Articles

Found 3 Documents
Search

PERBANDINGAN METODE ANALISIS KADAR SELENIUM TOTAL DALAM SAMPEL SAYURAN : REVIEW JURNAL DEWANTISARI, DETI; Saptarini, Nyi Mekar
Farmaka Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i1.17440

Abstract

Kemampuan beberapa tanaman untuk mengakumulasi dan mengubah bentuk anorganik selenium  menjadi senyawa organik bioaktif memiliki implikasi penting bagi gizi dan kesehatan manusia. Bawang putih dan bawang merah termasuk sayuran yang kaya dengan senyawa selenium. Perlakuan pengayaan selenium biasanya mengalami perubahan metabolisme tertentu yang menentukan produk akhir serta translokasi dan akumulasi dalam jaringan tanaman yang berbeda. Tujuan literature review ini adalah untuk membandingkan metode-metode analisis yang dapat digunakan dalam menganalisis kadar selenium total dalam sampel sayuran sehingga didapatkan metode yang paling baik yang diperoleh dari beberapa parameter kritis pengujian. Beberapa metode penentuan kadar selenium dalam tumbuhan telah dikembangkan mencakup spektrometri emisi plasma-optik induktif, kromatografi cair, kromatografi gas, dan fluoresensi atomik. Metode spektrometri emisi plasma-optik induktif rentan akan gangguan unsur besi (Fe) pada sampel. Metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) memungkinkan pemisahan pada material kolom pada tekanan tinggi hingga 108 Pa menggunakan diameter partikel 1,7 µm, yang dapat meningkatkan efisiensi, resolusi dan kecepatan pemisahan. Metode kromatografi gas dapat menganalisis selenium yang bersifat volatil. Metode fluoresens atomik yang didasarkan pada resonansi fluoresens memiliki batas deteksi hingga satuan ppb. Pemilihan metode pada akhirnya disesuaikan dengan jenis dan kadar selenium yang terkandung dalam sampel.Kata Kunci : Fluoresens Atomik, Kromatografi, Sayuran, Selenium
PERBANDINGAN METODE ANALISIS KADAR SELENIUM TOTAL DALAM SAMPEL SAYURAN : REVIEW JURNAL DEWANTISARI, DETI; Saptarini, Nyi Mekar
Farmaka Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i2.17566

Abstract

ABSTRAKKemampuan beberapa tanaman untuk mengakumulasi dan mengubah bentuk anorganik selenium  menjadi senyawa organik bioaktif memiliki implikasi penting bagi gizi dan kesehatan manusia. Bawang putih dan bawang merah termasuk sayuran yang kaya dengan senyawa selenium. Perlakuan pengayaan selenium biasanya mengalami perubahan metabolisme tertentu yang menentukan produk akhir serta translokasi dan akumulasi dalam jaringan tanaman yang berbeda. Tujuan literature review ini adalah untuk membandingkan metode-metode analisis yang dapat digunakan dalam menganalisis kadar selenium total dalam sampel sayuran sehingga didapatkan metode yang paling baik yang diperoleh dari beberapa parameter kritis pengujian. Beberapa metode penentuan kadar selenium dalam tumbuhan telah dikembangkan mencakup spektrometri emisi plasma-optik induktif, kromatografi cair, kromatografi gas, dan fluoresensi atomik. Metode spektrometri emisi plasma-optik induktif rentan akan gangguan unsur besi (Fe) pada sampel. Metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) memungkinkan pemisahan pada material kolom pada tekanan tinggi hingga 108 Pa menggunakan diameter partikel 1,7 µm, yang dapat meningkatkan efisiensi, resolusi dan kecepatan pemisahan. Metode kromatografi gas dapat menganalisis selenium yang bersifat volatil. Metode fluoresens atomik yang didasarkan pada resonansi fluoresens memiliki batas deteksi hingga satuan ppb. Pemilihan metode pada akhirnya disesuaikan dengan jenis dan kadar selenium yang terkandung dalam sampel.Kata Kunci : Fluoresens Atomik, Kromatografi, Sayuran, SeleniumABSTRACTThe ability of some plants to accumulate and convert the inorganic form of selenium into bioactive organic compounds has important implications for human nutrition and health. Garlic and onions are vegetables which rich in selenium compounds. Selenium enrichment treatment usually undergoes certain metabolic changes that determine the final product as well as translocation and accumulation in different plant tissues. The purpose of this review literature is to compare the methods used in analyzing total selenium content in vegetable samples and to obtain the best method. Several methods of determining selenium levels in plants have been developed including inductive plasma-optic emission spectrometry, liquid chromatography, gas chromatography, and atomic fluorescence. The inductive plasma-optical emission spectrometry method is susceptible to iron (Fe) distruption in the sample. The High Performance Liquid Chromatography Method (HPLC) allows separation of column material at high pressures up to 108 Pa using a particle diameter of 1.7 μm, which can improve the efficiency, resolution and speed of separation. The gas chromatography method can analyze the volatile selenium. The atomic fluorescence method based on the fluorescence resonance has a limit ppb unit of. The chosen method is ultimately depend on the type and level of selenium contained in the sample.Keywords: Atomic Fluorescence, Chromatography, Vegetables, Selenium 
Molecular Dynamics Simulation Estrogen Receptor Alpha againts Andrographolide as Anti Breast Cancer Dermawan, Doni; Sumirtanurdin, Riyadi; Dewantisari, Deti
Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (609.655 KB) | DOI: 10.24198/ijpst.v6i2.18168

Abstract

Breast cancer is the most common cancer suffered by women with 1.67 million new cases in the world by 2012 with a mortality rate of 12.9%. Tamoxifen is a standard therapy for breast cancer but can cause endometrial and thromboembolic cancer. Andrografolid is an active compound from  Andrographis paniculata which has antiproliferation activity of MCF-7 breast cancer cells with IC50 was 61.11 μM. The purpose of this study was to design andrographolide modification structures as human estrogen receptor alpha (hER-α) antagonists. Molecular docking simulation results showed that the andrographolide and AND5 (best andrographolide derivative) have free binding energy (ΔG) values were -9.65 kcal/mol and -12.43 kcal/mol, respectively, and hydrogen bonds were formed with Gly521, Asp351, and Met343. The ΔG value of ANDS was lower than tamoxifen (-11.40 kcal/mol). Pharmacophore modeling results showed that andrographolide and AND5 had a high pharmacophore-fit value of 46.39% and 63.47%, respectively. Molecular dynamics simulation using MM-PBSA calculation method, showed that the hERα-AND5 system has a value of ΔGTOTAL = -50.52 kcal/mol compared to the hERα-estradiol system as an agonist with a value of ∆GTOTAL = -40.86 kcal/mol . These results suggested that AND5 has better affinity for hERα compared to estradiol so that AND5 is a very promising anti breast cancer agent.Keywords: Andrographolide, molecular dynamics, breast cancer, molecular docking, estrogen receptor alpha