Articles

Found 4 Documents
Search

IBM PENINGKATAN PRODUKTIVITAS KELOMPOK USAHA ROTI “NENOT-NENOT” KELURAHAN SUKA RAMAI MEDAN

Jurnal Teknovasi : Jurnal Teknik dan Inovasi Vol 4, No 1 (2017): Teknovasi April 2017
Publisher : LPPM Politeknik LP3I Medan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.333 KB)

Abstract

Persaingan industri roti sekarang ini semakin meningkat dalam memenuhi permintaan pasar. Para usaha kecil menengah mereka berlomba untuk memenuhi permintaan pasar tersebut. Dari segi proses pembuatannya, Mitra IbM (Iptek bagi Masyarakat) tidak menggunakan bahan tambahan agar harga jual roti dapat menjadi murah dan terjangkau. Ditemukan beberapa permasalahan dalam peningkatan produktivitas pada mitra antara lain: kelemahan dalam penyusunan anggaran biaya operasional sehingga sulit menentukan perencanaan anggaran dan laporan keuangan secara cepat. Permasalah persediaan bahan baku yang tidak tepat karena mengandalkan make to order sering stock bahan baku habis atau terbatas sehingga permintaan konsumen dan pelanggan jadi terganggu, permasalahan selanjutnya adalah rancangan fasilitas kerja pada stasiun kerja pembentukan (terdiri dari pengerjaan pengadukan, penipisan adonan, pengisian, pembentukan) yang tidak ergonomis, dengan metode kerja yang tidak efektif yang mengakibatkan para pekerja sering kelelahan dalam memproduksi roti sehingga produktivitas menurun. Permasalahan lainnya yang ditemui adalah rancangan alat bantu untuk mengurangi musculoskeletal dibagian pemanggangan akibat aktivitas angkat angkut yang dilakukan secara manual, permasalahan selanjutnya yang ditemui adalah lemahnya motivasi kerja para pekerja, lemahnya strategi bauran promosi dibandingkan kompetitor kecil dan besar lainnya. Berdasarkan uraian diatas untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi kelompok usaha roti ’nenot-nenot’ perlunya usaha peningkatan produktivitas dari berbagai lini produksi sampai bauran promosi Mitra. Untuk itu melalui program IbM maka dirancang dan dibuat teknologi tepat guna serta pelatihan untuk membantu kelompok usaha roti agar adanya peningkatan aspek produksi dan manajemen usaha yang baik. Hasil pelaksanaan IbM menunjukkan Pemilik usaha roti dan pekerja Mengetahui peran ergonomi dan teknik tata cara kerja dalam mengevaluasi dan merancang suatu sistem kerja yang terdiri dari manusia dan mesin. Pemilik usaha roti dapat mempertahankan stabilitas atau kelancaran kegiatan operasi bakery, sehingga bakery masih dapat memenuhi permintaan pasar serta mampu melakukan perbaikan terhadap postur kerja operator yang salah atau kurang ergonomis dan keberhasilan juga terlihat dengan Meningkatnya produktivitas dan penampilan kerja.

PENGENDALIAN KUALITAS TEMPE DENGAN METODE SEVEN TOOLS

Jurnal Teknovasi : Jurnal Teknik dan Inovasi Vol 3, No 1 (2016): Teknovasi April 2016
Publisher : LPPM Politeknik LP3I Medan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (881.02 KB)

Abstract

Kualitas merupakan faktor yang dapat meningkatkan daya saing suatu produk. Dengan peningkatan kualitas maka biaya produksi akan semakin kecil sehingga mengurangi pemborosan. Kegagalan suatu produk terjadi akibat beberapa faktor pada proses produksi, bahan baku, mesin, peralatan, manusia dan lingkungan. Untuk menjaga kualitas produk yang dihasilkan dan sesuai dengan kebutuhan pasar, maka perlu dilakukan pengendalian kualitas (Quality Control) atas aktivitas proses yang dijalani. Pengendalian kualitas dengan menggunakan peta control (control chart) dapat digunakan untuk mencapai suatu keadaan terkendali atau berada dalam batas-batas pengendalian sehingga menunjukkan bahwa proses tersebut konsisten. Selain itu, pengendalian kualitas dengan menggunakan peta kontrol dapat digunakan sebagai alat perbaikan kualitas, sehingga dapat meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan dan memberikan keuntungan karena produk yang dihasilkan mempunyai kualitas yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengendalian kualitas dari produk tempe dengan menggunakan metode seven tools. Untuk mendapatkan data yang sesuai dengan penelitian, maka perlu dilakukan pengamatan dari suatu produk yang tidak sesuai spesifikasi (rusak), selanjutnya dilakukan perhitungan dengan menggunakan metode check sheet, flow charts, histogram, pareto chart, control chart, scatter Diagram, dan fishbone diagram untuk hasil produk. Dari analisa hasil terhadap perhitungan dengan peta control yang dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa selama 20 kali pengamatan, nilai garis tengah (central line) adalah 3, nilai batas kontrol atas (UCL) adalah 5.6, dan nilai batas kontrol bawah (LCL) adalah 0.32. Dari hasil perhitungan tersebut maka dapat diketahui tidak adanya variasi proses yang berada diluar batas pengendalian (Out of Control) atau proses masih berada dalam batas pengendalian (In Control). Keadaan lingkungan juga menentukan jumlah produk cacat pada produksi tempe.

