Hadiyanto, Andy
Prodi Pendidikan Agama Islam FIS UNJ

Published : 3 Documents
Articles

Found 3 Documents
Search

Wacana Poligami dalam Penafsiran Al Qur’an Hadiyanto, Andy
Jurnal Studi Al-Quran Vol 4 No 1 (2008): Jurnal Studi Al-Quran
Publisher : Prodi Pendidikan Agama Islam FIS UNJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penafsiran tentang poligami tidak terjadi secara monolitik. Hal itu merupakan konsekswensi logis dari sifat keterbukaan Al Qur’an dan iklim dialogis yang dikembangkannya. Pembacaan al Qur’an dan pemahaman terhadapnya selalu dipengaruhi oleh konteks psikologis, sosiologis, politis, dan budaya yang berlaku ketika proses pembacaan tersebut dilakukan. Pemaknaan sosiologis, politis, dan budaya yang berlaku ketika proses ayat poligami pada konteks masyarakat Arab abad ke-7 tentunya akan berbeda dengan pemaknaan masyarakat lainnya, apalagi di zaman yang berbeda. Bahkan orientasi pemikiran penafsirpun sangat menentukan corak pemaknaan (penafsiran) terhadap ayat tersebut. Sayid Qutb dan Thabathba’i merupakan dua tokoh tafsir yang hidup pada masa yang sama dan mewakili idiologi dan orientasi pemikiran yang berbeda. Perbedaan latar belakang ideologi/pemikiran kedua penafsir  ini diduga membawa pada perbedaan cara pemahaman dan penyampaian surat an Nisaa’ ayat 2-3. Perbedaan tersebut nampak dalam uraian dan argumentasi yang dibangun oleh kedua penafsir ketika menjelaskan ayat 2-3 surat an Nisaa’ tersebut. Konstruksi teks yang mereka buat secara implisit mencerminkan latar belakang idiologis dan kepentingan mereka masing-masing. Kata kunci: Poligami dalam Al-Qur’an,  Analisis Tematik, Tafsir Fii Zhilaal Al Qur’an
Pendidikan Karakter Berbasis Spiritualisme Islam (Tasawuf) Husen, Achmad; Hadiyanto, Andy; Rivelino, Andri; Arifin, Syamsul
Jurnal Studi Al-Quran Vol 10 No 1 (2014): Jurnal Studi Al-Quran
Publisher : Prodi Pendidikan Agama Islam FIS UNJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan karakter yang sudah dicanangkan oleh Presiden RI belum maksimal implementasi dan dampaknya bagi perbaikan karakter dan budaya bangsa. Hal itu disebabkan oleh beberapa hal di antaranya adalah model Pendidikan Karakter yang dikembangkan masih belum menyentuh tataran ruhaniah siswa. Dengan kata lain, pendidikan karakter baru terhenti pada aspek IQ dan EQ tetapi belum menyentuh aspek SQ. Dalam Islam terdapat disiplin ilmu yang focus kajiannya adalah pembersihan jiwa agar manusia mampu mendekatkan diri kepada Allah melalui semangat kecintaan kepadaNya dan pelayanan kepada sesama. Disiplin ilmu tersebut sudah menjadi semacam metode dan tehnik pelatihan jiwa yang kemudian dikenal dengan Tasawuf. Dalam tasawuf pendidikan jiwa akan melahirkan karakter manusia nafs muthmainnah, yaitu tipologi manusia yang orientasi hidupnya kepada keridhaan Tuhan. Untuk mencapai jenjang tersebut, maka dalam tasawuf diperlukan proses latihan jiwa (riyadhah) dan lelaku (suluk). Sebuah proses yang tidak instan, melainkan melalui tahapan-tahapan/stasiun-stasiun pelatihan jiwa yang disebut dengan maqamat wa ahwaal.Penelitian ini bertujuan menghasilkan Model Pendidikan Karakter Berbasis Spiritualisme Islam (Tasawuf). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian dan pengembangan (Research and Development/R & D). Hasil penelitian menggambarkan bahwa dalam pendidikan karakter berbasis asawuf, Visi Pendidikan karakter berbasis Tasawuf adalah membebaskan peserta didik dari paradigma materialisme dan sekularisme untuk mengembalikan Fithrah kemanusiaannya. Misinya adalah: 1) Mendidik mahasiswa agar memiliki 3 (tiga) karakter utama sebagai pangkal karakter positif lainnya, yaitu: kebijaksanaan, keberanian, dan Iffah; 2) Memadukan aspek knowledge, pembiasaan, interaktif, dan olah jiwa (pendisiplinan jiwa/riyadhah); 3) Mendidik karakter peserta didik melalui pendidikan hati nurani (qalb). Tujuannya memberikan kompetensi peserta didik: 1) mampu membaca fenomena alam, sosial, dan budaya sebagai tanda kehadiran Tuhan; 2) mampu mematuhi dan meformulasi norma dan aturan; 3) mampu memahami hikmah dan manfaat norma dan aturan bagi kemaslahatan umat manusia; 4) mampu mengontrol diri dari berbagai sikap negatif; dan 5) mampu mengembangkan diri dengan melakukan sikap-sikap positif.
Makkiyyah-Madaniyyah: Upaya Rekonstruksi Peristiwa Pewahyuan Hadiyanto, Andy
Jurnal Studi Al-Quran Vol 7 No 1 (2011): Jurnal Studi Al-Quran
Publisher : Prodi Pendidikan Agama Islam FIS UNJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembedaan Makkiyyah dan Madaniyyah mengacu pada fase psikologis dan sosiologis yang dilalui oleh dakwah Islam.Makkiyyah-Madaniyyah merupakan ilmu yang berpretensi untuk memberikan informasi tentang konteks historis turunnya al-Qur’an. Perbedaan fase historis Makkiyyah-Madaniyyah berimplikasi pada variasi pesan, gaya bahasa, dan tehnik penjelasan. Melalui pemahaman yang mendalam tentang Makkiyah dan Madaniyah diharapkan kita mampu untuk merekontruksi konteks pewahyuan sehingga selanjutnya kita mampu mencari benang merah antara konteks historis masa lalu dengan konteks kekinian. Kata Kunci: Makkiyah-Madaniyyah, Rekonstruksi, Pewahyuan