Khairulyadi, Khairulyadi
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik

Published : 11 Documents
Articles

Found 11 Documents
Search

Upaya Institusi Sosial Dalam Menanggulangi Pengemis Anak Di Kota Banda Aceh (Studi Terhadap Institusi Formal Dinas Sosial Dan Tenaga Kerja Di Kota Banda Aceh) HIDAYATI, NURUL; Khairulyadi, Khairulyadi
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik Vol 2, No 2 (2017): Mei 2017
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.856 KB)

Abstract

ABSTRAK. Perubahan dan perkembangan dunia industrialisasi seakan menuntut masyarakat bekerja tiada henti dalam mencukupi kebutuhan untuk menunjangi proses kehidupan sehari-hari sehingga beberapa keluarga melakukan berbagai cara untuk mendapatkan uang salah satunya dengan mengikutsertakan anak-anaknya bekerja untuk mengemis. Untuk mengembalikan kehidupan yang tak terarah menjadi kehidupan yang teratur tidak lepas dari upaya pemerintah khususnya Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kota Banda Aceh. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah bagaimana upaya Dinas Sosial dan Tenaga Kerja dalam menanggulangi pengemis anak di Kota Banda Aceh? Dan Apa faktor pendukung dan penghambat Dinas Sosial dan Tenaga Kerja dalam menanggulangi pengemis anak di Kota Banda Aceh? Skripsi ini bertujuan untuk  melihat upaya Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kota Banda dalam menanggulangi pengemis anak di Kota Banda Aceh dan melihat faktor pendukung dan penghambat upaya Dinas Sosial  dan Tenaga Kerja dalam menanggulangi pengemis anak di Kota Banda Aceh. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Proses pengambilan data di lakukan melalui wawancara, dan dokumentasi. Teori yang di gunakan dalam penelitian ini yaitu teori Kontrol Sosial yang di kemukakan oleh Horton dan Hunt untuk melihat bagaimana upaya yang dilakukan oleh Dinas Sosial dan Tenaga Kerja dalam menanggulangi pengemis anak di Kota Banda Aceh. Hasil penelitian menunjukkan upaya dari Dinas Sosial dan Tenaga Kerja yaitu, Pengontrolan, Teguran, Sosialisasi, Modal Usaha, dan Sanksi Psikologi. Faktor pendukung, Satpol PP, Kepolisian Dinas Perhubungan Komunikasi Informasi dan Telematika, dan faktor penghambat, tidak adanya Qanun, Keluarga, Masyarakat dan Lingkungan. Adapun kesimpulan dari penelitian tersebut bahwa upaya Dinas Sosial dan Tenaga Kerja sudah tepat namun tetap membutuhkan dukungan dan kerjasama dari seluruh komponen masyarakat dalam melakukan upaya terkait dalam penanggulangan pengemis anak di Kota Banda Aceh. ABSTRACT. The transformations and the developments of industrialiazed world as if demanded the people to works relentless for sufficient the support of daily life processes, so that some family do a variety ways to earn some finances, one of the ways is involving the childrens to beg. To return misguided life into regular life is a responsibility of the government, especially the Social Welfare and Labor Department of Banda Aceh. The Formulation of problem in this research is how the Department  of Social Welfare and Labor Efforts in resolving the problem of child beggars in Banda Aceh? And what are the supporting and inhibiting factors for the Department of Social Welfare and Labor Banda Aceh in resolving of child beggars?. This thesis aims to look at the efforts of the Department of Social Welfare and Labor Banda Aceh in resolving child beggars and what are the supporting and inhibiting factors for the  Department of Social Welfare and Banda Aceh. The using method is qualitative descriptive method,  the taking of information is through interview, and documentation. The using theory in this research is social control theory that stated by Horton and Hunt to look how the Social Welfare and Labor Department efforts in resolving the problem of child beggars in Banda Aceh. The results of research told the efforts of Social Welfare and Labor Department are: controlling, trimming, Socialization, fund, effort, psychology sanctions. Supporting factor are: satpol PP, the police of department communication information and telematic. And the inhibiting factors are: absence of qanun, family, society and environment. As for, the conclusions of this research is the efforts of Social Walfare and Labor Department is absolutely right, but it still need the support from the entire society in the efforts of resolving child beggars in Banda Aceh.
Peranan Industri Kecil Kerajinan Bordir Di Gampong Lambaro Skep Kota Banda Aceh Terhadap Perubahan Pekerjaan Dan Pendapatan Keluarga Wirayanti, Septia Dila; Khairulyadi, Khairulyadi
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik Vol 2, No 2 (2017): Mei 2017
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.902 KB)

