Paratmanitya, Yhona
Alma Ata University Press

Published : 8 Documents
Articles

Found 8 Documents
Search

Gambaran status gizi anak 12-24 bulan di Puskesmas Mergangsan Kota Yogyakarta tahun 2015: tinjauan riwayat pemberian ASI eksklusif dan kejadian penyakit infeksi T. Hi. Abdullah, Nurlisa; Paratmanitya, Yhona; Hati, Febrina Suci
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 3, NOMOR 3, SEPTEMBER 2015
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (109.309 KB) | DOI: 10.21927/ijnd.2015.3(3).149-154

Abstract

ABSTRACTBackground: Malnutrition and severe undernutrition is one of the main health problems faced in developing countries. In Indonesia, health problems and the child’s growth are influenced by two main issues , namely a state of good nutrition and the prevalence of infectious diseases . Worsening child malnutrition can occur because of ignorance of the mother about the manner of breastfeeding to their children. Yogyakarta city still has the highest prevalence of malnutrition (W/A) , as compared to four other districts in the amount of 1.04 % (exceeding the target of the action plan for food and nutrition is < 1%).Objectives: To know the nutritional status of children (12-24 months) in terms of the history of exclusive breastfeeding and the incidence of infectious diseases at the Mergangsan health center in Yogyakarta. Methods: This research used quantitative descriptive method with cross sectional approach. Subjects were children aged 12-24 who months were recorded in four villages Kaparakan Integrated Health Centre (RW III , VII , IX , and XII) in Puskesmas Mergangsan, Yogyakarta. The sampling technique of this study used total sampling, the number of samples were 34 respondents. Data were collected by using a questionnaire.Results: Most children did not receive exclusive breastfeeding (55.9%). All of the children had infectious diseases (diarrhea, respiratory infection) in the last one month. Most of children had good nutrition (58.8%), and 86.7% children received exclusive breastfeeding. Meanwhile, 36.8% children did not. Most of children who had infectious diseases history were included in good nutritional status. Conclusion: Children who had a history of exclusive breastfeeding was 86.7%, while those who had not breastfeeding exclusively was 36.8%. Most of children with good nutritional status had experiences of infectious diseases (diarrhea, respiratory infection). KEYWORDS: exclusive breastfeeding, infectious disease, nutritional statusABSTRAKLatar belakang: Gizi kurang dan buruk merupakan salah satu masalah kesehatan utama yang dihadapi oleh negara berkembang. Di Indonesia, masalah kesehatan dan pertumbuhan anak sangat dipengaruhi oleh dua persoalan utama yaitu keadaan gizi yang tidak baik dan merajalelanya penyakit infeksi. Memburuknya gizi anak dapat terjadi karena ketidaktahuan ibu mengenai tata cara pemberian ASI kepada anaknya. Kota Yogyakarta masih memiliki prevalensi gizi buruk tertinggi (BB/U) dibandingkan empat kabupaten lainnya, yaitu sebesar 1,04% (melebihi target rencana aksi daerah pangan dan gizi.Tujuan: Mengetahui gambaran status gizi anak (12-24 bulan) ditinjau dari riwayat pemberian ASI eksklusif dan kejadian penyakit infeksi di Puskesmas Mergangsan Kota Yogyakarta. Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian adalah anak usia 12-24 bulan yang tercatat di 4 Posyandu Kelurahan Kaparakan (RW III, VII, IX, dan XII) di wilayah kerja Puskesmas Mergangsan, Kota Yogyakarta. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan total sampling, dengan jumlah sampel 34 responden. Alat ukur dalam penelitian ini menggunakan kuesioner. Hasil: Sebagian besar anak tidak mendapat ASI eksklusif (55,9%). Semua anak pernah mengalami penyakit infeksi (diare, ISPA) dalam 1 bulan terakhir. Mayoritas anak memiliki gizi baik (58,8%) dengan jumlah anak yang mendapat ASI eksklusif sebesar 86,7%, sedangkan yang tidak mendapat ASI ekslusif sebesar 36,8%. Mayoritas anak yang pernah mengalami penyakit infeksi berstatus gizi baik (58,8%).Kesimpulan: Sebagian besar anak memiliki riwayat pemberian ASI eksklusif. Terdapat lebih dari sebagian anak dengan status gizi baik pernah mengalami penyakit infeksi (diare, ISPA). KATA KUNCI: ASI eksklusif, penyakit infeksi, status gizi
Perbedaan konsumsi buah dan sayur pada anak sekolah dasar yang obes dan tidak obes di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul Nuraeni, Irma; Hadi, Hamam; Paratmanitya, Yhona
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 1, NOMOR 2, MEI 2013
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.813 KB) | DOI: 10.21927/ijnd.2013.1(2).81-92

