Gustiantini, Luli
Marine Geological Institute of Indonesia

Published : 10 Documents
Articles

Found 10 Documents
Search

Sediment Characteristics of Mergui Basin, Andaman Sea based on Multi-proxy Analyses Zuraida, Rina; Troa, Rainer Arief; Hendrizan, Marfasran; Gustiantini, Luli; Triarso, Eko
BULLETIN OF THE MARINE GEOLOGY Vol 32, No 2 (2017)
Publisher : Marine Geological Institute of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This paper presents the characteristics of sediment from core BS-36 (6°55.85’ S and 96°7.48’ E, 1147.1 m water depth) that was acquired in the Mergui Basin, Andaman Sea. The analyses involved megascopic description, core scanning by multi-sensor core logger, and carbonate content measurement. The purpose of this study is to determine the physical and chemical characteristics of sediment to infer the depositional environment. The results show that this core can be divided into 5 lithologic units that represent various environmental conditions. The sedimentation of the bottom part, Units V and IV were inferred to be deposited in suboxic to anoxic bottom condition combined with high productivity and low precipitation. Unit III was deposited during high precipitation and oxic condition due to ocean ventilation. In the upper part, Units II and I occurred during higher precipitation, higher carbonate production and suboxic to anoxic condition.Keywords: sediment characteristics, Mergui Basin, Andaman Sea, suboxic, anoxic, oxic, carbonate content Makalah ini menyajikan karakteristik sedimen contoh inti BS-36 (6°55,85’ LS dan 96°7,48’ BT, kedalaman 1147,1 m) yang diambil di Cekungan Mergui, Laut Andaman. Metode analisis meliputi pemerian megaskopis contoh inti, pemindaian contoh inti dengan menggunakan multi-sensor core logger, dan pengukuran kandungan karbonat. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui karakteristik fisik dan kimiawi sedimen untuk menafsirkan kondisi lingkungan pengendapan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa contoh inti ini dapat dibagi menjadi 5 unit litologi yang mewakili kondisi lingkungan yang berbeda. Pada bagian bawah sedimen, Unit V dan IV ditafsirkan sebagai hasil endapan pada kondisi suboksik hingga anoksik pada saat produktivitas tinggi dan curah hujan rendah. Unit III diendapkan pada saat curah hujan tinggi dan kondisi oksik yang diperkirakan berkaitan dengan ventilasi samudera. Pada bagian atas, Unit II dan I diendapkan pada saat curah hujan cukup tinggi dengan produksi karbonat yang cukup besar dan kondisi dasar laut suboksik hingga anoksik. Kata kunci: karakteristik sedimen, Cekungan Mergui, Laut Andaman, suboksik, anoksik, oksik, kandungan karbonat 
Elemental Analysis on Marine Sediments Related to Depositional Environment of Bangka Strait Sampurno, Pungky; Zuraida, Rina; Nurdin, Nazar; Gustiantini, Luli; Aryanto, Noor Cahyo Dwi
BULLETIN OF THE MARINE GEOLOGY Vol 32, No 2 (2017)
Publisher : Marine Geological Institute of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Study of elemental composition in sediment has been proven useful in interpreting the depositional environmental changes. Multi Sensor Core Logger (MSCL) is a non-destructive analysis that measures several parameters in sediment core including magnetic susceptibility and elemental composition. Magnetic susceptibility and elemental analysis were measured in four selected marine sediment cores from western part of Bangka Strait (MBB-67. MBB-119, MBB-120 and MBB-173) by using magnetic susceptibility and X-ray Fluorescence (XRF) sensors attached to the MSCL. The data was collected within 2 cm interval. Scatter plots of Y/Zr and Zr/Ti show singular trend demonstrated by sediments from MBB-173 and two groups that composed of MBB-67 (Group 1) and MBB-119 + MBB-120 (Group 2). MBB-67 that is located adjacent to Klabat Granite shows upward changes in mineralogy, slight increase of grain size and negligible change in Y concentration. Cores MBB-119 and MBB-120 are inferred to be deposited during regression that resulted in the accummulation of Y-bearing zircon in MBB-119 before the mineral could reach MBB-120. Core MBB-173 is interpreted to be the product of plagioclase weathering that is submerged by rising sea level. This core contains a horizon of rich Y-bearing zircon at 60 cm.Keywords: Multi Sensor Core Logger, X-Ray Fluorescence, magnetic susceptibility, depositional environment, Bangka Island Studi tentang komposisi unsur kimia dalam sedimen telah terbukti bermanfaat dalam interpretasi perubahan lingkungan pengendapan. Multi Sensor Core Logger (MSCL) adalah sebuah analisis yang non-destructive, untuk mengukur beberapa parameter dalam bor sedimen termasuk suseptibilitas magnetik dan kandungan unsur. Suseptibilitas magnetik dan kandungan unsur diukur dari 4 bor sedimen laut yang terpilih di bagian barat Selat Bangka (MBB-67. MBB-119, MBB-120 and MBB-173) dengan menggunakan sensor suseptibilitas magnetik (MS) dan X-ray Fluorescence (XRF) yang terpasang pada MSCL. Pengukuran dilaksanakan dengan interval 2 cm. Plot Y/Zr dan Zr/Ti menunjukkan satu trend yang diperlihatkan oleh sedimen bor MBB-173 dan dua grup yang terdiri atas MBB-67 (Grup 1) dan MBB-119 + MBB-120 (Grup 2). Bor MBB-173 ditafsirkan sebagai hasil pelapukan plagioklas yang kemudian terendam air laut. Bor ini memperlihatkan horizon yang kaya akan zirkon pembawa yttrium pada kedalaman 60 cm.Kata kunci : Multi Sensor Core Logger, X-Ray Fluorescence, suseptibilitas magnetik, lingkungan pengendapan, Pulau Bangka
PALEOENVIRONMENTAL RECONSTRUCTION FROM BENTHIC FORAMINIFERAL ASSEMBLAGES OF EARLY HOLOCENE, SHALLOW MARINE DEPOSITS IN GOMBONG, CENTRAL JAVA Gustiantini, Luli; Dewi, Kresna Tri; Muller, Anne; Praptisih, Praptisih
BULLETIN OF THE MARINE GEOLOGY Vol 22, No 1 (2007)
Publisher : Marine Geological Institute of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32693/bomg.22.1.2007.2

