Destiani, Dika P.
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Published : 18 Documents
Articles

Found 18 Documents
Search

Penggunaan Suplemen Herbal sebagai Upaya Swamedikasi di Kota Bandung

Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.92 KB)

Abstract

Swamedikasi menggunakan suplemen herbal di Indonesia belum terdokumentasi karena sebagian besar masyarakat yang mengonsumsinya tidak berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Penelitian retrospektif observasional ini dilakukan di salah satu pusat pelayanan kesehatan di Bandung pada tahun 2014 denganpengambilan data dari data penjualan suplemen herbal. Penjualan swamedikasi suplemen atau vitamin selama tahun 2014 mencapai 30.163 item dengan swamedikasi suplemen herbal untuk penyakit kronik dan degeneratif sebanyak 1.277 item. Berdasarkan kategori terapi, suplemen herbal yang paling banyak dikonsumsi adalah suplemen herbal untuk indikasi hiperlipidemia dengan kandungan bawang putih, lecithin, dan spirulina. Dari hasil penelitian ini dapat dilihat tingginya angka penggunaan swamedikasi suplemen herbal, akan tetapi tidak diketahui apakah masyarakat sudah memperoleh informasi yang benar dari apoteker mengenai cara penggunaannya.Kata kunci: Bandung, herbal, observasional, suplemen, swamedikasiThe Use of Herbal Supplements as One of Self Medications in BandungThe use of herbal supplements as one of self medications in Indonesia has not yet been well-documented since many people used these supplements in absence of medical consultation with pharmacist. This retrospective observational study was conducted at one of healthcare service centers in Bandung. Data related to the sale of herbal supplements during 2014 period was collected and analyzed. We found that 30.163 items of herbal supplements were sold in 2014. Approximately 1.277 sold items were specific supplements for chronic and degenerative diseases. Based on the category of therapy, the most sold item was a herbal supplement for hyperlipidemia with three major ingredients: garlic, lecithin, and spirulina. Despite the huge number of the use of herbal supplements in Indonesia, medical information from pharmacist about the use of herbal supplements is still scarce.Key words: Bandung, herbal, observation, self medication, supplement

Monitoring Pola Peresepan Obat Pasien Usia 0–2 Tahun Menggunakan Indikator WHO

Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (800.995 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pola peresepan obat pada pasien usia 0–2 tahun dengan menggunakan lima indikator peresepan berdasarkan guideline World Health Organization yaitu jumlah obat per lembar resep, penggunaan obat generik, Antibiotik, sediaan parenteral, dan obat esensial. Pengumpulan data resep rawat jalan pasien 0–2 tahun diambil secara Retrospektif pada periode Januari–Desember 2012 di salah satu fasilitas kesehatan di Bandung. Dari 2741 lembar resep dengan 6350 obat didalamnya, diperoleh rata-rata jumlah obat per lembar yaitu 2,31 obat per lembar. Penggunaan obat generik sebesar 9,19% dari 6350 obat. Persentase penggunaan antibiotik sebesar 67,53% dan tidak ada penggunaan obat dengan sediaan injeksi dari 2741 lembar resep, sedangkan penggunaan obat esensial sebesar 45,02 % dari 6350 obat yang diresepkan. Dari hasil tersebut dapat dilihat bahwa penggunaan obat generik dan Esensial tergolong rendah sedangkan tingkat penggunaan antibiotik relatif tinggi dibandingkan dengan rekomendasi World Health Organization.Kata kunci: Pola peresepan, obat, WHO Monitoring of Patients Aged 0–2 Years Drug Prescribing  Pattern Used Indicator from WHOThe aim of this study was to evaluate drug used by patients 0–2 years old using five World Health Organization guideline for prescribing indicators, which include average number of drugs per encounter, percentage of drugs prescribed by generic name, percentage of encounters with an antibiotics, injection prescribed, and drugs prescribed from essential drugs list or formulary. Outpatient prescription of patients 0–2 years old period January–Desember 2012 were collected retrospectively in one of health facility in Bandung. Average number of drugs per encounter was gained by dividing 6350 drugs with 2741 prescriptions. Percentage of using generic drugs was 9,19 %, antibiotics were 67,53 % and no injections per encounters, whereas percentage of drugs prescribed from essential drugs list was 45,02 %. The result showed that usage of generic drugs and essential drugs were low while the usage of antibiotics is relatively higher than World Health Organization recommendation.Key words: Prescribing pattern, drug, WHO