Abstract

 ABSTRAK. Saat ini permasalahan yang sering dihadapi suatu daerah adalah kelebihan tenaga kerja dan kecilnya kesempatan kerja yang tercipta pada setiap sektor sehingga terjadinya pengangguran. Pemerintah berupaya mengembangkan berbagai sektor, salah satunya sektor kerajinan dan industri kecil. Industri kecil memiliki peran strategis dalam peningkatan pendapatan, perluasan lapangan kerja, dan kesempatan berusaha. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran industri kecil kerajinan bordir di Gampong Lambaro Skep Kota Banda Aceh terhadap perubahan pekerjaan masyarakat dan juga pendapatan keluarga.  Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Perubahan Sosial yang dikemukakan oleh Sztompka. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Informan penelitian ini adalah pemilik dan tenaga kerja pada industri kecil kerajinan bordir di Gampong Lambaro Skep Kota Banda Aceh. Metode pengumpulan data berupa studi kepustakaan dan studi lapangan. Teknik analisis data yang digunakan berupa pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat diketahui bahwa peran industri kecil kerajinan bordir di Gampong Lambaro Skep terhadap perubahan pekerjaan dan pendapatan keluarga sangat besar. Dimana keberadaan industri tersebut menjadi solusi bagi tenaga kerja yang belum tertampung, sehingga bisa membantu perekonomian keluarga khususnya bagi kaum perempuan yang dulunya tidak memiliki pekerjaan atau hanya bekerja sebagai seorang ibu rumah tangga menjadi pekerja pada industri tersebut menjadi tukang bordir, tukang jahit dan tukang memasang payet. Terhadap pendapatan keluarga industri kerajinan bordir juga memiliki pengaruh yang sangat besar. Dimana para pekerja sudah mampu memenuhi kebutuhan keluarganya dari hasil usaha bordir yang ditekuni oleh meraka. Pemilik usaha menghasilkan pendapatan Rp.15.000.000-Rp.20.000.000/bulan, sedangkan para pekerja berpenghasilan  Rp.2.000.000-Rp.3.000.000/bulanABSTRACT. Currently the most frequently encountered problems of an area is a surplus of labor and small of employment opportunities created in each sector, so that occurrence of an unemployment. The government has tried to develop in any sector, one of them including the craft sector and small industries. Small industry have a strategic role in increasing some income, expansion of employment, and business opportunities. This research aims to determine the role of embroidery small industry in Lambaro Skep village in Banda Aceh city for the change of society works and family’s income. The using theory in this research is social change that stated by Sztompka. This research is qualitative descriptive research. The informants of this research is the owner and the worker of embroidery industry at Lambaro Skep village in Banda Aceh city. The methods of collecting data is the form of literature and field studies. The using analysis technique is the form of collecting data, reduction data, presentation data, conclusion and verification. Based on the result of this research, it can be seen that the role of embroidery small industry at Lambaro Skep village to changes in employment and family’s income is very large. The existence of the industry could be a solution for workers who have not been accommodated, so it could be a solution to help family’s economical especially for unemployment women or housewife to be a solution to help family’s economical especially for unemployment women or housewife to be a worker at embroidery industry. The income of embroidery industry also have a huge effects, where the worker at embroidery been able to meet the needs of their family from embroidery business that occupled by them. The owner generate revenue Rp.15.000.000-Rp.20.000.000/month and the worker generate revenue Rp.2.000.000-Rp.3.000.000/month.
Reintegrasi Mantan Kombatan Gerakan Aceh Merdeka Zuhri, Fajrul; Khairulyadi, Khairulyadi
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik Vol 2, No 1 (2017): Februari 2017
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (387.02 KB)

