Articles

Found 4 Documents
Search

Analisis Kandungan Logam Berat Timbal (Pb) Pada Makrozoobenthos Di Kawasan Mangrove Desa Pusakajaya Utara Kecamatan Cilebar Karawang

Jurnal Perikanan Kelautan Vol 7, No 2 (2016): Jurnal Perikanan dan Kelautan
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (452.899 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui konsentrasi logam timbal pada makrozoobenthos, di kawasan mangrove Desa Pusakajaya Utara Kecamatan Cilebar Kabupaten Karawang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Pengukuran kandungan logam berat pada air, sedimen dan makrozoobenthos dengan menggunakan metode potensiometrik. Makrozoobenthos di kawasan mangrove Desa Pusakajaya Utara yang teridentifikasi terdiri dari 5 genus yang seluruhnya tergolong dalam filum moluska dan kedalam kelas gastropoda. Kecuali 1 genus yang tergolong dalam filum arthropoda dan kedalam kelas malacostraca. Kelimpahan makrozoobenthos paling rendah berada di Stasiun 2 dengan kepadatan 171 individu/m2 dan kelimpahan tertinggi berada pada Stasiun 1 dengan kepadatan 236 individu/m2. Kandungan logam timbal pada makrozoobenthos berkisar antara 22,431 – 25,222 mg/kg secara umum lebih rendah dari kandungan logam timbal pada sedimen dengan kandungan logam timbal berkisar antara 31,897 – 36,689 mg/kg sementara kandungan logam timbal pada air berkisar antara 5,398 – 6,670 ppm.

Pengaruh Penambahan Tepung Biji Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus) pada Pakan Komersial Terhadap Tingkat Kematangan Gonad Ikan Gurame (Osphronemus gouramy)

Jurnal Perikanan Kelautan Vol 9, No 2 (2018): Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol. IX No. 2 /Desember 2018
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.279 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jumlah penambahan tepung biji kecipir pada pakan komersial serta mengetahui dosis optimal yang dapat meningkatkan kematangan gonad ikan gurame. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari – Mei 2017 di Balai Pengembangan dan Pemacuan Stok Ikan Gurame dan Nilem (BPPSIGN) Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari lima perlakuan termasuk kontrol dan tiga kali ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah penambahan tepung biji kecipir sebanyak 0% (kontrol) per kg pakan, 3% per kg pakan, 5% per kg pakan, 8% per kg pakan dan penambahan dengan vitamin E sebagai kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian penambahan tepung biji kecipir pada pakan komersial sebanyak 5% per kg pakan dapat meningkatkan kematangan gonad ikan gurame dengan hasil diameter telur rata-rata sebesar 2,33 mm, derajat pembuahan telur sebesar 92,1% dengan jumlah telur yang dibuahi 2700 butir, dan  derajat penetasan telur sebesar 64,8% dengan jumlah telur yang menetas 1750 butir.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jumlah penambahan tepung biji kecipir pada pakan komersial serta mengetahui dosis optimal yang dapat meningkatkan kematangan gonad ikan gurame. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari – Mei 2017 di Balai Pengembangan dan Pemacuan Stok Ikan Gurame dan Nilem (BPPSIGN) Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari lima perlakuan termasuk kontrol dan tiga kali ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah penambahan tepung biji kecipir sebanyak 0% (kontrol) per kg pakan, 3% per kg pakan, 5% per kg pakan, 8% per kg pakan dan penambahan dengan vitamin E sebagai kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian penambahan tepung biji kecipir pada pakan komersial sebanyak 5% per kg pakan dapat meningkatkan kematangan gonad ikan gurame dengan hasil diameter telur rata-rata sebesar 2,33 mm, derajat pembuahan telur sebesar 92,1% dengan jumlah telur yang dibuahi 2700 butir, dan  derajat penetasan telur sebesar 64,8% dengan jumlah telur yang menetas 1750 butir.

Kelimpahan Bakteri Coliform Pada Air Laut, Sedimen dan Foraminifera Jenis Calcarina Di Ekosistem Terumbu Karang Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta

Jurnal Akuatika Indonesia Vol 3, No 1 (2018): Jurnal Akuatika Indonesia (JAkI)
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan Universitas Padjadjaran, Grha. Kandaga (P

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bakteri coliform sudah lama dikenal sebagai bioindikator cemaran bahan organik di suatu perairan. Perairan laut merupakan muara bagi semua jenis limbah baik organik maupun anorganik yang berasal dari daratan. Foraminifera yang merupakan diatom bentik yang khas ditemukan di ekosistem terumbu karang juga dapat terkontaminasi bakteri coliform pada perairan yang mengalami kondisi pencemaran bahan organik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai kelimpahan bakteri coliform pada air laut, sedimen dan foraminifera jenis calcarina. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Maret sampai Agustus 2017 di Laboratorium Mikrobiologi dan Bioteknologi Molekuler (MICROMOL) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Padjadjaran. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode Most Probable Number (MPN) yang dibandingkan dengan standar baku mutu Kep-51/MENKLH/2004. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan bakteri coliform pada air laut yaitu 9->1100 MPN/100 mL, pada sedimen sebesar 7-803,33 MPN/100 g dan yang ditemukan pada foraminifera jenis calcarina berkisar <3-16 MPN/100 g. Nilai bakteri coliform yang didapat pada sampel sedimen dan foraminifera masih dibawah ambang batas baku mutu Kementrian Lingkugan Hidup Nomor 51 tahun 2004. Namun, Pada sampel air laut hanya stasiun 1 dan stasiun 2 sudah melebihi batas ambang baku mutu yaitu 1100 MPN/100 ml.

Antibacterial Activity of Haslea ostrearia Supernatant Adapted in Indonesia against Pathogenic Bacteria Relevant to Mariculture (In-Vitro Study)

Journal Omni-Akuatika Vol 15, No 1 (2019): Omni-Akuatika May
Publisher : Fisheries and Marine Science Faculty - Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Haslea ostrearia has known as the only diatom which synthesizes a water-soluble blue pigment, marennine. It has some biological activities such as allelopathy, antioxidant, antibacterial, antiviral, and growth inhibitor. Marennine is available in two forms, intracellular which located in the apical of the cell and extracellular which released into the culture medium. This research aimed to test the bioactivity of Haslea ostrearia supernatant adapted in Indonesia as an antibacterial against pathogenic bacteria relevant to marine culture using in-vitro study. This research was using an explorative method, data analysed statistically and descriptive-comparatively observed. Observation parameters were the inhibitory zone of antibacterial activity, absorbance value of MIC test, and bacterial growth qualitatively from MBC test. Marennine concentration in the supernatant of Haslea ostrearia adapted in Indonesia is about 3.74 mg. L-1. The highest concentration supernatant of Haslea ostrearia that shown antibacterial activity is 3.5 mg. L-1 with inhibitory zone diameter is about 6.87 mm for Staphylococcus aureus and 7.14 mm for Vibrio harveyi, correspondingly. The minimum concentration that inhibits the growth of Staphylococcus aureus is 0.03 mg. L-1, while for Vibrio harveyi is 0.06 mg. L-1. Antibacterial activity of supernatant Haslea ostrearia originally adapted in Indonesia classified into bacteriostatic