Hubungan Persepsi terhadap Perilaku Swamedikasi Antibiotik: Studi Observasional melalui Pendekatan Teori Health Belief Model

Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.019 KB)

Abstract

Tingginya perilaku swamedikasi antibiotik dapat meningkatkan peluang penggunaan antibiotik yang tidak rasional sehingga berdampak pada peningkatan resistensi antibiotik. Perubahan perilaku swamedikasi antibiotik diperlukan untuk menurunkan penggunaan antibiotik yang irasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan persepsi masyarakat terhadap praktik swamedikasi antibiotik yang bermanfaat untuk mengembangkan model intervensi dalam rangka menurunkan praktik swamedikasi antibiotik (SMA). Studi observasional analitik dilakukan pada bulan November–Desember 2014 kepada masyarakat yang berkunjung ke fasilitas kesehatan primer di Kota Bandung. Wawancara terstruktur dengan menggunakan kuesioner tervalidasi dilakukan untuk melihat variabel perilaku swamedikasi serta variabel persepsi ancaman, keuntungan, hambatan, dan kemamampuan bertindak berdasarkan teori perubahan perilaku health belief model (HBM). Wawancara dilakukan terhadap 506 responden dewasa yang diambil secara acak di 43 puskesmas dan 8 apotek. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif dan regresi logistik (CI 95%, α=5%).Validitas kuesioner dinyatakan dengan koefisien korelasi >0,3 dan nilai reabilitas alpha-cronbach sebesar 0,719. Terdapat 29,45% responden yang melakukan swamedikasi antibiotik selama 6 bulan terakhir. Tidak terdapat hubungan signifikan antara variabel HBM (persepsi ancaman, keuntungan, hambatan, dan kemampuan bertindak) dengan perilaku swamedikasi antibiotik (p>0,05). Persepsi ancaman, keuntungan, hambatan, dan kemauan bertindak berdasarkan teori HBM menunjukkan hubungan yang lemah terhadap perilaku swamedikasi antibiotik. Mudahnya akses dalam membeli antibiotik secara bebas diduga menjadi faktor dalam perilaku SMA sehingga regulasi yang ketat diperlukan sebagai dasar intervensi dalam menurunkan perilaku SMA.Kata kunci: Antibiotik, health belief model, swamedikasiAssociation between Perceived Value and Self-Medication with Antibiotics: An Observational Study Based on Health Belief Model TheoryHigh prevalence of self medication with antibiotics can increase the probability of irrational use of antibiotics which may lead antibiotics resistance. Thus, shifting of behavior is required to minimize the irrational use of antibiotics. This study was aimed to determine the association between public perceivedvalue and self-medication with antibiotics which can be used to develop an intervention model in order to reduce the practice of self-medication with antibiotics. An observational study was conducted during the period of November–December 2014.The subjects were patients who visit primary health care facilities in Bandung. A structured-interview that has been validated was used to investigate the association between perceived value and self-medication behavior based on the Health Belief Model theory (perceived susceptibility, benefits, barrier, and cues to action). Approximately 506 respondents were drawn randomly from 43 community healthcare centers and 8 pharmacies. Data was analyzed by using descriptive statistics and logistic regression (CI 95%, α = 5%). Validity and reliability of the questionnaire were shown with a correlation coefficient of >0.3 and a cronbach-alpha value of 0.719, respectively. We found that 29.45% of respondents practiced self-medication with antibiotics over the last six months. Additionally, there was no significant association between the perceived susceptibility, benefits, barrier, and cues to action with self-medication behavior (p>0.05). Easiness to access antibiotics without prescription was presumed as a factor that contribute to self-medication with antibiotics, therefore strict regulation in antibiotics use is very needed as a basic intervention to decrease self-medication with antibiotic.Key words: Antibiotics, health belief model, self-medication