Abstract

A 30m-long sediment core covering the Holocene period was taken from the area of Gombong in the southern part of Central Java. The sediments were deposited in a shallow marine to lagoonal environment that was confirmed by the dominance of Ammonia beccarii along the core intervals. In addition, the species Quinqueloculina poeyana, Miliolinella lakemacquariensis, and Miliolinella subrotunda were also found in the sediments that are typical of normal shallow marine conditions. The decrease and increase in the abundance of these species throughout the core is an expression of sea level change in the area, which results the environmental changes. Low sea level is expressed by the dominance of Ammonia beccarii, and the low abundances or absence of the other three species. In contrast, high sea level stands are reflected by the presence of all four species. The high sea level would imply favorable conditions for benthic foraminifera because it would result in normal shallow marine conditions in the area. Finally, from this benthic assemblages study, it can be assumed that the environmental transformation from the originally shallow marine environment into land was occurred at level 5.5m depths of the sediment core, when all benthic foraminifera were terminated, including Ammonia beccarii. These new results from the shallow marine deposits in the Gombong area are a new contribution to the understanding of paleoenvironmental change in the region, which in turn is important for understanding sea level change as well as climate change in the region. Keywords: Benthic foraminifera, Holocene, paleoenvironmental changes, sea level changes Southcoast of Central Java Sebuah percontoh sedimen bor sepanjang 30m yang berumur Holosen diambil dari daerah Gombong, bagian selatan Jawa Tengah. Percontoh sedimen diendapkan pada lingkungan laut dangkal –laguna, berdasarkan kelimpahan foraminifera bentik Ammonia beccarii di sepanjang sedimen bor. Selain itu ditemukan juga spesies-spesies Quinqueloculina poeyana, Miliolinella lakemacquariensis, dan Miliolinella subrotunda, yang merupakan penciri lingkungan laut dangkal dengan kondisi normal. Penurunan dan kenaikan dari kelimpahan masing-masing spesies foraminifera bentik di atas, dapat mencerminkan perubahan permukaan air laut daerah studi, yang menghasilkan terjadinya perubahan lingkungan. Penurunan muka air laut dapat dicirikan dengan hadirnya Ammonia beccarii yang sangat dominan, sementara spesies lainnya cenderung berkurang bahkan hampir tidak ada. Sebaliknya ketika muka air laut naik, maka keempat spesies foraminifera tersebut cenderung hadir dengan jumlah yang seimbang satu sama lainnya. Kenaikan muka air laut akan menghasilkan lingkungan laut normal yang merupakan kondisi ideal bagi foraminifera. Akhirnya, dari kajian perubahan kelimpahan foraminifera bentik ini, dapat diperkirakan bahwa pada level kedalaman bor 5,5m, terjadi perubahan lingkungan dari lingkungan laut dangkal-laguna menjadi daratan, yang ditandai dengan musnahnya semua jenis foraminifera bentik, termasuk Ammonia beccarii. HAsil kajian ini merupakan kontribusi baru untuk mempelajari perubahan lingkungan pada lokasi penelitian, terutama penting untuk lebih mengerti mengenai perubahan muka air laut dan perubahan iklim. Keywords: Benthic foraminifera, Holocene, paleoenvironmental changes, sea level changes
ANALYSES OF FORAMINIFERS MICROFAUNA AS ENVIRONMENTAL BIOINDICATORS IN KOTOK BESAR, KOTOK KECIL AND KARANG BONGKOK ISLANDS, KEPULAUAN SERIBU, DKI JAKARTA PROVINCE Nurdin, Nazar; Gustiantini, Luli
BULLETIN OF THE MARINE GEOLOGY Vol 29, No 1 (2014)
Publisher : Marine Geological Institute of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32693/bomg.29.1.2014.62

