MULYATNI, Agustin Sri
INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Published : 9 Documents
Articles

Found 9 Documents
Search

Purification, characterization, and bioassay of putative protease inhibitors from Hevea brasiliensis latex PUTRANTO, Riza Arief; SISWANTO, .; MULYATNI, Agustin Sri; BUDIANI, Asmini; TISTAMA, Radite
E-Journal Menara Perkebunan Vol 84, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1452.514 KB) | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v84i2.220

Abstract

Lateks yang menyerupai cairan susu putih diperoleh dari penyadapan kulit batang tanaman karet (Hevea brasiliensis). Lateks merupakan sitoplasma dari jaringan pembuluh bernama latisifer yang didalamnya terkandung berbagai macam komponen, termasuk protein-protein penting. Berbagai jenis enzim yang memiliki fungsi terkait pertahanan tanaman dari serangan patogen dan pelukaan telah berhasil dideteksi di dalam lateks, di antaranya protease inhibitor (PI). Protease inhibitor memiliki aktivitas senyawa antifungi sehingga berpotensi untuk  dimanfaatkan sebagai biofungisida. Pada penelitian ini, protease  inhibitor putatif yang berasal dari serum B (lutoid) lateks tanaman karet telah berhasil diisolasi menggunakan teknik Ion Exchange Chroma-tography. Dari total 70 fraksi protein yang diekstrak dari kolom, hanya 26 fraksi yang menunjukkan kadar protein yang terukur. Kandungan protease inhibitor putatif yang di-peroleh berkisar antara 0,0067 hingga 0,022 mL/g serum B dari hasil 3 fraksi terpilih. Aktivitas penghambatan terhadap empat enzim protease (subtilisin A, tripsin, α-kimotripsin, dan papain) menunjukkan karakteristik protease inhibitor putatif tersebut sebagai serine dan/atau cysteine inhibitor protease dengan persentase hambatan di atas 15% terhadap protease target. Hasil SDS-PAGE memperlihatkan pemisahan protein dominan yang diperkirakan merupakan protease inhibitor putatif dengan berat molekul sebesar 21,5 kDa. Uji bioassay aktivitas antifungi secara in vitro dari protease inhibitor memperlihatkan penghambatan pertumbuhan miselium dari fungi Ganoderma boninense, Sclerotium sp., dan Rigidosporus lignosus. [Kata kunci : protease inhibitor, Hevea brasiliensis, lateks, serum B, ion exchange chromatography]AbstractLatex, a milky white liquid, is the main product from rubber tree (Hevea brasiliensis). Latex is the cytoplasm of complex cellular networks named laticifers in which it contains many different components, including important proteins. Various types of enzymes carrying functions associated with plant defense against pathogen and wounding have been detected in latex in which one of these enzymes is protease inhibitor (PI). Plant protease inhibitor has tremendous potential as an antifungal agent which can be developed as biofungicide. In this work, protease inhibitors from B-serum (lutoid) of rubber tree latex were isolated and purified using Ion Exchange Chromatography (IEC) technique. Of the total 70 fractions of proteins extracted from the columns, only 26 fractions showed measurable levels of protein. The concentration of obtained putative protease inhibitors (three fractions of IEC) ranged from 0.007 to 0.022 mL/g B-serum. Inhibitory activity against four protease enzymes (subtilisin A, trypsin, α-chymotrypsin, and papain) showed the characteristics of Hevea putative protease inhibitors from B-serum as serine and/or cysteine protease inhibitors with more than 15% inhibitory activity of target protease. Based on SDS-PAGE visualization, the molecular weight of dominant protein considered as Hevea putative protease inhibitors was 21.5 kDa. In vitro bioassay test of antifungal activity for Hevea putative protease inhibitors showed reduced mycelium growth of Ganoderma boninense, Sclerotium sp., and Rigidosporus lignosus.[Keywords: protease inhibitor, Hevea brasiliensis, latex, B-serum, ion exchange chromatography]
Aktivitas antibakteri ekstrak kulit buah kakao (Theobroma cacao L.) terhadap Escherichia coli, Bacillus subtilis, dan Staphylococcus aureus MULYATNI, Agustin Sri; BUDIANI, Asmini; TANIWIRYONO, Darmono
E-Journal Menara Perkebunan Vol 80, No 2: Desember 2012
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.287 KB) | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v80i2.39