Pengukuran Tingkat Pengetahuan tentang Hipertensi pada Pasien Hipertensi di Kota Bandung: Sebuah Studi Pendahuluan

Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 6, No 4 (2017)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (624.613 KB)

Abstract

Hipertensi merupakan penyebab umum dalam peningkatan angka mortalitas dan mobiditas di masyarakat. Selain merupakan silent killer, prevalensi penyakit ini semakin meningkat di seluruh dunia. Prevalensi hipertensi di Indonesia 25,8% dan Jawa Barat berada di peringkat keempat dengan prevalensi 29,4%. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat pengetahuan pasien hipertensi terkait penyakit yang dideritanya. Studi ini merupakan penelitian observasional menggunakan rancangan potong lintang dan dilakukan pada bulan Juni–Oktober 2017 di Apotek Pendidikan Universitas Padjadjaran, Kota Bandung. Sejumlah seratus lima puluh responden mengisi kuesioner yang telah divalidasi setelah menandatangani informed consent terlebih dahulu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 56,7% dari responden memiliki tingkat pengetahuan baik, 40% dari responden memiliki tingkat pengetahuan cukup, dan 3,3% dari responden memiliki tingkat pengetahuan kurang. Data kemudian diolah secara statistik sehingga diperoleh hasil bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna (p>0,05) antara setiap kelompok responden terhadap sosiodemografi dan karakteristik klinis pasien. Hanya sekitar 50% responden yang memiliki tingkat pengetahuan baik, pasien yang memiliki tingkat pengetahuan cukup dan kurang umumnya adalah pasien dengan tingkat pendidikan rendah dan menderita hipertensi kurang dari lima tahun.Kata kunci: Fasilitas kesehatan primer, hipertensi, tingkat pengetahuan Assessment of Knowledge on Hypertension among Hypertensive Patients in Bandung City: A Preliminary StudyHypertension is a common health problems that can increase the mortality and mobility rate in the community. As a silent killer, the prevalence of this disease is increasing worldwide. The prevalence of hypertension in Indonesia is 25.8% and West Java is ranked at top four with prevalence of 29.4%. This study aimed to measure the level of knowledge of hypertensive patients about their disease. This study was an observational study using cross-sectional design in June–October 2017 at Apotek Pendidikan Universitas Padjadjaran, Bandung City. A total of one hundred and fifty respondents completed a validated questionnaire after signing informed consent. The results showed that 56.7% of respondents have “good” level of knowledge, 40% of respondents have “moderate” level of knowledge, and 3.3% of respondents have “poor” level of knowledge. Data were analyzed statistically, the results showed that there was no significant difference (p>0.05) between each group of respondents to sociodemographic and clinical characteristics of the patients. Only fifty percent of respondents have “good” level of knowledge, patients who have “moderate” and “poor” level of knowledge generally are patients with low levels of education and suffer from hypertension less than five years.Keywords: Hypertension, level of knowledge, primary health care

Peresepan Obat Pasien Penyakit Dalam Menggunakan Indikator Peresepan World Health Organization

Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 2, No 4 (2013)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (565.068 KB)

