Articles

Found 5 Documents
Search

REDUKSI AKTIVITAS URANIUM DALAM LIMBAH RADIOAKTIF CAIR MENGGUNAKAN PROSES ELEKTROKOAGULASI Prayitno, Prayitno; Ridantami, Vemi; Prayogo, Imam
Urania Jurnal Ilmiah Daur Bahan Bakar Nuklir Vol 22, No 3 (2016): Oktober 2016
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Bakar Nuklir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (742.662 KB) | DOI: 10.17146/urania.2016.22.3.3187

Abstract

ABSTRAKREDUKSI AKTIVITAS URANIUM DALAM LIMBAH RADIOAKTIF CAIR MENGGUNAKAN PROSES ELEKTROKOAGULASI. Limbah yang dihasilkan dari proses pengembangan bahan industri bersifat radioaktif yang mengandung uranium yang dapat menimbulkan dampak negatif pada manusia dan lingkungan. Pengolahan limbah radioaktif pada saat ini masih banyak menggunakan bahan-bahan kimia.Penambahanbahan kimiauntuk mereduksi bahan pencemar dinilai kurang efisien karena kurang ramah lingkungan, memerlukan waktu yang lama, dan biaya yang mahal. Untuk itu akan diterapkan metode proses elektrokoagulasi untuk menurunkan aktivitas uranium dari larutan limbah cair. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efisiensi penurunan aktivitas uranium dalam limbah radioaktif cair yang dihasilkan pada proses elektrokoagulasi dengan variasi tegangan, waktu tinggal, jarak elektroda dan pH inlet limbah. Limbah simulasi yang digunakan memiliki kadar kontaminan uranium sebesar 500 mg/L. Percobaan ini dilakukan dengan metode batch dengan elektroda aluminium. Hasil penelitian diperoleh parameter optimal pada tegangan 12,50 V, jarak 1 cm, pH 7, dan waktu proses selama 60 menit diperoleh efisiensi penurunan limbah uranium sebesar 97,20 %.Kata Kunci:elektrokoagulasi, reduksi limbah uranium, tegangan, aluminium. ABSTRACTREDUCTION OF URANIUM ACTIVITIES IN LIQUID WASTE RADIOACTIVE BY USING OF ELCTROCOAGULATION PROCESS.  Waste generated from the process of the industrial material development one of which waste containing uranium radioactive, can have negative impact on humans and the environment. In  the present time, chemicals are still mostly use in radioactive waste treatment. To reduce pollutants with the use of chemicals is less efficient, because less environmentally friendly, take long time and costly. Therefore, a system of electrocoagulation process will be applied to decrease the activity of uranium from waste solution. The purpose of this study is to determine the efficiency of uranium activity decrease in waste water which is produced in the electrolysis process is conducted with voltage variations, the dwelling time, electrode spacing, and the waste inlet pH. The waste that will be treated has uranium contaminant levels of 500 mg/L. The experiment was conducted by a batch system with aluminum electrodes. Parameters affecting electrocoagulation process, such as voltage, time, distance electrode, and the pH have been studied and the best voltage optimization condition has been obtained of 12.50 V, a distance of 1 cm, pH 7, and in the processing time of 60 minutes efficiency of 97.20 % was obtained.Keywords: electrocoagulation, reduction of uranium waste, voltage, aluminium.
PERBANDINGAN ANTROPOMETRI ATLET GULAT GAYA BEBAS DAN GAYA GREGO PUSLATDA JAWA TIMUR PRAYOGO, IMAM; JATMIKO, TUTUR
Jurnal Prestasi Olahraga Vol 1, No 2 (2019)
Publisher : Jurnal Prestasi Olahraga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PERBANDINGAN ANTROPOMETRI ATLET GULAT GAYA BEBAS DAN GAYA GREGO ROMAN PUSLATDA JAWA TIMUR IMAM PRAYOGO Mahasiswa S-1 Pendidikan Kepelatihan Olahraga, Fakultas Ilmu Olahraga, Universitas Negeri Surabaya E-Mail : bonjol928@gmail.com TUTUR JATMIKO, S.Pd., M.Kes. Dosen S-1 Pendidikan Kepelatihan Olahraga, Fakultas Ilmu Olahraga, Universitas Negeri Surabaya E-Mail: Abstrak Di zaman modern banyak orang yang tertarik dengan olahraga. karena disamping olahraga dapat menyenangkan dan dapat menghilangkan stres. olahraga juga dapat menyehatkan tubun dan tubuh menjadi bugar. banyak macam olahraga yang populer di zaman sekarang seperti olahraga permainan, individu, beladiri, aquatik, dan lintasan. Dalam dunia olahraga dikenal dengan beberapa cabang olahraga beladiri salah satunya adalah gulat, cabang olahraga yang dilengkapi dengan peraturan dan dipatuhi oleh pesertanya. Olahraga gulat memiliki beberapa macam kategori teknik yaitu: teknik-teknik tangkapan, teknik bantingan, dan teknik gulungan. Dalam olahraga gulat terdapat dua kategori gaya bertanding yaitu gaya bebas dan gaya grego. Dalam olahraga gulat ada beberapa faktor pendukung kesuksesan atlet salah satunya adalah antropometri, Antropometri adalah ilmu yang mempelajari pengukuran dimensi tubuh manusia (ukuran, berat, volume, dan panjang) dan karakteristik khusus dari tubuh seperti ruang gerak. Antropometeri yang diteliti meliputi massa otot lengan, massa otot kaki, massa lemak, tinggi badan dan berat