Abstract

AbstractCocoa (Theobroma cacao L.), one of the most important export commodities from Indonesia, is widely planted with current total area of 1.6 million Ha, producing 500.000 metric tons of dry bean  in 2011 . At the time of harvest, instead of seed approximately the same volume cacao husk is produced. The aim of the study was to assess the potential of cocoa husk extract as an antibacterial against Escherichia coli, Bacillus subtilis, and Staphylococcus aureus, and to determine the minimum inhibitory concentration (MIC) of cocoa husk extract to the three test bacteria. Extraction of cocoa husk conducted by maceration method using ethanol 96%. Analysis of antibacterial activity was done by paper disc diffusion method. Completely Randomized Design of single factor presentage that is extract concentration of 0; 1; 2; 4; 8; 16; 32; and 64% (g/mL) with three replicans were applied.The results showed that the extract of cocoa pod husk has antibacterial activity against S. aureus, B. subtilis, and E. coli with the MIC are 8% (g/ mL), 16% (g/ mL), and 32% (g/ mL) respectively.AbstrakKakao (Theobroma cacao L.), salah satu komoditi ekspor terpenting Indonesia, ditanam secara luas dengan total luasan 1,6 juta Ha, menghasilkan 500.000 ton biji kering pada tahun 2011. Di samping biji sebagai hasil utama, pada saat panen juga dihasilkan kulit buah dengan volume yang hampir sama dengan biji. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi ekstrak kulit buah kakao sebagai antibakteri terhadap Escherichia coli, Bacillus subtilis, dan Staphylococcus aureusserta menentukan konsentrasi hambat minimum (KHM) ekstrak kulit buah kakao terhadap ketiga bakteri uji. Ekstraksi kulit buah kakao dilakukan dengan metode Maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Analisis aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi cakram  kertas. Penelitian  ini  menggunakan  Rancangan Acak  Lengkap (RAL) dengan faktor tunggal  konsen-trasi ekstrak, yaitu 0; 1; 2; 4; 8; 16; 32; dan 64% (g/mL), masing-masing dengan tiga kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kulit buah kakao berpotensi sebagai antibakteri terhadap S. aureus, B. subtilis dan  E. coli, dengan KHM berturut-turut adalah 8% (g/mL), 16% (g/mL), dan 32% (g/mL).
Karakterisasi PHA yang dihasilkan oleh Pseudomonas aeruginosa dan Bacillus subtilis yang ditumbuhkan dalam media limbah cair pabrik kelapa sawit Characterization of PHA produced by Pseudomonas aeruginosa and Bacillus subtilis inoculated in palm oil mill effluent (POME) media KRESNAWATY, Irma; MULYATNI, Agustin Sri; ERIS, Deden Dewantara; PRAKOSO, Haryo Tejo
E-Journal Menara Perkebunan Vol 82, No 2: Desember 2014
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (355.124 KB) | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v82i2.20

