KRESNAWATY, Irma
INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Published : 29 Documents
Articles

Found 29 Documents
Search

Dinamika populasi Trichoderma harzianum DT38 pada campuran arang hayati tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dan gambut Population dinamic of Trichoderma harzianum DT38 on mixture of empty fruit bunches of oil palm (EFBOP) biochar and peat

E-Journal Menara Perkebunan Vol 80, No 1: Juni 2012
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Biochar offers option for managing land as a source  of carbon and soil conditioner. The ability of biochar in  increasing soil  fertility associates with its ability to retain water, reduce soil acidity, and keep the availability of essential nutrients for plant thus increasing crop produc-tivity, and reducing the risk of soil erosion. Biochar is also substance to provide a  suitable environment for the growth of beneficial microbes, including an isolate of  Trichoderma harzianum used in this study, that has been proven capable in stimulating plant growth and suppressing soil borne diseases. The purpose of this research was to determine the in vitro compatibility of T. harzianum DT38, Indonesia Biotech-nology Research Institute for Estate Crop (IBRIEC) collection, in mixtures of  EFBPO biochar and peat during 28 days. This research was performed in completely randomized design with single factor, comprising of five formulas: 1) 100% EFBOP biochar (K1), 2) 100% peat (K2), 3) Mixture of EFBOP biochar and peat = 1 : 4 (F1), 4) Mixture of EFBOP biochar and peat=  1 : 8 (F2), dan 5) Mixture of EFBOP biochar and peat=  1 : 12 (F3). The colony forming units were determined after storage to express the amount of fungal propaguls in each mixture. The results was analized using one-way ANOVA test and Duncan Test. Result showed that the total of  T. harzianum DT38 propaguls was not significantly difference among five mixture preparations tested during 0 and 7 days storage. The total propaguls were insignificantly difference between F1 and K2, and also between  F2 and F3in 14, 21 and 28 days incubation. Peat addition on biochar increased the total of  T. harzianum DT38 propaguls during 28 days incubation. The total propaguls which are remain high in F1, F2 and F3 formula up to 28 days storage indicating that the mixtures suitable for microbe media and biofertilizer formula.Abstrak Penggunaan arang hayati (biochar) merupakan alternatif pengelolaan tanah terutama sebagai penyedia karbon dan pembenah tanah.  Kemampuan biochar dalam meningkatkan kesuburan tanah berhubungan dengan kemampuannya untuk menahan air, mengurangi keasaman tanah, menjaga keter-sediaan nutrien yang penting bagi tanaman sehingga mening-katkan  produktivitas  tanaman, serta mengurangi resiko erosi  tanah. Arang hayati  juga berperan dalam menyediakan ling-kungan yang   cocok   untuk   pertumbuhan   mikroba,  ter-masuk isolat Trichoderma harzianum yang digunakan dalam penelitian ini dan teruji mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman dan mengendalikan penyakit tular tanah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kompatibilitas T. harzianum DT38 koleksi BPBPI pada bahan pembawa berupa campuran biochar tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dan gambut selama penyimpanan 28 hari secara in vitro. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) untuk menguji lima perlakuan, yaitu : 1) 100% biochar TKKS (K1), 2) 100% gambut (K2), 3) Campuran biochar TKKS dan gambut 1 : 4 (F1), 4) Campuran biochar TKKS dan gambut 1 : 8 (F2), dan 5) Campuran biochar TKKS dan gambut 1 : 12 (F3). Hasil pengamatan pada penyimpanan 0 dan 7 hari menunjukkan bahwa jumlah propagul T. harzianum DT38 dari berbagai formula tidak berbeda nyata.  Jumlah propagul antara formula F1 dan K2, serta F2 dan F3 tidak berbeda nyata pada penyim-panan 14, 21 dan 28 hari.  Penambahan gambut pada biochar TKKS dapat meningkatkan jumlah propagul T. harzianum DT 38 selama penyimpanan 28 hari secara in vitro.  Jumlah propagul T. harzianum DT38 pada media F1, F2 dan F3 selama penyimpanan 28 hari masih memenuhi jumlah minimal propagul dalam bahan pembawa yang menunjukkan bahwa media ini sesuai untuk pertumbuhan mikroba dan berpotensi sebagai formula pupuk hayati.

