Salam, Aziza Rahmaniar
Kementerian Perdagangan

Published : 5 Documents
Articles

Found 5 Documents
Search

DAMPAK PENERAPAN H.R.4380, DALAM THE U.S. MANUFACTURING ENHANCEMENT ACT OF 2010 BAGI INDONESIA Salam, Aziza Rahmaniar
Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan Vol 5, No 2 (2011)
Publisher : Trade Analysis and Development Agency, Ministry of Trade of Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2777.393 KB) | DOI: 10.30908/bilp.v5i2.129

Abstract

This study aims at reviewing the Indonesia trade performance on several products included in the list of the new Act, the u.s manufacturing enhancement Act of 2010. Using secondary data collected from The Central Board of Statistics and the World bank, it was found that Indonesia has benefits from the tariff reduction facility under the US Manufacturing Enhancement Act of 2011. The benefit is in increasing non-oil product exports to US. Also,it is shown that there is an increasing Indonesia’s shares in US market especially for products with tariff heading 2934.99, 3808.93, 3907.99, 3917.40, 4016,99 and 4202.92
ANALISIS PENENTUAN PELABUHAN IMPOR PRODUK HORTIKULTURA: APLIKASI METODE ECKENRODE Salam, Aziza Rahmaniar
Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan Vol 8, No 1 (2014)
Publisher : Trade Analysis and Development Agency, Ministry of Trade of Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5727.948 KB) | DOI: 10.30908/bilp.v8i1.83

Abstract

Tulisan ini mengkaji kriteria pelabuhan impor sebagai pintu masuk produk hortikultura. Metode analisis yang digunakan adalah metode pembobotan Eckenrode yaitu metode pembobotan yang digunakan untuk menentukan derajat kepentingan dari setiap kriteria yang ditetapkan dalam pengambilan keputusan. Dengan metode tersebut diperoleh hasil bahwa kriteria utama dari pelabuhan yang dapat dijadikan sebagai pintu masuk impor produk hortikultura adalah (1) kriteria keamanan, ketahanan, dan pelayanan pelabuhan, (2) kriteria ketersediaan sumber daya manusia, (3) kriteria fasilitas pelabuhan laut, (4) kriteria proteksi terhadap produk lokal, dan (5) kriteria wilayah perairan untuk pelabuhan laut. Kriteria pelabuhan tersebut dapat dijadikan rujukan bagi pengambil keputusan untuk menentukan pelabuhan yang akan ditetapkan sebagai pintu masuk impor produk hortikultura. Diharapkan bahwa beberapa pelabuhan seperti Belawan, Tanjung Perak, Batu Ampar, Soekarno Hatta dan Bitung dapat memenuhi kriteria sebagai pelabuhan impor dengan meningkatkan fasilitas pelabuhan laut dan wilayah perairan untuk pelabuhan laut, diantaranya fasilitas untuk tempat sandar kapal, pengembangan pelabuhan dan tempat karantina. This paper studies the criteria for determining port of the imported horticultural products. The study uses Eckenrode weighting analysis to indicate the degree of the importance of each of the selected criteria. The results find that the main criteria of the port to be eligible as an entrance point of the imported horticultural products are (1) Security, Resilience, and Service Ports, (2) Human Resource Availability, (3) Seaport Facilities, (4) Protection Against Local Products, and (5) Port Inland Sea Region. This paper suggests that several ports, namely, Belawan, Tanjung Perak, Batu Ampar, Soekarno Hatta and Bitung are qualified if these ports are able to increase facilities of sea ports and marine waters for sea ports which include facilities to berth the ship, port development and the place of quarantine.
KAJIAN HARMONISASI TARIF BEA MASUK DALAM KAITANNYA DENGAN PENGEMBANGAN INDUSTRI ORIENTASI EKSPOR Salam, Aziza Rahmaniar; Sumarjono, Bambang
Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan Vol 1, No 1 (2007)
Publisher : Trade Analysis and Development Agency, Ministry of Trade of Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3312.777 KB) | DOI: 10.30908/bilp.v1i1.294