badan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan memperoleh data skunder dari KONI Jawa Timur pada PON Jawa Barat 2016. Rata-rata massa otot lengan kanan atlet gulat gaya bebas 2,06 dan atlet gulat gaya grego 2,06 , rata-rata massa otot lengan kiri atlet gulat gaya bebas 2,04 dan atlet gulat gaya grego 1,94 maka atlet gulat gaya bebas lebih baik dari pada gaya grego dengan selisih 0,12, rata-rata massa otot kaki kanan atlet gulat gaya bebas 6,26 dan gaya grego 6,02 maka massa otot kaki kanan gulat gaya bebas lebih kuat dari pada gaya grego dengan selisih 0,24, rata-rata massa otot kaki kiri atlet gulat gaya bebas 6,26 dan gulat gaya grego 5,84 maka massa otot kaki kiri atlet gulat gaya bebas lebih kuat dari gaya grego dengan selisih 0,42, rata-rata massa lemak atlet gulat gaya bebas 6,69 kg dan gaya grego 8,71 maka massa lemak atlet gulat gaya bebas lebih rendah dari pada atlet gulat gaya grego dengan selisih 2,02, rata-rata tinggi badan atlet gulat gaya bebas 1,68 dan gaya grego 1,66 maka atlet gaya bebas memiliki rata-rata lebih tinggi dengan selisih 0,02, rata-rata berat badan atlet gulat gaya bebas 71,57dan gaya grego 70,86 maka atltet gulat gaya bebas lebih berat dari faya frefo dengan selisih 0,71, rata-rata indeks massa tubuh atlet gulat gaya bebas 25,16 dan gaya grego 25,37 maka atlet gulat gaya bebas lebih rendah dari atlet gulat gaya grego dengan selisih 0,21. Hasil pengolahan data yang diperoleh dari KONI Jawa Timur bahwa semua hasil yang diperoleh atlet gulat gaya bebas lebih baik dari pada massa otot atlet gulat gaya grego. Kata kunci: gulat,gaya bertanding, antropometri Abstract In modern times many people are interested in sports. because besides exercise can be fun and can relieve stress. exercise can also be healthy for the body and the body becomes fit. many types of sports are popular in the present era such as sports, individual, martial arts, aquatics, and trajectory. In the world of sports known as a number of martial arts sports, one of them is wrestling, a sport that is equipped with regulations and obeyed by its participants. Wrestling sports have several categories of techniques, namely: catching techniques, kickback techniques, and roll techniques. In wrestling there are two categories of competing styles, namely freestyle and grego style. In wrestling sports there are several supporting factors for athlete success, one of which is anthropometry, Anthropometry is the study of measurements of human body dimensions (size, weight, volume, and length) and special characteristics of the body such as space. The anthropometry studied included arm muscle mass, leg muscle mass, fat mass, height and weight. This research uses quantitative descriptive method by obtaining secondary data from KONI East Java in West Java PON 2016. Average muscle mass of freestyle athlete wrestling right arm 2.06 and grego style wrestling athlete 2.06, average left arm muscle mass freestyle wrestling athletes 2.04 and grego style wrestling athletes 1.94 then freestyle wrestling athletes are better than grego style with a difference of 0.12, the average freestyle athlete wrestling 6.43 muscle mass and grego 6 style , 02 the freestyle wrestling right leg muscle mass is stronger than the grego style with a difference of 0.24, the average muscle mass of the left leg wrestling athlete of the freestyle 6.26 and grego style wrestling 5.84, the muscle mass of the wrestling athletes left leg freestyle is stronger than grego style with a difference of 0.42, the average fat mass of freestyle wrestling athlete 6.69 kg and grego style 8.71, the fat mass of freestyle wrestling athletes is lower than grego style wrestling athletes with a difference of 2 , 02, the average freestyle wrestling athlete height is 1.68 and g if the grego is 1.66, the freestyle athlete has a higher average of 0.02 difference, the average freestyle athlete body weight 71.57 and the grego style 70.86, then the freestyle wrestling weight is heavier than the frefo mode with the difference 0.71, the average body mass index of freestyle wrestling athletes 25.16 and grego style 25.37, freestyle wrestling athletes are lower than grego style wrestling athletes with a difference of 0.21. The results of processing data obtained from KONI East Java that all the results obtained by freestyle wrestling athletes were better than the grego style wrestling athletes muscle mass. Keywords: wrestling, competing style, anthropometry.
TEKNIK PEMELIHARAAN LARVA KERAPU CANTANG (Epinephelus fuscoguttatus lanceolatus) Prayogo, Imam; Isfanji, Washil
Samakia : Jurnal Ilmu Perikanan Vol 5 No 1 (2014): Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan
Publisher : Faculty of Science and Technology University Ibrahimy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.402 KB) | DOI: 10.5281/jsapi.v5i1.211