Aktivitas ligninolitik Omphalina sp. hasil isolasi dari TKKS dan aplikasinya untuk dekolorisasi limbah kosmetik Ligninolytic activity of Omphalina sp. isolated from EFB and its application for decolorization of cosmetic waste

E-Journal Menara Perkebunan Vol 80, No 2: Desember 2012
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract White-rot fungi (WRF) are belong to Basidiomycetes group that capable to degrade lignin, because they produce extracelullar ligninolytic enzymes such as lignin peroxsidase (Li-P), mangan peroxidase (Mn-P) and laccase. The ligninolytic activity can be used in bioprocess oxidation system such as biopulping, biobleaching and bioremediation.  The purposes of this research were to determine the optimum conditions of growth and ligni-nolytic activity of  Omphalina and to observe its potential to decolorize cosmetics wastewater.  Omphalina sp. was grown on media of PDA-Remazol Brilliant Blue R (RBBR) and PDA-Guaiacol (GU) at various pH and temperature conditions. The decolorization of cosmetic effluent was conducted by applying Omphalina sp. at various dose of inoculum.  Decolorization rate and change of COD were observed for eight days. The  results  showed that Ompha-lina sp. could grow and produce peroxidase enzyme both on RBBR and GU media at pH 4.5-8.5  and temperature 23-350C. Optimum dose of inoculum was as much as 5%  w/v at which the fungus was able to  decolorize cosmetic factory effluent up to 92.79% and to decrease COD value up to  48.57 % after eight days of incubation.Abstrak Jamur pelapuk putih (JPP) merupakan jamur kelompok Basidiomycetes yang mampu mendegradasi lignin karena memproduksi enzim-enzim ligninolitik ekstraseluler seperti lignin peroksidase (Li-P), mangan peroksidase (Mn-P) dan lakase.  Kemampuan ligninolitik JPP dapat dimanfaatkan dalam sistem oksidasi bioproses seperti biopulping, biobleaching dan bioremediasi. Pene-litian bertujuan menetapkan kondisi optimum pertumbuhan Omphalina sp. dan aktivitas ligninolitik yang dihasilkan-nya serta mempelajari potensinya dalam mendekolorisasi limbah cair kosmetik. Omphalina sp. ditumbuhkan dalam media PDA-Remazol Brilliant Blue R (RBBR) dan PDA-Guaiakol (GU)  pada  berbagai variasi pH dan suhu. Percobaan dekolorisasi limbah cair kosmetik dilakukan dengan aplikasi inokulum dalam berbagai dosis. Laju dekolorisasi dan perubahan COD diamati selama delapan hari. Hasil penelitian menunjukkan Omphalina sp. tumbuh dan menghasilkan enzim peroksidase, baik pada  media RBBR maupun GU pada pH 4,5-8,5 dan suhu 25-350C. Dosis optimum aplikasi Omphalina sp. adalah 5% (b/v) yang mampu mendekolorisasi limbah cair pabrik kosmetik hingga 92,79%  dan menurunkan COD 48,57% setelah delapan hari.

Aplikasi biokaolin untuk perlindungan buah kakao dari serangan PBK, Helopeltis spp. dan Phytophthora palmivora Application of biokaolin in protecting cocoa pod from cocoa pod borer, Helopeltis spp. and Phytophthora palmivora infestation