Abstract

ABSTRACTBackground: Curently, Indonesia has double burden problems nutrition, such as malnutrition and over nutrition. Overnutrition or obesity are not just happening in adults only, but also can occur in childhood. If the problem of obesity in children and adolescents cannot be resolved, it can be infl uenced obese in adulthood then potentially to have noncommunicable diseases, such as cardiovascular disease, hypertension and diabetes mellitus. Prevalence of obesity inchildren at Yogyakarta Province increases year by year (1;2). Obesity was caused by an imbalance in energy intake andenergy expenditure. Children tend to consume high energy-dense, sweet  taste meal, high fat foods and less dietary fiber from fruits and vegetables. Several studies showed that there was increasing in risk of obesity from someone who have less consumption of fruits and vegetables.Objective:To determine differences in frequency and amount of fruit and vegetable consumption in elementary school children obese and non-obese at Yogyakarta Municipality and  District of Bantul and to find out the risk of obesity in children who have less consumption of fruits and vegetables. Methods:The study design was a case-control, 244 samples as cases (obese children) and 244 controls (non-obesechildren). The subject of this study was children aged 6-12 years who were seated in class 1 to class 5 elementary schools at Yogyakarta Municipality and District of Bantul. Identity data obtained from a structured questionnaire respondent, frequency and amount of fruit and vegetable consumption were taken from Semi Quantitative Food Frequency Questioner(SQFFQ).Then the results analyzed using statistical test.Results: Statistical test showed that there were significant differences (p<0,05) in the frequency and number of fruit and vegetable consumption in obese and non-obese elementary school children at Yogyakarta Municipality and District of Bantul. Multivariate analysis after controlled by gender and energy intake, showed that obese  children who rarely consuming fruits (<7 times/week) (OR=2,24, 95%CI: 1.53-3.28), rarely consuming vegetables (<7 times/week) (OR=2,52, 95%CI: 1,70-3,73), and consuming fruits and vegetables less than 5 servings/day (equivalent to 400 g/day) (OR= 4,59, 95%CI:2,11-10,00) were greater risk for being obesity.Conclusion:Obese children had rarely and less consume of fruits and vegetables than that did in non-obese children at Yogyakarta Municipality and District of Bantul. The children rarely and less consuming fruits and vegetables increased the risk of obesity.KEYWORDS: children obesity, vegetable, fruitABSTRAKLatar Belakang: Indonesia saat ini mengalami masalah gizi ganda, yaitu masalah gizi kurang dan gizi lebih. Kelebihan  gizi atau obesitas pada anak dan remaja apabila tidak diatasi maka berdampak menjadi obesitas pada masa dewasa yang berpotensi mengalami penyakit tidak menular, seperti jantung, hipertensi dan diabetes mellitus. Prevalensi obesitas pada anak di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta mengalami peningkatan dari tahun ke tahun (1; 2). Obesitas disebabkan ketidakseimbangan antara masukan dengan keluaran energi. Anak cenderung mengkonsumsi padat energi yang berasa manis dan berlemak tinggi serta makanan kurang serat dari buah dan sayur. Beberapa penelitian menunjukkan peningkatan risiko obesitas pada orang yang kurang konsumsi buah dan sayur.Tujuan: Untuk mengetahui perbedaan frekuensi dan jumlah konsumsi buah dan sayur pada anak SD obes dan tidak obes di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul serta peran konsumsi buah dan sayur terhadap kejadian obesitas. Metode: Rancangan penelitian ini adalah case-control, 244 kasus (anak obes) dan 244 kontrol (anak tidak obes). Subjek penelitian adalah anak usia 6-12 tahun yang duduk di kelas 1 hingga kelas 5 sekolah dasar di Kota Yogyakarta dan di Kabupaten Bantul. Data identitas diperoleh dari kuesioner terstruktur, sedangkan data frekuensi dan jumlah konsumsi buah dan sayur diperoleh dari semikuantitatif FFQ. Hasilnya kemudian dianalisis menggunakan uji statistik.Hasil: Pada anak SD obes dan tidak obes di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul terdapat perbedaan yang signifikan(p<0,05) dalam frekuensi dan jumlah konsumsi buah dan sayur. Hasil analisis multivariat setelah dikontrol dengan jenis kelamin dan asupan energi menunjukkan bahwa anak SD obes yang mengkonsumsi buah jarang (< 7 kali/minggu) (OR=2,24, 95%CI:1,53-3,28), frekuensi konsumsi sayur jarang (<7 kali/minggu) (OR=2,52, 95%CI: 1,70-3,73), jumlah konsumsi buah dan sayur kurang dari 5 porsi/hari atau setara dengan 400 gr/hari (OR=4,59, 95%CI: 2,11-10,00) berisiko lebih besar untuk terjadinya obesitas. Kesimpulan: Anak SD yang obes lebih jarang dan lebih sedikit mengkonsumsi buah dan sayur dibandingkan dengan anak SD yang tidak obes di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul. Anak yang jarang dan sedikit mengkonsumsi buah dan sayur dapat meningkatkan risiko terjadinya obesitas.KATA KUNCI: obesitas anak, sayur, buah
Ketahanan pangan rumah tangga berhubungan dengan stunting pada anak usia 6-23 bulan Masrin, Masrin; Paratmanitya, Yhona; Aprilia, Veriani
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 2, NOMOR 3, SEPTEMBER 2014
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.129 KB) | DOI: 10.21927/ijnd.2014.2(3).103-115

