Nurwadjedi, Nurwadjedi
Badan Informasi Geospasial

Published : 2 Documents
Articles

Found 2 Documents
Search

ASSESSMENT OF THE RICE FIELD SUSTAINABILITY IN JAVA ON BASIS OF REGIONAL SPATIAL USE PLANNING (RTRW)

GEOMATIKA Vol 16, No 1 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.946 KB)

Abstract

The problems of the rice field sustainability in Java as the national rice producer are induced by the rice field land conversion into settlement and industrial areas due to the increase of population. The rice field conversion causes the decrease of both land quantity and quality. As mentioned in Act Number 26/2007 concerning Spatial Use management, the goal of implementing the spatial use management is to achieve the protection of spatial use function and the prevention of the negative impacts of the environment resulted from the spatial use implementation. The objective of this study is to assess the consistency of the governmental policies in implementing the Act Number 26/2007 to achieve the rice field sustainability on the basis of agro-ecological concept. By using the GIS modelbase, the rice field agro-ecological zones proposed as standard rice field areas for the benchmark of the sustainable rice field agriculture management system were synthesized from the spatial database of land system, land cover, area status, agro-climate, irrigation condition, social and culture integrated in the administration boundary layers. The results show that the governmental policies from non-agricultural sector in allocating the area status of the settlement areas as presented at the provincial regional spatial use planning map (RTRW map) have not fully consistent to the regulations as stated in Act Number 26/2007 for protecting the productive rice field function as the national rice producer. The potential loss of the rice production caused by the implementation of the rice field conversion into settlement areas allocated at the productive rice field agro-ecological zones is predicted 3.5 million tons per year.Key words: rice field agro-ecological zone, spatial use management, GIS modelbase, land conversion.ABSTRAKMasalah keberlanjutan lahan sawah di Jawa sebagai lumbung beras nasional dipicu oleh konversi lahan sawah menjadi daerah permukiman dan industri karena peningkatan jumlah penduduk. Konversi lahan sawah mengakibatkan penyusutan dan degradasi lahan sawah. Sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang No.26/2007 tentang Penataan Ruang, tujuan penataan ruang adalah untuk melindungi fungsi penggunaan ruang dan mencegah dampak lingkungan sebagai akibat dari implementasi penggunaan ruang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji konsistensi kebijakan pemerintah sebagai implementasi Undang-Undang No. 26/2007 dalam menjaga keberlanjutan lahan sawah berdasarkan konsep agrokologi. Dengan menggunakan basismodel SIG, zona agroekologi yang diusulkan sebagai acuan untuk penetapan luasan baku lahan sawah disintesa dari basisdata sistem lahan, penutup lahan, status kawasan, agroklimat, kondisi irigasi, dan sosial-budaya yang diintegrasikan dalam layer batas wilayah administrasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah di sektor non-pertanian dalam pengalokasian status kawasan permukiman ternyata tidak secara penuh konsisten dengan Undang-Undang No.26/2007 dalam menjaga keberlanjutan lahan sawah produkif sebagai lumbung beras nasional. Potensi kerugian proudksi beras dari akibat implementasi kebijakan tersebut diperkirakan mencapai 3,5 juta ton per tahun.Kata Kunci: zona agroekologi lahan sawah, penataan ruang, basismodel SIG, konversi lahan.

PEMANFAATAN DATA CITRA ALOS UNTUK PEMETAAN LAHAN SAWAH: STUDI KASUS DI BEBERAPA LOKASI DI JAWA

GEOMATIKA Vol 15, No 1 (2009)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (712.439 KB)

Abstract

Problem of the rice field sustainability in Java as the national rice producer is mainly caused by rice field conversion into settlement and industrial areas. This phenomenon needs to be solved by making the policy of establishing standard land of rice field areas. This effort is, however, still facing the constraint of accurate and uptodate data availability. The limitation could be solved by mapping the rice fields using the optic satellite remote sensing data which has high spatial resolution, such as ALOS PRISM and AVNIR-2. It is believed that the use of ALOS PRISM and AVNIR-2 is not a good choice for mapping the rice fields using quantitative interpretation method which mainly relies on spectral reflectance values of objects on the earth because the rice field cover varies in close distance. For this reason, the qualitative interpretation method needs to be tested. The objective of this study is to assess the use of ALOS PRISM and AVNIR-2 for mapping the rice fields using visual interpretation. The results show that ALOS PRISM imagery can be used for mapping the rice fields at the optimum scale of 1: 5.000, while ALOS AVNIR-2 at 1:25.000. The rice field areas interpreted from ALOS PRISM and AVNIR-2 are smaller than that from Landsat 7 due to the generalization factor.Keywords: visual interpretation, spatial data, land conversion, generalization ABSTRAK Permasalahan lahan sawah di Jawa sebagai penghasilpadi nasional disebabkan terutama oleh konversi lahan sawah ke perumahan dan industri. Fenomena ini perlu dipecahkan dengan kebijakan untuk menetapkan luasan lahan sawah standar. Namun usaha ini masih menghadapi masalah akurasi data dan ketersediaan data. Ini dapat diatasai dengan pemetaan lahan sawah dari satelit optis beresolusi tinggi seperti ALOS PRISM dan AVNIR-2. Dipercaya bahwa kedua sensor ini bukan pilihan yang tepat untuk pemetaan lahan sawah dengan metode kuantitatif yang bergantung pada nilai refletansi objek karena lahan sawah sangat bervariasi dari jarak dekat. Dengan alasan tersebut interpretasi kualitatif perlu diuji. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji penggunaan ALOS PRISM dan AVNIR-2 untuk pemetaan lahan sawah dengan metode interpretasi visual. Hasilnya menunjukkan bahwa ALOS PRISM dapat digunakan untukpemetaan lahan sawah pada skala optimum 1:5.000, sedangkan ALOS AVNIR-2 pada skala 1:25.000. Area lahan sawah hasil interpretasi ALSO PRISM dan AVNIR-2 labih kecil dibandingkan hasil interpretasi Landsat 7 karena faktor generalisasi.Kata kunci: interpretasi visual, data spasial, konversi lahan, generalisasi.