Abstract

ABSTRAKMelihat perjalanan MoU yang ditandatangani oleh kedua pihak di Helsinki pada 2 Januari 2005 atas inisiatif mantan Presiden Finlandia Martti Athisari telah mengalami beberapa tahap proses perundingan hingga pembuatan draft nota kesepakatan sampai tanggal 17 Juli 2005, akhirnya penandatangan nota kesepakatan damai dilangsungkan 15 Agustus 2005. Di dalam MoU yang sudah di tandatangani oleh kedua belah pihak  ada hal penting yang harus dilihat yaitu mengenai penyelesaian masalah konflik yang harus sesuai dengan apa yang telah disepakai bersama. Hal ini dilakukan untuk tidak terjadinya dan juga timbul konflik baru. Melihat kondisi ini maka tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana proses reintegrasi eks kombatan kedalam masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode Kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif, dimana yang menjadi informan diperole dengan metode purposive sampling. Teori yang di pakai dalam penelitian ini adalah teori konflik Lewes A, Coser. Hasil penelitian menunjukan bahwa Reintegrasi bertujuan untuk membangun kembali norma-norma, nilai-nilai dan struktur sosial ekonomi masyarakat paska terjadianya konflik. Proses reintegrasi mantan kombatan GAM terus dilakukan sampai para mantan kombatan telah benar-benar kembali kepada masyarakat walaupun sampai saat ini integrasi sosial para mantan kombatan GAM masih menjadi masalah seperti integrasi ideologis. Selain itu respon masyarakat kepada para kombatan GAM dan tahanan politik yang kembali lebih dahulu ke gampong tidak menimbulkan masalah. Sebagian besar dari GAM yang aktif (80%) kembali ke desa pada dua bulan setelah penandatanganan MoU. Dalam hampir banyak kasus, tingkat penerimaan terhadap anggota GAM yang kembali cukup tinggi yaitu 90% pada bulan-bulan selanjutnya.Kata Kunci : Reintegrasi,  Eks Kombaran, Masyarakat. ABSTRACT Looking at the journey of MOU that was signed by both parties in Helsinki on January 2, 2005 at the initiative of former of Finland President Martti Athisari has undergone several stages of the negotiation process and the drafting of a memorandum of understanding until July 17, 2005, eventually the signing of peace agreement took place on August 15, 2005. In the MoU already signed by the two sides, there are important things that must be seen that the settlement of the conflict should be in accordance with what has been agreed. This is done for the absence and also for no arising new conflicts. Seeing this condition, the purpose of this study was to determine how the process of reintegration of ex-combatants into society. This study used the qualitative descriptive research which the informants were obtained by using purposive sampling method. The theory used in this study was theory of conflict of Lewes A Coser. The results showed that the reintegration aims to rebuild the norms, values and socio-economic structures of post-conflict societies. The reintegration of former of GAM combatants is consecutively continued until the ex-combatants have been really back to society even though until now the Social Integration of the former combatants is still a problem as the ideological integration. Then, the society’s responds to the GAM combatants and political prisoners who firstly returned to the village did not pose a problem. Most of active GAM (80%) returned to the society in two months after signing the MoU. In almost all cases, the level of acceptance of GAM returnees is quite high at the percentage of 90% in the following months.
Perubahan Sosial Masyarakat Kota Banda Aceh Dalam Mitigasi Bencana : Pelajaran Sosial dari Bencana Tsunami Youlan Radhianto, Putra Rizki; Khairulyadi, Khairulyadi
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik Vol 2, No 1 (2017): Februari 2017
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (407.576 KB)