Abstract

ABSTRACTBackground: Food is one of human basic needs. If it is not fullfilled, both in their number and quality in the individual and household level will disturb the achievement of the life quality that are health, active, and sustainable and able to rise various health and nutrition problems. Stunting in children 6-23 monthswas one of chronical nutrition problems that was caused by access and afford to the food still low.Objectives: To analyze the correlation between food security of the household and stunting incidence in children aged 6-23 months in Sedayu Subdistrict, Bantul, Yogyakarta.Methods: This was an observational study with case-control design. The samples of the study were 126 children aged 6-23 months, each for case, and control group. The samples were chosen by total sampling method. Data were analyzed by using univariate, bivariate, and multivariate. Statistic test in bivariate analysis used chi-square test and in multivariate analysis used logistic regression test.Results: Bivariate analysis showed that food security of the household had correlation with stunting incidence in children aged 6-23 months (p=0.04, OR=2.70, 95% CI:0.94-8.77). The confounding variable which had significant correlation with stunting incidence in children aged 6-23 months were mother height (p=0.00, OR=2.03, 95% CI:1.14-3.65) and low birth weigth history (p=0.03, OR=3.02, 95% CI:0.98-11.04). Multivariate analysis by controlling mother height and low birth weigth history in children aged 6-23 months,showed that household food security had correlation with stunting incidence in children aged their 6-23 months (p=0.05, OR=2.62, 95% CI:0.97-7.12).Conclusions: There was significant correlation between household food security and stunting incidence in children aged at their 6-23 months in Sedayu Subdistrict, Bantul, Yogyakarta.KEYWORDS: household food security, stunting, children aged in 6-23 monthsABSTRAKLatar belakang: Pangan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Jika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, baik jumlah maupun mutunya pada tingkat individu dan rumah tangga akan mengganggu tercapainya kualitas hidup sehat, aktif, dan berkesinambungan serta dapat menimbulkan berbagai permasalahankesehatan dan gizi. Baduta stunting merupakan salah satu masalah gizi kronis yang disebabkan oleh akses dan keterjangkauan terhadap pangan masih rendah.Tujuan: Menganalisis hubungan ketahanan pangan rumah tangga dengan kejadian stunting pada balita usia 6-23 bulan di Kecamatan Sedayu, Bantul, Yogyakarta.Metode: Jenis penelitian ini adalah observasional dengan rancangan case-control. Sampel penelitian adalah baduta usia 6-23 bulan yang berjumlah 126 untuk masing-masing kelompok kasus dan kontrol dengan rasio 1:1. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode total sampling. Analisis data secarabertahap, yaitu analisis univariat, bivariat, dan multivariat. Uji statistik bivariat menggunakan chi-square dan multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil: Hasil analisis bivariat menunjukkan ketahanan pangan rumah tangga berhubungan dengan kejadian stunting pada baduta usia 6-23 bulan (p=0,04, OR=2,70, 95% CI:0,94-8,77). Variabel luar yang berhubungan signifikan dengan kejadian stunting pada baduta usia 6-23 bulan yaitu tinggi badan ibu(p=0,00, OR=2,03, 95% CI:1,14-3,65) dan riwayat BBLR (p=0,03, OR=3,02, 95% CI:0,98-11,04). Hasil analisis multivariat dengan mengendalikan variabel tinggi badan ibu dan riwayat BBLR baduta menunjukkan ketahanan pangan rumah tangga berhubungan dengan kejadian stunting pada baduta usia 6-23 bulan (p=0,05, OR=2,62, 95% CI:0,97-7,12).Kesimpulan: Ada hubungan yang signifikan antara ketahanan pangan rumah tangga dengan kejadian stunting pada baduta usia 6-23 bulan di Kecamatan Sedayu, Bantul, Yogyakarta.KATA KUNCI: ketahanan pangan rumah tangga, stunting, baduta usia 6-23 bulan
Tingkat pengetahuan dan dukungan keluarga tidak berhubungan dengan kepatuhan menjalani terapi diet penderita diabetes mellitus tipe 2 di Puskesmas Kasihan II Bantul Yogyakarta Astuti, Sri; Paratmanitya, Yhona; Wahyuningsih, Wahyuningsih
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 3, NOMOR 2, MEI 2015
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (102.066 KB) | DOI: 10.21927/ijnd.2015.3(2).105-112

