Kusmarwati, Arifah
Research and Development Center for Marine and Fisheries Product Processing and Biotechnol

Published : 10 Documents
Articles

Found 10 Documents
Search

Risk Profile and Semi Quantitative Risk Probability of Aflatoxin B1 from Aspergillus flavus in a Dried Salted Fish in Several Regions of Java Hidayah, Izhamil; Hermana, Irma; Kusmarwati, Arifah
Squalen, Buletin Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 13, No 2 (2018): August 2018
Publisher : Research and Development Center for Marine and Fisheries Product Processing and Biotechnol

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/squalen.v13i2.356

Abstract

This study presents a semi-quantitative risk analysis, which determines the probability of aflatoxin B1 exposure from Aspergillus flavus in dried salted fish from the results of research conducted by Indriati about  the prevalence of aflatoxin  B1 in commercial dried fish from some regions of Java. Samples were randomly collected from retailers in Java, such as Banten, DKI Jakarta, West Java, Central Java and East Java, to obtain an approximate level of aflatoxin B1 exposure into Indonesian consumers. The occurrence of the probability of aflatoxin B1 risk from Aspergillus flavus was calculated by statistical, probability approach in @risk version 7.0 software with Monte Carlo simulation. The results of this study showed that the consumption of salted fish was about 3.7 g/capita/day. Hence  there are risks of 7.74 cfu/g A. flavus exposure and 0.7291 ppb aflatoxin B1 exposure in 1 g of a salted fish taken from sampling locations. However this value is still categorized as low risk level.
OPTIMIZATION OF BACTERIOCIN PRODUCTION BY Lactococcus lactis ssp. lactis CN1.10a ORIGIN FROM RUSIPS Indriati, Ninoek; Kusmarwati, Arifah; Hermana, Irma
Squalen, Buletin Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 3 (2014): December 2014
Publisher : Research and Development Center for Marine and Fisheries Product Processing and Biotechnol

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/squalen.v9i3.107

Abstract

Previous study of bacteriocin production on laboratory scale (100 mL) that used MRS broth medium produced unstable activity of bacteriocin. Therefore, this study aims to determine the optimum growth conditions and media for production of bacteriocin. Bacteria used in this research was a lactic acid bacteria (LAB) Lactococcus lactis ssp. lactis CN1.10a  isolated from rusip, a traditional Bangkanese fermented fish product.The bacteria was first cultivated for subsequent use of bacteriocins production on intermediate scale (2L). Followed by the optimization of temperature, pH and medium for the bacteriocin production, determination of cell growth curve, bacteriocin production curve, bacteriocin activity on that scale, and also stability of bacteriocin during storage.The results showed that the optimum temperature and pH for the growth of producer cell were 28°C and pH 6. The greatest activity of bacteriocin was produced on CM medium (1% sucrose, 0,45% peptone, 1% yeast extract, 2,84% KH2PO4, 0,2% NaCl and 0,02% MgSO4.7H20) in addition of sucrose as carbohydrate source. Based on the growth curve performedon CM medium with KH2PO4, the L. Lactis ssp lactis CN1.10a was relatively stable up to 48 hours. Bacteriocin produced by the cell was  8000 AU/mlat24th hour.Bacteriocin  was relatively stable when stored at -20°C for 1month with a relative activity of 69,4%.
Resistensi Antibiotik pada Vibrio parahaemolyticus dari Udang Vaname Asal Pantai Utara Jawa untuk Pasar Ekspor Kusmarwati, Arifah; Yenni, Yusma; Indriati, Ninoek
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.485 KB) | DOI: 10.15578/jpbkp.v12i2.352

