAK AIR PAYAU SISTEM EKSTENSIF LEWAT INTEGRASI LOGIKA SAMAR DAN PENGINDERAAN JAUH Tarunamulia, Tarunamulia; Sammut, Jesmond; Mustafa, Akhmad
Jurnal Riset Akuakultur Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1171.09 KB) | DOI: 10.15578/jra.5.2.2010.317-323

Abstract

Tersedianya data potensi lahan tambak yang cepat, akurat dan lengkap untuk kebutuhan pengelolaan kawasan pengembangan perikanan budidaya air payau harus didukung oleh metode identifikasi yang efektif dan efisien. Penelitian ini bertujuan untuk mengupayakan peningkatan kualitas metode klasifikasi multispektral dalam penginderaan jauh dalam mengidentifikasi potensi lahan tambak ekstensif dengan mengintegrasikan logika samar dalam proses klasifikasi citra. Citra landsat-7 ETM+ (30 m), data elevasi digital dan data pengecekan lapang untuk wilayah pantai (kawasan tambak ekstensif/tradisional) Kecamatan Kembang Tanjung, Pidie, Nangroe Aceh Darussalam (NAD) digunakan sebagai bahan utama dalam penelitian ini. Klasifikasi multispektral standar secara terbimbing diperbaiki melalui pengambilan data training secara cermat, yang diikuti dengan uji keterpisahan objek, pemrosesan pasca-klasifikasi dan analisis tingkat ketelitian. Hasil klasifikasi dengan tingkat ketelitian terbaik dari berbagai algoritma yang diujikan untuk tiga saluran selanjutnya dibandingkan dengan hasil klasifikasi dengan menggunakan logika samar. Dari hasil penelitian diketahui bahwa klasifikasi multispektral standar dengan algoritma Maximum Likelihood mampu menghasilkan informasi penutup lahan yang cukup lengkap dan rinci pada wilayah pertambakan dengan ketelitian yang cukup baik (>86%). Tingkat ketelitian yang sama juga masih dijumpai walaupun hanya melibatkan kombinasi 3 saluran terbaik (5,4, dan 3) yang dipilih berdasarkan analisis statistik nilai kecerahan piksel. Dengan membandingkan hasil terbaik dari metode klasifikasi standar yang berbasis logika biner (boolean) dengan hasil klasifikasi citra dengan logika samar dalam pengklasifikasian wilayah tambak, diketahui bahwa klasifikasi citra dengan logika samar mampu memperlihatkan hasil klasifikasi yang sangat baik untuk menentukan batas wilayah tambak yang tidak bisa dilakukan secara langsung bahkan oleh metode standar dengan algoritma terbaik. Dan dengan penambahan satu variabel kunci untuk tambak ekstensif seperti elevasi dalam klasifikasi, klasifikasi dengan logika samar dapat digunakan untuk memprediksi potensi pengembangan lahan budidaya tambak ekstensif dan kemungkinan tumpang tindih dengan penggunaan lahan lainnya.The availability of immediate, accurate and complete data on potential pond area as a baseline data for land management of brackishwater aquaculture must be supported by effective and efficient identification methods. The objective of this study was to explore the possibility of improving the quality of multispectral image classification methods in identifying potential areas for extensive brackishwater aquaculture through the integration of fuzzy logic and classification of remotely sensed data. 2002 Landsat-7 Enhanced Thematic Mapper Data (30-m pixels), digital elevation data, and groundtruthing of training data (region of interest/ROI) of Kembang Tanjung coastal areas (Pidie, NAD) were used as the primary data in this study. Standard supervised multispectral classification methods were enhanced by collecting appropriate and unbiased training data, applying separability measures of ROI pairs, employing post-classification analysis, and assessing the accuracy of classification results. Different types of standard supervised classification algorithms were evaluated and a classification output with the highest accuracy was selected to be compared with the result from fuzzy logic classification. The study showed that a supervised classification method based on maximum likelihood analysis produced the best classification output of land use-cover over the coastal region (overall accuracy > 86%). The accuracy remained at the same level although it involved only the best composite of 3 bands (5,4, and 3) determined by a rigorous statistical analysis of brightness values of pixels. It was clear that the fuzzy-based classification method was more effective in identifying potential extensive brackishwater pond areas compared to the best standard image classification based on binary logic (maximum likelihood). Also, by integrating elevation data as another key variable to determine the suitability of land for extensive brackishwater aquaculture, the fuzzy classification can be used to more accurately predict potential area suited for brackishwater aquaculture ponds and any possible overlapping activity with other land uses.
PERSPEKTIF PENGEMBANGAN PERIKANAN BUDIDAYA BERDASARKAN KARAKTERISTIK PANTAI DI TELUK GERUPUK DAN TELUK BUMBANG KABUPATEN LOMBOK TENGAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT Tarunamulia, Tarunamulia; Hasnawi, Hasnawi; Suhaimi, Rezki Antoni; Mustafa, Akhmad; Paena, Mudian
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1729.568 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.1.2015.117-126