E-Journal Menara Perkebunan Vol 78, No 1: Juni 2010
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractMain constraints of cacao cultivation are infestations of cocoa pod borer (Conopomorpha cramerella (Snellen), Helopeltis spp., and cocoa pod rot disease (palmivora). So far there is no technology that could efficiently controlthese important pests. This research was aimed to develop environmentally friendly new technology to protect pod surfaces of cacao. The experiment was performed in heavily infested cacao plantation in Konawe, South-East Sulawesi.The use of kaolin particle film enriched with entomopathogenic microbe was contrasted againts the use of currently recommended plastic sleeve. Cacao pods were sprayed at one week and two week intervals. The observed parameters were the number of pods infested with cocoa pod borer, pod rot and Helopeltis spp. at 4th - 14th weeks after first spray. From the observation, weekly biokaolin application showed the highest amount pods free from cocoa pod borer (33.97 %), followed by biweekly application (27.96 %), and plastic sleeving (19 %). Ten weeks after first spray, cocoa pod borer incidence was significantly reduced especially in weekly application. The percentage of pods free from pod rot were 81.92 %, 62.96 %, and 72.20 % for weekly spray, biweekly spray, and plastic sleeving, respectively. Pods being kept for 12 weeks in plastic sleeve endured the highest intensity of pod rot incidence. Biweekly biokaolin treatment was better in handling Helopeltis spp. attack. Besides reducing infestation of the main pests and diseases, biokaolin application also reduced the incidence of cherelle wilt to almost 40%. Those results gave the great expectation that biokaolin usage would significantly increase cacao yield, resulting in the increase of cacao farmer income. AbstrakKendala utama dalam upaya budidaya kakao adalah adanya serangan hama penggerek buah kakao (PBK), Conopomorpha cramerella (Snellen) dan hama kepik Helopeltis spp., serta serangan patogen penyebab busuk buah (Phythophtora palmivora). Sampai saat ini belum tersedia teknologi yang secara efisien mengendalikan ketiga-tiganya sekaligus. Peneltian ini bertujuan untuk mengembangkan teknologi yang ramah lingkungan untuk melindungi permukaan buah kakao. Percobaan dilakukan pada perkebunan kakao dengan tingkat serangan yang berat di Konawe, Sulawesi Tenggara. Dalam penelitian ini, penggunaan lapisan partikel kaolin yang diperkaya dengan mikroba entomopatogenik dibandingkan efektifitasnya dengan penyarungan menggunakan kantung plastik yang direkomendasikan selama ini. Buah kakao disemprot setiap interval satu minggu dan dua minggu sekali. Parameter yang diamati adalah jumlah buah terserang PBK, jumlah serangan busuk buah dan jumlah serangan Helopeltis spp. pada minggu keempat sampai dengan minggu ke-14 setelah penyemprotan pertama. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa persentase tertinggi (33,97 %) buah kakao yang terbebas dari serangan PBK diperoleh pada plot dengan penyemprotan biokaolin setiap minggu, diikuti dengan penyemprotan setiap dua minggu (27,96 %), dan penyelubungan dengan kantung plastik (19,00 %). Pada minggu ke- 10 setelah penyemprotan pertama terjadi penurunan intensitas serangan PBK secara signifikan khususnya pada perlakuan setiap minggu. Persentase buah kakao yang terbebas dari penyakit busuk buah 81,92 %, 62,96 %, dan 72,20 %, secara berturutan untuk perlakuan penyemprotan setiap satu minggu,setiap dua minggu, dan penyarungan plastik. Pada minggu ke-12 buah kakao yang diberi perlakuan penyarungan mengalami peningkatan serangan busuk buah paling tinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Perlakuan penyemprotan setiap dua minggu memberikan perlindungan terbaik dari serangan Helopeltis spp. Hasil ini memberikan harapan besar bahwa aplikasi biokaolin sangat berpotensi meningkatan hasil panen petani kakao sehingga akan meningkatkan pendapatan petani.

Optimisasi produksi biogas dari limbah lateks cair pekat dengan penambahan logam Optimization of biogas production from concentrated-latex effluent with addition of metals

E-Journal Menara Perkebunan Vol 76, No 1: Juni 2008
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Summary The treatment of concentrated-latex effluent process applied in the field presently, has not obtain optimum additional benefits. Besides that, the technology using ponding system  needs  wide area and causes air pollution that  such a way caused conflicts with society. The application  concept of clean industry: reuse, reduction, recovery and recycling, makes the possibilities to convert the effluent to be usefull products. One of the alternative effluent process is by utilizing it as the source of renewable energy, that is in the form of biogas as an  alternative energy. The preliminary research showed that the use of spontaneous latex skim coagulation, the  addition of 1% manure as source of seed, and leaf biomass as the source of carbon could increase the biogas production. This research was carried out to optimize biogas production by adding metal ion and to observe the parameters which influenced every stage of biogas production. At the beginning of the process, pH showed increasing due to the hydrolysis process that generally occured in acid condition, but it remained stable (6.6-7.7) in the next steps, whereas, the VFA value as well as BOD value tended to increase. COD value had fluctuative inclination caused by the conversion of organic compounds to produce biogas and the hydrolysis process of leaf biomass to organic compounds that decom-posed to further biogas. The best result of biogas production was showed by addition of Fe3+ with optimum concentration 0.50 mg/L effluent.

