Rahayu, Cherry
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Published : 5 Documents
Articles

Found 5 Documents
Search

Analisis Efektivitas Biaya Penggunaan Antibiotik Pasien Sepsis di Rumah Sakit di Bandung

Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (597.835 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kelompok kombinasi antibiotik empirik yang paling efektif secara biaya (cost effectiveness) yang digunakan pada sepsis sumber infeksi pernapasan yang dirawat di salah satu rumah sakit di kota Bandung periode tahun 2010–2012. Penelitian merupakan studi analisis observasional dengan pengumpulan data secara retrospektif. Data diambil dari rekam medis pasien rawat inap sepsis sumber infeksi pernapasan dan mendapat terapi antibiotik empirik sefotaksimmetronidazol dan sefotaksim-eritromisin. Komponen biaya yang dikumpulkan meliputi biaya antibiotik empirik, biaya tindakan, biaya penunjang, biaya rawat inap, dan biaya administrasi. Hasil Incremental Cost Effectiveness Ratio (ICER) menunjukkan rasio nilai biaya langsung terhadap pasien yang selamat sebesar Rp 3.301.090,00 untuk kombinasi sefotaksim- metronidazol yang dibandingkan dengan antibiotik empirik lain, sedangkan perbandingan kombinasi sefotaksim-eritromisin dengan antibiotik lain terhadap biaya dan pasien yang selamat sebesar Rp 2.227.366,89. Dapat disimpulkan bahwa kombinasi antibiotik sefotaksim-eritromisin lebih efektif secara biaya dibanding kombinasi sefotaksim-metronidazol.Kata kunci: Antibiotik empirik, cost effectiveness, farmakoekonomi, sepsis Cost Effectiveness Analysis of Antibiotic Used among Sepsis Patients in Hospital in BandungThe aim of this study was to determine the antibiotic combination group that were the most effective in cost (cost effectiveness) used as sepsis with respiratory infections treatment at one of hospital in Bandung. Observational study was conducted by retrospective data. Data were collected from medical record from inpatients sepsis with respiratory infection and received empirical therapy cefotaximemetronidazole or cefotaxime-erythromycin. Direct medical cost is collected from empirical antibiotic costs, costs of medical treatment, medical expenses, hospitalization costs, and administrative costs. The results of Incremental Cost Effectiveness Ratio (ICER) showed that ratio of direct medical cost and survived patients is 3.301.090,00 IDR for cefotaxime-metronidazole that compared to other empirical antibiotic, and 2.227.366,89 IDR for cefotaxime-erythromycin. It can be conclude that the combination of cefotaxime-erythromycin is more cost effective than cefotaxime-metronidazole.Key words: Empirical therapy, cost effectiveness, pharmacoeconomic, sepsis

Analisis Minimalisasi Biaya Penggunaan Antibiotik Meropenem dan Ceftazidime pada Terapi Febrile Neutropenia

Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (567.998 KB)

Abstract

Antibiotik dibutuhkan sebagai salah satu terapi dalam menunjang keberhasilan terapi febrile neutropenia. Beragamnya alternatif terapi antibiotik, menjadikan studi farmakoekonomi diperlukan agar didapatkan terapi yang efektif dan efisien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui antibiotik yang lebih efisien dari segi biaya, yang digunakan dalam terapi febrile neutropenia di salah satu rumah sakit rujukan di kota Bandung selama periode 2011–2013. Penelitian ini merupakan studi observasi analisis, dengan pengambilan data secara retrospektif yang dilakukan pada bulan Februari 2014, melalui data rekam medis pasien rawat inap febrile neutropenia yang mendapatkan terapi antibiotik meropenem atau ceftazidime. Hasil penelitian menunjukkan bahwa walaupun secara statistik tidak menunjukkan perbedaan bermakna, rata-rata total biaya terapi menggunakan antibiotik meropenem adalah sebesar Rp11.094.147, sedangkan rata-rata biaya total perawatan kelompok antibiotik ceftazidime sebesar Rp7.082.523. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu tenaga profesional kesehatan dalam manajemen terapi febrile neutropenia.Kata kunci: Ceftazidime, farmakoekonomi, febrile neutropenia, meropenemCost Minimization Analysis of the Use of Meropenem and Ceftazidime in Febrile Neutropenia Therapy Use of antibiotics is required in febrile neutropenia therapy. The variety choice on the use of antibiotics has increased the role of pharmacoeconomics study to determine the most effective and efficient antibiotic in a specific area. The purpose of this study was to investigate the lowest cost antibiotic between meropenem and ceftazidime that were used as one of febrile neutropenia treatments at one of referral hospitals in West Java province during 2011–2013. This study was a retrospective, observational and analytical study that was performed on February 2014 by collecting medical record data related to febrile neutropenia inpatient who received meropenem or ceftazidime therapy. The result showed that although it was not statistically significant, the total cost for ceftazidime therapy was IDR7,082,523, which was lower than meropenem therapy (IDR11,094,147). Hopefully, this result can assist the health professionals in the management of febrile neutropenia therapy.Keywords: Ceftazidime, febrile neutropenia, meropenem, pharmacoeconomics