Abstract

Kepulauan Seribu is a well-known destination of marine tourism in Indonesia. Inevitably, the place has been affected by human activities. Hence it is important to preserve and conserve the area so as it is still suitable for reef community to grow and develop. One of the methods to evaluate the feasibility for reef environment is calculated by FoRAM Index (FI) values. Benthic foraminifera as a tool for environmental bioindicators were collected from 15 marine surface sediment samples in the vicinity areas of Kotok Besar, Kotok Kecil and Karang Bongkok islands in Kepulauan Seribu to assess the FI values. Approximately 20 genera of benthic foraminifera were found in the study area. The genera are dominated by Amphistegina and Calcarina along with Operculina, Quinqueloculina, Peneroplis, and Discorbis. The finding signifies reef flat environment as the dominant morphology, although the presence of fore slope is also observed particularly at the western part of Kotok Besar island. The assemblages of Operculina and Quinqueloculina suggest that the abundance of benthic foraminifera is influenced not only by the morphology of seafloor, but also by tidal current and terrestrial influence. The FI formula using foraminifers found in the study area results values above 4, thus the area can be reviewed as a decent environment for reef growth and development. Keywords: benthic foraminifera; bioindicator; FoRAM Index; coral community; seafloor morphology Kepulauan Seribu terkenal sebagai tujuan wisata laut di Indonesia, sehingga dapat dipastikan tempat ini dipengaruhi oleh aktifitas manusia. Oleh sebab itu sangat penting untuk menjaga dan melindungi kelestarian lingkungannya sehingga tetap cocok bagi komunitas karang untuk hidup dan berkembang. Salah satu metode untuk mengevaluasi kelayakan lingkungan terumbu adalah dengan menghitung nilai FoRAM Index (FI). Untuk analisis ini, foraminifera bentik dikoleksi dari 15 sampel sedimen permukaan laut dari daerah sekitar Pulau Kotok Besar, Kotok Kecil dan Pulau Karang Bongkok di Kepulauan Seribu. Hasil penelitian menunjukkan sekitar 20 genera foraminifera bentik yang ditemukan di daerah penelitian. Foraminifera didominasi oleh Amphistegina dan Calcarina, sedangkan jenis lain yang juga cukup berlimpah adalah Operculina, Quinqueloculina, Peneroplis, dan Discorbis. Hal ini menunjukkan lokasi penelitian memiliki jenis morfologi rataan karang sebagai morfologi dominan, walaupun kehadiran lereng karang (fore slope) juga teramati terutama pada bagian barat pulau Kotok Besar. Distribusi kelimpahan Operculina dan Quinqueloculina menunjukkan bahwa kelimpahan foraminifera bentik selain dipengaruhi oleh morfologi dasar laut juga dipengaruhi oleh pasang surut dan pengaruh terestrial. Hasil perhitungan FI berdasarkan foraminifera di wilayah penelitian menunjukkan nilai FI > 4 sehingga daerah ini dapat ditinjau sebagai lingkungan yang layak untuk pertumbuhan karang dan perkembangannya. Kata kunci: foraminifera bentik; bioindikator; FoRAM Index; komunitas koral; morfologi dasar laut
FORAMINIFERA DI PERAIRAN SEKITAR BAKAUHENI, LAMPUNG (SELAT SUNDA BAGIAN UTARA) Gustiantini, Luli; Dewi, Kresna Tri; Usman, Ediar
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 3, No 1 (2005)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (513.032 KB) | DOI: 10.32693/jgk.3.1.2005.120