Abstract

Ikan kerapu (Epinephelus sp.) merupakan salah satu jenis ikan laut yang mempunyai nilai gizi tinggi dan protein hewani yang  baik untuk dikonsumsi, selain itu ikan kerapu memiliki peluang  pasar yang  cerah baik dipasaran domestik maupun dipasaran internasional.  Timbulnya  berbagai masalah pada  proses budidaya  ikan kerapu maka para pembudidaya melakukan hibridisasi (persilanagan). Hibridisasi yang  dilakukan pada  ikan kerapu macan betina  dan kerapu kertang jantan menghasilkan satu varietas baru yaitu ikan kerapu cantang. Penelitian ini  dilakukan  dengan  tujuan untuk  mengetahui  secara langsung  teknik pemeliharaan  larva kerapu  cantang (Epinephelus sp.) serta mengetahui faktor yang berpengaruh pada  proses  pemeliharaannya. Penelitian ini menggunakan metode survey dengan pengambilan data primer dilakukan melalui observasi, wawancara, dokumentasi serta partisipasi langsung dalam seluruh rangkaian kegiatan pembenihan kerapu cantang di Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo. Sedangkan data sekunder dilkumpulkan melalui studi pustaka. Kegiatan pemeliharan larva ikan kerapu cantang di BBAP, meliputi, persiapan bak, penebaran dan penetasan telur, pemeliharan larva, pemberian pakan serta  pemanenan.
PEMBENIHAN IKAN KERAPU TIKUS (Cromileptes altivelis) DI BALAI PERIKANAN BUDIDAYA AIR PAYAU SITUBONDO Prayogo, Imam; Hidayat, Farid
Samakia : Jurnal Ilmu Perikanan Vol 5 No 2 (2014): Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan
Publisher : Faculty of Science and Technology University Ibrahimy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.742 KB) | DOI: 10.5281/jsapi.v5i2.276