Penapisan bakteri penghasil bioplastik polihidroksi alkanoat dari tanah tempat pembuangan sampah dan limbah cair pabrik kelapa sawit Screening of bioplastics polyhydroxy alkanoic producing bacteria from landfill and palm oil mill effluents

E-Journal Menara Perkebunan Vol 82, No 1: Juni 2014
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractPlastic wastes  have  become a serious problem  of  the world  because of  unbiodegradable  property. There are many  solutions to this problem  and  one of  them is by replacing conventional plastic base  material with  the  biodegradable  materials. Bioplastic material that is quite important for industries and  recently being developed  by  scientists  is Polyhydroxyalcanoate (PHA). It is a natural polyester which  can be produced  by several microorganisms, like bacteria and algae. Bacterial isolations  from landfills waste and  palm oil mill effluents were conducted on this research. Preliminary screenings of PHA-producing-bacteria were examined qualitatively using  0.05%  Nile red dye. The selection results showed  that among 32 bacterial isolates, 10  of  them could  accumulate PHA  which  could be detected qualitatively through  its  fluorescence in  UV  ray  at λ 235 nm. TH-D092 and LC-S05 isolates originated  respectively  from landfill and  palm oil mill effluent had ability to accumulate PHA respectively  6.67 and 9.44% dried cell weight. Identification  of  the microbe concluded  that TH-D092  was Pseudomonas aeroginosa, whilst LC-S05 and LC-D02 isolates was  Bacillus subtilis.AbstrakLimbah plastik menjadi masalah serius yang dihadapi dunia karena sulit didegradasi mikroba. Salah satu solusi masalah adalah dengan mengganti bahan dasar plastik konvensional dengan plastik biodegradable (bioplastik). Bahan bioplastik yang cukup penting bagi indutri  dan saat ini terus dikembangkan oleh peneliti adalah Polihidroksial- kanoat (PHA). PHA merupakan poliester alami yang dapat diproduksi oleh mikroorganisme, seperti bakteri dan alga. Pada penelitian dilakukan isolasi bakteri dari tanah tempat pembuangan sampah (TPS) dan limbah cair pabrik kelapa sawit (LCPKS). Penapisan awal bakteri penghasil PHA dilakukan secara kualitatif menggunakan pewarna Nile red  0.05%. Hasil penapisan menunjukkan diantara ke-32  isolat bakteri diperoleh 10 isolat mampu mengakumulasi PHA secara kualitatif, yaitu isolat yang mampu menimbulkan  pendaran floresen pada sinar UV  pada λ 235 nm. Isolat TH-D092 dari tanah tempat pembuangan  sampah dan isolat LC-S05 dari limbah cair pabrik kelapa sawit memiliki kemampuan mengakumulasi PHA berturut-turut  6,67 dan 9,44% dari berat sel kering. Hasil identifikasi spesies bakteri menunjukkan bahwa isolat TH-DO9 termasuk Pseudomonas aeroginosa, LC-SO5 dan LC-DO2 termasuk Bacillus subtilis.

Isolasi dan mikroenkapsulasi vitamin E dari crude palm oil sebagai sumber antioksidan bahan pangan Isolation and microencapsulation of vitamin E from crude palm oil as source of food antioxidant