Abstract

Penelitian foraminifera bentik dari 15 percontoh sedimen dasar laut di bagian utara Selat Sunda, Perairan Bakauheni, Lampung telah dilakukan secara kuantitatif. Keterdapatan foraminifera bentik di daerah penelitian sangat melimpah dan bervariasi yaitu terdiri dari 142 spesies (65 genera) yang diidentifikasi dari 7.799 spesimen. Berdasarkan penelitian ini diperoleh bahwa kelimpahan dan komposisi spesies foraminifera di bagian timur (sekitar Bakauheni) cenderung lebih tinggi (rata-rata 6,24%) dibandingkan dengan bagian barat (rata-rata 4,7%) daerah penelitian. Hal ini kemungkinan dapat dikaitkan dengan arah pergerakan arus dasar laut yang bekerja di daerah penelitian. Keanekaragaman foraminifera bentik tertinggi terdapat pada titik lokasi BHL-36 yang terletak di bagian barat daerah penelitian dan terdiri dari 104 spesies. Kelimpahan tertinggi (10,07%) terdapat pada titik lokasi BHL-25 yang terletak tidak jauh dari Pelabuhan Bakauheni dan didominasi oleh spesies tertentu yang dapat bertahan hidup. Subordo Rotaliina merupakan kelompok utama di daerah penelitian yang dicirikan oleh genera Asterorotalia, Operculina, dan Elphidium. Benthic foraminifera from fifteen surface sediment samples in the northern part of Sunda Strait, Bakauheni Waters, Lampung have been analysed quantitatively. The occurrences of benthic foraminifera in the study area are very abundance and varied, it comprises of 142 species (65 genera), which is identified from 7,799 specimens. Based on this research, it is resulted that the abundance and diversity of foraminifera in the east (around Bakauheni) are higher (average of 6.24%) than in the west (average of 4,7%) of the study area. It may relate to bottom current pattern that work in the study area. The highest diversity of benthic foraminifera occurs at site BHL-36, which lies in west part of the study area and it comprises of 104 species. The highest number of individu (10.07%) occurs at the site of BHL-25, which is close to Bakauheni Harbour and it is dominated by certain survived species. Subordo Rotaliina is the main group found in the study area that is characterized by genera of Asterorotalia, Operculina, and Elphidium.
DISTRIBUSI FORAMINIFERA BENTIK SEBAGAI INDIKATOR KONDISI LINGKUNGAN DI PERAIRAN SEKITAR PULAU BATAM-RIAU KEPULAUAN Gustiantini, Luli; Usman, Ediar
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 6, No 1 (2008)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1291.012 KB) | DOI: 10.32693/jgk.6.1.2008.149

