Mizoguchi, Masaru
Balai Penelitian dan Pengembangan Irigasi

Published : 6 Documents
Articles

Found 6 Documents
Search

Penentuan Kelembaban Tanah Optimum Untuk Budidaya Padi Sawah SRI (System Of Rice Intensification) Menggunakan Algoritma Genetika

Jurnal Irigasi Vol 9, No 1 (2014): Jurnal Irigasi
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Irigasi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (783.678 KB)

Abstract

Kelembaban tanah yang optimum untuk budidaya padi sawah dengan System of Rice Intensification (SRI) sangat penting dengan tujuan untuk meningkatkan produksi padi dan produktifitas air. Makalah ini mengemukakan metode optimasi dengan Algoritma Genetika untuk menentukan kelembaban tanah optimum pada masing-masing fase pertumbuhan tanaman berdasarkan data empirik selama 3 musim tanam percobaan yang dilakukan di Nusantara Organic SRI Center (NOSC), Nagrak Sukabumi, Jawa Barat. Dalam satu musim tanam, fase pertumbuhan tanaman dibagi menjadi 4 fase, yaitu : fase awal (initial), vegetatif (crop development), tengah musim (mid-season) dan akhir musim (late season). Selain itu, kelembaban tanah diklasifikasikan menjadi tiga level berdasarkan kurva retensi air, yaitu basah (wet), agak basah (medium) dan kering (dry). Dari hasil optimasi, didapatkan kelembaban tanah yang optimum adalah kombinasi level kelembaban tanah basah, basah, agak basah dan kering untuk fase pertumbuhan awal, vegetatif, tengah musim dan akhir musim. Kelembaban tanah pada level basah untuk fase awal dan vegetatif sangat penting untuk tanaman khususnya daerah perakaran dalam menyediakan air yang cukup untuk pertumbuhan akar, batang dan daun. Kemudian, air irigasi dapat dikurangi untuk menjaga kelembaban tanah pada level agak basah di fase tengah musim untuk menghindari dan mengurangi jumlah bulir yang tidak produktif. Pada fase pertumbuhan akhir musim, kelembaban tanah pada level kering dapat diterapkan untuk menghemat air irigasi ketika pada fase ini kebutuhan air tanaman minimal. Dengan kombinasi ini, dari hasil simulasi menggunakan Algoritma Genetika didapatkan peningkatan produksi sebesar 4.40% dan produktifitas air sebesar 8.40% dibandingkan data empirik dengan air yang dapat dihemat sebesar 12.28%.

Penentuan Kelembaban Tanah Optimum Untuk Budidaya Padi Sawah SRI (System Of Rice Intensification) Menggunakan Algoritma Genetika

Jurnal Irigasi Vol 9, No 1 (2014): Jurnal Irigasi
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Irigasi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kelembaban tanah yang optimum untuk budidaya padi sawah dengan System of Rice Intensification (SRI) sangat penting dengan tujuan untuk meningkatkan produksi padi dan produktifitas air. Makalah ini mengemukakan metode optimasi dengan Algoritma Genetika untuk menentukan kelembaban tanah optimum pada masing-masing fase pertumbuhan tanaman berdasarkan data empirik selama 3 musim tanam percobaan yang dilakukan di Nusantara Organic SRI Center (NOSC), Nagrak Sukabumi, Jawa Barat. Dalam satu musim tanam, fase pertumbuhan tanaman dibagi menjadi 4 fase, yaitu : fase awal (initial), vegetatif (crop development), tengah musim (mid-season) dan akhir musim (late season). Selain itu, kelembaban tanah diklasifikasikan menjadi tiga level berdasarkan kurva retensi air, yaitu basah (wet), agak basah (medium) dan kering (dry). Dari hasil optimasi, didapatkan kelembaban tanah yang optimum adalah kombinasi level kelembaban tanah basah, basah, agak basah dan kering untuk fase pertumbuhan awal, vegetatif, tengah musim dan akhir musim. Kelembaban tanah pada level basah untuk fase awal dan vegetatif sangat penting untuk tanaman khususnya daerah perakaran dalam menyediakan air yang cukup untuk pertumbuhan akar, batang dan daun. Kemudian, air irigasi dapat dikurangi untuk menjaga kelembaban tanah pada level agak basah di fase tengah musim untuk menghindari dan mengurangi jumlah bulir yang tidak produktif. Pada fase pertumbuhan akhir musim, kelembaban tanah pada level kering dapat diterapkan untuk menghemat air irigasi ketika pada fase ini kebutuhan air tanaman minimal. Dengan kombinasi ini, dari hasil simulasi menggunakan Algoritma Genetika didapatkan peningkatan produksi sebesar 4.40% dan produktifitas air sebesar 8.40% dibandingkan data empirik dengan air yang dapat dihemat sebesar 12.28%.

