Dharsono, Dharsono
Proceeding SENDI_U

Published : 3 Documents
Articles

Found 3 Documents
Search

MEMOSISIKAN BAHASA RUPA VT SEBAGAI “PISAU ANALISIS” DAN “KONSEP BERKARYA” DALAM BIDANG SENI RUPA DAN DESAIN, DI ERA DISRUPSI Harto, Dwi Budi; Dharsono, Dharsono
Proceeding SENDI_U 2018: SEMINAR NASIONAL MULTI DISIPLIN ILMU DAN CALL FOR PAPERS
Publisher : Proceeding SENDI_U

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Disrupsi dapat diartikan kekacauan atau gangguan akibat perubahan era manual menuju digital. Dampak utama era disrupsi adalah pada dunia bisnis, namun bisa juga terjadi pada bidang lain, misalnya bidang SRD (Seni Rupa dan Desain). Bahasa rupa vT adalah salah satu terminologi keilmuan dalam kajian bidang SRD. Tujuan penelitian/penulisan ini adalah untuk memosisikan bahasa rupa vT sebagai “pisau analisis” dan sebagai “konsep berkarya” dalam kajian bidang SRD di era disrupsi. Metode/pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan analisis model interaktif dan pendekatan analisisnya adalah metode kepustakaan dan kritik sumber, digunakan untuk mendiskripsikan hasil penelitian. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa di era disrupsi ini bahasa rupa vT sebagai “pisau analisis” dan “konsep berkarya” diposisikan sebagai: (1) pijakan/dasar dalam menentukan keilmuan SRD yang sesuai dengan artefak/seni budaya Indonesia, dengan dasar pengalaman sejarah penjajahan ± 350 tahun oleh bangsa Barat; kompetitor dalam kekacauan persaingan bahasa kata dan bahasa rupa dunia, dengan andalan bahasa rupa tradisinya yang khas; (3) kompetitor dalam persaingan keilmuan SRD yang datang dari luar/Barat; dan (4) pioner bahkan bisa juga menjadi futurist dalam gagasan berkarya dan keilmuan SRD pada masa kini dan masa mendatang.
MAKNA MOTIF BATIK TUTUR BLITAR Nawala Sari, Rengga Kusuma; Dharsono, Dharsono
TEXTURE : Art & Culture Journal Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : TEXTURE : Art & Culture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBatik tutur is the result of the development of the Afkomstig Uit Blitar batik motif in 1902, the cultural heritage of Blitar in the past that was collected by the Dutch museum. Currently batik has 15 motifs with a variety of names according to motifs and meanings, the name of each motif contains moral message or pitutur that the creator wants to convey to the wearer. The purpose of this study is to study and explain the form and meaning of the batik motifs written by Eddy Dewa, which is currently the flagship mtf of Kab.Blitar. The method with data collection and data processing, data collection includes observation, interviews, and literature studies, while the data processing uses interpretation analysis,the result o research obtained are about the explanation of the meaning of batik tutur motifs Awu Nanas, Celeret Dubang, Cindhe Gadhing, Gambir Sepuh, Galih Dhempo, Gobog, Jalu Watu, Mirong Kampuh Jingga, Mupus Pupus, Pedhut Kelut, Podhang, Prumpun, Simo Samaran, Tanjung Manila, dan Winih Semi.Keywords : Batik Tutur, Motif, MeaningABSTRAKBatik Tutur merupakan hasil pengembangan dari motif batik Afkomstig Uit Blitar 1902, warisan budaya masyarakat blitar pada masa lampau yang dikoleksi museum belanda.Tujuan penelitian ini yaitu menggali dan menjelaskan wujud serta makna pada motif batik tutur karya Edy Dewa yang saat ini menjadi motif unggulan Kab.Blitar.Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pengumpulan data dan pengolahan data.Pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan studi pustaka, sedangkan pengolahan datanya menggunakan intepretasi analisis. Hasil penelitian menunjukkan batik tutur memiliki 15 motif dengan berbagai macam nama sesuai motif dan makna, nama pada setiap motif mengandung pesan moral atau pitutur yang ingin disampaikan pencipta kepada pemakainya. Motif batik tutur meliputi Awu Nanas, Celeret Dubang, Cindhe Gadhing, Gambir Sepuh, Galih Dhempo, Gobog, Jalu Watu, Mirong Kampuh Jingga, Mupus Pupus, Pedhut Kelut, Podhang, Prumpun, Simo Samaran, Tanjung Manila, dan Winih Semi. Kata Kunci: Batik tutur, motif, makna dan Blitar
Keramik Takalar 1981-2010: Ragam Bentuk dan Perubahan Irfan, Irfan; Dharsono, Dharsono; SP. Gustami, SP. Gustami; Guntur, Guntur
PANGGUNG Vol 29, No 1 (2019): Pegeseran Estetik Dalam Seni Budaya Tradisi Masa Kini
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v29i1.815

Abstract

ABSTRACTThe pottery in Takalar regency, South Sulawesi province, has been existed for hundreds of years and has become part of a community cultural life. The study aims to identify the changes ofvarious ceramic forms and design from 1981 to 2010. This periodisation is chosen because in the 1980s the Department of Industry and Trade had supervised craftsmen in Takalar, which has given significant changes in the development of ceramics in the area. The method employed is a qualitative method with a multidisciplinary approach, including history and ethnography. To analysis the data, the research uses interactive techniques (Miles dan Hubermen, 1992). The research site covers three districts: Sandi, Pabbatangan, and Pakalli. The study shows there are significant changes in ceramic forms and design from 1980 to 2010. Based on the classification used, the changes are divided into three periods: traditional forms (1981-1990), transition forms (1991-2000), and modern forms (2001-2000). These changes are caused by the open attitude of the craftsman to outside agencies, such as Disperindag (government), universities, and consumers. These outside parties have influenced artisans to develop ceramic designs by introducing new shapes and values, including foreign cultures.Keywords: ceramic development, design and form changes, and craftsmentABSTRAKKeberadaan keramik di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, telah berlangsung selama ratusan tahun dan menjadi bagian kehidupan sosial budaya masyarakatnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi ragam bentuk dan perubahan desain keramik sejak tahun 1981 hingga tahun 2010. Periodisasi ini dipilih sebab sejak tahun 1980-an Disperindag telah membina perajin keramik di Takalar yang telah memberi dampak perubahan. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan multidisiplin, yakni sejarah dan etnografi. Lokasi penelitian terbagi ke dalam tiga kecamatan, dengan lokasi sentra di Sandi, Pabbatangan, dan Pakalli. Adapun analisis data menggunakan teknik interaktif (Miles dan Hubermen, 1992). Hasil penelitian menunjukkan telah terjadi perubahan bentuk sejak tahun 1981 hingga tahun 2010. Klasifikasi berdasarkan perubahan bentuk terbagi pada tiga periode, yakni tradisional (1981-1990), transisi (1991-2000), dan modern (2001-2010). Perubahan desain disebabkan para perajin bersikap terbuka terhadap pihak eksternal seperti Disperindag, perguruan tinggi, dan konsumen. Pihak eksternal memperkenalkan bentuk dan nilai baru, termasuk unsur budaya luar, membimbing, dan mempengaruhi para perajin agar mengembangkan desain keramik.Kata kunci: perkembangan keramik, perubahan bentuk dan desain, perajin