Abstract

AbstractThe difficulties in processing of petroleum-based plastic waste had encouraged the development of biodegradable plastics polyhydroxyalkanoate (PHA). Researchers isolated the PHA-producing microorganisms from various sources to obtain new species with high PHA production capability. In addition, the high cost of PHA production might be overcome by using carbon-rich waste, such as palm oil mill effluent (POME). This research conducted characterization of produced PHA and optimization of PHA production in POME. In previous research, three potential isolates were obtained, which are one Pseudomonas aeruginosa isolate and two Bacillus subtilis isolates. Analysis of Scanning Electron Microscopy (SEM) and Transmission Electron Microscopy (TEM) showed the presence of PHA accumu-lation within the bacterial cell. The results of Spectra of Fourier Transform Infra Red Spectroscopy (FT-IR) revealed differences in C-C and C-H alipathic regions of PHA produced by Pseudomonas aeruginosa and Bacillus subtilis. Optimum production of PHA was obtained using POME at concentration of 50-25% during 6 days of incubation time in an enriched media pretreatment.Abstrak Sulitnya pengolahan limbah plastik berbasis minyak bumi mendorong pengembangan plastik biodegradable poli-hidroksialkanoat (PHA). Beberapa peneliti mengisolasi mikroorganisme penghasil  PHA dari berbagai sumber karena diharapkan akan diperoleh spesies baru dengan kemampuan produksi PHA yang tinggi. Selain itu kendala tingginya biaya produksi PHA dapat diatasi dengan peman-faatan limbah yang kaya akan  karbon, seperti limbah cair pabrik kelapa sawit (LCPKS). Pada penelitian ini dilakukan karakterisasi PHA yang dihasilkan dan optimasi produksi PHA pada LCPKS. Pada penelitian sebelumnya telah diperoleh  tiga isolat potensial, yaitu : satu isolat  Pseudo-monas aeruginosa dan dua isolat  Bacillus subtilis.  Analisis Scanning Electron Microscopy (SEM) dan Transmission Electon Microscopy (TEM) menunjukkan adanya akumulasi PHA di dalam sel bakteri. Dari hasil analisis FT-IR disimpulkan bahwa senyawa PHA yang dihasilkan Pseudo-monas aeruginosa  berbeda dengan  Bacillus subtilisyang ditandai   perbedaan   pada  spectra   gugus  C-C  dan   C-H alifatik.  Produksi optimum PHA diperoleh pada konsentrasi LCPKS 50-25%, waktu inkubasi  enam hari dan optima-lisasi pertumbuhan pada media kaya di awal untuk mening-katkan populasi mikroba.
Sekuen Internal Transcribed Spacer (ITS) DNA ribosomal Oncobasidium theobromae dan jamur sekerabat pembanding Internal Transcribed Spacer (ITS) sequences of ribosomal DNA Oncobasidium theobromae and other related fungi as comparison MULYATNI, Agustin Sri; PRIYATMOJO, Achmadi; PURWANTARA, Agus
E-Journal Menara Perkebunan Vol 79, No 1: Juni 2011
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v79i1.75

Abstract

AbstractThe objective of this research was to sequence ITSregion from ribosomal DNA of Oncobasidium theobromae,and to compare the sequences to the isolates from Vietnamand Malaysia, and also to identify other related fungi speciesbased on the homology of the ITS region. O. theobromae wasisolated from three cocoa plantations in Indonesia that wereJember, Kendari, and Makasar. DNA was isolated from thefungal mycelia, and then amplified using ITS-4 and ITS-5primers, resulted in DNA fragments of 600 bp and 700 bpfor the isolate from Jember, 600 bp for the isolate fromKendari, and 700 bp for the isolate from Makasar. All of thefragments were successfully sequenced, except for 600 bpfragment of the isolate from Jember. The homology analysisusing BLAST was confirmed that ITS sequencesO. theobromae from Jember was homolog with Rhizoctoniasp. and Ceratobasidium sp., whereas isolate from Kendariwas homolog with Botryosphaeria sp. and isolate fromMakasar was homolog with Mycorrhizal basidiomycetes. Thesequences were then compared to the sequences ofO. theobromae from Vietnam and Malaysia. Phylogeneticanalyses using Clustal W program indicated thatO. theobrome from Indonesia which is represented byisolates from Jember showed higher degree of similarity toisolates from Vietnam. On the contrary, isolates fromIndonesia showed lower degree of similarity to isolates fromMalaysia.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui sekuen daerahITS dari DNA ribosomal jamur Oncobasidium theobromae,dan membandingkannya dengan sekuen jamur O. theobromaeyang berasal dari Malaysia dan Vietnam, serta untukmengidentifikasi spesies lain yang merupakan kerabat dekatO. theobromae dengan berdasarkan kemiripan sekuenITSnya. Isolat jamur O. theobromae diisolasi dari tiga lokasiperkebunan kakao di Indonesia yaitu Jember, Kendari danMakasar. DNA diisolasi dari miselium jamur. Amplifikasidaerah ITS menggunakan primer ITS-4 dan ITS-5menghasilkan fragmen 600 bp dan 700 bp untuk isolatJember, 600 bp untuk isolat Kendari dan 700 bp untuk isolatMakasar. Semua fragmen berhasil disekuensing kecualifragmen Jember 600 bp. Analisis homologi menggunakanBLAST menunjukkan fragmen isolat Jember 700 bpmemiliki homologi tertinggi dengan Rhizoctonia sp. danCeratobasidium sp., isolat Kendari 600 bp homolog denganBotryosphaeria sp., dan isolat Makasar homolog denganMycorrhizal basidiomycetes. Hasil sekuen tersebut kemudiandibandingkan dengan sekuen daerah ITS O.theobromae dariMalaysia dan Vietnam untuk mengetahui hubungankekerabatannya. Analisis kekerabatan menggunakan programClustal W menunjukkan O. theobromae dari Indonesia yangdiwakili oleh isolat Jember berkerabat dekat dengan isolatVietnam, akan tetapi tidak dengan isolat Malaysia.
Sekuen Internal Transcribed Spacer (ITS) DNA ribosomal Oncobasidium theobromae dan jamur sekerabat pembanding Internal Transcribed Spacer (ITS) sequences of ribosomal DNA Oncobasidium theobromae and other related fungi as comparison MULYATNI, Agustin Sri; PRIYATMOJO, Achmadi; PURWANTARA, Agus
E-Journal Menara Perkebunan Vol 79, No 1: Juni 2011
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.092 KB) | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v79i1.75

