Helmyati, Siti
Alma Ata University Press

Published : 4 Documents
Articles

Found 4 Documents
Search

Pemilihan food outlet sebagai faktor risiko berat badan lebih anak usia sekolah dasar di Kecamatan Tegalsari Surabaya Hartono, Renny Evelyn; Kandarina, BJ. Istiti; Helmyati, Siti
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 3, NOMOR 3, SEPTEMBER 2015
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.448 KB) | DOI: 10.21927/ijnd.2015.3(3).139-148

Abstract

ABSTRACTIntroduction: Overweight and obesity are conditions resulting from an imbalance of calories in the body that occur in a long time and cause more deaths than underweight. One of factors related is food pattern, which also infl uenced the selection of food outlets. Surabaya is an urban area so it has many types and characteristic s of food outlet. Elementary school (4, 5, 6) do not really depend on their parents, so their food consumption and physical activity began to vary. Objectives: To identify the relationship between the selection of food outlets and overweight/obesity status of elementary school in Tegalsari district, Surabaya.Methods: This research used a case-control study design. Samples were 51 children for each group of cases and control and obtained from 11 primary school in the 5 subdistricts in Tegalsari district, Surabaya. Data were obtained by interview, direct observation of food outlets, and interview to select informants about the reasons of selecting food outlets . Quantitative data were processed by bivariate (chi-square) and multivariate (binomial regression) test. Results: Bivariate test results showed that there were signifi cant relationships between the frequency to the street vendors consumption (OR=4.09, 95% CI:1.60-10.75), frequency of fast food consumption (OR=2.86, 95% CI:1.19-6.94) and snacks (OR=6,05, 95% CI:2.20-17.62), physical activity (OR=3.09, 95% CI:1.28-7.51) and gender (OR=2.70, 95% CI:1.11-6.64) with overweight/obesity status, while frequency of stores (total, supermarket, market, mini-market), frequency of food service place (total, restaurants, fast food restaurants), frequency of vegetable and fruit consumption, and socio-economic status of respondents did not relate signifi cantly. In multivariate analysis, the variables that affected frequency of the street vendors were snack consumption, physical activity, sex and total expenditure. Conclusions: Frequency of the street vendors, fast food consumption, physical activity,gender, and total expenditure had relationship with overweight/obesity status.KEYWORDS: food outlet, obesity, overweightABSTRAKLatar belakang: Overweight dan obesitas adalah keadaan akibat ketidakseimbangan kalori dalam tubuh yang terjadi dalam waktu lama dan menjadi penyebab kematian lebih banyak dibanding underweight. Salah satu faktor yang berhubungan langsung adalah pola makan, yang juga dipengaruhi pemilihan food outlet. Surabaya merupakan daerah perkotaan sehingga memiliki jenis dan karakteristik food oulet lebih beragam. Anak usia SD kelas IV, V, VI sudah tidak terlalu bergantung pada orang tua, sehingga konsumsi pangan dan aktivitas fisiknya mulai beragam. Tujuan: Mengetahui hubungan antara pemilihan food outlet dan status berat badan lebih pada anak usia sekolah dasar di Kecamatan Tegalsari, Surabaya.Metode: Penelitian menggunakan desain studi kasus-kontrol. Sampel penelitian adalah 51 anak untuk masing-masing kelompok kasus dan kontrol dari 11 SD di 5 Kelurahan di Kecamatan Tegalsari, Surabaya. Data diperoleh dengan wawancara, observasi langsung ke food outlet dan wawancara alasan pemilihan food outlet pada informan terpilih. Data kuantitatif diolah dengan uji bivariat (chi-square) dan multivariariat (regresi binomial).Hasil: Uji bivariat menyatakan terdapat hubungan signifi kan antara frekuensi datang ke pedagang kaki lima (OR=4,09, 95% CI:1,60-10,75), frekuensi konsumsi fast food (OR=2,86, 95% CI:1,19-6,94) dan kudapan (OR=6,05, 95% CI:2,20-17,62), aktivitas fi sik (OR=3,09, 95% CI:1,28-7,51) serta jenis kelamin (OR=2,70, 95% CI:1,11-6,64) dengan berat badan lebih, sedangkan frekuensi ke food store (total, supermarket, pasar, mini-market), frekuensi ke food service place total, rumah makan, restoran fast food), pola konsumsi sayur buah, dan sosial ekonomi responden tidak berhubungan signifi kan. Pada analisis multivariat, variabel yang mempengaruhi frekuensi datang ke pedagang kaki lima adalah frekuensi konsumsi kudapan, aktivitas fisik, jenis kelamin, dan total pengeluaran.Kesimpulan: Frekuensi datang ke pedagang kaki lima, konsumsi kudapan, aktivitas fisik, jenis kelamin, dan total pengeluaran berhubungan dengan status berat badan lebih.KATA KUNCI: food outlet, overweight, obesitas
Persepsi petugas puskesmas, kader posyandu, serta akademisi di Kota Yogyakarta terhadap pedoman gizi seimbang (PGS) 2014 Rahmita, Risma Saski; Prabandari, Yayi Suryo; Helmyati, Siti
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 4, NOMOR 2, MEI 2016
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.048 KB) | DOI: 10.21927/ijnd.2016.4(2).112-122