Abstract

Tersedianya informasi mengenai karakteristik pantai menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan perencanaan dan pengelolaan perikanan budidaya pesisir berbasis lahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pantai khususnya aspek topografi dan hidrologi di Teluk Gerupuk dan Teluk Bumbang Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), hubungannya dengan status eksisting dan kemungkinan pengembangan perikanan budidaya. Variabel topografi dan hidrologi teluk yang diukur meliputi: pasang surut (pasut), kedalaman, dan kelandaian pantai. Hasil analisis menunjukkan bahwa karakteristik pasut dengan tunggang pasut sekitar 2,85 m secara teknis masih tergolong ideal untuk pengembangan berbagai sistem budidaya tambak udang (tradisional plus, semi-intensif, intensif, dan super-intensif). Khusus untuk tambak intensif dan super-intensif, tunggang pasut yang besar harus dicermati sehubungan dengan jauhnya jarak pengambilan air bersih. Secara umum Teluk Gerupuk dan Teluk Bumbang dengan luas ± 940 ha (9,4 km2) dan kedalaman rata-rata perairan 4,17±0,12 cukup mendukung untuk kegiatan budidaya rumput laut. Berkembangnya pemanfaatan lahan selain budidaya rumput laut di sekitar dan pada teluk seperti pemukiman, pariwisata, dan budidaya tambak, dapat memengaruhi kualitas kimia fisik perairan dan kemungkinan berkaitan erat dengan menurunnya produksi rumput laut pada tahun-tahun terakhir. Dengan batasan karakteristik topografi dan hidrologis teluk yang menjadi pusat berlabuhnya aktivitas penggunaan lahan pantai dan darat, dibutuhkan perhatian serius mengenai rencana umum tata ruang wilayah teluk termasuk penanganan limbah agar tidak berdampak negatif secara ekologis dan sosial yang pada akhirnya akan mengganggu keberlanjutan usaha perikanan budidaya di wilayah ini. hidrologi, topografi, perikanan budidaya, Teluk Gerupuk, Nusa Tenggara Barat
ANALISIS DAYA DUKUNG LAHAN TAMBAK BERDASARKAN PADA KUANTITAS AIR PERAIRAN DI SEKITAR KECAMATAN BALUSU KABUPATEN BARRU PROVINSI SULAWESI SELATAN Mustafa, Akhmad; Tarunamulia, Tarunamulia
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (286.698 KB) | DOI: 10.15578/jra.4.3.2009.395-406

Abstract

Daya dukung lahan termasuk lahan budidaya tambak merupakan salah satu konsep dasar yang perlu diketahui lebih awal agar dapat dilakukan pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan secara berkelanjutan. Oleh karena itu dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui daya dukung kawasan pertambakan di sekitar Kecamatan Balusu, Kabupaten Barru, Provinsi Sulawesi Selatan yang didasarkan pada kapasitas alaminya untuk menampung limbah agar produktivitas tambak dapat meningkat dan berkelanjutan. Metoda penelitian yang diaplikasikan adalah metoda survei. Pengukuran langsung di lapangan dan pengambilan contoh air dilakukan di laut dan saluran tambak untuk dianalisis di Laboratorium Air Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau, Maros.  Data fisik lahan diperoleh dari hasil pengukuran di lapangan dan hasil ekstrak dari  citra beresolusi tinggi yaitu Quickbird akuisisi 28 Oktober 2006 dan 25 September 2007. Kuantitas air tersedia ditentukan dengan memanfaatkan fasilitas analisis 3-D dalam Sistem Informasi Geografis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas air perairan di sekitar Kecamatan Balusu yang akan menerima limbah budidaya tambak tergolong sesuai untuk budidaya tambak dan dapat berfungsi sebagai pengencer limbah budidaya tambak. Kuantitas air perairan tersedia sebagai penerima limbah di sekitar pertambakan Kecamatan Balusu sebesar 2.025.647,94 m3 yang dapat  mendukung usaha tambak yang berkelanjutan seluas 236,40 ha (43,11% dari luas total tambak 548,33 ha) jika dikelola dengan teknologi tradisional dengan produksi maksimal 141,84 ton/musim. Kawasan mangrove yang tersisa hanya seluas 38,97 ha dan masih dibutuhkan lagi minimal seluas 93,39 ha, sehingga program rehabilitasi mangrove menjadi sangat penting. Carrying capacity of brackishwater pond in a specific location or land is a very important aspect to consider in order to determine the sustainability of the use of natural resources and environmental management of land-based aquaculture development. Therefore, it was conducted a research with the purpose of  knowing the carrying capacity of brackishwater pond areas in Balusu Sub-district, Barru Regency, South Sulawesi Province based on their natural capacity to assimilate different environmental waste as the basic information to support the sustainability of pond production. Survey method was applied in this research. In situ measurement of water quality was conducted on the seashore and pond canal and more depth analysis was done at the Water Laboratory of The Research Institute for Coastal Aquaculture, Maros. Physical property of brackishwater land was analysed and interpreted from detailed field measurement and image classification output of Quickbird imagery with acquisition date of 28 October 2006 and 25 September 2007. The quantity of water available for the brackishwater aquaculture was determined by employing 3-D analysis extension in Geographic Information System. The result of research showed that the quality of waters in coastal areas of Balusu Sub-district is still able to accommodate or neutralize the waste from the existing brackishwater ponds and therefore it can still be classified as suitable for brackishwater pond. The quantity of water available in the sea to dilute waste from the existing brackishwater ponds in Balusu Sub-district was estimated about 2,025,647.94 m3 and is considered enough to support the sustainability of only 236.40 ha (43.11% of the total area of existing brackishwater ponds (548.33 ha). If farmers use a traditional or an extensive aquaculture method, this area can produce fish a maximum of 141,84 ton/season. Based on the environmental regulation this location must have a minimum of 93.39 ha of mangrove areas, however existing mangrove areas are only 38.97 ha, so that farmer awareness and political intervention are urgently needed to recover those areas.
EVALUASI KESESUAIAN PERAIRAN UNTUK BUDIDAYA IKAN DALAM KERAMBA JARING APUNG DI KABUPATEN MALUKU TENGGARA BARAT PROVINSI MALUKU Mustafa, Andi Akhmad; Tarunamulia, Tarunamulia; Hasnawi, Hasnawi; Radiarta, I Nyoman
Jurnal Riset Akuakultur Vol 13, No 3 (2018): (September 2018)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (466.285 KB) | DOI: 10.15578/jra.13.3.2018.277-287