Abstract

AbstractThe objective of this research was to sequence ITSregion from ribosomal DNA of Oncobasidium theobromae,and to compare the sequences to the isolates from Vietnamand Malaysia, and also to identify other related fungi speciesbased on the homology of the ITS region. O. theobromae wasisolated from three cocoa plantations in Indonesia that wereJember, Kendari, and Makasar. DNA was isolated from thefungal mycelia, and then amplified using ITS-4 and ITS-5primers, resulted in DNA fragments of 600 bp and 700 bpfor the isolate from Jember, 600 bp for the isolate fromKendari, and 700 bp for the isolate from Makasar. All of thefragments were successfully sequenced, except for 600 bpfragment of the isolate from Jember. The homology analysisusing BLAST was confirmed that ITS sequencesO. theobromae from Jember was homolog with Rhizoctoniasp. and Ceratobasidium sp., whereas isolate from Kendariwas homolog with Botryosphaeria sp. and isolate fromMakasar was homolog with Mycorrhizal basidiomycetes. Thesequences were then compared to the sequences ofO. theobromae from Vietnam and Malaysia. Phylogeneticanalyses using Clustal W program indicated thatO. theobrome from Indonesia which is represented byisolates from Jember showed higher degree of similarity toisolates from Vietnam. On the contrary, isolates fromIndonesia showed lower degree of similarity to isolates fromMalaysia.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui sekuen daerahITS dari DNA ribosomal jamur Oncobasidium theobromae,dan membandingkannya dengan sekuen jamur O. theobromaeyang berasal dari Malaysia dan Vietnam, serta untukmengidentifikasi spesies lain yang merupakan kerabat dekatO. theobromae dengan berdasarkan kemiripan sekuenITSnya. Isolat jamur O. theobromae diisolasi dari tiga lokasiperkebunan kakao di Indonesia yaitu Jember, Kendari danMakasar. DNA diisolasi dari miselium jamur. Amplifikasidaerah ITS menggunakan primer ITS-4 dan ITS-5menghasilkan fragmen 600 bp dan 700 bp untuk isolatJember, 600 bp untuk isolat Kendari dan 700 bp untuk isolatMakasar. Semua fragmen berhasil disekuensing kecualifragmen Jember 600 bp. Analisis homologi menggunakanBLAST menunjukkan fragmen isolat Jember 700 bpmemiliki homologi tertinggi dengan Rhizoctonia sp. danCeratobasidium sp., isolat Kendari 600 bp homolog denganBotryosphaeria sp., dan isolat Makasar homolog denganMycorrhizal basidiomycetes. Hasil sekuen tersebut kemudiandibandingkan dengan sekuen daerah ITS O.theobromae dariMalaysia dan Vietnam untuk mengetahui hubungankekerabatannya. Analisis kekerabatan menggunakan programClustal W menunjukkan O. theobromae dari Indonesia yangdiwakili oleh isolat Jember berkerabat dekat dengan isolatVietnam, akan tetapi tidak dengan isolat Malaysia.
Penapisan bakteri penghasil bioplastik polihidroksi alkanoat dari tanah tempat pembuangan sampah dan limbah cair pabrik kelapa sawit Screening of bioplastics polyhydroxy alkanoic producing bacteria from landfill and palm oil mill effluents KRESNAWATY, Irma; PRAKOSO, Haryo Tejo; ERIS, Deden Dewantara; MULYATNI, Agustin Sri
E-Journal Menara Perkebunan Vol 82, No 1: Juni 2014
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v82i1.28