PENENTUAN WAKTU STANDAR PROSES PEMOTONGAN DAN PENGHALUSAN KAYU PADA PEMBUATAN FURNITURE KAYU JATI

Jurnal Teknovasi : Jurnal Teknik dan Inovasi Vol 3, No 2 (2016): Teknovasi Oktober 2016
Publisher : LPPM Politeknik LP3I Medan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (388.849 KB)

Abstract

Furnitur merupakan istilah yang digunakan untuk perabotan rumah tangga seperti tempat penyimpanan barang, kuri dan meja makan. Kayu jati merupakan salah satu bahan pembuat furnitur yang menjadi kegemaran pelanggan karena kekuatannya. Perusahaan CV. Sanggar Putra Kalingga melakukan produksi jika mendapat pesanan/orderan dari pelanggan. Hal utama yang diprioritaskan oleh setiap perusahaan manufactur adalah waktu yang tepat untuk memenuhi permintaan pelanggan, termasuk CV. Sanggar Putra Kalingga Medan, oleh karena itu perlu diketahui waktu standar produksi. Waktu Standar adalah waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu siklus pekerjaan yang dilakukan menurut metode kerja dan kecepatan normal dengan pertimbangan faktor penyesuaian ditambah kelonggaran waktu untuk keperluan pribadi dan lain-lainya yang tidak terduga. Penelitian ini memuat peta kerja dan perhitungan waktu standar pada proses pemotongan kayu dan proses penghalusan kayu pada pembuatan kursi makan. Dari hasil penelitian yang dilakukan diperoleh hasil waktu standar pada proses pemotongan kayu sebesar 49,28 menit. Pada proses penghalusan kayu didapat waktu standar sebesar 50,51 menit.

ANALISIS PENINGKATAN KUALITAS PRODUK KERAMIK DENGAN MENGGUNAKAN METODE SIX SIGMA DI CV. GUNUNG MAS MEDAN

Jurnal Teknovasi : Jurnal Teknik dan Inovasi Vol 4, No 1 (2017): Teknovasi April 2017
Publisher : LPPM Politeknik LP3I Medan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.704 KB)

Abstract

Kualitas menjadi faktor dasar keputusan konsumen di produk atau jasa. Akibatnya, kualitas merupakan faktor kunci yang membawa keberhasilan bisnis, pertumbuhan dan peningkatan posisi bersaing. CV Gunung Mas Medan merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan keramik dengan sistem job order, dimana kualitas permukaan yang baik atau zero defect sangat diharapkan oleh konsumen. Pada keramik dengan motif White Ivory berukuran 40 x 40 cm yang diproduksi di Bagian II dengan pengambilan data yang dilakukan bulan Februari, Maret dan April pada tahun 2012 diperoleh rata-rata hasil produksi untuk KW 1 sebesar 67,83%, KW 2 sebesar 25,09% dan KW 3 sebesar 7,25%. Hal ini terjadi karena adanya proses yang kurang memenuhi spesifikasi yang telah ditentukan, sehingga output yang dihasilkan tidak konsisten dan memiliki tingkat variabilitas yang cukup tinggi. Oleh karena itu dalam penelitian ini masalah yang diangkat adalah bagaimana meningkatkan kualitas dengan menggunakan siklus DMAIC (Define, Measure, Analys, Improve and Control) dari Six Sigma. Dari penerapan metode tersebut didapatkan penurunan tingkat kegagalan yang cukup signifikan yaitu dari 57426,55 DPMO menjadi 40591,78 DPMO. Dengan perbaikan dan pengembangan sistem produksi yang telah ada masih memungkinkan dicapai nilai yang lebih baik lagi.