Abstract

AbstrakKeberadaan bakteri V. parahaemolyticus pada produk udang yang bersifat resisten terhadap antibiotik saat ini menjadi permasalahan serius yang berdampak pada jaminan mutu dan keamanan produk. Hal ini menjadi ancaman serius bagi manusia ketika mengkonsumsi udang tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui resistensi antibiotik dan potensi risiko antibiotik dari bakteri V. parahaemolyticus  pada udang vaname. Pengambilan sampel udang vaname segar dari tambak dilakukan pada musim hujan dan musim kemarau di wilayah Pantai Utara Jawa pada bulan Februari hingga Oktober 2015 dengan metode purposive random sampling. Sebanyak 36 isolat bakteri V. parahaemolyticus yang mewakili 103 sampel udang vaname segar dari tambak udang di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur telah diuji resistensinya terhadap 8 jenis antibiotik (doksisiklin, nitrofurantoin, siprofloksasin, asam nalidiksat, amoksisilin-asam klavulanat, kloramfenikol, streptomisin, dan eritromisin). Uji kepekaan bakteri terhadap antibiotik dilakukan menggunakan metode Kirby-Bauer. Perhitungan indeks Multiple Antibiotic Resistance (MAR) juga dilakukan  untuk mengetahui potensi risiko antibiotik terhadap kesehatan manusia. Hasil analisis menunjukkan bahwa 100% isolat bakteri yang diuji resisten terhadap streptomisin, 90% isolat resisten terhadap eritromisin, dan berikutnya resisten terhadap amoksisilin-asam klavulanat dan nitrofurantoin masing-masing sebesar 83,33% dan 58,33%. Terdapat beberapa antibiotik yang masih mampu melawan bakteri V. parahaemolyticus yaitu siprofloksasin (88,89%), kloramfenikol (81,25%) dan doksisiklin (33,33%). Selain itu, sebanyak 63,89% dari total isolat bakteri tersebut memiliki indeks MAR>0,2 yang mengindikasikan adanya potensi risiko bagi kesehatan. Secara keseluruhan, bakteri V. parahaemolyticus dari sampel yang diambil pada musim hujan menunjukkan resistensi yang lebih tinggi. Antibiotic Resistance in  Vibrio  parahaemolyticusfrom Vannamei Shrimp Originated from Northern Coast of Java for Export MarketAbstractRecently, the occurence of V. parahaemolyticus bacteria in shrimp products that was resistant to antibiotics became a serious problem that affects quality assurance and product safety. It will be a serious threat to humans when consuming the shrimp product. Research was conducted to know antibiotic resistance and antibiotic risk potency of  V. parahaemolyticus bacteria on vannamei shrimp. Sampling of fresh vannamei shrimp from the ponds was conducted in rainy and dry season in the Northern Coast of Java from February to October 2015 with purposive randomize sampling method. A total of 36 isolates of V. parahaemolyticus bacteria representing 103 samples of fresh vannamei shrimp from shrimp ponds in West Java, Central Java and East Java have been tested for resistance to 8 types of antibiotics (doxycycline, nitrofurantoin, ciprofloxacin, nalidixic acid, amoxicillin-c lavulanic acid, chloramphenicol, streptomycin, and erythromycin). Antibiotic susceptibility test was performed using Kirby-Bauer method. Calculation of Multiple Antibiotic Resistance Index (MAR) was also conducted to determine the potential risks of antibiotics to the human health.The results showed that 100% of isolates tested were resistant to streptomycin, 90% of the isolates were resistant to erythromycin, and subsequently resistant to amoxicillin-clavulanic acid, and nitrofurantoin respectively (83.33% and 58.33%). Several antibiotics were still able to resist V. parahaemolyticus i.e ciprofloxacin (88,89%), chloramphenicol (81,25%) and doxycycline (33,33%). In addition, a total 63.89% of bacterial isolates have a MAR index>0,2 indicating potential health risks. Overall,  V.  Parahaemolyticus that was taken from rainy season showed high resistance.
Pengaruh Perendaman Cumi Cumi Segar Dalam Larutan Kitosan Terhadap Daya awetnya Selama Penyimpanan Pada Suhu Kamar Murtini, Jovita Tri; Kusmarwati, Arifah
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4993.432 KB) | DOI: 10.15578/jpbkp.v1i2.399