Abstract

ABSTRACTBackground: Based on the Basic Health Research on 2013, Indonesia is currently experiencing the global burden diseases. The prevalence of nutritional problems is higher than the limit of nutritional problems in the community, e.g. stunting 37.2 %, underweight 19.6%, and overweight 11.9%. This situation is quite alarming for the quality of Indonesian human resources. Therefore, guidelines for balanced nutrition that consists of 10 nutrition messages become important to solve. To know the readability of the guidelines in community, the perception of health center officers, cadres of posyandu, and academics to guidelines are needed.Objectives: To explore the perception of health center officers, cadres of posyandu, and academics to guidelines for balanced nutrition 2014.Methods: This research was a qualitative-based research with focus group discussions (FGD) methods. There were three different groups conducted in this research, e.g. health center officers, cadres of posyandu, and academics.Results: There were some unclear messages to all groups, such as the words “many” and “enough” in the second message, “high protein” in the 3rd message, “safe” and “enough” in the 7th message, and “physical activity” in the 10th message. From the picture of nutrition guidelines (nutrition pyramid), there was incompatibility between the nutrition pyramid and the guidelines for balanced nutrition 2014, especially in portions and the size of picture.Conclusions: Guidelines for balanced nutrition 2014 had of been different percepted especially nutrition messages and the pyramid.KEYWORDS: perception, guidelines for balanced nutrition 2014, nutrition pyramidABSTRAKLatar belakang: Berdasarkan riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2013, Indonesia saat ini mengalami beban ganda masalah gizi. Prevalensi masalah gizi yang ada masih melebihi batas masalah gizi masyarakat: gizi kurang dan pendek 37,2%, gizi kurang 19,6%, dan gizi lebih 11,9%. Keadaan ini cukup mengkhawatirkan bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan adanya upaya untuk memperbaiki keadaan ini dengan wujud mengeluarkan pedoman gizi seimbang (PGS) yang terdiri dari 10 pesan gizi yang telah disesuaikan oleh perkembangan permasalahan gizi di masyarakat. Untuk melihat keterbacaan pedoman gizi seimbang ini di masyarakat, perlu dilihat persepsi petugas puskesmas, kader posyandu, serta akademisi terhadap PGS 2014.Tujuan: Mengeksplorasi persepsi petugas puskesmas, kader posyandu, serta akademisi terhadap PGS 2014.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode diskusi kelompok terarah (DKT) terhadap tiga kelompok berbeda, yaitu petugas puskesmas, kader posyandu, juga akademisi.Hasil: Secara keseluruhan ada beberapa poin pesan yang dirasa kurang jelas untuk semua kelompok, seperti kata-kata “banyak” dan “cukup” pada pesan 2, “protein tinggi” pada pesan 3, “aman” dan “cukup” pada pesan 7, dan “aktivitas fisik” pada pesan 10. Untuk gambar pada tumpeng gizi seimbang (TGS), adaketidaksesuaian antara tumpeng dengan PGS 2014, khususnya pada porsi dan ukuran gambarnya.Kesimpulan: Sejauh ini, PGS 2014 masih memunculkan beragam persepsi terkait poin-poin pesan dan juga gambarnya.KATA KUNCI: persepsi, pesan gizi seimbang (PGS) 2014, tumpeng gizi seimbang (TGS) 2014
Faktor risiko gizi buruk pada balita di Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Hati Baculu, Eka Prasetia; Juffrie, M; Helmyati, Siti
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 3, NOMOR 1, JANUARI 2015
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.465 KB) | DOI: 10.21927/ijnd.2015.3(1).51-59