E-Journal Menara Perkebunan Vol 80, No 2: Desember 2012
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractIn order to increase  value added  and  to support downstream industry of  palm oil, minor components of the oil such as β-carotene and vitamin E should be utilized. Vitamin E is a high value  vitamin  that could be used as material for pharmaceutical and  neutraceutical products. Technological constraints encountered in the utilization of  vitamin E from CPO are lack of optimal extraction and purification method as well as the way to stabilize of the product. The research was conducted to find optimal extraction and purification method of vitamin E from CPO and microencapsulation method of vitamin E as pharmaceutical and neutraceutical product. The research showed that vitamin E could be recovered  from CPO by several steps process including saponification using NaOH, separation of unsaponificated  solution,  followed by dissolution using 2-propanol in hexane and extraction  using methanol. Raw extract of vitamin E was then purified by coloumn chromatography with stationary phase of silica gel and mobile phase (eluent) of petroleum benzene/ diethyl ether/acetic acid 70 : 30 : 0,2. Purified vitamin E could be collected as fraction 4-8. Vitamin E obtained  had  similar antioxidant activity as in pure vitamin E (Sigma) and vitamin C. Microencapsulation method could be conducted using arabic gum as coating material followed by spray drying and resulted IC50-DPPH value 132.55  ppm which considered middle activity category.AbstrakUntuk meningkatkan nilai tambah dan mengem-bangkan industri hilir minyak kelapa sawit (CPO), komponen minor minyak tersebut seperti vitamin E dan β-karoten perlu dimanfaatkan. Vitamin E merupakan produk bernilai ekonomis tinggi sebagai bahan farmaseutikal dan neutrasetikal. Kendala yang dihadapi dalam pemanfaatan vitamin E dari CPO, yaitu belum tersedianya teknik ekstraksi dan purifikasi yang optimal dan cara memper-tahankan stabilitas vitamin E. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh teknik ekstraksi dan purifikasi vitamin E dari CPO dan teknik mikroenkapsulasi vitamin E sebagai bahan farmaseutikal dan neutrasetikal.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa vitamin E dapat diproduksi dengan beberapa tahapan yakni saponifikasi dengan NaOH, pemisahan lapisan pekat tak tersabunkan, pelarutan dengan2-propanol dalam heksana, ekstraksi dengan metanol dan pelarutan ekstrak dengan 2-propanol dalam heksana. Ekstrak kasar vitamin E dimurnikan dengan kromatografi kolom dengan fasa diam silika gel dan fasa gerak petroleum benzen/dietil eter/asam asetat = 70 : 30 : 0,2. Vitamin E dapat dimurnikan pada fraksi ke-4 sampai dengan ke-8. Aktivitas antioksidan vitamin E hasil ekstraksi tersebut setara dengan vitamin E murni (Sigma). Teknik mikroenkapsulasi vitamin E hasil ekstraksi dari CPO dapat dilakukan dengan penyalut gum arab dan pengeringan dengan spray dryer  yang menghasilkan anti-oksidan dengan aktivitas IC50 DPPH = 132,55 ppm yang termasuk kategori beraktivitas sedang.

Sintesis reagen imunokimia untuk deteksi okratoksin dengan metode imunokromatografik nanopartikel emas Synthesis of immunochemical reagent for ochratoxin detection using gold nanoparticle immunochromatographic method

E-Journal Menara Perkebunan Vol 83, No 1: Juni 2015
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract    The quality of Indonesiam coffee andcocoa products has been declined due to the contamination of fungi producing ochratoxin, a serious human mycotoxin. Therefore, develop-ment of fast, accurate and simple method for early detection of ochratoxin contamination is required. As a part of research attempted to develop early detection technique of ochratoxin in severall commodities, especially agricultural products, the objective of this study was to produce immunochemical reagent for ochratoxin detectionusing immunoglobulin Y (IgY) based on immunochromatographic method. Results showed that OTA-OVA could be synthesized using active ester method with addition of N-hydroxy-succiimide and dicyclocarboimide. The inter-mediate compound produced showed C=O stretching vibrational band at 1600 cm-1 and C-O stretching vibrational band at 1300-1000 cm-1. Antibody-gold nanoparticle conjugate was optimally produced at pH 9 and with antibody dilution of 1:7.5 (v/v). There was 50 nm absorb-tion shift in visible absorbtion after the antibody was conjugated with gold nanoparticle. Even though the test strip did not show  clear visual-ization, the cut off of ochratoxin concentrationis obviously determined at 10 ppb. This results suggest thatthe technique could be used to detect ochratoxin contamination. Abstrak Komoditas kopi dan kakao Indonesia ter-kendala masalah mutu produk yang rendah akibat kontaminasi jamur yang menghasilkan okra-toksin. Okratoksin merupakan mikotoksin yang membahayakan kesehatan manusia. Oleh karena itu, cara deteksi dini kontaminasi okratoksin yang cepat, akurat dan mudah perlu dikembangkan. Sebagai bagian dari usaha untuk mengembangkan teknik deteksi dini okratoksin pada pada berbagai komoditas, khususnya produk pertanian, pene-litian ini bertujuan menghasilkan reagen imuno-kimia yang menggunakan antibodi immune-globulin Y (IgY) berdasarkan metode imunokro-matografik untuk deteksi okratoksin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa OTA-OVA dapat disintesis dengan metode ester aktif dengan menambahkan N-hidroksisuksiimida dan disiklo-karboimida. Senyawa antara yang dihasilkan memiliki absorpsi pada frekuensi 1600 cm-1 yang menunjukkan adanya vibrasi ulur ikatan C=O dan adanya banyak absorpsi pada 1300-1000 cm-1 yang mengindikasikan adanya serapan ulur yang kuat ikatan C-O. Konjugat antibodi-nanopartikel emas dihasilkan optimum pada pH 9 dan dengan pengenceran antibodi 1:7,5 (v/v). Hasil pengujian spektrofotometer visible menunjukkan adanya pergeseran serapan sebesar 50 nm setelah anti-bodi dikonjugasikan pada nanopartikel emas. Meskipun secara visual tidak begitu jelas, tetapi hasil pengujian pada teststrip menunjukkan bahwa nilai cut off konsentrasi okratoksin yang terdeteksi adalah10 ppb. Hasil ini menunjukkan bahwa teknik yang dikembangkan dapat diguna-kan untuk deteksi kontaminasi okratoksin.