Abstract

ABSTRACTBackground: Diabetes mellitus (DM) can cause various chronic complications on the eyes, kidney, neuronal, and blood vessel. Family support is very important to motivate the patient in performing the treatment of diabetes mellitus or diet. Therefore, knowledge and family support can influence the undergoing treat mentor therapy of diabetes mellitus. Having the knowledge, patient can know impact of the disease and in the treatment of therapy that must be done. Good knowledge and family supports can improve patient compliance in undergoing diet.Objectives: To know the association between the knowledge level and family support with compliance in the diet therapy among the patients with diabetes mellitus type 2 in Puskesmas Kasihan II Bantul Yogyakarta.Methods: This was a quantitative descriptive research with cross sectional design. Sampling technique used was quota sampling, where sample were gained in accordance with research criteria of 68 people. Initially, data analysis used was Kolmogorov-Smirnov. Multivariate analysis used was multiple linier regression.Results: The research showed that the most of respondents had good knowledge level (82.4%) and also family support of the respondent towards compliance in the diet therapy of DM type 2 (51.5%). The compliance level of the respondents in the diet therapy of DM type 2 that was in the sufficient category as many as76.5%. Knowledge and family support did not relate with compliance in the diet of diabetes mellitus type 2 with p-value consecutively was 0.537 and 0.937. Knowledge level and family support had influence as many 11.5% toward diet pursuance. Knowledge level influenced more toward diet compliance (p=0.041).Conclusions: There was no association between knowledge level and family support with compliance in the diet therapy on the patient with diabetes mellitus type 2 in Puskesmas Kasihan II Bantul Yogyakarta.KEYWORDS: knowledge, family support, diabetes mellitusABSTRAKLatar belakang: Diabetes mellitus adalah keadaan hiperglikemi kronik yang disertai berbagai kelainan akibat gangguan hormonal yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf, dan pembuluh darah. Dukungan keluarga sangat penting untuk memotivasi pasien dalam menjalankanpengobatan ataupun diet diabetes mellitus. Oleh karena itu pengetahuan dan dukungan keluarga sangat mempengaruhi dalam menjalankan pengobatan maupun terapi diabetes mellitus, karena dengan pengetahuan yang dimiliki pasien bisa mengetahui tentang penyakitnya, dampak-dampak dari penyakitnya, serta berpengaruh dalam pengobatan maupun terapi yang harus dilakukan, salah satunya adalah diet diabetes mellitus dan pengetahuan yang baik serta adanya dukungan dari keluarga dapat meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani diet.Tujuan: Mengetahui hubungan pengetahuan dan dukungan keluarga dalam menjalani terapi diet di Puskemas Kasihan II Bantul Yogyakarta.Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif dengan rancangan cross sectional. Teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu quota sampling dan diperoleh 68 orang. Teknik analisis data yang digunakan yaitu uji Kolmogorov-Smirnov. Analisis multivariat menggunakan regresi linear.Hasil: Penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan responden sebagian besar tergolong baik yaitu sebanyak 82,4% (56 orang), dukungan keluarga responden terhadap kepatuhan dalam menjalani terapi diet DM tipe 2 yaitu sebagian besar dengan kategori baik sebanyak 51,5% (35 orang), tingkat kepatuhan responden dalam menjalani terapi diet DM tipe 2 yaitu dalam kategori cukup yaitu sebanyak 76,5% (52 orang). Untuk pengetahuan dan dukungan keluarga tidak ada hubungan dengan kepatuhan dalam menjalani diet diabetes mellitus tipe 2 dengan menggunakan rumus Kolmogorov-Smirnov didapatkan nilai p=0,537;>0,05, nilai p=0,937; >0,05. Koefi sien determinasi variabel bebas mempengaruhi variabel terikat sebesar 11,5 % oleh variabel tingkat pengetahuan dan dukungan keluarga.Kesimpulan: Tidak ada hubungan antara pengetahuan dan dukungan keluarga dengan kepatuhan dalam menjalani diet diabetes mellitus tipe 2 di Puskesmas Kasihan II Bantul Yogyakarta.KATA KUNCI: pengetahuan, dukungan keluarga, diabetes mellitus
Children’s breakfast habit related to their perception towards parent’s breakfast habits (study in Sedayu District, Bantul Regency)* Irwanti, Winda; Paratmanitya, Yhona
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 4, NOMOR 2, MEI 2016
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.647 KB) | DOI: 10.21927/ijnd.2016.4(2).63-70