Abstract

ABSTRACTBackground: Severe malnutrition is a state of severe malnourished condition caused by low consumption of energy and protein in a long time. Severe malnutrition interferes the children growth and development, moreover malnourished children are vulnerable to get infectious diseases, even the death.Objectives: To analyze the risk factors of severe malnutrition among children under five in Donggala, Central of Sulawesi Province.Methods: This study used case-control (observational study). The study was conducted in District Dampelas Donggala on July to September 2014. The population was all children underfive selected by total sampling method. The samples were 64 children aged 0-59 months which separated into 2 groups,case and control group.The independent variables were the level of energy intake of protein, parenting, and infectious diseases, while the dependent variable was the incidence of severe malnutrition among children under five. Data were obtained by direct interview using questionnaire and recall 24 hours to determine the level of energy and protein intake. The data collected were analyzed using univariate analysis (descriptive), bivariate (chi-square), and multivariate (multiple logistic regression).Results: The result of this study based on the bivariate analysis presented that the level of energy intake (OR=9.86, 95% CI:3.49-27.89), infectious disease (OR=2.83, 95% CI:1.10-7.31), and as low birth weight external variables (OR=5.76, 95% CI:1.43-23.20) signifi cantly associated with the incidence of severe malnutrition. There were no significant association between the level of protein intake (OR=1.18, 95% CI:0.47-2.92) and parenting (OR=1.21, 95% CI:0.50-2.92) with the incidence of severe malnutrition. In the other hand, based on multivariate analysis by controlling the variable of low birth weight history, this study’s result presented that the level of energy intake had the strongest association with the risk of incidence of severe malnutrition compared to the other variables.Conclusions: The level of energy intake and infectious disease were the risk factors for the incidence of severe malnutrition among children under five, while the level of protein intake and parenting were not.KEYWORDS: children underfive, energy, infectious disease, parenting, protein, severe malnutritionABSTRAKLatar belakang: Gizi buruk adalah keadaan kurang gizi tingkat berat yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi dan protein dalam waktu cukup lama. Kekurangan gizi selain mengganggu pertumbuhan dan perkembangan, dapat pula mengakibatkan balita rentan terhadap penyakit infeksi bahkan dapatmenyebabkan kematian.Tujuan: Untuk menganalisis faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita di Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah.Metode: Jenis penelitian ini observasional dengan rancangan case-control. Penelitian dilakukan di Kecamatan Dampelas, Kabupaten Donggala pada bulan Juli sampai September 2014. Populasi adalah semua balita dan sampel ditentukan dengan metode total sampling. Balita usia 0–59 bulan yang berjumlah 64 dimasukkan pada masing-masing kelompok kasus dan kontrol. Variabel bebas yaitu tingkat asupan energi protein, pola asuh, dan penyakit infeksi sedangkan variabel terikatnya adalah kejadian gizi buruk pada balita. Data diperoleh dengan wawancara langsung menggunakan kuesioner dan recall 24 jam untuk mengetahui tingkat asupan energi dan protein. Data dianalisis dengan analisis univariat (deskriptif), bivariat (chi-square), dan multivariat (regresi logistik berganda).Hasil: Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa tingkat asupan energi (OR=9,86, 95% CI:3,49-27,89), penyakit infeksi (OR=2,83, 95% CI:1,10-7,31), dan variabel luar BBLR (OR=5,76, 95% CI:1,43-23,20) berhubungan signifikan dengan gizi buruk. Tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat asupan protein (OR=1,18, 95%CI:0,47-2,92) dan pola asuh (OR=1,21, 95%CI:0,50-2,92) dengan gizi buruk. Hasil analisis multivariat dengan mengendalikan riwayat BBLR menunjukkan bahwa tingkat asupan energi memiliki hubungan kuat dengan risiko kejadian gizi buruk dibandingkan variabel lainnya.Kesimpulan: Tingkat asupan energi dan penyakit infeksi merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk padabalita, sedangkan tingkat asupan protein dan pola asuh bukan merupakan faktor risiko.KATA KUNCI: balita, energi, penyakit infeksi, pola asuh, protein, gizi buruk, gizi
Tingkat sosial ekonomi tidak berhubungan dengan kurang energi kronis (KEK) pada ibu hamil Indriany, Indriany; Helmyati, Siti; Paramashanti, Bunga Astria
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 2, NOMOR 3, SEPTEMBER 2014
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.043 KB) | DOI: 10.21927/ijnd.2014.2(3).116-125