Abstract

ABSTRAKPerubahan sosial masyarakat dalam menghadai bencana merupakan suatu persoalan yang muncul didaerah rawan bencana. Perubahan yang dimaksud berupa perubahan sikap dalam menghadapi bencana sehingga sebisa mungkin dikemudian hari dapat meminimalisir resiko yang terjadi. Penelitian   ini   bertujuan   untuk   mengetahui bagaimana perubahan sosial masyarakat Kota Banda Aceh dalam menghadapi bencana, pra tsunami, tsunami, dan pasca tsunami yang ditinjau dari pengetahuan, kepercayaan, dan tindakan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif, dimana yang menjadi informan diperoleh dengan metode  purposive sampling. Untuk menganalisis penelitian ini, peneliti menggunakan Teori Kontruksi Sosial. Data dikumpulkan dengan cara wawancara dan studi kepustakaan, serta selanjutnya dianalisis dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil dari penelitian ini adalah perubahan sosial masyarakat Kota Banda Aceh pra tsunami, tsunami, pasca tsunami dalam menghadapi bencana terjadi sangat dinamis. Perubahan tersebut terlihat pada bagaimana pengetahuan, kepercayaan, dan tindakan masyarakat dalam cara menghadapi bencana yang terus berubah mulai dari periode pra tsunami, saat terjadi tsunami, dan pasca tsunami. Pada saat periode pra tsunami, pengetahuan, kepercayaan, tindakan masyarakat sangat dipengaruhi oleh faktor agamis dan doktrin kultural yang turun temurun. Sehingga pada saat terjadinya bencana masyarakat cenderung menggunakan kontruksi sosial yang ada sebagai suatu cara mereka dalam menghadapi bencana. Hasilnya, akibat dari minimnya pengetahuan dalam hal menghadapi bencana khususnya tsunami, maka bencana tersebut menelan banyak korban jiwa. Namun pasca tsunami pengetahuan, kepercayaan, dan tindakan masyarakat dalam menghadapi bencana berubah, hal ini dikarenakan proses dealektis yang terjadi dengan masuknya pemahaman baru tentang cara menghadapi bencana yang bersifat sekuler dan berbasiskan ilmu pengetahuan empiris. Hal ini mempengaruhi pengetahuan, kepercayaan, dan tindakan mereka dalam menghadapi bencana. Sehingga masyarakat meninggalkan cara-cara lama mereka yang sangat beresiko dan mengkontruksikan cara baru tersebut kedalam diri mereka sehingga hal ini membawa sebuah perubahan sosial masyarakat dalam menghadapi bencana. Kata kunci: Perubahan Sosial, Masyarakat, Bencana ABSTRACT Social change of society in the face of disaster is an emerging issue of disaster-prone areas. Change is in the form of a change in attitude in the face of natural disasters so that as much as possible in the future to minimize the risk may occur. This study aimed to determine how social change of society in Banda Aceh in the face of disaster such as pre-tsunami, tsunami, and post-tsunami  in terms of knowledge,  beliefs, and actions. This study used qualitative descriptive  research  which  the  informants  were  attained  by applying  purposive  sampling method. To analyze this study, the researcher used the Social Construction Theory. Data were collected through conducting interviews and literature study, and then data were analyzed by using a qualitative approach. Results from this study were the social change of Banda Aceh society in pre-tsunami, tsunami and post-tsunami in dealing with disaster is very dynamic. These changes are reflected in how knowledge, beliefs, and actions of the society in a way that continues  to change  the face of disaster  ranging  from  pre-tsunami  period,  when  the tsunami  hit,  and  after  the  tsunami  happened.  At  the  time  of  the  pre-tsunami  period, knowledge, trust, and society actions are greatly influenced by religious and cultural doctrine in hereditary. So that at the time of the disaster, the society tends to use social construction as a way they deal with disasters. As a result, having poor knowledge of the particular tsunami disaster was claimed that it gets many victims. But after getting tsunami knowledge, beliefs, and actions of society for disasters have changed, it is because the dialectic process happened with the inclusion of a new understanding on how to face disasters in secular and based on empirical  science.  This influences  on knowledge,  beliefs, and their actions in the face of disaster. So that people leave their old and very risky ways and construct new way into them in order to bring a social change of society in the face of disaster
Persepsi Masyarakat Aceh Dalam Mempertahankan Peusijuek saleh, malikul; Khairulyadi, Khairulyadi
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik Vol 3, No 1 (2018): Februari 2018
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (142.06 KB)