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk melihat pengaruh perendaman dalam larutan kitosan terhadap daya awet cumi‑cumi yang disimpan pada suhu kamar. Pada penelitian ini, cumi‑cumi direndam dalam larutan kitosan masing‑masing dengan variasi konsentrasi 0; 0,30; 0,38; 0,50; dan 0,75% selama 30 menit. Pengamatan kesegaran dilakukan setiap 8 jam sampai produk cumi‑cumi ditolak oleh panelis. Parameter yang diamati meliputi analisis proksimat, Total Volatile Base (TVB), Total Plate Count (TPC) dan nilai organoleptik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan nilai TVB dan TPC, perlakuan perendaman dalam larutan 0,75% kitosan dapat memperpanjang daya simpan cumi‑cumi selama 16 jam, tetapi perlakuan yang lain, termasuk kontrol, hanya mempunyai daya simpan hingga 8 jam. Akan tetapi dari hasil pengamatan rupa, warna, bau dan tekstur, tanpa memperhatikan rasa pahit, produk baru ditolak panelis pada jam ke‑24 untuk kontrol, jam ke‑32 untuk perlakuan konsentrasi kitosan 0,30; 0,38; dan 0,50%, dan jam ke‑40 untuk konsentrasi tertinggi, yaitu 0,75%. Pada konsentrasi kitosan 0,38 dan 0,50% terdeteksi rasa tambahan berupa rasa agak asam, sedangkan pada konsentrasi 0,75% rasa tambahan berupa rasa agak pahit. Pada konsentrasi kitosan di atas 50%, kulit cumi‑cumi banyak terkelupas, sehingga menurunkan nilai rupa/kenampakan.
Keberadaan Vibrio parahaemolyticus Patogenik pada Udang Tambak yang Berasal dari Pantai Utara Jawa Kusmarwati, Arifah; Hermana, Irma; Yennie, Yusma; Wibowo, Singgih
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1511.328 KB) | DOI: 10.15578/jpbkp.v11i1.285

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan informasi cemaran Vibrio parahaemolyticus patogenik pada udang tambak. Pengambilan sampel udang segar vaname dari tambak  dilakukan pada musim hujan dan musim kemarau di wilayah Pantai Utara Jawa dengan metode purposive random sampling. Sebanyak 103 sampel (masing-masing 33 sampel dari wilayah Jawa Barat, 14 sampel dari wilayah Jawa Tengah dan 56 sampel dari wilayah Jawa Timur) telah diestimasi kandungan V. parahaemolyticus total dan patogenik  menggunakan metode kultivasi pada medium CHROMagarTM Vibrio  (CV) dan metode  polymerase chain reaction (PCR) melalui amplifikasi gen toxR untuk total V. parahaemolyticus, serta gen tdh dan trh untuk V. parahaemolyticus patogen. Hasil analisis menunjukkan bahwa dari 103 sampel, 91 sampel bersifat tipikal pada medium CHROM agarTM Vibrio (CV).  Selanjutnya dari 91 sampel tipikal tersebut, 62 (63,27%) sampel menunjukkan hasil positif untuk V. parahaemolyticus dengan metode PCR. Sementara dari 31 sampel positif V. parahaemolyticus yang berasal dari Jawa Timur ditemukan 2 sampel (3,23%) positif mengandung gen tdh, 1 sampel (1,61%) positif mengandung gen tdh dan trh, dan 1 sampel (1,61%) positif mengandung gen trh.
Isolasi dan Identifikasi Kapang dari Ikan Pindang Hermana, Irma; Kusmarwati, Arifah; Yennie, Yusma
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3782.992 KB) | DOI: 10.15578/jpbkp.v13i1.492