Abstract

Hasil analisis foraminifera bentik dari 42 percontoh sedimen dasar laut yang diambil dari Perairan Batam menunjukkan kelimpahan yang sangat tinggi, terdiri dari 123 spesies, yang terbagi menjadi 72 spesies dari Grup Rotaliina, 28 spesies Miliolina, dan 23 spesies Textulariina. Berdasarkan analisis cluster, lokasi penelitian terbagi menjadi 5 cluster, yang masing-masing didominasi oleh Asterorotalia trispinosa, Pseudorotalia annectens, Amphistegina radiata, Quinqueloculina cf. Q. philippinensis, dan Operculina ammonoides. Kelima spesies tersebut merupakan penciri lingkungan laut dangkal, sedimen kasar, dan berasosiasi dengan lingkungan berenergi tinggi dan terumbu karang. Penyebaran foraminifera bentik di lokasi penelitian dipengaruhi oleh pola arus, distribusi sedimen, dan terumbu karang. Ada perbedaan distribusi foraminifera bentik yang cukup signifikan antara wilayah sebelah barat dengan di sebelah utara dan timur penelitian. Ketiga area tersebut memiliki pola arus, tingkat energi dan distribusi sedimen yang cukup berbeda. Wilayah Perairan Batam dinilai masih memiliki kondisi lingkungan yang bagus, dilihat dari kelimpahan foraminifera bentik, serta dari nilai tingginya index diversitas yaitu >3. Kata kunci : foraminifera bentik; analisis cluster; indikator lingkungan; Perairan Batam - Riau Analysis of benthic foraminifera from 42 seafloor sediment samples from Batam Waters, shows very high abundance, consists of 123 species, which are 72 species belong to Rotaliina, 28 species of Miliolina, and 23 species of Textulariina. Based on cluster analysis, the study area is divided into 5 groups, each cluster is dominated by Asterorotalia trispinosa, Pseudorotalia annectens, Amphistegina radiata, Quinqueloculina cf. Q. philippinensis, and Operculina ammonoides. These five species of benthic foraminifera are indicators for shallow marine water environment, with coarse sediment fraction and associated with high energy environment and coral reef. The benthic foraminiferal distribution is influenced by current pattern, sediment distribution, and coral reef. There is a significant difference between benthic foraminiferal distribution in the western part with the northern and the eastern parts. These three parts of the study area have different current pattern, energy, and sediment distribution. Batam Waters is assumed still in good environment, derived from both high abundance of benthic foraminifera and the high value of diversity index (>3). Key words : benthic foraminifera; cluster analysis; environmental indicator; Batam Waters
FORAMINIFERA BENTIK DALAM SEDIMEN SEBAGAI INDIKATOR KONDISI LINGKUNGAN TERUMBU KARANG DI PERAIRAN PULAU CEMARA BESAR DAN CEMARA KECIL KEPULAUAN KARIMUNJAWA JAWA TENGAH Gustiantini, Luli; Ilahude, Delyuzar
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 10, No 1 (2012)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (885.257 KB) | DOI: 10.32693/jgk.10.1.2012.213

Abstract

Kepulauan Karimunjawa memiliki nilai konservasi yang tinggi karena kelimpahan, keragaman jenis dan ekosistemnya. Degradasi terumbu karang secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap keseimbangan ekosistem di sekitarnya. Penelitian foraminfera ini dilakukan di sekitar Pulau Cemara Besar dan Cemara Kecil dengan mengambil contoh sedimen dasar laut di dua puluh enam titik lokasi. Tujuan penelitian untuk mengetahui tingkat kelayakan lingkungan terhadap pertumbuhan terumbu karang berdasarkan komposisi foraminifera bentik yang terdapat di Pulau Cemara Besar dan Pulau Cemara Kecil. Metode yang digunakan adalah melalui pendekatan kelimpahan foraminifera bentik dengan menghitung FORAM (Foraminifera inReef Assessment and Monitoring) Index. Pengambilan contoh sedimen untuk memperoleh sampel foraminifera yang dilakukan dengan penyelaman dan sebagian dengan menggunakan pemercontoh comot. Secara umum, perairan di sekitar Pulau Cemara Besar sangat kondusif untuk pertumbuhan terumbu karang dengan nilai FORAM Index FI > 5. Foraminifera bentik yang mendominasi adalah Amphistegina, Calcarina, Streblus dan Reusella. Di bagian barat dan baratlaut Pulau Cemara Kecil, kelimpahan foraminifera bentik sangat rendah, dan juga memperlihatkan ornamentasi cangkang yang tidak jelas. Hal tersebut menunjukkan bahwa pada kedua daerah ini kondisi lingkungan terumbu sudah mulai terganggu. Kondisi terganggu ini didukung oleh dominannya jenis Streblus yang biasanya merupakan indikator lingkungan yang berenergi tinggi, serta hadirnya jenis-jenis opportunistic lainnya seperti Pseudorotalia dan Elphidium. Kata kunci : Foraminifera, FORAM Index, Pulau Cemara Besar, Pulau Cemara Kecil, Kepulauan Karimunjawa. Karimun Islands has high conservation value due to the abundance, diversity of types and only recently. Degradation of coral reefs would indirectly affect the balance of the ecosystem around it. The research was carried out in the vicinity of foraminfera Cemara Besar Island and Cemara Kecil Island by taking samples of the seabed sediments in twenty-six point location. The purpose of the research to determine the level of environmental worthiness against the growth of coral reefs based on composition of benthic foraminifera in the Cemara Besar and Cemara Kecil Island. The method used is through the abundance of benthic foraminifera with the approach to calculating FORAM (Foraminifera inReef Assessment and Monitoring) Index. Sediment sampling to obtain samples of foraminifera are done with dives and partly by using the grabsamples. In General, the waters around the island of Cemara Besar is conducive to the growth of coral reefs with Index FI FORAM > 5. Benthic Foraminifera are dominating, Calcarina, Amphistegina, Streblus and Reusella. In the West and Northwest of Cemara Kecil, benthic foraminifera abundance is very low, and it also exposes additional shells was unclear. It shows that on both these areas has already begun to environmental conditions of coral is disturbed. Disturbed conditions is supported by his dominions of Streblus which usually is an indicator of high energy environments, as well as the presence of other opportunistic types such as Pseudorotalia and Elphidium. Keywords: Foraminifera, FORAM Index, Cemara Besar Island, Cemara Kecil Island, Karimun Islands.
DISTRIBUSI FORAMINIFERA DI LAUT HALMAHERA DARI GLASIAL AKHIR SAMPAI RESEN Gustiantini, Luli; Maryunani, Maryunani; Zuraida, Rina; Kissel, C.; Bassinot, F.
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 13, No 1 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32693/jgk.13.1.2015.259