Abstract

Dalam rangka untuk mendorong pengembangan industry dalam negeri , pemerintah telah menerbitkan berbagai kebijakan antara lain kebijakan tariff bea masuk. Kebijakan tariff bea masuk ini mengacu pada komitmen internasional (WTO, APEC, AFTA, ASEAN-CHINA) maupun nasional . Pada saat ini Indonesia menerapkan program Harmonisasi Tarif Bea Masuk yang dimulai sejak 1 Januari 2005. Program ini diharapkan dapat mendorong peningkatan daya saing produk dalam negeri, Untuk itu perlu dilakukan kajian harmonisasi tariff bea masuk dalam kaitannya dengan pengembangan industry orientasi ekspor, khususnya industry keramik yang dalam beberapa tahun terakhir mendapat tantangan yang cukup besar dalam meningkatkan daya saingnya.Data yang digunakan dalam kajian ini adalah data primer dan data sekunder. Selanjutnya data-data tersebut diolah dan dianalisis untuk melihat tingkat daya saingnya berdasarkan trend ekspor, ISP, RCA, dan AR. Selain itu juga dilihat dampak harmonisasi tariff bea masuk terhadap kinerja industry, trade creation, trade diversion, penerimaan pemerintah dari tariff, dan welfare.Hasil analisis menunjukkan bahwa Program Harmonisasi tariff bea masuk ini ternyata cukup efektif untuk mengendalikan impor produk keramik saniter dan tableware yang diindikasikan dengan adanya penurunan volume impor masing-masing sebesar-12,7% dan-20,8%. Namun demikian, harmonisasi tariff bea masuk tahun 2005 berdampak pada trade creation effect sebesar –US$ 8,4 juta, bertambahnya penerimaan negara sebesar US$ 2,7 juta, namun menimbulkan dampak berkurangnya welfare sebesar US$ 1 juta.
IJ-EPA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KINERJA PERDAGANGAN INDONESIA - JEPANG Salam, Aziza Rahmaniar; Rayadiani, Sefiani; Lingga, Immanuel
Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan Vol 6, No 1 (2012)
Publisher : Trade Analysis and Development Agency, Ministry of Trade of Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30908/bilp.v6i1.136

Abstract

Indonesia dan Jepang telah menandatangani perjanjian kerjasama Indonesia Jepang Economic Partnership Agreement (IJ-EPA) pada tahun 2007. Untuk mewujudkan kesepakatan perdagangan bebas tersebut dan untuk menghindari adanya trade diversion sebagai dampak dari tarif preferensi, maka kedua negara mempersyaratkan Surat Keterangan Asal (SKA) untuk mensertifikasi asal barang yang diperdagangkan. Berdasarkan hasil analisa data statistik dan survey diperoleh kesimpulan bahwa pemanfaatan SKA Form IJEPA ternyata relatif lebih rendah dibandingkan dengan kesepakatan perdagangan bebas lainnya yang telah ditandatangani dan diimpelementasikan di Indonesia. Ketidakoptimalan yang terjadi dikarenakan beberapa faktor antara lain: masih adanya penggunaan Form A dalam ekspor ke Jepang, keterbatasan sumber daya manusia (SDM) yang terdapat di berbagai IPSKA, keengganan pencantuman struktur biaya dalam SKA Form IJ-EPA, dan kurangnya sosialisasi mengenai fasilitas IJ-EPA. Dari segi perdagangan bilateral, kesepakatan perdagangan bebas IJ-EPA berdampak pada perubahan pola impor Indonesia dari Jepang dimana terdapat beberapa produk yang mengalami lonjakan, seperti produk Kendaraan Bermotor dan Mesin Disel. Sebaliknya, implementasi IJ-EPA tidak memiliki dampak yang berarti terhadap pola ekspor Indonesia ke Jepang. In 2007 Indonesia and Japan signed a partnership agreement of Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJ-EPA). In order to implement the IJ-EPA and to prevent trade diversion as an impact of tariff preferences, both governments required the Certificate of Origin (COO) scheme. This study elaborates the use of COO-IJ-EPA and the impact of IJ-EPA on bilateral trade performances between the two countries. According to data analysis and survey, it was found that the number of COO-IJ-EPA was the lowest compared to other free trade agreements. The low share of the COO-IJ-EPA was caused by the following factors: the use of Form A as an alternative choice in export activity, inadequate human resources at the institutions issuing COO, reluctance to disclose the production cost structure and the lack of socialization in regards with trade facilitation under IJ-EPA scheme. Bilateral agreement under IJ-EPA has also brought impact to the Indonesia’s import pattern with Japan. After the implementation of the agreement, Indonesia’s import for certain products increased significantly, such as importation of automotive products and diesel machines. On the contrary, the agreement did not have significant impact to Indonesia’s export pattern.
PERKIRAAN DAMPAK ASEAN DAN HONG KONG FREE TRADE AREA (AHKFTA) TERHADAP KINERJA PERDAGANGAN INDONESIA Laksani, Dian Dwi; Salam, Aziza Rahmaniar
Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan Vol 10, No 2 (2016)
Publisher : Trade Analysis and Development Agency, Ministry of Trade of Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30908/bilp.v10i2.52