Abstract

AbstractPlastic wastes  have  become a serious problem  of  the world  because of  unbiodegradable  property. There are many  solutions to this problem  and  one of  them is by replacing conventional plastic base  material with  the  biodegradable  materials. Bioplastic material that is quite important for industries and  recently being developed  by  scientists  is Polyhydroxyalcanoate (PHA). It is a natural polyester which  can be produced  by several microorganisms, like bacteria and algae. Bacterial isolations  from landfills waste and  palm oil mill effluents were conducted on this research. Preliminary screenings of PHA-producing-bacteria were examined qualitatively using  0.05%  Nile red dye. The selection results showed  that among 32 bacterial isolates, 10  of  them could  accumulate PHA  which  could be detected qualitatively through  its  fluorescence in  UV  ray  at λ 235 nm. TH-D092 and LC-S05 isolates originated  respectively  from landfill and  palm oil mill effluent had ability to accumulate PHA respectively  6.67 and 9.44% dried cell weight. Identification  of  the microbe concluded  that TH-D092  was Pseudomonas aeroginosa, whilst LC-S05 and LC-D02 isolates was  Bacillus subtilis.AbstrakLimbah plastik menjadi masalah serius yang dihadapi dunia karena sulit didegradasi mikroba. Salah satu solusi masalah adalah dengan mengganti bahan dasar plastik konvensional dengan plastik biodegradable (bioplastik). Bahan bioplastik yang cukup penting bagi indutri  dan saat ini terus dikembangkan oleh peneliti adalah Polihidroksial- kanoat (PHA). PHA merupakan poliester alami yang dapat diproduksi oleh mikroorganisme, seperti bakteri dan alga. Pada penelitian dilakukan isolasi bakteri dari tanah tempat pembuangan sampah (TPS) dan limbah cair pabrik kelapa sawit (LCPKS). Penapisan awal bakteri penghasil PHA dilakukan secara kualitatif menggunakan pewarna Nile red  0.05%. Hasil penapisan menunjukkan diantara ke-32  isolat bakteri diperoleh 10 isolat mampu mengakumulasi PHA secara kualitatif, yaitu isolat yang mampu menimbulkan  pendaran floresen pada sinar UV  pada λ 235 nm. Isolat TH-D092 dari tanah tempat pembuangan  sampah dan isolat LC-S05 dari limbah cair pabrik kelapa sawit memiliki kemampuan mengakumulasi PHA berturut-turut  6,67 dan 9,44% dari berat sel kering. Hasil identifikasi spesies bakteri menunjukkan bahwa isolat TH-DO9 termasuk Pseudomonas aeroginosa, LC-SO5 dan LC-DO2 termasuk Bacillus subtilis.
Karakterisasi PHA yang dihasilkan oleh Pseudomonas aeruginosa dan Bacillus subtilis yang ditumbuhkan dalam media limbah cair pabrik kelapa sawit Characterization of PHA produced by Pseudomonas aeruginosa and Bacillus subtilis inoculated in palm oil mill effluent (POME) media KRESNAWATY, Irma; MULYATNI, Agustin Sri; ERIS, Deden Dewantara; PRAKOSO, Haryo Tejo
E-Journal Menara Perkebunan Vol 82, No 2: Desember 2014
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v82i2.20