Analisis Minimalisasi Biaya Penggunaan Antibiotik Empirik Pasien Sepsis Sumber Infeksi Pernapasan

Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (641.947 KB)

Abstract

Terapi antibiotik empirik merupakan salah satu penunjang keberhasilan dalam pengobatan sepsis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kombinasi antibiotik empirik yang paling efisien secara biaya (cost minimization) di antara sefotaksim-eritromisin dan sefotaksim-metronidazol yang digunakan pada sepsis sumber infeksi pernapasan yang dirawat di salah satu rumah sakit di Kota Bandung. Penelitian ini merupakan studi observasional dengan pengumpulan data secara retrospektif tahun 2010–2012. Data diambil dari rekam medis pasien rawat inap sepsis sumber infeksi pernapasan yang mendapat terapi antibiotik empirik sefotaksim-metronidazol atau sefotaksim-eritromisin dan daftar biaya dari bagian akuntansi rumah sakit. Biaya dihitung dari mulai pasien masuk rumah sakit dengan diagnosis sepsis sumber infeksi pernapasan sampai pasien sembuh dari sepsis. Antibiotik efotaksimmetronidazoldan sefotaksim-eritromisin diasumsikan memiliki efek yang sebanding. Pasien dengan terapi empirik sefotaksim-metronidazol memiliki waktu tinggal di rumah sakit lebih lama (25 ibanding11) dan memiliki total biaya rata-rata terapi lebih murah (Rp16.641.112,04 dibandingkan dengan Rp21.641.678,02) daripada pasien dengan terapi empirik sefotaksim-eritromisin. Hasil ini menunjukkan bahwa kombinasi antibiotik sefotaksim-metronidazol lebih efisien secara biaya dibandingkan dengan kombinasi sefotaksim-eritromisin.Kata kunci: Antibiotik empirik, cost minimization, eritromisin, metronidazol, sefotaksim, sepsisCost Minimization Analysis of Empiric Antibiotic Used by Sepsis Patient Respiratory Infection SourceEmpirical antibiotics plays an important role in the therapy of sepsis. The aims of this study was to estimate and compare the cost of treating inpatient sepsis with respiratory infection, with cefotaximemetronidazole or cefotaxime-erythromycin antibiotics. Observational study of cost minimization analysis was conducted by retrospective data from 2010 until 2012. Data were collected from medical records of inpatients sepsis with respiratory infection and received empirical therapy cefotaximemetronidazole or cefotaxime-erythromycin and treatment’s pricelist from department of accounting. Direct medical cost was calculated from empirical antibiotic costs, costs of medical treatment, medical expenses, hospitalization costs, and administrative costs. The study considered the cost from preadmission because sepsis until the patient was fully recovered of sepsis. Cefotaxime-metronidazole and cefotaxime-erythromycin are assumed to have equivalent efficacy. Patients with empirical cefotaxime -metronidazole were found have longer length of stay (25 versus 11) and average total cost of treatmentwas cheaper (16.641.112,04 IDR versus 21.641.678,02 IDR). The findings demonstrate that combination of empirical antibiotic of cefotaxime–metronidazole is more efficient than cefotaxime-erythromycin.Key words: Cost minimizing, cefotaxime, empirical antibiotic erythromycin, metronidazole, sepsis

Analisis Tingkat Kepuasan Pasien Rawat Inap Diabetes Melitus Tipe 2 dengan Komplikasi Ginjal di Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjut

Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 7, No 3 (2018)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (816.105 KB)