Abstract

ABSTRACTBackground: Breakfast plays an important role in ensuring the good health and wellbeing of an individual, especially children. Evidence suggests that breakfast consumption may improve cognitive function related to memory, exam test score and the level of school attendance.Objectives: To determine the breakfast habits and its risk factors in elementary school children in Bantul.Methods: This cross-sectional study was conducted in four elementary schools in the District Sedayu, Bantul with 126 children as subjects. Breakfast habits investigated by interviews to the children.Results: This study showed that there were 33% of children had no breakfast daily, or had skipped breakfast at least once in a week. The major reasons of children skipping breakfast were not having enough time (38.1%), not hungry (30.9%) and no food available in the morning at home (16.7%). A total of 15.9% mothers and 23% fathers were not breakfast daily according to their children. Breakfast habits of children significantly associated with the children’s perception towards parent’s breakfast habits.Conclusions: Breakfast habits of children significantly associated with the children’s perception towards parent’s breakfast habits.KEYWORDS: breakfast habit, children perception, parent’s breakfast habitABSTRAKLatar belakang: Sarapan memiliki peran dalam menjaga kesehatan dan kebahagiaan seseorang, termasuk anak. Penelitian terdahulu membuktikan bahwa sarapan mampu meningkatkan fungsi kognitif yang berhubungan dengan kemampuan mengingat, nilai ujian, dan tingkat kehadiran di sekolah.Tujuan: Untuk mengetahui kebiasaan sarapan anak sekolah dasar di Kabupaten Bantul, dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.Metode: Studi cross-sectional ini dilaksanakan di 4 sekolah dasar di Wilayah Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, dengan jumlah subjek sebanyak 126 anak. Kebiasaan sarapan diketahui dari wawancara dengan anak.Hasil: Hasil menunjukkan bahwa sebesar 33% anak sarapan tidak setiap hari, atau dalam seminggu paling tidak 1x melewatkan sarapan. Alasan utama anak melewatkan sarapan adalah tidak punya cukup waktu (38,1%), tidak lapar (30,9%), dan tidak tersedianya sarapan di rumah pada pagi hari (16,7%). Sebanyak 15,9% ibu, dan 23% ayah juga sarapan tidak setiap hari menurut persepsi anak. Kebiasaan sarapan anak berhubungan secara signifikan dengan persepsi anak terhadap kebiasaan sarapan orang tuanya.Kesimpulan: Kebiasaan sarapan anak berhubungan secara signifikan dengan persepsi anak terhadap kebiasaan sarapan orang tuanya.KATA KUNCI: kebiasaan sarapan, persepsi anak, kebiasaan sarapan orang tua
Kandungan bahan tambahan pangan berbahaya pada makanan jajanan anak sekolah dasar di Kabupaten Bantul Paratmanitya, Yhona; Aprilia, Veriani
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 4, NOMOR 1, JANUARI 2016
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.377 KB) | DOI: 10.21927/ijnd.2016.4(1).49-55