Abstract

Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB) memiliki potensi untuk pengembangan budidaya ikan dalam keramba jaring apung (KJA), tetapi belum tersedia data karakteristik perairannya. Penelitian bertujuan untuk mengkaji kesesuaian dan daya dukung perairan berdasarkan karakteristik perairannya untuk budidaya ikan dalam KJA di kawasan pesisir Kabupaten MTB Provinsi Maluku, Indonesia. Data karakteristik perairan yang dikumpulkan berupa pasang surut, kecepatan dan arah arus, kedalaman, kecerahan, suhu, salinitas, oksigen terlarut, pH, nitrat, nitrit, nitrogen amonia total, fosfat, padatan tersuspensi total, dan bahan organik total air, serta jenis substrat dasar. Kesesuaian perairan ditentukan melalui analisis dengan weighted linear combination dalam sistem informasi geografis (SIG) dan luasan daya dukung perairan untuk budidaya ikan dalam KJA didasarkan pada referensi yang telah ada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum karakteristik perairan Kecamatan Tanimbar Utara, Wuarlabobar, dan Selaru, Kabupaten MTB dapat mendukung kegiatan budidaya ikan dalam KJA, namun kedalaman perairan yang relatif dangkal yang menjadi faktor pembatas dalam kesesuaian perairan untuk kegiatan budidaya ikan dalam KJA. Dari 67.287,84 ha kawasan pesisir yang diteliti di Kabupaten MTB dijumpai yang tergolong sangat sesuai seluas 1.564,43 ha; cukup sesuai seluas 10,687,78 ha; kurang sesuai sesuai 2.103,92 ha; dan tidak sesuai seluas 52.931,71 ha untuk budidaya ikan dalam KJA. Di kawasan pesisir Kecamatan Tanimbar Utara, Wuarlabobar, dan Selaru dapat dilakukan budidaya ikan dalam KJA dengan daya dukung perairan masing-masing seluas 363, 292, dan 570 ha yang dapat digunakan untuk masing-masing 5.445; 4.380; dan 8.550 unit KJA ukuran 8 m x 8 m.Maluku Tenggara Barat District has potential waters for the development of floating net cage mariculture. However, the characteristics and quality of the waters have not been well studied. This study was aimed to assess the suitability and carrying capacity of coastal waters of Maluku Tenggara Barat based on the requirements of net cage mariculture. The measured waters characteristics included tidal, current velocity (speed and direction), water depth, transparency, temperature, salinity, dissolved oxygen, pH, nitrate, nitrite, total ammonia nitrogen, phosphate, total suspended solids, and total organic matter as well as bottom substrate types. The weighted linear combination (WLC) method in geographic information system (GIS) was used to determine the level of waters suitability and carrying capacity to support floating net cage mariculture operation. The WLC criteria used were based on the existing standard environmental criteria. The results showed that the coastal waters of Tanimbar Utara, Wuarlabobar, and Selaru sub-districts were suitable for fish culture in floating net cage. Nevertheless, the relatively shallow water depth in the study area was identified as the primary limiting factor of suitability. Of the total of the coastal areas studied (67,287.84 ha), 1,564.43 ha; 10,687.78 ha; 2,103.92 ha; and 52,931.71 ha were respectively categorized as very suitable, moderately suitable, marginally suitable, and not suitable for fish culture in floating net cage. The carrying capacity of the coastal waters of Tanimbar Utara, Wuarlabobar and Selaru sub-districts were estimated able to support 5,445; 4,380; and 8,550 floating net cage units sized 8 m x 8 m distributed in total farm areas of 363, 292, and 570 ha, respectively.