Abstract

Mikrofauna foraminifera telah banyak digunakan sebagai proksi dalam penelitian paleoseanografi dan perubahan iklim purba. Kelimpahan dan komposisi kimia cangkang foraminifera merekam berbagai informasi yang dapat diinterpretasi berkaitan dengan perubahan lingkungan berdasarkan parameter-parameter paleoseanografi. Paleoseanografi Laut Halmahera sangat penting untuk dikaji karena berpengaruh terhadap dinamika iklim Indonesia dan iklim global. Perubahan-perubahan parameter oseanografi tersebut mempengaruhi sirkulasi arus global dan interaksi antara air-udara yang berperan terhadap penyebaran uap air ke lintang tinggi. Oleh karena itu tujuan penelitian ini adalah mempelajari distribusi foraminifera untuk rekonstruksi perubahan paleoseanografi di Laut Halmahera dan sekitarnya. Data foraminifera ini didukung dengan pemodelan umur dan rekonstruksi isotop stratigrafi berdasarkan analisis d18O G. ruber dan C14 radiokarbon dating. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan foraminifera di Laut Halmahera sangat dipengaruhi oleh iklim global. Kelimpahan foraminifera terutama didominasi oleh G. ruber, G. bulloides, P. obliqueloculata, N. dutertrei, dan G. menardii dari jenis planktonic. Sedangkan jenis bentik didominasi oleh Bulimina spp., Bolivinita quadrilatera, Bolivina spp., dan Uvigerina spp. Biozonasi foraminifera menunjukkan korelasi yang sangat baik dengan data ?18O dan mencerminkan perubahan – perubahan iklim di masa lalu yang terjadi sejak 50.000 tahun yang lalu antara lain glasial akhir yang berlangsung sejak zona 1 - 4b, LGM (subzone 4b), deglasiasi (subzona 4c), kondisi seperti YD dari bumi bagian utara atau ACR dari bumi bagian selatan pada awal zona 5, interglasial (pertengahan zona 5), dan Mid Holosen Maksimum pada pertengahan subzona 5a. Kata kunci: Distribusi foraminifera, paleoseanografi, isotop oksigen, perubahan iklim global, Laut Halmahera. Microfauna foraminifera has been widely used as a potential proxy for paleoceanography and paleoclimatological changes. Its assemblages and its test geochemical composition preserve important data that could interprete various oceanographic parameters related to the paleoenvironmental changes. The paleoceanography dynamic of Halmahera sea is very important to be studied due to its great impact to Indonesian and global climate. The changes of its oceanographic parameters influence the thermohaline circulation and the air-sea interaction that contribute to the water favour distribution to the high latitudes. Therefore this research purpose is to analyze the foraminiferal distribution in order to reconstruct the paleoceanography changes of Halmahera sea and surrounded. This foraminiferal study is supported by the age model reconstruction and isotope stratigraphy analysis based on d18O G. ruber and 14C dating. The result suggests that foraminiferal assemblage was influenced by global climate changes. Planktonic foraminifera is dominated by G. ruber, G. bulloides, P. obliqueloculata, N. dutertrei, and G. menardii. Benthic foraminifera is dominated by Bulimina spp., Bolivinita quadrilatera, Bolivina spp., and Uvigerina spp. Foraminiferal biozonation indicates coherent correlation with ?18O record, and reflects global paleoclimatic changes that occurred since the 50 ka BP. Those paleoclimatic changes are last glacial (zone 1 - subzone 4b), LGM (zone 4b), deglaciation that was started from subzone 4c, condition of YD like of Northern Hemisphere climate or ACR like of the Southern Hemisphere climate (the beginning of zone 5), interglacial (middle of zone 5), and Mid Holocene Maximum at the middle of subzone 5a.Keywords: Foraminiferal distribution, paleoceanograhy, oxygen isotope, global climate changes, Halmahera sea,
OSTRACODA SEBAGAI INDIKATOR PERUBAHAN LINGKUNGAN PERAIRAN SEKITAR PLTU TARAHAN, TELUK LAMPUNG, SUMATERA Dewi, Kresna Tri; Adhirana, Indra; Priohandono, Yusuf Adam; Gustiantini, Luli
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 14, No 1 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (707.054 KB) | DOI: 10.32693/jgk.14.1.2016.335