Abstract

Diabetes melitus merupakan penyakit dengan pengobatan seumur hidup, oleh karena itu kepuasan pasien perlu diperhatikan agar pasien memiliki kemauan dalam menjalani pengobatannya terus-menerus guna mencapai keberhasilan terapi. Proporsi diabetes melitus pada tahun 2013 sebesar 6,9% dengan perkiraan jumlah absolut penderita diabetes sebanyak 12.191.564 jiwa di Indonesia, dan satu per enam dari pasien diabetes melitus tipe 2 mengalami komplikasi ginjal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepuasan pasien rawat inap diabetes melitus tipe 2 dengan komplikasi ginjal menggunakan kuesioner The Patient Satisfaction Quesionnaire Short-Form (PSQ-18). Penelitian ini adalah penelitian observasional dengan rancangan penelitian deskriptif. Pengambilan data secara konkuren berasal dari kuesioner PSQ-18 yang sudah divalidasi. Subjek penelitian merupakan pasien rawat inap di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada tahun 2016 sampai 2017 dengan diagnosis utama non-insulin-dependent diabetes mellitus with renal complication (kode ICD: E11,2+). Hasil pengukuran rata-rata skor kepuasan pasien secara keseluruhan sebesar 3,62. Pengelompokan berdasarkan tahun rawat inap memiliki rata-rata skor total sebesar 3,59 pada tahun 2016 dan 3,66 pada tahun 2017. Kategori kepuasan pasien dengan skor tertinggi adalah kualitas interpersonal (3,93) dan terendah adalah aspek keuangan (3,18). Pada pengelompokan kepuasan berdasarkan terapi insulin, kelompok kombinasi insulin Glargine-Aspart memiliki rata-rata skor tertinggi (3,8) dan kombinasi insulin Detemir-Aspart dengan rata-rata skor terendah (3,3). Secara keseluruhan, pasien diabetes melitus tipe 2 dengan komplikasi ginjal yang menjalani rawat inap di fasiltas kesehatan tingkat lanjut merasa puas dengan pelayanan kesehatan yang diberikan. Berdasarkan level kepuasan pasien, kombinasi insulin glargine-insulin aspart dapat direkomendasikan sebagai pilihan pengobatan.Kata kunci: Diabetes melitus tipe 2, gangguan ginjal, kepuasan pasien The Satisfaction Level of Inpatients Diagnosed with Type 2 Diabetes Mellitus and Renal Complications in an Advanced Health FacilityAbstractDiabetes mellitus is a disease that requires a lifelong treatment. Therefore, patient satisfaction should be well-maintained to keep them motivated in undergoing the continuous treatment. The prevalence of diabetes mellitus in 2013 reached 6.9% with an estimated total of 12.191.564 patients diagnosed with this disease in Indonesia. One per six patients with type 2 diabetes mellitus was identified to also suffer from renal complications. This study aimed to find the satisfaction level of inpatients diagnosed with type 2 diabetes mellitus and renal complications in an advanced health facility. This observational research was done using a descriptive research design. A set of validated questionnaire (PSQ-18) was employed to concurrently collect relevant data related to patient satisfaction. The subjects of this research were inpatients of RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung during year 2016–2017 who were diagnosed with non-insulin-dependent diabetes mellitus with renal complication (code ICD: E11.2+). The overall average score of patient satisfaction was 3.62. Based on the hospitalization year, the average score in 2016 was 3.59 and increased to 3.66 in 2017. Interpersonal quality appeared to be the aspect of patient satisfaction that obtained the highest score (2.93), while financial was the lowest one (3.18). Based on the result of satisfaction upon insulin therapy, the group patients who took a combined insulin glargine-insulin aspart therapy had the highest average score (3.8), while the ones of a combined insulin detemir-insulin aspart obtained the lowest score (3.3). Overall, inpatients who suffered from diabetes mellitus type 2 with renal complication showed high satisfaction with the health care provided in the advanced health care facility. Based on the level of patient satisfaction, the combination of insulin glargine and insulin aspart would be the best-recommended treatment for patients to take.Keywords: Type 2 diabetes mellitus, kidney disease, inpatient satisfaction

Analisis Minimalisasi Biaya Penggunaan Antibiotik Meropenem dan Ceftazidime pada Terapi Febrile Neutropenia

Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Antibiotik dibutuhkan sebagai salah satu terapi dalam menunjang keberhasilan terapi febrile neutropenia. Beragamnya alternatif terapi antibiotik, menjadikan studi farmakoekonomi diperlukan agar didapatkan terapi yang efektif dan efisien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui antibiotik yang lebih efisien dari segi biaya, yang digunakan dalam terapi febrile neutropenia di salah satu rumah sakit rujukan di kota Bandung selama periode 2011–2013. Penelitian ini merupakan studi observasi analisis, dengan pengambilan data secara retrospektif yang dilakukan pada bulan Februari 2014, melalui data rekam medis pasien rawat inap febrile neutropenia yang mendapatkan terapi antibiotik meropenem atau ceftazidime. Hasil penelitian menunjukkan bahwa walaupun secara statistik tidak menunjukkan perbedaan bermakna, rata-rata total biaya terapi menggunakan antibiotik meropenem adalah sebesar Rp11.094.147, sedangkan rata-rata biaya total perawatan kelompok antibiotik ceftazidime sebesar Rp7.082.523. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu tenaga profesional kesehatan dalam manajemen terapi febrile neutropenia.Kata kunci: Ceftazidime, farmakoekonomi, febrile neutropenia, meropenemCost Minimization Analysis of the Use of Meropenem and Ceftazidime in Febrile Neutropenia Therapy Use of antibiotics is required in febrile neutropenia therapy. The variety choice on the use of antibiotics has increased the role of pharmacoeconomics study to determine the most effective and efficient antibiotic in a specific area. The purpose of this study was to investigate the lowest cost antibiotic between meropenem and ceftazidime that were used as one of febrile neutropenia treatments at one of referral hospitals in West Java province during 2011–2013. This study was a retrospective, observational and analytical study that was performed on February 2014 by collecting medical record data related to febrile neutropenia inpatient who received meropenem or ceftazidime therapy. The result showed that although it was not statistically significant, the total cost for ceftazidime therapy was IDR7,082,523, which was lower than meropenem therapy (IDR11,094,147). Hopefully, this result can assist the health professionals in the management of febrile neutropenia therapy.Keywords: Ceftazidime, febrile neutropenia, meropenem, pharmacoeconomics