Abstract

ASEAN dan Hong Kong sepakat untuk membentuk kerjasama kawasan dalam bentuk ASEAN Hong Kong FTA (AHKFTA). Negosiasi perundingan direncanakan akan selesai pada akhir 2016. Indonesia sebagai salah satu negara anggota ASEAN tentunya berpartisipasi dalam rencana pembentukan AHKFTA. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung seberapa besar dampak berlakunya perjanjian perdagangan barang ASEAN-Hong Kong FTA terhadap kinerja perdagangan Indonesia. Metode analisis yang digunakan adalah model Computable General Equilibrium (CGE) dengan menggunakan Global Trade Analysis Project (GTAP) versi 8. Kerjasama kawasan ini diharapkan akan menurunkan hambatan perdagangan di semua sektor, khususnya penurunan tarif sebagai representasi penurunan hambatan perdagangan baik di Indonesia maupun di Hong Kong. Penelitian ini melakukan dua simulasi yaitu pemotongan tarif sebesar 50% dan liberalisasi penuh. Hasil simulasi menunjukkan bahwa Indonesia memperoleh manfaat dari liberalisasi penuh perdagangan FTA ASEAN-Hong Kong baik dari kesejahteraan maupun peningkatan GDP, sedangkan peningkatan output hanya terjadi di beberapa sektor yang merupakan komoditi unggulan yaitu vegetable oil, oil seeds, wearing apparel, textile dan electronic equipment Penurunan tarif secara bertahap, pemberlakuan proteksi dan peningkatan daya saing bagi sektor yang berdaya saing rendah merupakan kebijakan yang sangat diperlukan. ASEAN and Hong Kong have agreed to establish bilateral cooperation in the form of the ASEAN-Hong Kong FTA (AHKFTA). The negotiation process is planned to be completed by the end of 2016. Indonesia as one of ASEAN countries will surely participate in AHKFTA. This study aims to investigate the impact of the bilateral trade agreement of the ASEAN-Hong Kong FTA on the Indonesian trade performance. The analytical method applied in this study is Computable General Equilibrium (CGE) using modeling approach of Global Trade Analysis Project (GTAP) version 8. This cooperation is expected to reduce the trade barriers in all sectors, such as reducing tariff in order to decrease the trade barriers between Indonesia and Hong Kong. This study conducted two simulations of tariff cuts 50% and full liberalization. The results indicate that Indonesia gained some benefits from full liberalization of ASEAN-Hong Kong FTA in terms of its welfare and the increase of GDP. The increase of output only occurs in few sectors which are categorized as a primary commodity such as vegetable oil, oil seeds, wearing apparel, textile and electronic equipment. In short, reducing tariff gradually and reinforcing protection and improvement to a sector having low competitiveness are vital to support Indonesia’s trade performance.