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis kapang yang diisolasi dari produk ikan pindang. Pengambilan sampel dilakukan di enam lokasi, yaitu Jakarta, Bogor, Pelabuhan Ratu, Bandung, Cirebon, dan Semarang. Isolasi kapang dilakukan dengan metode pengenceran bertingkat, sedangkan identifikasi kapang dilakukan secara morfologi dan molekuler berdasarkan data sekuen nukleotida dari daerah ITS rDNA. Sebagai data dukung, terhadap ikan pindang juga dilakukan analisis kadar garam dan nilai aktivitas air (aw).  Hasil analisis menunjukkan bahwa kadar garam sampel ikan pindang berkisar antara 1,20-7,78% dengan aw 0,91-0,98. Sebanyak 119 isolat kapang berhasil diisolasi dari 30 sampel ikan pindang. Isolat-isolat tersebut termasuk ke dalam tujuh marga dan 16 spesies yaitu Aspergillus flavus, A. fumigatus, A. niger, A. ochraceus, A. oryzae, A. sydowii, A. terreus, Cladosporium allicinum, Eurotium chevalieri, Fusarium graminearum, F. cerealis, Loweporus sp., Penicillium citrinum, P. chermesinum, P. chrysogenum, dan Syncephalastrum racemosum. Terdapat enam jenis kapang yang dominan yaitu P. chermesinum (80%), diikuti oleh P. citrinum (73%), A. fumigatus (56,6%), A. flavus (53,3%), A. niger (46,7%), dan E.chevalieri (26,7%).  Tidak ada hubungan antara jenis kapang yang tumbuh dengan jenis ikan pindang, nilai aw maupun kadar garam; namun pertumbuhan kapang berkaitan dengan kadar garam. Kadar garam ikan pindang yang lebih rendah menyebabkan pertumbuhan kapang yang lebih banyak. Isolation and Identification of Fungi from Boiled Salted FishAbstractThis study aimed to determine fungal species isolated from boiled salted fish. Sampling was conducted from six locations, i.e. Jakarta, Bogor, Pelabuhan Ratu, Bandung, Cirebon, and Semarang. Isolation of fungi was carried out by serial dilution method, and the fungal identification was conducted using combination of morphology and molecular analyses based on ITS rDNA sequence data. As the support data, salt content and water activity (aw) of boiled salted fish were examined. The result showed that salt content of boiled salted fish samples ranged from 1.20 to 7.78% with aw of 0.91-0.98. A total of 119 isolates from 30 boiled salted fish samples were obtained.These isolates belong to seven genera and 16 species as follow: Aspergillus  flavus,  A.  fumigatus, A.  niger,  A.  ochraceus,  A. oryzae,  A.  sydowii,  A. terreus, Cladosporium  allicinum, Eurotium  chevalieri, Fusarium  graminearum,  F.  cerealis,  Loweporus sp.,  Penicillium  citrinum,  P.  chermesinum,  P. chrysogenum, and  Syncephalastrum  racemosum. Six species, namely,  P.  chermesinum (80%),  P. citrinum (73%), A. fumigatus (56.6%), A. flavus (53.3%), A. niger (46.7%), and E. chevalieri (26.7%) were determined as dominant species. There was no correlation between fungi species isolated and species of boiled salted fish, aw or salt content. However, lower salt content of boiled salted fish caused high growth of fungi.
Mikroenkapsulasi Strain Probiotik Leuconostoc mesenteroides ssp. cremonis BN12 menggunakan Berbagai Penyalut Hermana, Irma; Kusmarwati, Arifah; Indriati, Ninoek
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.953 KB) | DOI: 10.15578/jpbkp.v10i2.400

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik produk mikroenkapsulasi strain probiotik Leuconostoc mesenteroides ssp. cremonis BN12 menggunakan berbagai penyalut. Mikroenkapsulasi strain probiotik Leuconostoc mesenteroides ssp. cremonis BN12 dilakukan dengan teknik spray drying. Media mikroenkapsulasi berupa campuran dari penyalut (soluble fiber) dengan larutan protein dan karbohidrat (skim milk, maltodekstrin dan glukosa). Adapun jenis-jenis penyalut yang digunakan adalah alginat 0,5%, xanthan gum 0,05% atau kitosan 0,5%. Parameter yang diamati meliputi viabilitas sel probiotik sebelum dan setelah proses spray drying, ketahanan sel probiotik pada kondisi bile salt dan pH3 serta daya hambat sel probiotik setelah spray drying. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyalut terbaik untuk mikroenkapsulasi strain probiotik Leuconostoc mesenteroides ssp. cremonis BN12 adalah xanthan gum dengan viabilitas setelah spray drying mencapai 8,36 log cfu/g. Viabilitas sel pada media bile salt adalah 7,69 cfu/ g dan pada pH 3 mencapai 2,7 log cfu/g setelah 24 jam masa inkubasi dengan daya hambat yang lebih baik terhadap patogen enterik Escherichia coli, Salmonella spp, Listeria monocytogenes dan Staphylococcus aureus. 
Pengaruh Penambahan Pediococcus Acidilactici F-11 sebagai Kultur Starter terhadap Kualitas Rusip Teri (Stolephorus Sp.) Kusmarwati, Arifah; Sri Heruwati, Endang; Utami, Tyas; Rahayu, Endang Sutriswati
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (538.415 KB) | DOI: 10.15578/jpbkp.v6i1.84