Abstract

AbstractThe difficulties in processing of petroleum-based plastic waste had encouraged the development of biodegradable plastics polyhydroxyalkanoate (PHA). Researchers isolated the PHA-producing microorganisms from various sources to obtain new species with high PHA production capability. In addition, the high cost of PHA production might be overcome by using carbon-rich waste, such as palm oil mill effluent (POME). This research conducted characterization of produced PHA and optimization of PHA production in POME. In previous research, three potential isolates were obtained, which are one Pseudomonas aeruginosa isolate and two Bacillus subtilis isolates. Analysis of Scanning Electron Microscopy (SEM) and Transmission Electron Microscopy (TEM) showed the presence of PHA accumu-lation within the bacterial cell. The results of Spectra of Fourier Transform Infra Red Spectroscopy (FT-IR) revealed differences in C-C and C-H alipathic regions of PHA produced by Pseudomonas aeruginosa and Bacillus subtilis. Optimum production of PHA was obtained using POME at concentration of 50-25% during 6 days of incubation time in an enriched media pretreatment.Abstrak Sulitnya pengolahan limbah plastik berbasis minyak bumi mendorong pengembangan plastik biodegradable poli-hidroksialkanoat (PHA). Beberapa peneliti mengisolasi mikroorganisme penghasil  PHA dari berbagai sumber karena diharapkan akan diperoleh spesies baru dengan kemampuan produksi PHA yang tinggi. Selain itu kendala tingginya biaya produksi PHA dapat diatasi dengan peman-faatan limbah yang kaya akan  karbon, seperti limbah cair pabrik kelapa sawit (LCPKS). Pada penelitian ini dilakukan karakterisasi PHA yang dihasilkan dan optimasi produksi PHA pada LCPKS. Pada penelitian sebelumnya telah diperoleh  tiga isolat potensial, yaitu : satu isolat  Pseudo-monas aeruginosa dan dua isolat  Bacillus subtilis.  Analisis Scanning Electron Microscopy (SEM) dan Transmission Electon Microscopy (TEM) menunjukkan adanya akumulasi PHA di dalam sel bakteri. Dari hasil analisis FT-IR disimpulkan bahwa senyawa PHA yang dihasilkan Pseudo-monas aeruginosa  berbeda dengan  Bacillus subtilisyang ditandai   perbedaan   pada  spectra   gugus  C-C  dan   C-H alifatik.  Produksi optimum PHA diperoleh pada konsentrasi LCPKS 50-25%, waktu inkubasi  enam hari dan optima-lisasi pertumbuhan pada media kaya di awal untuk mening-katkan populasi mikroba.
Aktivitas antibakteri ekstrak kulit buah kakao (Theobroma cacao L.) terhadap Escherichia coli, Bacillus subtilis, dan Staphylococcus aureus MULYATNI, Agustin Sri; BUDIANI, Asmini; TANIWIRYONO, Darmono
E-Journal Menara Perkebunan Vol 80, No 2: Desember 2012
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v80i2.39