Abstract

ABSTRACTBackground: Chronic energy deficiency (CED) has been experienced in almost all countries, especially in developing countries such as Bangladesh, India, Indonesia, Myanmar, Nepal, Srilanka, and Thailand. There are several cause factors of CED, one of them is socioeconomic level such as education, employment, knowledge, and family income.Objectives: To analyze the relationship between socioeconomic level and CED in Sedayu Subdistrict, Bantul,Yogyakarta.Methods: This was an observational study with cross sectional design. Population were all pregnant women in Sedayu Subdistrict. Samples were selected by using total sampling methods with total sample 201 pregnant women. Data were analyzed by using univariate analysis (descriptive), bivariat (chi-square), and multivariat (multiple logistic regression).Results: There were no significant relationship between maternal education (p=0.167, RP=1.55, 95% CI:0.84-2.87), maternal employment (p=0.360, RP=1.33, 95% CI:0.72-2.44), maternal knowledge (p=0.892, RP=0.96, 95% CI:0.49-1.85) and CED in pregnant women at Sedayu Subdistrict. However, there was significant relationship between family income with CED in pregnant woman (p=0.004, RP=2.73, 95% CI:1.31-5.68). Multivariat analysis showed that there was significant relationship between family income with CED in pregnant women (R2=0.08, OR=3.22, 95% CI:1.28-8.11). Low family income had a 3.22 times higher chance to incidence of CED in pregnant women.Conclusions: Sosioeconomic status such as education, employment, knowledge did not associate with CED in pregnant women. However, there was significant association in family income of pregnant women with CED and non CED.KEYWORDS: chronic energy deficiency, maternal education, employment, maternal knowledge, family income ABSTRAKLatar belakang: Kurang energi kronis (KEK) dialami oleh hampir semua negara khususnya di negara-negara berkembang seperti Bangladesh, India, Indonesia, Myanmar, Nepal, Srilanka, dan Thailand. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi KEK pada ibu hamil adalah tingkat sosial ekonomi seperti pendidikan ibu, pengetahuan ibu, pekerjaan ibu, dan pendapatan keluarga.Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara tingkat sosial ekonomi dengan kejadian KEK pada ibu hamil di Kecamatan Sedayu, Bantul, Yogyakarta.Metode: Jenis penelitian ini adalah observasional dengan desain cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh ibu hamil yang ada di Kecamatan Sedayu. Pemilihan sampel menggunakan total sampling dengan jumlah sampel 201 ibu hamil. Data dianalisis dengan menggunakan analisis univariat (deskriptif), bivariat (chi-square), dan multivariat (regresi logistik).Hasil: Hasil analisis menunjukkan tidak ada hubungan antara pendidikan ibu (p=0,17, RP=1,55, 95% CI:0,84-2,87), pekerjaan ibu (p=0,36, RP=1,33, 95% CI:0,72-2,44), dan pengetahuan ibu (p=0,83, RP=0,96, 95% CI:0,49-1,85) dengan kejadian KEK pada Ibu hamil. Namun demikian, terdapat hubungan yang signifikan antara pendapatan keluarga dengan KEK ibu hamil (p=0,004, RP=2,73, 95% CI:1,31-5,68). Analisis multivariat menunjukkan bahwa pendapatan keluarga mempunyai hubungan dengan kejadian KEK pada ibu hamil (R2=0,08, OR=3,22, 95% CI:1,28-8,11), pendapatan keluarga yang rendah memiliki peluang 3,22 kali untuk mengalami kejadian KEK pada ibu hamil.Kesimpulan: Tingkat sosial ekonomi seperti pendidikan, pekerjaan, pengetahuan ibu tidak berhubungan dengan KEK pada ibu hamil, namun pendapatan keluarga memiliki hubungan yang bermakna secara signifikan antara ibu hamil KEK dan tidak KEK.KATA KUNCI: kurang energi kronis, pendidikan, pekerjaan, pengetahuan, pendapatan keluarga