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peusijuek dipersepsikan oleh masyarakat Aceh Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar danbagaimana persepsi tersebut dikonstruksikan menjadi realitas sosial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif denganjenispenelitian deskriptif, dimana yang menjadi informan diperoleh dengancara wawancara dan studi kepustakaan.Untuk menganalisis penelitian ini, peneliti menggunakan teori kontruksi sosial milik Petter L. Berger dan Thomas Luckman yang ditinjau dari eksternalisasi (pengetahuan), objektivasi (kepercayaan), dan internaliasi (tindakan). Hukum Adat yang dahulu pernah tumbuh dan mewarnai kehidupan sosial mayarakat Aceh, merupakan legitimasi hukum Islam atau tatanan kehidupan sosial yang disakralkan oleh masyarakat Aceh, dalam menjalankan kehidupan sosial masyarakat Aceh berdasarkan   muyawarah para ulama-ulama dan raja-raja Aceh menurut ketentuan Al-Quran dan Hadist. Oleh karena itu peusijuek dijadikan  sarana mediasi dalam  mengukur, menimbang, memulai dan menengahi segala persoalan  kehidupan sosial masyarakat. Hasil dari penelitian ini adalah persepsi masyarakat Aceh dalam mempertahankan peusijuek dikonstruksi kaan  menjadi sebuah realitas sosial dan I dentitas masyarakat Aceh di Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar,Hal ini mempengaruhACEH SOCIAL PERCEPTION IN KEEPING PEUSIJUEKABSTRACTThis study aims to find out how peusijuek perceived by the people of Aceh Darul Imarah District of Aceh Besar District and how these perceptions are constructed into social reality. This research uses qualitative method with descriptive research type, where the informant obtained by interview and literature study. To analyze this research, researchers used the social construction theory of Petter L. Berger and Thomas Luckman in terms of externalization (knowledge), objectivation (trust), and internalization (action). Customary Law that once grew and colored the social life of the Acehnese society, was the legitimacy of Islamic law or social order that was sacred by the people of Aceh, in carrying out the social life of the people of Aceh based on the muyawarah of the ulama and the kings of Aceh according to the Quran and Hadith. Therefore peusijuek be used as a means of mediation in measuring, considering, starting and mediating all issues of social life of the community. The result of this study is the perception of the people of Aceh in maintaining peusijuek constructed into a social reality and identity of Acehnese people in Darul Imarah Sub-district of Aceh Besar Regency. This affects the perception of Acehnese society, especially the Darul Imarah of Aceh Besar District. 
Kekerasan Dalam Rumah Tangga Oleh Suami Terhadap Istri Menurut Perspektif Relasi Gender Islami, Tamita Putri; Khairulyadi, Khairulyadi
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik Vol 2, No 2 (2017): Mei 2017
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.559 KB)

Abstract

ABSTRAK: Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) oleh suami terhadap istri terjadi karena adanya ketidaksetaraan kekuasaan dalam keluarga. Ketidaksetaraan kekuasaan yang terwujud dalam pembagian peran antara laki-laki dan perempuan dipengaruhi oleh norma-norma yang berlaku di masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan bagaimana relasi gender mempengaruhi KDRT oleh suami terhadap istri. Penelitian ini menggunakan Teori Struktural Fungsional serta Metode Deskriptif Kualitatif. Terdapat sepuluh informan yang berpartisipasi dalam penelitian ini. Enam diantaranya berstatus sebagai korban KDRT, sedangkan empat informan kunci lainnya terdiri dari tokoh masyarakat Kabupaten Aceh Utara. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dengan cara wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa istri mengalami berbagai bentuk KDRT yaitu kekerasan dalam bentuk fisik, psikis, seksual dan ekonomi serta pembagian peran di ruma tidak setara.  Penyebab KDRT oleh suami terhadap istri yaitu karena suami merasa berkuasa atas istri, istri tidak menjalankan fungsi sesuai perannya, adanya orang ketiga. Kesimpulan dari penelitian ini adalah adanya pengaruh relasi kuasa yang tidak setara terhadap KDRT oleh suami terhadap istri.  ABSTRACT: Domestic violence by husbands against wives happens due to the inequality of rule in the family. Inequality of power embodied in the division of roles between men and women is influenced by the prevailing norms in society. The purpose of this study is to explain how the gender relations influence domestic violence by husband against wives. This research uses Structural-Functional Theory and Qualitative Descriptive Methods. There are ten informants who participated in this study. Six of them have status as victims of domestic violence, while four other key informants consisting of community figure in North Aceh District. Data in this study were collected by interview and documentation. The results showed that the wife suffered various forms of domestic violence physical, psychological, sexual and economic neglect, and division of roles in the home is not equivalent. There are 3 (three) causes of domestic violence by husbands against wives: (1) the husband felt over his wife, (2) the wife does not execute her function of various roles, (3) the presence of third party. As conclusion, there is influence of unequal power relations to domestic violence by husband against wives. 
MENJANDA DAN MEMAKNAI KELUARGA Fahmi, Rizal; Khairulyadi, Khairulyadi
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik Vol 3, No 1 (2018): Februari 2018
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.077 KB)