Abstract

Penelitian ini dilakukan di Balai Perikanan Budidaya Air Payau  Situbondo pada tanggal  Februari  sampai dengan April  2013. Materi penelitian adalah perkembangan telur kerapu tikus (Cromileptes altivelis) hingga ukuran benih. Kegiatan pembenihan ikan kerapu tikus yang dilakukan  di Balai Budidaya Air Payau Situbondo meliputi, persiapan wadah, pemeliharaan induk, pemijahan induk, penangan telur, pemeliharaan larva, kultur pakan alami, manajemen kualitas air serta panen benih. Proses Pemijahan induk dilakukan pada bulan terang dan bulan gelap setelah dipelihara dengan manajemen pakan yang telah ditentukan. Pengamatan telur dilakukan mulai dari pagi hari (umur telur ±4 jam) hingga menetas ( ± 28 jam) dengan menggunakan mikroskop cahaya dengan perbesaran 10 x10. Pemeliharaan larva bertujuan untuk memperoleh benih yang dihasilkan secara optimal biasa dilakukan selama 45 – 55 hari. Benih yang akan panen berukuran 2 hinga 5 cm dan siap di kirim ke konsumen terlebih dulu dipuasakan antara 12 – 24 jam dengan tujuan  mengurangi  pengeluaran kotoran (feses)  pada saat pengangkutan benih .
TEKNIK KULTUR PAKAN ALAMI Chlorella sp. dan Rotifera sp. SKALA MASSAL DAN MANAJEMEN PEMBERIAN PAKAN ALAMI PADA LARVA KERAPU CANTANG Prayogo, Imam; Arifin, Miftahol
Samakia : Jurnal Ilmu Perikanan Vol 6 No 2 (2015): Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan
Publisher : Faculty of Science and Technology University Ibrahimy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.071 KB) | DOI: 10.5281/jsapi.v6i2.293

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk untuk mengetahui teknik kultur pakan alami (Chlorella sp, Rotifera sp) skala massal dan manajemen pemberian pakan alami pada larva Kerapu Cantang (Epinephelus sp) di BPBAP Situbondo.  Pupuk yang digunakan adalah: UREA = 400 gr, ZA = 300 gr dan TSP/SP-36 = 200 gr. Setelah pemupukan, bak diisi inokulan Chlorella sp. sebanyak 20 %  dialirakan  menggunakan  selang 1 inchi dan pompa berkapasitas 450 V sampai tersebar merata (ditandai warna hijau pada seluruh bagian permukaan bak kultur). Pemanenan Chlorella sp. dilakukan setelah masa pemeliharaan 7 -8 hari. Kultur massal Rotifer dilakukan dalam bak  terbuka berkapasitas 5 ton  Pemanenan dilakukan jika sudah melewati masa pemeliharaan 4 - 5 hari dengan menggunakan planktonet yang berukuran 300 mikron. Pendistribusian Chlorella sp. pada larva Kerapu  Cantang sejak D2 - D30 dengan  kepadatan 15.000-20.000 sel/cc atau ½ ton sampai 1 ton. Pemberian Chlorella sp. dilakukan pada pagi hari yaitu jam 07.00 WIB.  Sedangkan Rotifera sp. diberikan pada larva Kerapu  Cantang sejak D2 – D30 secara bertahap yaitu pada D2 = 2 - 5 ind/ ml.  Sedangkan pada D3 -  D30 = 5 - 10 ind/ml. Pemberian Rotifera sp.dilakukan pada jam 08.00 WIB