Abstract

Ilmu penyakit dalam merupakan cabang ilmu kedokteran yang harus memberikan pelayanan komprehensif dengan pendekatan yang bersifat holistik. Pendekatan holistik dalam menegakkan diagnosis dengan melihat gejala-gejala yang timbul sehingga memungkinkan peresepan obat yang banyak dan memungkinkan terjadinya polifarmasi. Penelitian ini bertujuan untuk memantau penggunaan obat spesialis penyakit dalam dengan menggunakan lima indikator peresepan berdasarkan guideline WHO yaitu jumlah obat per lembar resep, penggunaan obat generik, antibiotik, sediaan parenteral, dan obat esensial. Pengumpulan data resep rawat jalan spesialis penyakit dalam diambil secara retrospektif pada periode Januari–Maret 2013 di salah satu fasilitas pelayanan kesehatan di Bandung. Dari 186 lembar resep dengan 567 permintaan obat didalamnya diperoleh rata-rata jumlah obat per lembar yaitu3,05 permintaan obat per lembar. Penggunaan obat generik sebesar 23,63% dari 567 obat. Persentase penggunaan antibiotik dan sediaan parenteral sebesar 17,20% dan 4,84% dari 186 lembar resep, sedangkan penggunaan obat esensial sebesar 36,86% dari 567 obat yang diresepkan. Hasil studi menyatakan tidak terjadi polifarmasi pada fasilitas kesehatan tempat studi berlangsung. Penggunaan obat generik dan esensial masih rendah. Selain itu diketahui tidak ada penyimpangan (misuse) penggunaan antibiotik dan sediaan injeksi, sehingga mengurangi kejadian resistensi antimikroba di masyarakat.Kata kunci: Penyakit dalam, indikator peresepan, polifarmasi, resistensiAssesment of Drug Use in Internal Medicine Patients using World Health Organization IndicatorsInternal medicine is the branch of medicine that should provide comprehensive knowledge of disease with a holistic approach. Holistical approach done by developing symptoms and signs for diagnostic and it would be polypharmacy. This study aimed to evaluate drug use by the internal medicine using five prescribing indicators WHO guideline such as average number of drugs per encounter, percentage of drugs prescribed by generic name, percentage of encounters with an antibiotics and injection prescribed, and drugs prescribed from essential drugs list or formulary. Outpatient prescription of internal medicine period Januari to Maret 2013 in one of health facilities in Bandung collected retrospectively. Average number of drugs per encounter was gained by dividing 567 drugs with 186 prescription. Percentage of using generic drugs was 23,63%, antibiotics and injection drugs were 17,20% and 4,84% per encounters, whereas percentage of drugs prescribed from essential drugs list was 36,86%. The result showed that the usage of generic drugs and essential drugs are low and should be improved. Furthermore, there are no misuses usage of antibiotics and injection, thereby can minimize antimicrobial resistances.Key words: Internal medicine, prescribing indicator, polypharmacy, resistances

Pengukuran Tingkat Kepatuhan Pengobatan Pasien Hipertensi di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama di Kota Bandung

Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (643.161 KB)

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu penyakit dengan angka mortalitas dan morbiditas yang sangat tinggi di dunia. Prevalensi hipertensi semakin meningkat setiap tahunnya dan Jawa Barat berada di peringkat keempat dengan prevalensi 29,4%. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat kepatuhan pasien hipertensi terhadap pengobatanya dengan menggunakan kuesioner Eight-Item Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8). Studi ini merupakan penelitian observasional menggunakan rancangan potong lintang, dilakukan pada bulan Oktober 2017–Februari 2018 di fasilitas kesehatan tingkat pertama di Kota Bandung. Sejumlah dua ratus dua puluh enam responden terlibat dalam penelitian ini. Responden mengisi mengisi kuesioner MMAS-8 versi Bahasa Indonesia yang telah divalidasi setelah menandatangani informed consent terlebih dahulu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 53,5% dari responden memiliki tingkat kepatuhan rendah, 32,3% dari responden memiliki tingkat kepatuhan sedang, dan 14,2% dari responden memiliki tingkat kepatuhan tinggi. Data kemudian diolah secara statistik menggunakan analisis Chi-Square sehingga diperoleh hasil bahwa terdapat korelasi yang bermakna (p>0,05) antara tingkat kepatuhan terhadap gender, tingkat pendidikan, status pekerjaan, riwayat penyakit keluarga, kejadian komplikasi, dan pengalaman mendapatkan informasi mengenai hipertensi dan pola diet. Terdapat korelasi bermakana antara status tekanan darah (terkontrol dan tidak terkontrol) terhadap kepatuhan responden (p=0,000). Lebih dari 50% pasien hipertensi di fasilitas kesehatan tingkat pertama di Kota Bandung masih memiliki tingkat kepatuhan yang rendah terhadap pengobatanya dengan rate kepatuhan pasien hipertensi terhadap pengobatanya sebesar 26,3%.Kata kunci: Hipertensi, tingkat kepatuhan, fasilitas kesehatan tingkat pertamaMedication Adherence among Hypertensive Patients in Primary Healthcare in Bandung CityAbstractHypertension is a disease with high mortality and also mobility all over the world. The prevalence of hypertension is increasing every year and West Java is ranked fourth with a prevalence by 29.4%. This study aimed to measure the level of medication adherence of hypertensive patients by using Eight-Item Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8) questionnaire. This study was an observational study using cross sectional design and conducted in October 2017–February 2018 at primary healthcare facilities in Bandung City. A total of two hundred and twenty-six respondents were involved in the study. Respondents are required to fill out the validated Indonesian version of MMAS-8 questionnaire after signing informed consent. The results showed that 53.5% of the respondents had low level of adherence, 32.3% of the respondents had moderate level of adherence, and 14.2% of the respondents had high level of adherence. Then, data were processed statistically by using Chi-Square analysis and the results showed that there was significant correlation (p>0.05) between the level of adherence to gender, education level, occupational status, family history of disease, incidence of complications, and experience with information about hypertension and diet. There was a significant correlation between the status of blood pressure (controlled and uncontrolled) to respondent’s adherence (p=0.000). In addition, more than 50% hypertensive patients in primary health care in Bandung City still has low level of medications adherence with rate of adherence is 26.3%.Keywords: Hypertension, level of adherence, primary health care