Potensi Pemanasan Global dari Padi Sawah System of Rice Intensification (SRI) dengan Berbagai Ketinggian Muka Air Tanah

Jurnal Irigasi Vol 11, No 2 (2016): Jurnal Irigasi
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Irigasi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1411.199 KB)

Abstract

System of Rice Intensification (SRI) merupakan budidaya alternatif padi sawah untuk mitigasi Gas Rumah Kaca (GRK). Dua jenis GRK utama yang diemisikan dari padi sawah adalah gas metana (CH4) dan dinitrogen oksida (N2O). Gas tersebut memiliki respon berbeda terhadap keragaman ketersediaan air di lahan yang direpresentasikan dengan tinggi muka air tanah. Global Warming Potential (GWP) atau potensi pemanasan global digunakan untuk membandingkan potensi GRK dalam memanaskan bumi pada periode tertentu, dan disetarakan dengan nilai potensi gas CO2. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan potensi pemanasan global pada berbagai rezim air dengan ketinggian muka air yang berbeda di lahan sawah yang menerapkan SRI. Penelitian dilakukan pada budidaya padi sawah dengan tiga perlakuan rezim air selama satu musim tanam (14 April  hingga 5 Agustus 2016) di plot percobaan laboratorium lapang Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan IPB, Bogor, Jawa Barat. Ketiga perlakuan rezim air tersebut adalah rezim tergenang, moderate dan kering . Hasil penelitian menunjukkan bahwa rezim air kering menghasilkan potensi pemanasan global terendah dibandingkan kedua rezim yang lain. Nilai potensi pemanasan global yang dihasilkan adalah 34% dan 41% lebih rendah dibandingkan rezim air tergenang dan moderate. Rezim kering mampu meningkatkan produktivitas tanaman 21% lebih besar dibandingkan rezim air tergenang. Untuk memperkuat hasil yang diperoleh ini, maka penelitian lanjutan diperlukan dengan kondisi cuaca yang berbeda dan lokasi yang beragam.

Pengembangan Model Jaringan Saraf Tiruan untuk Menduga Emisi Gas Rumah Kaca dari Lahan Sawah dengan berbagai Rejim Air

Jurnal Irigasi Vol 10, No 1 (2015): Jurnal Irigasi
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Irigasi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (662.168 KB)

Abstract

Makalah ini menyajikan model Jaringan Syaraf Tiruan (JST) untuk memprediksi gas metan (CH4) dan Nitrous Oxide (N2O) yang diemisikan dari padi sawah dengan perlakukan berbagai pemberian air berdasarkan data parameter lingkungan biofisik di dalam tanah yang mudah diukur seperti kelembaban tanah, suhu tanah dan daya hantar listrik (DHL) tanah hanya dengan satu jenis sensor. Untuk melakukan validasi model, percobaan budidaya padi sawah di pot dilakukan di dua tempat berbeda, yaitu di rumah kaca, Meiji University, Kanagawa Jepang dari 4 Juni sampai 21 September 2012 dan di laboratorium Teknik Sumberdaya Air, Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan-IPB dari 2 Juli sampai 10 Oktober 2014. Di setiap lokasi, terdapat tiga percobaan pemberian air dengan mengadopsi metode budidaya System of Rice Intensification (SRI). Perlakuan tersebut diberi nama SRI Basah (disingkat SRI B1 dan SRI B2 untuk lokasi pertama dan kedua), SRI Sedang (SRI S1 dan SRI S2) dan SRI Kering (SRI K1 dan SRI K2). Perbedaan percobaan antar perlakuan adalah pengaturan tinggi muka disetiap umur tanaman. Dari model JST yang dikembangkan didapatkan hasil validasi dengan nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0.93 dan 0.70 untuk prediksi emisi gas CH4 dan N2O yang mengindikasikan bahwa model dapat diterima. Dari model tersebut, karakteristik emisi gas CH4 dan N2O terhadap perubahan parameter lingkungan biofisik dapat dijelaskan dengan baik. Untuk strategi mitigasi dari percobaan pemberian air yang dilakukan, pemberian air pada perlakuan SRI B1 dan B2 dengan menjaga jeluk muka air disekitar permukaan tanah merupakan strategi yang terbaik dengan indikator produksi tertinggi dan emisi gas rumah kaca (GRK) terendah.