Abstract

Teluk Lampung terletak di bagian selatan Pulau Sumatera yang berhadapan dengan Selat Sunda.  Kualitas ingkungan perairan ini secara perlahan menurun sebagai akibat pertumbuhan berbagai aktifitas manusia di kawasan pesisir.  Tujuan dari studi ini adalah untuk memahami  struktur komunitas ostracoda sebagai komponen sedimen laut terkait dengan perubahan lingkungan perairan ini. Studi ini menggunakan  22 sub-sampel sedimen dari 4 titik lokasi di lepas pantai sekitar PLTU Tarahan dan beberapa sampel sedimen permukaan yang mewakili kondisi lingkungan saat ini. Kemudian sampel sedimen ini dicuci dalam ayakan berbukaan 0.063 mm, dikeringkan dan digunakan untuk studi ostracoda dengan bantuan mikroskop binokuler. Hasilnya menunjukkan bahwa secara vertikal kelimpahan ostracoda menurun atau tidak hadir di beberapa lapisan bawah dasar laut. Hal ini kemungkinan berkaitan dengan erupsi Gunung Krakatau tahun 1883 yang ditunjang oleh keterdapatan material batu apung di lapisan-lapisan sedimen ini. Secara horizontal, ostracoda dari sampel permukaan atau dasar laut cukup bervariasi dan melimpah namun juga menemukan spesimen abnormal seperti rusak dan terisi atau tertutup oleh material berwarna gelap yang mengandung Al2O3 (17,54%) and SiO2 (37,52%). Hal ini kemungkinan berkaitan dengan menurunnya kondisi lingkungan daerah penelitian yang berpengaruh pada habitat ostracoda.Katakunci: ostracoda, spesimen abnormal, perubahan lingkungan, Teluk Lampung Lampung Bay is located in the southern part of Sumatera island that facing to the Sunda Strait. This bay is gradually degradation environment as a result of growing various human activities in the coastal area.  The purpose of this study is to understand the community structure of ostracoda as component of marine sediments related to environmental changes of this area.  This study used 22 sediment sub-samples from four sites in the offshore area of Tarahan power plant and several surface sediment samples represented the present environmental condition. These samples were then washed through 0.063 mm sieve, dried and used for  ostracod study under a binocular microscope. The result shows that,  the ostracoda assemblages, vertically, are decrease or disappear at certain layers below seafloor. It may related to the eruption of Krakatau Volcano in 1883 that was supported by finding of pumice materials in these layers. Horizontally,  ostracod from surface sediments is quite diverse and abundant but we also found abnormal specimens such as abraded and filled or covered by Al2O3 (17,54%) and SiO2 (37,52%).  It may related to decline environment in the study area that likely affect the habitat of ostracoda. Keywords: ostracoda, abnormal specimens, Tarahan power plant.
Foraminiferal Analysis Related to Paleoceanographic Changes of Arafura Sea and Surrounding During Holocene Gustiantini, Luli; Piranti, Swasty Aninda; Zuraida, Rina; Hyun, Sangmin; Ranawijaya, Duddy A.S.; Prabowo, F.X. Harkinz Hendro
BULLETIN OF THE MARINE GEOLOGY Vol 33, No 2 (2018)
Publisher : Marine Geological Institute of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32693/bomg.33.2.2018.571