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penambahan Pediococcus acidilactici F-11 sebagai kultur starter terhadap kualitas rusip melalui proses fermentasi. Rusip teri dibuat melalui fermentasi tanpa dan dengan penambahan starter dengan variasi penggaraman 10, 15, dan 20% dan masing-masing ditambah gula merah 10% dari berat ikan  pada suhu kamar (30 ± 2°C) selama 12 hari. Parameter yang diamati meliputi parameter mikrobiologi (ALT, total bakteri asam laktat (BAL), dan total coliform), kimiawi (pH, total asam, TVB, kadar air, dan kadar garam), dan sensori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan Pediococcus acidilactici F-11 dapat meningkatkan total BAL dan menurunkan total coliform produk rusip yang dihasilkan. Selain itu dapat mempersingkat waktu fermentasi dari 12 hari menjadi 9 hari dan menghasilkan produk rusip dengan sifat sensori yang lebih disukai terutama pada perlakuan penggaraman 15%. Produk rusip yang dihasilkan memiliki total BAL lebih tinggi yaitu sebesar 7,47 log, total coliform lebih rendah yaitu 3,34 log daripada rusip tanpa starter serta memiliki rasa dan tekstur yang lebih disukai. 
Eksplorasi Bakteriosin dari Bakteri Asam Laktat Asal Rusip Bangka dan Kalimantan Kusmarwati, Arifah; Haryati, Sakinah
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (550.175 KB) | DOI: 10.15578/jpbkp.v9i1.97

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk memproduksi dan mengkarakterisasi bakteriosin yang dihasilkan oleh bakteri asam laktat yang diisolasi dari rusip. Rusip merupakan produk ikan fermentasi tradisional Bangka. Penelitian ini menggunakan sampel rusip yang berasal dari Bangka dan Kalimantan. Sampel diisolasi hingga diperoleh isolat murni yang selanjutnya dilakukan skrining untuk memperoleh isolat yang mampu menghasilkan aktivitas antibakteri tertinggi. Isolat terpilih selanjutnya diidentifikasi dan digunakan untuk memproduksi bakteriosin kasar. Bakteriosin kasar diuji sensitifitasnya terhadap enzim proteolitik dan dikarakterisasi melalui pengujian stabilitas terhadap suhu tinggi, pH, surfaktan, serta stabilitasnya selama penyimpanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat RK4 menghasilkan bakteriosin yang bersifat sensitif terhadap enzim proteolitik seperti proteinase-K dan papain. Bakteriosin tersebut stabil terhadap suhu tinggi dan pH 2–8 serta menghasilkan aktivitas antibakteri yang tertinggi terhadap Staphylococcus aureus. Hasil identifikasi memperlihatkan bahwa isolat RK4 termasuk dalam jenis pediococcus pentosaceus I. Bakteriosin dari Pediococcus pentosaceus I tersebut aktivitasnya distimulasi oleh EDTA, sodium dodecyl sulphate (SDS) dan lauryl sarcosine. Namun sebaliknya, bioaktivitasnya tidak dipengaruhi oleh Triton X-100, Tween 20, Tween 80 dan urea. Bakteriosin kasar RK4 stabil pada penyimpanan suhu 37 °C selama 4 minggu dan pada suhu dingin selama 2 minggu.
Daya Hambat Ekstrak Bahan Aktif Biji Picung (Pangium edule reinw.) terhadap Pertumbuhan Bakteri Penghasil Histamin Kusmarwati, Arifah; Indriati, Ninoek
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.031 KB) | DOI: 10.15578/jpbkp.v3i1.7

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan ekstrak bahan aktif biji picung segar dan terfermentasi sebagai penghambat pertumbuhan bakteri penghasil histamin. Bakteri penghasil histamin yang diuji daya hambatnya meliputi Morganella morganii, Raoultella terigena, Enterobacter sp., Microbacterium testaceum, Staphylococcus sp., dan Micrococcus diversus. Pengujian daya hambat dilakukan dengan metode difusi pada lempeng agar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak akuades dan ekstrak etanol 50% dari biji picung segar mampu menghambat pertumbuhan bakteri penghasil histamin, sedangkan ekstrak n-heksana tidak memiliki daya hambat. Sementara itu, ekstrak akuades, etanol 50%, maupun n-heksana dari biji picung terfermentasi tidak mampu menghambat pertumbuhan bakteri penghasil histamin.