Abstract

ABSTRAKTerdapat 26 orang janda yang menjadi kepala keluarga di Gampong Kueh kecamatan Lhoknga Kabupaten Aceh, sehingga menarik minat peneliti untuk meneliti tentang apa itu menjanda dan bagaimana cara janda memaknai keluarga. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui bagaimana seorang janda melalui hari–harinya dan bagaimana janda tersebut memaknai arti sebuah keluarga. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, dan juga menggunakan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan studi kepustakaan. Teori yang digunakan yaitu teori peran. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa menjadi seorang janda terdapat banyak terdapat perubahan yang terjadi mulai dari peran hingga penyesuaian diri. Memaknai arti keluarga menjadi prioritas utama bagi seorang janda. Menikmati setiap langkah, kerja keras, suka dan duka merupakan cara dia memaknai kehidupan berkeluarga. Diharapkan kepada seorang janda agar dapat meyakini bahwa kebahagiaan sebuah keluarga tergantung bagaimana cara dia berusaha dan menjalani kehidupan, dan diharapkan kepada pemerintah agar lebih memperhatikan perempuan dengan lebih mengutamakan program–program pemberdayaan perempuan.widow and how a widow defines a familyThere are 26 widows who became head of the family in village KuehLhoknga district of Aceh Regency which attacts the researcher to research about what widow is and how the widow interpret the family. The purpose of this study is to know how a widow through her days and how to interpret the meaning of a family. This research was conducted in gampong Kueh, Lhoknga Sub-district, Aceh Besar District. The method used is qualitative method with descriptive approach, and also use data collection technique through observation, interview, and literature study. The theory used is role theory. The results of this study indicate that being a widow there are many changes that occur from the role to adjustment. The meaning of family is a top priority for a widow. Enjoying every step, hard work, joy and sorrow is the way he understands family life. It is expected that a widow can be convinced that the happiness of a family depends on how she is trying and living life, and is expected to pay more attention to women by giving priority to womens empowerment programs.
A Quest For Islamic Paradigm:Towards The Production Of Islamic Knowledge Khairulyadi, Khairulyadi
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 10, No 2 (2016): Pengetahuan dan Pembangunan Kesejahteraan Masyarakat
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.214 KB)

Abstract

This paper examines the deficiency of  western paradigm in potraying human nature and thus proposes that there is a need for paradigmatic shifting if islamic methodology and knowledge  is desired. While western based paradigm is helpful in underlining socially tangible context of human life, it fails to undestand human in its very nature. Those paradigms see human as, and confined to a mere bodily mundane creature but denying human intangible side, that human too is a spritual being. As a result, and due to differing principal and idiological standpoint, western paradigm is deemed inappropriate to grasp a full view of human nature as oppose to that of Islamic Tawhidic paradigm that sees human, by nature, as a material and non-material being.  Hence, the Islamic paradigm is considered as an only paradigm applicable to, and suits the need of Islamic methodology in order to be able to produce Islamic knowledge.  Key Words: Paradigm, Islamic Knowledge
DAMPAK WISATAWAN ASING TERHADAP PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT Furqan, M; Khairulyadi, Khairulyadi
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik Vol 2, No 3 (2017): Agustus 2017
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (120.196 KB)