Abstract

Arafura Sea is located between Papua and Australia as a part of Sahul Shelf. It is strongly influenced by ITF, ITCZ replacement, monsoon, and ENSO circulation that interplay with local mechanism. To understand the paleoceanographic parameter changes during Holocene, we conducted foraminiferal quantitative analysis from a 152 cm length sediment core (Aru–07), in every 10 cm interval. This sediment core was retrieved from 134o00’33.6” E, 5o55’51.59” S, by RV Geomarin 3 belongs to Marine Geological Institute. Geochronology of the sediment was reconstructed based on 2 AMS 14C age dates, analyzed on organic samples. We identified 129 species of benthic and 24 species of planktonic foraminifera that is dominated by planktonic specimens with average of 53.14%. Predominant species are Globigerina bulloides (16.16%), Globigerinoides ruber (11.18%), and Neogloboquadrina dutertrei (5.65%). Benthic type is dominated by genera Bolivina, Bulimina, and Uvigerina by 25.86% (average). This might suggest eutrophic condition associated with carbon-rich or low oxygen level (dysoxic) condition. Single linkage cluster analysis revealed 3 paleoenvironmental zones, are: Zone I: older than 3.9 kyr BP, characterized by depleted oxygen level and nutrient enrichment compared to that of younger zone. Zone II: 3.9 – 2 kyr BP, characterized by oxygen content enrichment and deeper thermocline layer, related to the sea level rise during more neutral or La Niña like condition. Zone III: younger than 2 kyr BP, represent shallower thermocline layer, higher productivity which might be related to upwelling, and dysoxic condition. Sea level might be declined that related to more El Niño like condition.Keywords: Paleoceanographic changes, upwelling, foraminiferal analysis, Arafura SeaLaut Arafura berlokasi di antara Papua dan Australia sebagai bagian dari Paparan Sahul. Kondisi iklim sangat dipengaruhi oleh ITF, perpindahan ITCZ, monsun, dan ENSO yang berinteraksi dengan mekanisme lokal. Untuk memahami perubahan parameter oseanografi selama Holosen, kami melakukan analisis kuantitatif mikrofauna foraminifera, yang dilakukan terhadap sebuah bor sedimen laut sepanjang 152 cm (Aru–07) pada interval setiap 10 cm. Bor sedimen bawah laut ini telah diambil pada posisi 134o00’33.6” BT, 5o55’51.59” LS, menggunakan kapal penelitian Geomarin 3, Pusat Penelitian Geologi Kelautan. Geokronologi sedimen berdasarkan 2 radiocarbon dating, dianalisis dari sampel organik pada sedimen. Teridentifikasi 129 spesies bentik dan 24 spesies plangtonik yang didominasi oleh plangtonik dengan persentase rata-rata 53.14%. Foraminifera Jenis–jenis yang dominan antara lain Globigerina bulloides (16.16%), Globigerinoides ruber (11.18%), dan Neogloboquadrina dutertrei (5.65%). Sedangkan jenis bentik didominasi oleh genus Bolivina, Bulimina, dan Uvigerina, dengan persentase rata–rata 25.86%. Hal tersebut kemungkinan menunjukkan kondisi eutropik yang berasosiasi dengan kondisi kaya karbon dan rendah level oksigen (disoxic). Analisis cluster single linkage menunjukkan tiga zona utama, yaitu: Zona I: lebih tua dari 3.9 kyr BP, dicirikan oleh relatif rendahnya kandungan oksigen dan lebih kaya kandungan nutrien. Zona II: 3.9 – 2 kyr BP, dicirikan oleh meningkatnya kandungan oksigen, dan mendalamnya lapisan termoklin, berkaitan dengan meningkatnya muka air laut ketika kondisi netral atau kondisi seperti La Niña. Zona III: lebih muda dari 2 kyr BP, merupakan zona dengan kondisi lapisan termoklin yang mendangkal, produktifitas meningkat yang kemungkinan berkaitan dengan upwelling, dan kondisi disoxic. Muka air laut kemungkinan turun, berasosiasi dengan kondisi seperti El Niño.Kata kunci: Perubahan paleoseanografi, upwelling, analisis foraminifera, Laut Arafura