Abstract

ABSTRACTBackground: The National Agency of Drug and Food Control (BPOM) showed that in 2012, consuming of food is the highest caused of poisoning incidence (66.7%) among others (drug, cosmetics, etc). One of factors influence it was chemical contamination in food, such as borax (sodium tetraborate), formaldehyde, and rhodamine-B. Based on this data, there were 2.93% of borax, 1.34% of formaldehyde, and 1.02% of rhodamine-B detected in the snack foods of elementary school children. Their accumulation may have negative impact on body health.Objectives: To know the content of food additive substances contamination (borax, formaldehyde, rhodamin-B) in the snack food of elementary school children in Bantul. Methods: This was an observational research with survey design. The research was done in 68 of elementary schools in District of Bantul. All suspected snack food samples inside and outside the school were analyzed for their chemical contaminations. Qualitative analysis of borax, formaldehyde, and rhodamin-B were done by using curcumin, KMnO4, and test kit methods, respectively. Results: There were 107 samples collected from 68 elementary schools in Bantul. The most sold sample suspecting of chemical contamination was meatball (22.4%). Among 98 analyzed samples, there were 15 (15.3%) and 25 (25.5%) samples that were proven to have borax and formaldehyde. Meanwhile, there were 7 (46.7%) samples of 15 samples were proven to have rhodamine-B. From the data, there were 34 elementary schools (50%) that have no harmful chemical contamination in their snack food.Conclusions: The percentage of snack food containing borax, formaldehyde, and rhodamine-B in elementary school in Bantul was still high enough.KEYWORDS: snack food, borax, formaldehyde, rhodamine-BABSTRAKLatar belakang: Data Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2012, insiden keracunan akibat mengkonsumsi makanan menduduki posisi paling tinggi, yaitu 66,7%, dibandingkan dengan keracunan akibat penyebab lain, misalnya obat, kosmetika, dan lain-lain. Salah satu penyebab keracunan makanan adalah adanya cemaran kimia dalam makanan tersebut, seperti boraks, formalin dan rhodamin-B. Dalam data tersebut, diketahui 2,93% sampel makanan jajanan pada anak sekolah mengandung boraks, 1,34% mengandung formalin, dan 1,02% mengandung rhodamin-B. Akumulasi bahan-bahan tersebut di dalam tubuh dapat berdampak negatif bagi kesehatan.Tujuan: Mengetahui persentase makanan jajanan anak sekolah dasar (SD) yang tercemar bahan tambahan pangan berbahaya (boraks, formalin, rhodamin-B) di Kabupaten Bantul. Metode: Jenis penelitian ini adalah observasional dengan rancangan survei. Penelitian dilaksanakan dengan melibatkan 68 SD di Kabupaten Bantul sebagai sampel. Seluruh makanan jajanan yang dijajakan baik di luar maupun di kantin sekolah dan diduga mengandung bahan kimia berbahaya diuji kandungan cemaran kimianya yaitu kandungan boraks, formalin dan rhodamin-B. Pengujian kualitatif kandungan boraks menggunakan kurkumin, formalin menggunakan KMnO4, dan rhodamin-B menggunakan test kit Rhodamin-B. Hasil: Terdapat 107 sampel makanan dari 68 SD yang diuji. Jenis makanan jajanan yang diduga mengandung bahan kimia berbahaya yang paling banyak dijajakan di SD adalah jenis bakso (bakso, bakso tusuk, bakso goreng) yaitu sejumlah 22,4% dari seluruh sampel jajanan. Di antara 98 sampel yang diuji kandungan boraks dan formalinnya, 15 sampel (15,3%) positif mengandung boraks dan 25 sampel (25,5%) positif mengandung formalin. Di antara 15 sampel yang diuji kandungan rhodamin-B-nya,7 sampel (46,7%) positif mengandung rhodamin-B. Terdapat 34 SD (50%) yang tidak terdapat jajanan yang tercemar bahan kimia berbahaya. Kesimpulan: Persentase makanan jajanan anak SD yang mengandung boraks, formalin dan rhodamin-B masih cukup tinggi.KATA KUNCI: makanan jajanan, boraks, formalin, rhodamin-B
Tingkat Ekonomi Keluarga Berhubungan dengan Pemilihan Alat Kontrasepsi di Dukuh Manukan Sendangsari Pajangan Bantul Intan Pradini, Diyah; Paratmanitya, Yhona; Mawardi Pamungkas, Dedi
Jurnal Ners dan Kebidanan Indonesia Vol 1, No 2 (2013): Juli 2013
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.213 KB) | DOI: 10.21927/jnki.2013.1(2).55-60