Karakteristik antibodi anti Ganoderma sp. yang dihasilkan dengan menggunakan jenis dan sumber antigen yang berbeda [Characteristic of antibodies againt Ganoderma sp produced from different types and sources of antigens]

E-Journal Menara Perkebunan Vol 85, No 1 (2017): April, 2017
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Basal stem rot (BSR) disease caused by  Ganoderma sp. is the most important disease in oil palm plantations.The effectivity of BSR control depends on early detection of this disease. The earlier the disease is known, the severity of damage could be prevented. Therefore, technology for early detection of Ganoderma infection is very important. Immunochromatographic techniques based on the reaction of antigens and antibodies can be developed for detection of Ganoderma sp infection. The objective of the study was to produce antibodies using different Ganoderma sp. In this study, immunoglobulin Y ( IgY ) against Ganoderma sp produced in chicken eggs was used as the source of antibodies. Laying hens were immunized with several types of Ganoderma sp. because it is known to have genetic variations. The source of Ganoderma sp. isolates were mycelium and exudates. The polyclonal IgY antibodies produced economically and abundantly.  The antibodies derived from the mycelium showed more consistent results compared with those derived from the exudates. In addition, the antibodies derived from Ganoderma sp of Cimulang and Bekri showed higher reactivity  with some of the antigens compared to those from Cisalak Baru (CSB). The characteristics and the protein profiles of antibodies produced using Cimulang, Bekri  and Cisalak Baru isolates were vary in term of,  sensitivity and amino acid compositions

Optimisasi dan pemurnian IAA yang dihasilkan Rhizobium sp. dalam medium serum lateks dengan suplementasi triptofan dari pupuk kandang Optimization and purification of IAA produced by Rhizobium sp. in latex serum media supplemented with tryptophan from chicken manure