Analisis Minimalisasi Biaya Terapi Antihipertensi dengan Kaptopril-Hidroklorotiazid dan Amlodipin-Hidroklorotiazid di Salah Satu Rumah Sakit Kota Bandung

Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 6, No 3 (2017)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.286 KB)

Abstract

Keberhasilan terapi hipertensi stage 2 dapat ditunjang dengan adanya pemberian antihipertensi. Beragamnya alternatif terapi antihipertensi menjadikan studi farmakoekonomi diperlukan agar diperoleh terapi yang efektif dan efisien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mencari kelompok kombinasi antihipertensi yang lebih efisien dalam hal biaya (minimalisasi biaya) yang digunakan pada pasien hipertensi stage 2 yang dirawat di salah satu rumah sakit swasta Kota Bandung periode tahun 2011–2013. Penelitian ini merupakan studi observasional dengan pengumpulan data secara retrospektif. Pengambilan data dilakukan dengan mengambil rekam medis pasien rawat inap hipertensi stage 2 dan mendapat terapi antihipertensi kaptopril-hidroklorotiazid dan amlodipin-hidroklorotiazid. Komponen biaya yang dikumpulkan meliputi biaya antihipertensi, biaya tindakan, biaya penunjang, biaya rawat inap dan biaya administrasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total biaya perawatan kombinasi antihipertensi kaptopril-hidroklorotiazid lebih rendah dibandingkan amlodipin-hidroklorotiazid, dengan selisih sebesar Rp126.798.Kata kunci: Antihipertensi, biaya minimal, farmakoekonomi, hipertensiCost Minimization Analysis of Antihypertensive Therapy with Captopril-Hydrochlorothiazide and Amlodipine-Hydrochlorothiazide in One of Hospitals in BandungThe successful therapy of stage 2 hypertension  can be supported by the administration of antihypertensive. Existence of various antihypertensive alternative making pharmacoeconomics study is needed in order to have an effective and efficient therapy. Purpose of this study was to find the antihypertensive group therapy which is more efficient in cost (cost minimization) which used in the treatment of stage 2 hypertension in patients at one hospital in Bandung from 2011 until 2013. This study is an observational reserach with retrospective data collection. Data retrieval was done by taking the medical records of hospitalized patients who received therapy of stage 2 hypertension antihypertensive, captopril-hydrochlorothiazide or amlodipin-hydrochlorothiazide. Components that were collected includes the cost of antihypertensive, supportive therapy costs, the cost of action, administrative expenses and cost of hospitalization. The result of this study of cost minimization analysis showed that the total cost of treatment with the antihypertensive captopril-hydrochlorothiazide is lower compared to amlodipin- hydrochlorothiazide, with the difference amounting to Rp126,798.Keywords: Antihypertensive, cost minimization, pharmacoeconomy, hypertension