Abstract

Pemberian informasi yang benar dan tepat sangat dibutuhkan oleh akseptor KB supaya mereka yakin dan mantap dengan pilihannya tanpa melihat biaya untuk membayar kontrasepsi tersebut. Informasi yang tidak benar dan tidak tepat tentang alat kontrasepsi yang digunakan dapat menyebabkan akseptor KB mengeluh karena adanya efek dan biaya yang terlalu mahal tentang alat kontrasepsi yang mereka gunakan. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan tingkat ekonomi keluarga dengan pemilihan alat kontrasepsi di Dukuh Manukan Sendangsari Pajangan Bantul pada tahun 2012. Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dengan rancangan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasangan usia subur yang menjadi akseptor KB di Dukuh Manukan sebanyak 102 orang. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh pasangan usia subur yang menjadi akseptor KB di Dukuh Manukan yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sebanyak 42 akseptor KB. Pengumpulan data menggunakan kuesioner tentang pendapatan, pekerjaan dan alat kontrasepsi yang dipilih. Analisis Univariat menggunakan tabel distribusi frekuensi relatif yang dinyatakan dalam bentuk prosentase dan analisi bivariat dalam peneltian ini menggunakan analisis chi-square. Hasil pebelitian menunjukan tingkat ekonomi tinggi sebanyak 27 orang (64,3%), 17 orang (63%) diantaranya memilih alat kontrasepsi efektif dan 10 orang (37%) lainnya memilih alat kontrasepsi Non efektif. Sedangkan jumlah responden yang mempunyai tingkat ekonomi keluarga rendah adalah sebanyak 15 orang (35,7%) dengan 8 orang (53,4%) diantaranya memilih alat kontrasepsi Non efektif sedangkan lainnya 7 orang (46,7%) memilih alat kontrasepsi Efektif. Hasil perhitungan statistic diperoleh nilai χ2 sebesar 1,07 pada df 1 dengan taraf signifikansi 5% maka diketahui χ2 tabel = 3,841 yang berati χ2 hitung <χ2 tabel (1,07<3,841) dan p-value=0,307 >0,05. Kesimpulan tidak ada hubungan antara tingkat ekonomi keluarga dengan pemilihan alat kontrasepsi di Dukuh Manukan Sendangsari Pajangan Bantul pada tahun 2012.
Terapi Bekam dan Akupunktur Terhadap Penurunan Tekanan Darah pada Penderita Hipertensi Primer (Esensial) di Klinik Herbal El Zahra Kota Tarakan Ria Santi, Yumira; Paratmanitya, Yhona; Pratiwi, Pratiwi
Jurnal Ners dan Kebidanan Indonesia Vol 2, No 3 (2014): November 2014
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (282.885 KB) | DOI: 10.21927/jnki.2014.2(3).147-154

Abstract

Hypertension is health problems are often happens in society, both of urban and rural community. Prevalence in Indonesia reached was 75.8% quite high, the long term medical treatment make it more difficult to handled properly. Alternative treatment like cupping and acupuncture are patients hypertension efforts to be free from side effects inflicted by chemical medicines. The purpose of this study was to determine the effect of cupping and acupuncture therapy effectiveness in blood pressure reduction among patients with primary hypertension. Study design used in this study was pre experimental designs with pretest–posttest, used statistics of paired t-test and independent t-test. The Results of paired test showed that value of p were 0.003 for systole blood pressure of cupping and 0.000 for systole blood pressure of acupuncture while diastole blood pressure of cupping obtained by value of p were 0.065 and 0.775 for diastole blood pressure of acupuncture, it means that cupping and acupuncture only had an affect on systole blood pressure reduction. Analysis results of independent t-test showed that value of p were 0.051 for systole blood pressure and 0.511 for diastole blood pressure, it means that there was no differences between cupping and acupuncture therapy. Based on average of blood pleasure reduction, acupuncture can reduce of 17 mmHg of systole blood pressure while cupping only 10 mmHg, in acupuncture also reduce of 16 mmHg diastole blood pressure while cupping canl 19 mmHg.