E-Journal Menara Perkebunan Vol 76, No 2: Desember 2008
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Summary Concentrated latex effluent had not been economically utilized, consequently it had become source of environmental pollution and conflicts with surrounding community. Whereas, the concentrated latex effluent could be used as substrate for microbes growth media due to its high concentration of carbon and nitrogen. One of the economical benefits of growing Rhizobium sp. in this waste is the production of  indole acetic acid (IAA) that  can be used for plant promotion growth. The aims of this research were to get the optimal IAA production of Rhizobium sp. by optimizing its tryptophan supplementation through hydrolysis of chicken manure and to purify IAA produced using chromatographic method. The use of chicken manure directly caused the browning effect, therefore these experiments were carried out the variation of NaOH 2 N hydrolysis treatments to reduce the effect. Direct hydrolysis as the first media  was obtained by mixing latex serum and manure, and then this mixture was hydrolyzed. Meanwhile, separated hydrolysis was done by adding water to manure, being hydrolyzed, and divided to become second and third media. The second media  was made by mixing manure hydrolysate and latex serum directly, whereas in third media, hydrolisate was added with alum as coagulating agent. Rhizobium sp. was then inoculated to all media and incubated for 24, 48, and 72 hours in 27-30oC. IAA was analyzed by spectrophotometric method with Salkowsky reagent and Thin Layer Chromatography (TLC). IAA was then extracted with ethyl acetate and purified with silica gel column chromatography. The separated hydrolysis without coagulation (second media) produced the highest IAA concentration, that is 14.40 mg/mL, whereas IAA produced by direct hydrolysis (first media) was 14.13 mg/mL and 0.90 mg/mL for third media  during 48 hours. The fractionation result  for each mediums showed that the highest IAA distribution in first media  was the 12th fraction (38.70%), meanwhile in second media  was the 15th fraction (50.25%) and in the third  media was the 13th fraction (26.16%). Ringkasan Limbah lateks pekat saat ini belum di-manfaatkan secara ekonomis, bahkan menjadi sumber pencemaran lingkungan dan konflik dengan masyarakat sekitarnya. Padahal limbah lateks pekat dapat digunakan sebagai substrat pertumbuhan mikroba karena memiliki kandungan karbon dan nitrogen yang cukup tinggi.  Salah  satu  nilai  ekonomis yang dapat diperoleh dengan ditumbuhkannya Rhizobium sp. pada limbah tersebut, yaitu dihasilkannya asam indol asetat (indol acetic acid/IAA) yang dapat digunakan untuk memacu pertumbuhan tanaman. Penelitian ini bertujuan memperoleh produksi IAA optimal yang dihasilkan Rhizobium sp. dengan asupan triptofan dari hidrolisis pupuk kandang dan memurnikan IAA yang dihasilkan tersebut dengan metode kromatografi. Penggunaan pupuk kandang secara langsung menyebabkan efek pen-cokelatan, maka dilakukan variasi perlakuan hidrolisis dengan NaOH 2 N untuk mengurangi efek tersebut. Hidrolisis langsung sebagai medium pertama diperoleh dengan mencampur serum lateks dan pupuk kandang, sedangkan hidrolisis terpisah dilakukan dengan menambah pupuk kandang dengan air,  dan dibagi menjadi medium kedua dan ketiga. Medium kedua dibuat dengan cara  langsung mencampur hidrolisat dan serum lateks, sedangkan pada medium ketiga, hidrolisat diendapkan dengan alum sebagai bahan pengendap.  Kemudian ke dalam masing-masing medium diinokulasi  Rhizobium sp. dan diinkubasi selama 24 ,48, dan 72 jam pada suhu 27-30oC. Analisis IAA dilakukan secara spektrofotometri dengan metode Salkowski dan Kromatografi Lapis Tipis (KLT). IAA diekstraksi menggunakan etil asetat dan dimurnikan dengan kromatografi kolom silika gel. Hidrolisis terpisah tanpa pengendapan (medium kedua) menghasilkan IAA tertinggi, yaitu 14,40 mg/mL, sedangkan hidrolis langsung (medium pertama) menghasilkan IAA sebesar 14,13 mg/mL dan medium ketiga sebesar 0,90 mg/mL selama 48 jam. Hasil fraksinasi untuk masing-masing medium menunjukkan sebaran IAA tertinggi pada medium pertama berada pada fraksi ke-12 (38,70%), sedangkan pada medium kedua pada fraksi ke-15 (50,25%), dan pada medium ketiga ialah fraksi ke-13 (26,16%). 

Biosorpsi logam Zn oleh biomassa Saccharomyces cerevisiae *) Biosorption of Zn metal by Saccharomyces cerevisiae biomass

E-Journal Menara Perkebunan Vol 75, No 2: Desember 2007
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