Pengembangan Model Jaringan Saraf Tiruan untuk Menduga Emisi Gas Rumah Kaca dari Lahan Sawah dengan berbagai Rejim Air

Jurnal Irigasi Vol 10, No 1 (2015): Jurnal Irigasi
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Irigasi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Makalah ini menyajikan model Jaringan Syaraf Tiruan (JST) untuk memprediksi gas metan (CH4) dan Nitrous Oxide (N2O) yang diemisikan dari padi sawah dengan perlakukan berbagai pemberian air berdasarkan data parameter lingkungan biofisik di dalam tanah yang mudah diukur seperti kelembaban tanah, suhu tanah dan daya hantar listrik (DHL) tanah hanya dengan satu jenis sensor. Untuk melakukan validasi model, percobaan budidaya padi sawah di pot dilakukan di dua tempat berbeda, yaitu di rumah kaca, Meiji University, Kanagawa Jepang dari 4 Juni sampai 21 September 2012 dan di laboratorium Teknik Sumberdaya Air, Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan-IPB dari 2 Juli sampai 10 Oktober 2014. Di setiap lokasi, terdapat tiga percobaan pemberian air dengan mengadopsi metode budidaya System of Rice Intensification (SRI). Perlakuan tersebut diberi nama SRI Basah (disingkat SRI B1 dan SRI B2 untuk lokasi pertama dan kedua), SRI Sedang (SRI S1 dan SRI S2) dan SRI Kering (SRI K1 dan SRI K2). Perbedaan percobaan antar perlakuan adalah pengaturan tinggi muka disetiap umur tanaman. Dari model JST yang dikembangkan didapatkan hasil validasi dengan nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0.93 dan 0.70 untuk prediksi emisi gas CH4 dan N2O yang mengindikasikan bahwa model dapat diterima. Dari model tersebut, karakteristik emisi gas CH4 dan N2O terhadap perubahan parameter lingkungan biofisik dapat dijelaskan dengan baik. Untuk strategi mitigasi dari percobaan pemberian air yang dilakukan, pemberian air pada perlakuan SRI B1 dan B2 dengan menjaga jeluk muka air disekitar permukaan tanah merupakan strategi yang terbaik dengan indikator produksi tertinggi dan emisi gas rumah kaca (GRK) terendah.

Potensi Pemanasan Global dari Padi Sawah System of Rice Intensification (SRI) dengan Berbagai Ketinggian Muka Air Tanah

Jurnal Irigasi Vol 11, No 2 (2016): Jurnal Irigasi
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Irigasi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

System of Rice Intensification (SRI) merupakan budidaya alternatif padi sawah untuk mitigasi Gas Rumah Kaca (GRK). Dua jenis GRK utama yang diemisikan dari padi sawah adalah gas metana (CH4) dan dinitrogen oksida (N2O). Gas tersebut memiliki respon berbeda terhadap keragaman ketersediaan air di lahan yang direpresentasikan dengan tinggi muka air tanah. Global Warming Potential (GWP) atau potensi pemanasan global digunakan untuk membandingkan potensi GRK dalam memanaskan bumi pada periode tertentu, dan disetarakan dengan nilai potensi gas CO2. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan potensi pemanasan global pada berbagai rezim air dengan ketinggian muka air yang berbeda di lahan sawah yang menerapkan SRI. Penelitian dilakukan pada budidaya padi sawah dengan tiga perlakuan rezim air selama satu musim tanam (14 April  hingga 5 Agustus 2016) di plot percobaan laboratorium lapang Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan IPB, Bogor, Jawa Barat. Ketiga perlakuan rezim air tersebut adalah rezim tergenang, moderate dan kering . Hasil penelitian menunjukkan bahwa rezim air kering menghasilkan potensi pemanasan global terendah dibandingkan kedua rezim yang lain. Nilai potensi pemanasan global yang dihasilkan adalah 34% dan 41% lebih rendah dibandingkan rezim air tergenang dan moderate. Rezim kering mampu meningkatkan produktivitas tanaman 21% lebih besar dibandingkan rezim air tergenang. Untuk memperkuat hasil yang diperoleh ini, maka penelitian lanjutan diperlukan dengan kondisi cuaca yang berbeda dan lokasi yang beragam.