Pola Peresepan Rawat Jalan: Studi Observasional Menggunakan Kriteria Prescribing Indicator WHO di Salah Satu Fasilitas Kesehatan Bandung

Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 5, No 3 (2016)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (595.754 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan sebagai tahap awal evaluasi peresepan obat di salah satu fasilitas kesehatan yang akan dilakukan berkala untuk meningkatkan kualitas pengobatan pasien dengan menggunakan lima indikator peresepan berdasarkan guideline World Health Organization (WHO) yaitu jumlah obat per lembar resep, penggunaan obat generik, antibiotik, obat injeksi, dan obat esensial. Pengumpulan data resep rawat jalan diambil secara retrospektif pada periode April 2015–Maret 2016 di salah satu fasilitas kesehatan di Bandung. Sebanyak 1.814 lembar resep dengan 3.886 obat yang termasuk kriteria inklusi, diperoleh rata-rata jumlah obat per lembar yaitu 2,13 obat. Penggunaan obat generik sebesar 57,47% dari 3.886 obat. Persentase penggunaan antibiotik sebesar 15,52% dan sediaan injeksi 0,41% dari 1.814 lembar resep, sedangkan penggunaan obat esensial sebesar 39,49% dari 3.886 obat yang diresepkan. Berdasarkan hasil tersebut penggunaan obat generik dan esensial masih sangat jauh dari standar WHO (100%) sedangkan penggunaan antibiotik dan obat injeksi memiliki nilai rendah dibandingkan dengan nilai rujukan World Health Organization. Kata kunci: Indikator peresepan, obat, WHO Prescribing of Outpatient: Observational Study Using WHO Prescribing Indicator in One of Health Care Facilities in Bandung This study was held to evaluate drug pattern in one of the health facilities in Bandung using five World Health Organization guideline for prescribing indicators, which include average number of drugs per encounter, percentage of drugs prescribed by generic name, percentage of encounters with an antibiotic, injection prescribed, and drugs prescribed from essential drugs list or formulary. Outpatient prescriptions were collected retrospectively from April 2015–March 2016. Average number of drugs per encounter 2.13 was gained by dividing 3,886 drugs with 1,814 prescriptions. Percentage of using generic drugs were 57.47%, antibiotics were 15.52 % and 0.41% for injections per encounters, whereas percentage of drugs prescribed from essential drugs list was 39.49%. The result showed that usage of generic and essential drugs were still far from WHO standard (100%) while the usage of antibiotics and injections were lower than World Health Organization recommendation.Keywords: Drug, prescribing indicators, WHO

Cost of Illness dan Cost Containment Analysis Penggunaan Antibiotik Empirik Kombinasi pada Pasien Sepsis di Bandung

Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 1, No 4 (2012)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (692.905 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Cost of Illness (COI) dan penghematan biaya (cost containment) penggunaan kombinasi antibiotik empirik pasien sepsis dengan sumber infeksi pernapasan di salah satu rumah sakit di Bandung. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional dengan pengambilan data secara retrospektif. Data diambil dari rekam medis pasien rawat inap sepsis sumber infeksi pernapasan yang mendapat kombinasi antibiotik empirik seftazidim-levofloksasin dan sefotaksim-eritromisin. Biaya yang dianalisis meliputi biaya langsung dan tidak langsung. Hasil penelitian menunjukkan COI pasien sepsis yang sembuh dengan kombinasi antibiotik empirik seftazidim-levofloksasin sebesar Rp 13.369.055,- sedangkan pada pasien sepsis yang sembuh dengan kombinasi antibiotik empirik sefotaksim-eritromisin sebesar Rp 22.250.495,-. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa COI kombinasi antibiotik empirik seftazidim-levofloksasin lebih rendah dibandingkan sefotaksim-eritromisin. Penghematan biaya (cost containment) tanpa mengurangi kualitas pelayanan dapat dilakukan sebesar Rp 8.881.440,- dengan menggunakan kombinasi antibiotik empirik seftazidim-levofloksasin.Kata kunci: Farmakoekonomi, Cost of Illness (COI), penghematan biaya, antibiotik empirik, sepsisCost of Illness and Cost Containment Analysis Using Empirical Antibiotic Therapy in Sepsis Patients in BandungAbstractThe aims of this study were to analyze cost of illness (COI) and cost containment analysis using empiricalantibiotic therapy in sepsis patients with respiratory infection in a hospital in Bandung. A cross sectional method was conducted retrospectively. Data were collected from medical record of inpatients sepsis patients with respiratory infections with empirical antibiotic therapy ceftazidime-levofloxacin or cefotaxime-erythromycin. Direct and indirect cost were calculated and analyzed in this study. The result showed that the average COI for patients with combination ceftazidime-levofloxaxin was 13,369,055IDR whereas combination of cefotaxime-erythromycin was 22,250,495 IDR. In summary, the COI empiricalantibiotic therapy ceftazidime-levofloxacin was lower than cefotaxime-erythromycin. Cost containmentusing empirical antibiotic therapy ceftazidime levofloxacin which without reducing the service quality was 8,881,440 IDR.Key words: Pharmacoeconomic, cost of illness, cost containment, empirical antibiotic, sepsis

Analisis Efektivitas Biaya Penggunaan Antibiotik Pasien Sepsis di Rumah Sakit di Bandung

Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (597.835 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kelompok kombinasi antibiotik empirik yang paling efektif secara biaya (cost effectiveness) yang digunakan pada sepsis sumber infeksi pernapasan yang dirawat di salah satu rumah sakit di kota Bandung periode tahun 2010–2012. Penelitian merupakan studi analisis observasional dengan pengumpulan data secara retrospektif. Data diambil dari rekam medis pasien rawat inap sepsis sumber infeksi pernapasan dan mendapat terapi antibiotik empirik sefotaksimmetronidazol dan sefotaksim-eritromisin. Komponen biaya yang dikumpulkan meliputi biaya antibiotik empirik, biaya tindakan, biaya penunjang, biaya rawat inap, dan biaya administrasi. Hasil Incremental Cost Effectiveness Ratio (ICER) menunjukkan rasio nilai biaya langsung terhadap pasien yang selamat sebesar Rp 3.301.090,00 untuk kombinasi sefotaksim- metronidazol yang dibandingkan dengan antibiotik empirik lain, sedangkan perbandingan kombinasi sefotaksim-eritromisin dengan antibiotik lain terhadap biaya dan pasien yang selamat sebesar Rp 2.227.366,89. Dapat disimpulkan bahwa kombinasi antibiotik sefotaksim-eritromisin lebih efektif secara biaya dibanding kombinasi sefotaksim-metronidazol.Kata kunci: Antibiotik empirik, cost effectiveness, farmakoekonomi, sepsis Cost Effectiveness Analysis of Antibiotic Used among Sepsis Patients in Hospital in BandungThe aim of this study was to determine the antibiotic combination group that were the most effective in cost (cost effectiveness) used as sepsis with respiratory infections treatment at one of hospital in Bandung. Observational study was conducted by retrospective data. Data were collected from medical record from inpatients sepsis with respiratory infection and received empirical therapy cefotaximemetronidazole or cefotaxime-erythromycin. Direct medical cost is collected from empirical antibiotic costs, costs of medical treatment, medical expenses, hospitalization costs, and administrative costs. The results of Incremental Cost Effectiveness Ratio (ICER) showed that ratio of direct medical cost and survived patients is 3.301.090,00 IDR for cefotaxime-metronidazole that compared to other empirical antibiotic, and 2.227.366,89 IDR for cefotaxime-erythromycin. It can be conclude that the combination of cefotaxime-erythromycin is more cost effective than cefotaxime-metronidazole.Key words: Empirical therapy, cost effectiveness, pharmacoeconomic, sepsis