KAMBUNO, NORMA TIKU
Poltekkes Kemenkes Kupang

Published : 3 Documents
Articles

Found 3 Documents
Search

ANALISIS CEMARAN LOGAM TIMBAL (PB) DAN TEMBAGA (CU) DALAM TEPUNG TERIGU DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM LOGA, MARIA CARITAS N.A.I; KAMBUNO, NORMA TIKU
JURNAL INFO KESEHATAN Vol 12 No 1 (2014): JURNAL INFO KESEHATAN
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.88 KB) | DOI: 10.31965/infokes.v12i1.43

Abstract

National Standardization Agency of Indonesia in the SNI No. 01-3751-2006 on wheat flour as food ingredients include Lead (Pb) and Copper (Cu) as metal contaminants. Consumption of food or beverages that contain heavy metal contamination on - constantly, will lead the process of bioaccumulation of metals. The impactsare a disorder of the nervous system, stunted growth, reproductive disorders, paralysis and premature death, and may also reduce the level of intelligence of children. The purpose of this study was to determine the metal content of Lead (Pb) and Copper (Cu) in wheat flour brand Gatotkaca and compare with SNI requirements. This study uses a dry destruction by Atomic Absorption Spectrophotometry. The analysis showed that wheat flour brand Gatotkaca in the Oeba market Kupang containing lead (Pb) metallic of 2.2983 mg/kg while the metal content of copper (Cu) of 2.7813 mg / kg. It was concluded that the metal contamination levels of lead (Pb) are not match while the metal concentrations of copper (Cu) are match with SNI.
Identifikasi Bakteri Gram Negatif Galur Extended Spectrum Beta Lactamase Pada Ruang NICU RSUD Prof. DR. W. Z. Johannes Kupang Kambuno, Norma Tiku; Fanggidae, Dicky
JURNAL INFO KESEHATAN Vol 15 No 2 (2017): JURNAL INFO KESEHATAN
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (811.387 KB)

Abstract

Extended Spectrum Beta Lactamase (ESBL) adalah enzim yang mampu menghidrolisis antibiotik dari golongan penicillin, cephalosporin generasi I, II, III dan monobactam. ESBL paling banyak diisolasi dari Enterobacteriaceae khususnya Escherichia coli dan Klebsiella pneumoniae. Penyebaran Enterobacteriaceae penghasil ESBL juga dapat terjadi karena adanya mutasi. Kasus deteksi ESBL pada rumah sakit telah banyak dilaporkan di seluruh dunia termasuk Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi Enterobacteriaceae yang termasuk galur ESBL yang diisolasi dari ruangan NICU RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang tahun 2015. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Sampel yang digunakan adalah 18 spesimen swab dari fasilitas ruangan dikumpulkan dengan metode accidental sampling. Spesimen swab ditanam pada Blood Agar Plate dan Mac Conkey Agar. Metode identifikasi bakteri dilengkapi dengan uji mikroskopis, dan uji biokimia. Klebsiella sp berhasil diidentifikasi kemudian dilanjutkan dengan uji kepekaan antimikroba (Kirby Bauer) terhadap ceftazidime dan ceftriazone. Uji konfirmasi ESBL menggunakan metode Double Disc Sinergy Test (DDST). Hasil uji kepekaan antibiotik menunjukan Klebsialla sp. resisten terhadap antibiotik ceftazidime dan ceftriazone. Uji DDST menunjukkan produksi ESBL dari Klebsiella sp. Disimpulkan bahwa ditemukan Enterobacteriaceae penghasil ESBL yakni Klebsiella sp yang sudah menunjukkan resistensi pada cephalosporin generasi ketiga (Ceftazidime dan Ceftriazone).
Factors Affecting the Incidence of Filariasis in Welamosa Village Ende District East Nusa Tenggara Irfan, Irfan; Kambuno, Norma Tiku; Israfil, Israfil
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/gmhc.v6i2.3208

Abstract

Filariasis is a chronic communicable disease caused by filarial worms, which consists of three species: Wucherria bancrofti, Brugaria malayi, and Brugaria timori. This disease is transmitted through mosquito bites, infects lymph tissue (lymph) and causes swelling of the legs, breasts, arms and genital organs. Welamosa village, Ende district, located in East Nusa Tenggara (NTT) province is reported as one of the highest cases of 40 cases in 2015. This research aims to analyze the influence of social factor of demography and socio-cultural environment factor to elephantiasis incident in Welamosa village, Ende district. The study was conducted in July–September 2016 in Welamosa village and Wolowaru sub-district, Ende district. The type of research was observational analytic with case-control with 49 people as sampling. The research instrument used questionnaire and check list. The data analysis used statistical test of SPSS program with backward regression logistic test. The results showed five variables as risk factors of elephantiasis occurrence, age (OR=42.518), education (OR=38.248), occupation (OR=8.404), outdoor activity at night (OR=5.097) and sex (OR=0.193). In conclusion, social demographic factors (age, gender, occupation, and education) and environmental and social-cultural factors of attitude (outdoor activities at night) are risk factors for filariasis incidence in Welamosa village, Ende district. FAKTOR YANG MEMENGARUHI KEJADIAN PENYAKIT FILARIASIS DI DESA WELAMOSA KABUPATEN ENDE NUSA TENGGARA TIMURFilariasis adalah penyakit menular menahun yang disebabkan oleh parasit berupa cacing filaria yang terdiri atas tiga spesies, yaitu Wucherria bancrofti, Brugaria malayi, dan Brugaria timori. Penyakit ini menginfeksi jaringan limfe (getah bening) dan menular melalui gigitan nyamuk, serta menyebabkan pembengkakan kaki, tungkai, payudara, lengan, dan organ genital. Desa Welamosa, Kabupaten Ende terletak di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dilaporkan sebagai salah satu kecamatan dengan kasus filariasis tertinggi, yakni 40 kasus pada tahun 2015. Tujuan penelitian adalah menganalisis pengaruh faktor sosial demografi dan faktor lingkungan sosial budaya terhadap kejadian filariasis di Desa Welamosa, Kabupaten Ende. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli–September 2016 di Desa Welamosa dan Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende. Jenis penelitian merupakan analitik observasional dan pengambilan sampel menggunakan case control sebanyak 49 orang. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner dan ceklis. Analisis data menggunakan uji statistik program SPSS dengan backward regression logistic test. Hasil penelitian menunjukkan lima variabel yang merupakan faktor risiko kejadian filariasis, yaitu usia (OR=42,518), pendidikan (OR=38,248), pekerjaan (OR=8,404), aktivitas di luar rumah pada malam hari (OR=5,097), dan jenis kelamin (OR=0,193). Simpulan, faktor sosial demografi (usia, jenis kelamin, pekerjaan, dan pendidikan) serta faktor lingkungan sosial budaya sikap (aktivitas di luar rumah pada malam hari) merupakan faktor risiko terhadap kejadian filariasis di Desa Welamosa, Kabupaten Ende.