Abstract

AbstractCocoa (Theobroma cacao L.), one of the most important export commodities from Indonesia, is widely planted with current total area of 1.6 million Ha, producing 500.000 metric tons of dry bean  in 2011 . At the time of harvest, instead of seed approximately the same volume cacao husk is produced. The aim of the study was to assess the potential of cocoa husk extract as an antibacterial against Escherichia coli, Bacillus subtilis, and Staphylococcus aureus, and to determine the minimum inhibitory concentration (MIC) of cocoa husk extract to the three test bacteria. Extraction of cocoa husk conducted by maceration method using ethanol 96%. Analysis of antibacterial activity was done by paper disc diffusion method. Completely Randomized Design of single factor presentage that is extract concentration of 0; 1; 2; 4; 8; 16; 32; and 64% (g/mL) with three replicans were applied.The results showed that the extract of cocoa pod husk has antibacterial activity against S. aureus, B. subtilis, and E. coli with the MIC are 8% (g/ mL), 16% (g/ mL), and 32% (g/ mL) respectively.AbstrakKakao (Theobroma cacao L.), salah satu komoditi ekspor terpenting Indonesia, ditanam secara luas dengan total luasan 1,6 juta Ha, menghasilkan 500.000 ton biji kering pada tahun 2011. Di samping biji sebagai hasil utama, pada saat panen juga dihasilkan kulit buah dengan volume yang hampir sama dengan biji. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi ekstrak kulit buah kakao sebagai antibakteri terhadap Escherichia coli, Bacillus subtilis, dan Staphylococcus aureusserta menentukan konsentrasi hambat minimum (KHM) ekstrak kulit buah kakao terhadap ketiga bakteri uji. Ekstraksi kulit buah kakao dilakukan dengan metode Maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Analisis aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi cakram  kertas. Penelitian  ini  menggunakan  Rancangan Acak  Lengkap (RAL) dengan faktor tunggal  konsen-trasi ekstrak, yaitu 0; 1; 2; 4; 8; 16; 32; dan 64% (g/mL), masing-masing dengan tiga kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kulit buah kakao berpotensi sebagai antibakteri terhadap S. aureus, B. subtilis dan  E. coli, dengan KHM berturut-turut adalah 8% (g/mL), 16% (g/mL), dan 32% (g/mL).
Penapisan bakteri penghasil bioplastik polihidroksi alkanoat dari tanah tempat pembuangan sampah dan limbah cair pabrik kelapa sawit Screening of bioplastics polyhydroxy alkanoic producing bacteria from landfill and palm oil mill effluents KRESNAWATY, Irma; PRAKOSO, Haryo Tejo; ERIS, Deden Dewantara; MULYATNI, Agustin Sri
E-Journal Menara Perkebunan Vol 82, No 1: Juni 2014
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.734 KB) | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v82i1.28

Abstract

AbstractPlastic wastes  have  become a serious problem  of  the world  because of  unbiodegradable  property. There are many  solutions to this problem  and  one of  them is by replacing conventional plastic base  material with  the  biodegradable  materials. Bioplastic material that is quite important for industries and  recently being developed  by  scientists  is Polyhydroxyalcanoate (PHA). It is a natural polyester which  can be produced  by several microorganisms, like bacteria and algae. Bacterial isolations  from landfills waste and  palm oil mill effluents were conducted on this research. Preliminary screenings of PHA-producing-bacteria were examined qualitatively using  0.05%  Nile red dye. The selection results showed  that among 32 bacterial isolates, 10  of  them could  accumulate PHA  which  could be detected qualitatively through  its  fluorescence in  UV  ray  at λ 235 nm. TH-D092 and LC-S05 isolates originated  respectively  from landfill and  palm oil mill effluent had ability to accumulate PHA respectively  6.67 and 9.44% dried cell weight. Identification  of  the microbe concluded  that TH-D092  was Pseudomonas aeroginosa, whilst LC-S05 and LC-D02 isolates was  Bacillus subtilis.AbstrakLimbah plastik menjadi masalah serius yang dihadapi dunia karena sulit didegradasi mikroba. Salah satu solusi masalah adalah dengan mengganti bahan dasar plastik konvensional dengan plastik biodegradable (bioplastik). Bahan bioplastik yang cukup penting bagi indutri  dan saat ini terus dikembangkan oleh peneliti adalah Polihidroksial- kanoat (PHA). PHA merupakan poliester alami yang dapat diproduksi oleh mikroorganisme, seperti bakteri dan alga. Pada penelitian dilakukan isolasi bakteri dari tanah tempat pembuangan sampah (TPS) dan limbah cair pabrik kelapa sawit (LCPKS). Penapisan awal bakteri penghasil PHA dilakukan secara kualitatif menggunakan pewarna Nile red  0.05%. Hasil penapisan menunjukkan diantara ke-32  isolat bakteri diperoleh 10 isolat mampu mengakumulasi PHA secara kualitatif, yaitu isolat yang mampu menimbulkan  pendaran floresen pada sinar UV  pada λ 235 nm. Isolat TH-D092 dari tanah tempat pembuangan  sampah dan isolat LC-S05 dari limbah cair pabrik kelapa sawit memiliki kemampuan mengakumulasi PHA berturut-turut  6,67 dan 9,44% dari berat sel kering. Hasil identifikasi spesies bakteri menunjukkan bahwa isolat TH-DO9 termasuk Pseudomonas aeroginosa, LC-SO5 dan LC-DO2 termasuk Bacillus subtilis.