SummaryHeavy metal in waste water potentiallycauses environmental pollution. Generally,heavy metal pollutions come from metalplating, textile, latex-rubber goods, and otherindustries. The process of latex-rubber goodindustries uses heavy metal in the form ofZnO as accelerator for rubber vulcanizationprocess, so that Zn 2+ ion exists in wastewatereffluents in concentration as much as 300 ppm,whereas the maximum limit allowed is 2.5 ppm.The chemical way generally used to decreaseZn 2+ concentration in wastewater effluents isby adding bases, NaOH or Ca(OH) 2 until pHreached 11, hence this metal is precipitated asits hydroxide. However, the way is done, isvery high cost and has a risk of the emergencesecondary pollution caused by excess base. Analternative way to absorb Zn 2+ consideredinexpensive is by using biosorbent in the formof Saccharomyces cerevisiae biomass frombioethanol industrial waste. The research wasconducted using artificial wastewater withZn 2+ ion concentration of 300 ppm and the pHwas adjusted to the range between 3-7.Biosorption was conducted by addition of freeS. cerevisiae biomass as well as byimmobilized cells on filter paper. Observationwas carried out for Zn 2+ concentration aftercontact time of two and five hours. The resultsof the research indicated that free andimmobilized S. cerevisiae biomass couldabsorb Zn 2+ metal and decreased itsconcentration from 250-300 ppm to 20-50 ppm.The optimum contact time was reached at onehour, while optimum sorption process occurredat pH 5. At low concentration, less than20 ppm S. cerevisiae biomass absorbed lessZn 2+ The NaOH-treated biomass showed bettersorption capabilities compared to cells treatedby formaldehyde or heat treatments. Thecontinue experiment showed the high capacityof biomass treated with NaOH to absorb Zn 2+ ,until concentration 24,02- 47,95 ppm in thefirst sampling and 1,15-10,99 ppm in thesecond sampling. Combination adsorptionprocess using charcoal and zeolite couldadsorp remain concentration of Zn 2+ , so thatcould reached the limit concentration-allowed.RingkasanLogam berat di dalam air limbahmerupakan penyebab pencemaran lingkunganyang potensial. Pencemaran logam berat padaumumnya berasal dari industri penyepuhanlogam, tekstil, barang jadi lateks, serta industrilain. Pada proses industri barang jadi lateksdigunakan logam berat dalam bentuk ZnOsebagai akselerator proses vulkanisasi karet,sehingga ion Zn 2+ terbawa dalam air limbahindustri barang jadi dengan konsentrasimencapai 300 ppm, sedangkan ambang bataskonsentrasi yang diperbolehkan maksimaladalah 2,5 ppm. Cara kimia yang umum di-gunakan untuk menurunkan kandunganZn 2+ dalam air limbah adalah dengan caramenambahkan basa, umumnya NaOH atauCa(OH) 2 , sampai pH sekitar 11, sehinggalogam berat ini diendapkan sebagai hidroksida-nya. Namun demikian, cara ini sangat mahaldan beresiko munculnya pencemaran sekunderakibat kelebihan basa. Salah satu alternatifyang murah untuk penyerapan Zn 2+ adalahmenggunakan biosorben berupa biomassaSaccharomyces cerevisiae yang berasal darilimbah pabrik bioetanol.Penelitian dilakukan dengan mengguna-kan air limbah artifisial yang mengandung ionZn 2+ dengan konsentrasi 300 ppm. Limbahartifisial diatur pHnya antara 3-7. Biosorpsidilakukan dengan menambahkan biomassaS. cerevisiae bebas maupun yang diamobilisasidengan kertas saring. Pengamatan dilakukanterhadap kandungan Zn 2+ setelah waktu kontakdua dan lima jam. Hasil penelitian menunjuk-kan bahwa biomassa S. cerevisiae bebasmaupun amobil mampu menyerap logam Zn 2+dan menurunkan konsentrasinya dari 250-300 ppm menjadi 20-50 ppm. Waktu kontakoptimum dicapai setelah satu jam, sedangkanproses sorpsi optimum terjadi pada pH 5.Biomassa S. cerevisiae kurang efektifmenyerap logam Zn 2+ pada konsentrasi rendah,di bawah 20 ppm. Perlakuan biomassa meng-gunakan NaOH menunjukkan kemampuanpenyerapan yang lebih baik jika dibandingkandengan yang diperlakukan menggunakanformaldehida dan pemanasan. Percobaan padaaliran kontinyu yang menggunakan biomassayang diperlaukan menggunakan NaOH,menunjukkan bahwa limbah artifisial Zn 2+dapat diturunkan sampai konsentrasi 24,02-47,95 ppm pada sampling pertama, dan 1,15-10,99 ppm pada sampling kedua. Kombinasipenyerapan menggunakan arang aktif danzeolit dapat menyerap sisa Zn 2+ mencapai batasyang diperbolehkan.