Abstract

ABSTRAKPariwisata selalu mempertemukan dua atau lebih kebudayaan yang akan menghasilkan berbagai proses perubahan seperti akulturasi, dominasi, asimilasi, adopsi, adaptasi dan sebagainya. Wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Lhoknga telah membawa pengaruh terhadap masyarakat lokal di daerah sekitar objek wisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak pariwisata terhadap perubahan sosial budaya masyarakat dan mengetahui bentuk perubahan sosial budaya yang terjadi pada masyarakat Lhoknga akibat perkembangan pariwisata. Metodologi penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan model studi deskriptif. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadinya perubahan sosial budaya pada masyarakat lokal di Mukim Lhoknga, Kecamatan Lhoknga Kabupaten Aceh Besar. Dampak positif yaitu, dengan adanya pariwisata telah membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat lokal, dapat meningkatkan pendapatan ekonomi, mampu menguasai bahasa asing, seperti bahasa Inggris, Jepang, terbukanya akses bagi masyarakat lokal ke jaringan yang lebih luas, memperlihatkan keindahan alam dan budaya yang tak lepas dari rasa untuk meningkatkan persaudaraan dalam lingkungan nasional dan internasional Sedangkan dampak negatif yaitu, lunturnya budaya lokal (tradisional) akibat masuknya budaya luar (modern). Adapun bentuk-bentuk perubahan dapat dilihat dari dua segi yaitu perubahan segi sosial dan perubahan dari segi budaya. Bentuk perubahan secara sosial yaitu terjadinya perubahan struktur sosial masyarakat lokal dengan beralihnya sektor pekerjaan dari petani atau nelayan ke sektor industri, Meningkatnya keinginan untuk berpendidikan tinggi, sedangkan perubahan budaya yaitu terjadinya perkawinan dari dua unsur budaya yang berbeda, perubahan pada penggunaan bahasa, perubahan cara berpakaian dan perubahan perilaku dalam keluarga. Kata Kunci : Pariwisata, Wisatawan Asing Mancanegara, Perubahan Sosial, Perubahan Budaya. ABSTRACTTourism always brings together two or more cultures that will result in various processes of change such as acculturation, domination, assimilation, adoption, adaptation and so on. Foreign tourists which visit Lhoknga influencing local people in the area around the tourism site. This study aims to determine the impact of tourism on socio-cultural changes of society and to know the form of socio-cultural changes that occur in the people of Lhoknga due to the development of tourism. This research methodology used qualitative approach with descriptive study model. From the results of the study indicate that the occurrence of socio-cultural changes in local communities in Mukim Lhoknga, District Lhoknga Aceh Besar District. The positive impact that is, tourism has opened up new jobs for local people, increasing economic income, many people speaks in several foreign languages, such as English, Japanese, open access for local communities to a wider network, showing unspoiled natural and cultural beauty Apart from the sense to increase the fraternity in national and international environment While the negative impact that is, the dissolution of local culture (traditional) due to the entry of outside culture (modern). The forms of change can be seen from two aspects, those are changes in social terms and changes in terms of culture. The form of social change is the change of social structure of the local community by the shifting of the employment sector from farmers or fishermen to the industrial sector, increasing the desire for higher education, while the cultural change is the occurrence of marriage of two different cultural elements, changes in the use of language, And behavioral changes in the family. Keywords: Tourism, Foreign Tourist, Social Change, Cultural Change.
Development from an Islamic Persepective Khairulyadi, Khairulyadi; Ahmad, Muhammad Yunus
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 11, No 2 (2017): Pembangunan Masyarakat Desa dan Kota
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (701.909 KB)

Abstract

The paper is an attempt to present fundamental underlying assumptions of development seen from an Islamic perpective and briefly examines some western approaches to development for comparison purposes. The paper holds that western perspective on development fails to understand the very nature of human as a material and non-material being. In Islamic perpective, however, development is seen as an integrated process within which includes the processes to build up a balanced nature of economic, social, environmental and spritual life.  It is purposeful human endeavors intended to bring about real material benefits, visible social advantages, and spiritual satisfactions based on on the principle of unicity of God (Tawhid). Development is thereby a process of triangle-relations; the relations between human and God, human and human, and human and nature (environment).Keywords; Development, Islamic, perspective,