Tompo, Arifuddin
Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Published : 6 Documents
Articles

Found 6 Documents
Search

USE OF SPONGE, Callyspongia basilana EXTRACT AS ADDITIVE MATERIAL ON TIGER SHRIMP CULTURE

Indonesian Aquaculture Journal Vol 5, No 1 (2010): (June 2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (153.363 KB)

Abstract

Blue shrimp disease is one of the main problems in tiger shrimp culture. It reduces shrimp quality which eventually will decrease its market price. Blue shrimp is caused by deficiency of nutrition and additive materials such as carotene and other nutrient which function as vitamin source for important metabolic processes and formation of color profile in shrimp and fish. The aims of this study were to study the application effect of carotenoid extract of sponge Callyspongia basilana, as an additive material on the ability of shrimp to get back to normal state after suffering blue shrimp disease and survival rate of shrimp and to find out the optimal concentration of sponge carotenoid extract to cure the diseased shrimp. This study was consisted of two steps namely; (1). Extraction of sponge carotenoid by maseration and fractionation using acetone and petroleum ether solvents and (2), the application of carotenoid extract on the diseased shrimp. The research was arranged in a complete randomized design with four experiments consisted of (A). Control (without carotenoid extract); (B),(C), and (D) carotetoid extract addition of 3 mg/L, 6 mg/L, and 9 mg/L respectively with three replication each. The test animal used were blue diseased tiger shrimp with the density of 15 ind./container having 7.5–9.5 cm in size and the average weight of 5.5–10.0 g. The study showed that Callyspongia basilana carotenoid extract was able to change blue diseased shrimp to be normal within six days at the concentration of 9 mg/L. The highest survival rate was found in the experiment D (93.3%). Meanwhile, the lowest was obtained by the control population (13.3%) and the other two treatments were 80.0%(C) and 73.3% (B). The average of water quality parameters such as temperature, dissolved oxygen, pH, salinity, nitrite, and ammonia were in the suitable range for the growth and survival rate of tiger shrimp.

EFEKTIVITAS LAMA PERENDAMAN BAKTERIN Vibrio harveyi TERHADAP SINTASAN DAN PERTUMBUHAN UDANG WINDU (Penaeus monodon Fabr)

Media Akuakultur Vol 10, No 1 (2015): (Juni 2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.703 KB)

Abstract

Penyakit pada budidaya udang dapat menyebabkan terjadinya penurunan produksi bahkan kematian pada usaha budidaya tersebut. Alternatif pencegahan yang saat ini banyak dilakukan adalah melalui immunoprofilaksis yaitu meningkatkan kekebalan udang terhadap serangan penyakit dengan pemberian imunostimulan seperti vaksin bakterin maupun vaksin rekombinan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas lama perendaman bakterin terhadap sintasan dan pertumbuhan pada udang windu (Penaeus monodon Fabr). Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan 5 perlakuan lama perendaman dan 4 ulangan yaitu A = kontrol (tanpa bakterin), B = Lama perendaman dengan bakterin 15 menit, C = 30 menit, D = 45 menit dan E = 60 menit dengan hewan uji benur PL-17 yang telah diperiksa bebas Vibrio dan WSSV dan padat penebaran 20 ekor/2 L air laut yang telah disterilkan. Bakterin yang digunakan dari Vibrio harveyi dengan dosis 0,2 mL/L. Uji tantang setelah pemberian bakterin dengan metode perendaman dilakukan menggunakan beberapa konsentrasi bakteri Vibrio harveyidengan 4 perlakuan dan 5 ulangan : A = penambahan bakteri 0.02 mL/L, B = penambahan bakterin 0,2 mL/L, C = penambahan bakterin 2,0 mL/L dan D = kontrol (tanpa penambahan bakteri). Peubah yang diamati adalah sintasan udang uji pada akhir penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama waktu perendaman menggunakan bakterin selama 45 menit dan 60 menit lebih baik jika dibandingkan dengan perendaman selama 15 dan 30 menit dengan sintasan yang dihasilkan sebesar 86,25% dan 73,75%.

