This Author published in this journals
All Journal ALQALAM TAJDID
Sueb, Musa
Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Published : 2 Documents
Articles

Found 2 Documents
Search

SOSIALISASI AGAMA DI LINGKUNGAN KELUARGA MUSLIM Sueb, Musa
ALQALAM Vol 20 No 96 (2003): January - March 2003
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1049.078 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v20i96.656

Abstract

Dalam proses pembangunan manusia Indonesia, agama memiliki kedudukan penting dan utama dalam upaya membentuk kualitas manusia dan masyarakat yang maju dan mandiri. Melalui pembangunan agama yang terpadu dengan bidang-bidang lainnya, di harapkan dapat tewujud manusia dan masyarakat Indonesia yang utuh. Jasmaniyahrohaniah, material-spiritual sehingga masyarakat kita dapat semakin tumbuh dan berkembang sederajat dengan bangsa lain yang telah maju dan tetap berlandaskan pada budaya dan falsafah Pancasila.Sebagaimana kita lihat masyarakat Lampung merupakan masyarakat yang heterogen, yaitu masyarakat yang di dalamnya terdapat satuan-satuan sosial dan budaya secara relatif berdiri sendiri atau biasa disebut sebagai masyarakat majemuk, masyarakat demikian itu secara struktural memiliki sub-sub kebudayaan. Sejalan dengan hal itu, secara konseptual dan dalam prespektif sosiologis, sosialisasi agama di lingkungan keluarga pada dasarnya merupakan salah satu proses penting untuk membentuk masyarakat atau bangsa yang berbudaya. Mengingat bahwa melalui lingkungan keluarga inilah anggota maryarakat memperoleh bimbingan dan arahan yang paling awal, yang dalam bentuk prilaku tidak saja dalam hal kebiasaan berbicara bertingkah laku dan brsikap, tetapi juga dalam proses hal pengalaman dan penghayatan nilai-nilai moral dan agama dalam arti luas.Atas dasar pemikiran dan latar belakang itu maka suatu studi tentang sosialisasi agama di lingkungan keluarga Islam di Kota Bandar Lampung menjadi penting dan sangat menarik untuk diteliti, terutama dilihat dari aspek pengembangan ilmu agama Islam dan hasil penelitian ini dapat diharapkan sebagai kebijakan untuk menengahi masalah pembinaan dan pengembangan masyarakat beragama di perkotaan.Penelitian ini merupakan pendekatan yang menggunakan cara memilih keluarga yang berbeda dalam kota dan yang berdomisili di lingkungan yang berbeda, yang penempatannya dilakukan secara sengaja, untuk dua keluarga di Kaliawi dan Keluarga di Perumahan Way Halim, pengambilan data menggunakan cara pengamatan dan wawancara mendalam yang disusun atas dasar pedoman wawancara dan disesusaikan dengan kondisi lapangan.Penelitian ini merupakan studi kasus yang besifat deskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan realitas sosial dengan menerapkan teori dan konsep-konsep yang telah dikembangkan oleh para ilmu sosial, terutama di kaji dari aspek sosiologi dan agama Islam.Dari hasil analisa laporan penelitian mengenai sosialisasi Agama di Lingkungan Keluarga Islam dapat disimpulkan sebagai berikut:Pertama sosialisasi agama di lingkungan keluarga Islam berlangsung karena ada dua faktor penting, yaitu faktor keluarga dan faktor lingkungan sosial termasuk juga pengaruh berbagai kegiatan lembaga sosial keagamaan. Sosialisasi agama dalam keluarga sangat dipengaruhi oleh bimbingan, pendidikan dan pengawasan dari orang tua, baik bapak maupun ibu mereka masing masing. Posisi orangtua berfungsi sebagai daya dorong dan sekaligus daya tolak terhadap perkembangan anak, termasuk juga dalam hal pemahaman dan pengalaman agamanya.Kedua pendidikan formal disekolah dan lingkungan sosial (lembaga sosial keagamaan) merupakan pranata sosial dari luar keluarga yang ikut menetukan pertumbuhan dan perkembangan jiwa dan agama anak. Demikian juga halnya faktor luar keluarga tersebut ikut mempengaruhi proses sosialisasi agama yang akan menentukan tingkat pemahaman dan pergaulan sosialnya.Ketiga Dalam proses sosialisasi Islam di lingkungan keluarga di perkotaan (kasus di Kaliawi dan Perumnas) tampak beragam, pendidikan dan pengalaman orang tua dengan proses sosialisasi agama anak-anak mereka. Makin cepat perkembangan maryarakat perkotaan, semakin besar tantangan dan pengaruhnya terhadap proses sosialisasi agama di lingkungan Islam.Kata Kunci: Sosialisasi Agama, Keluarga Muslim.
Konsep Kepemimpinan Negara Menurut Mutakallimîn Sueb, Musa
TAJDID Vol 23 No 2 (2016)
Publisher : Research and Development Institution, Darussalam Institute for Islamic Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.679 KB)

Abstract

The concept of nation leadership on Mutakallimîn  (theologians) point of view can be referred to the concept delivered by four well-known schools of theology in Islam: Khawarij, Syi’ah, Mu’tazilah, and Sunni. According to Khawarij, a nation leader recruitment is considered legitimate if it is elected openly and freely. This school of theology allows non-quraisy to be elected. The qualification encompasses power, knowledgeable, fair, modest, religious, and honest. The term (period of time) of leadership shouldn’t be limited. The role of leader (khalifah) according to this school of theology is guiding the people toward the right way based on Islamic teaching (syari’ah). The point of view above is not very much different from that of Syi’ah, another school of theology in Islam. According to Syi’ah, leadership called imamah is not only the system of nation, but also the plan of God. On Syi’ah point of view politics can not be separated from theology. According to Syi’ah a leader (imam) has to be the ancestry of Ali bin Abi Thalib. The role of leader (imam) according to this school of theology is managing the people in order that they are able to gain security and welfare. Another school of theology,  Mu’tazilah has never formed a government. Mu’tazilah believes in the same right of  leadership (imamah). Forming a leadership according to this school of theology is not required by Islamic teaching, but by ratio. The term of leadership is based on the people agreement. The role of leader (imam or khalifah) according to this school of theology is enforcing law, protecting people, taking care of the family, equipping the soldiers with gun, distributing ghanimah and zakat, assigning preachers to the whole country. For Sunni, another school of theology, a leader of nation is called khilafah or imam. Previously, this school of theology thought that a leader has to be the ancestry of quraisy and be based on the practice conducted by the prophet’s disciples in the early Islam. Later, Sunni applies convention (syura) and justice. According to Abu Zahra, Sunni’s political paradigm has four main principles: the importance of ancestry, oath (baiat), convention (syura), and justice. For that reason the term of leadership, according to Sunni, should be based on a convention. The role of leader (khilafah or imam) according to this school of theology is applying the four principles.