APLIKASI BAKTERIN PADA BUDIDAYA UDANG WINDU DI TAMBAK DENGAN POLA TRADISIONAL PLUS

Media Akuakultur Vol 10, No 2 (2015): (Desember 2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.053 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan bakterin pada budidaya udang windu di tambak sistem tradisional plus di Instalasi Tambak percobaan Marana, Maros menggunakan 10 petak tambak berukuran 250 m2 dengan dua perlakuan dan lima ulangan. Kepadatan udang yang digunakan 10 ekor/m2 ukuran PL-15 yang sebelum ditebar direndam dengan bakterin pada dosis 0,2 mL/L selama 45 menit. Perlakuan yang dicobakan adalah: (A) pemeliharaan udang windu dengan penambahan bakterin, vitamin C, dan binder progold pada pakan sebelum peleting dan (B) pemeliharaan udang windu dengan pemberian pakan biasa tanpa penambahan bakterin sebagai kontrol. Pemberian pakan dengan penambahan bakterin dilakukan 2 kali setiap bulan yaitu pada hari ke-13, 14, dan 15 pemeliharaan setiap bulan selama 90 hari pemeliharaan. Peubah yang diamati meliputi populasi bakteri dan parameter kualitas air setiap dua minggu sekali serta sintasan dan produksi. Rata-rata sintasan pada perlakuan A sebesar 71,48% dengan tingkat produksi 391 kg/ha sedangkan perlakuan B (kontrol) diperoleh sintasan 62,4% dengan produksi sebesar 367 kg/ha. Analisa populasi bakteri baik pada tanah maupun pada air masih berada pada kisaran yang aman untuk budidaya udang windu begitu pula parameter kualitas air masih berada pada batas yang aman untuk budidaya.

DIAGNOSIS PENYAKIT VIRAL PADA UDANG WINDU, Penaeus ntonodon SECARA HISTOPATOLOGIS DAN ANTIBODI POLIKLONAL DENGAN METODE ELISA

Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 4, No 3 (1998): (Vol.4 No.3 1998)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Udang yang dikoleksi dari beberapa lokasi tambak di Sulawesi Selatan digunakan untuk mengidentifikasi penyakit viral yang menyebabkan kegagalan panen pada bulan Juni-Agustus 1997. Diagnosis secara histopatologis dilakukan dengan fiksasi sampel dalam larutan Davidsons dan diproses secara rutin melalui dehidrasi bertingkat pada ethanol, kemudian diwarnai dengan pewarnaan Ilentatoxilin dan Eosin serta diamati di bawah mikroskop.

ISOLASI BIOAKTIF BUNGA KARANG SEBAGAI FUNGISIDA PADA BENIH UDANG WINDU Penaeus monodon

Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 4, No 2 (1998): (Vol.4 No.2 1998)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian bertujuan mendapatkan bioaktif sponge yang efektif sebagai fungisida dalamrangka kegiatan produksi benih udang windu. Penelitian meliputi beberapa tahapan kerja yaitu: (1) Isolasi dan identifikasi jamur penyebab penyakit pada udang; (2) Penapisan dan identifikasi potensi sponge sebagai fungisida; dan (3). Isolasi dan pemurnian bioaktifsponge untuk fungisida.

EKSPLORASI BAKTERI FILOSFER DARI TANAMAN MANGROVE SEBAGAI BAKTERI PROBIOTIK PADA BUDI DAYA UDANG WINDU, Penaeus monodon

Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 10, No 2 (2004): (Vol. 10 No. 2 2004)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengeksplorasi bakteri filosfer dari tanaman mangrove sebagar bakteri probiotik pada budi daya udang windu. Penelitian ini terdiri atas beberapalahapan kerjayaitu: (1) isolasi bakteri filosfer dari tanaman mangrove; (2) uji daya hambat bakteri lilosfer terhadap V. harveyi; (3) karakterisasi fisiologi dan biokimia; (4) pertumbuhan bakteri filosfer pada beberapa konsentrasi NaCl; (5) pertumbuhan bakteri filosfer pada beberapa tingkat salinitas; (6) uji patogenisitas bakteri filosfer terhadap pascalarva udang windu; (7) uji tantang bakteri lilosferdengan V. harveyi dalam wadah pemeliharaan pascalarva udang windu; (g) identifikasi dan disain pohon filogenetik bakteri filosfer melalui analisis gen 165-rRNA.