Barliana, Melisa I.
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Published : 13 Documents
Articles

Found 13 Documents
Search

Analisis Potensi Interaksi Obat dan Manifestasi Klinik Resep Anak di Apotek Bandung

Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 2, No 3 (2013)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (635.534 KB)

Abstract

Potensi terjadinya interaksi obat atau drug-drug interaction (DDI) dalam suatu resep cukup tinggi di seluruh dunia termasuk Indonesia. Namun sampai saat ini data ilmiah mengenai interaksi obat di Indonesia masih sangat kurang. Oleh karena itu pada penelitian ini, kami telah melakukan survey di 2 apotek di Bandung terhadap resep anak yang diberikan oleh Dokter Spesialis Anak kemudian dilakukananalisa potensi interaksi obat yang terdapat dalam satu resep serta manifestasi kliniknya. Data yang diambil adalah resep pada bulan Oktober sampai Desember tahun 2011. Hasil analisis menunjukkan bahwa di Apotek A terdapat 33 resep (dari total 155 resep) yang memiliki potensi DDI atau sekitar 21,29% potensi DDI (2 resep memiliki potensi DDI kategori major, 23 resep kategori moderat, dan 8 resep kategori minor) sedangkan di Apotek B terdapat 6 resep (dari total 40 resep) atau 15% yang berpotensi DDI (4 resep kategori moderat dan 2 resep kategori minor). Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi DDI yang terjadi kurang dari 50% pada resep anak di kedua apotek. Namun hal ini harus mendapat perhatian karena DDI memang seharusnya tidak terjadi pada obat yang diberikan kepada pasien mengingat manifestasi klinik yang disebabkan karena DDI. Lebih dari itu, saat ini pelayanan farmasi klinik yang mengacu pada patient oriented daripada product oriented. Masih diperlukan studi lebih lanjut terhadap pemberian resep anak di apotek dengan skala yang lebih besar.Kata kunci: Resep, anak, interaksi obat Analysis of Potential Drug-Drug Interactions and Its Clinical Manifestation of Pediatric Prescription on 2 Pharmacies in BandungThe potential of Drug-Drug Interactions (DDI) in prescription have high incidence around the world, including Indonesia. However, scientific evidence regarding DDI in Indonesia is not available. Therefore, in this study we have conducted survey in 2 pharmacies in Bandung against pediatric prescription given by pediatrician. These prescriptions then analyzed the potential for DDI contained in the prescription and clinical manifestation. The analysis showed that in pharmacy A, there are 33 prescriptions (from a total of 155 prescriptions) that have potential DDI, or approximately 21.19% (2 prescriptions have the potential DDI major categories, 23 prescriptions categorized as moderate, and 8 prescriptions as minor).  In Pharmacy B, there are 6 prescriptions (from a total of 40 prescriptions) or 15% of potential DDI (4 prescriptions categorized as moderate and 2 prescriptions as minor). This result showed that potential DDI happened less than 50% in pediatric prescription from both pharmacies. However, this should getattention because DDI should not happen in a prescription considering its clinical manifestations caused by DDI. Moreover, current pharmaceutical care refers to patient oriented than product oriented. In addition, further study for the pediatric prescription on DDI incidence in large scale need to be investigated.Key words: Prescription, pediatric, DDI

Pengaruh Konseling Apoteker terhadap Pengetahuan dan Persepsi Pasien Penyakit Jantung Terapi Warfarin di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung

Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 6, No 4 (2017)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (584.331 KB)

Abstract

Warfarin merupakan turunan dari kumarin, yang sudah biasa diresepkan sebagai antikoagulan oral untuk mengobati atau mencegah penyakit-penyakit trombotik. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisis pengaruh konseling apoteker terhadap pengetahuan dan persepsi pada pasien penyakit jantung pengguna warfarin. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2012–Februari 2014 di Poli Jantung RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung. Desain penelitian berupa mixed method. Data kualitatif digunakan untuk mendukung data kuantitatif, dengan metode kualitatif berupa analisis konten dengan cara wawancara. Metode kuantitatif berupa quasi-eksperimental dengan kelompok kontrol pre-post test design. Analisis data penelitian menggunakan uji Wilcoxon dan uji Mann-Whitney dengan level signifikansi p≤0,05 dan analisis multivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh konseling apoteker terhadap pengetahuan (p<0,05) dan persepsi (p<0,05). Konseling apoteker dapat memperbaiki pengetahuan dan persepsi pasien terapi warfarin.Kata kunci: Konseling, pengetahuan, persepsi, warfarin The Influence of Pharmacist’s Counseling on Knowledge and Perception on Cardiac Patient Warfarin Management at Dr. Hasan Sadikin Hospital BandungWarfarin is a derivate of coumarin, which is usually prescripted as an oral anti-coagulant for treatment and prevention of thromboembolic disorders. The aim of this research was to analyse the influence of pharmacist’s counseling on knowledge and perception on warfarin management. This research was conducted from July 2012 until February 2014 in Cardiac Polyclinic Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung. This research used mixed method design. Qualitative data was obtained using content analysis with interview method and used to complete quantitative data. Quantitative method used a quasi-experimental method with control groups and pre-post test design. Data was collected by prospective method and analysed using Wilcoxon and Mann-Whitney test at significance level p≤0.05 and multivariate analysis covariate. The result of this research is pharmacist’s counseling affected knowledge (p<0.05) and perception (p<0.05). Pharmacist’s counseling can improve knowledge and perception on warafarin therapy.Keywords: Counseling, knowledge, perception, warfarin

Monitoring Penggunaan Antibiotik dengan Metode ATC/DDD dan DU 90%: Studi Observasional di Seluruh Puskesmas Kabupaten Gorontalo Utara

Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 4, No 4 (2015)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.684 KB)

Abstract

Penggunaan antibiotik yang tidak rasional dapat menyebabkan peningkatan morbiditas dan mortalitas. Monitoring penggunaan antibiotik diperlukan dalam mendukung program pemerintah khususnya Dinas Kesehatan yang menyatakan penggunaan antibiotik untuk penyakit ISPA non-pneumonia adalah kurang dari 20%. Evaluasi penggunaan antibiotik ini menggunakan metode ATC/DDD dan DU 90%. Antibiotik yang digunakan untuk ISPA non-pneumonia adalah sebanyak 9 jenis dan antibiotik yang masuk dalam DU90% sebanyak 3 jenis yaitu amoksisilin 500 mg (2,723 DDD/1000 pasien-hari), siprofloksasin (0,378 DDD/1000 pasien-hari) dan sefadroksil (0,202 DDD/1000 pasien-hari). Analisis data secara kuantitatif menggunakan ATC/DDD menunjukkan bahwa antibiotik yang banyak digunakan adalah amoksisilin (500 mg) 2723 DDD/1000 pasien-hari dan yang paling sedikit yaitu amoksisilin (125 mg/5 ml) 1,5 DDD/1000 pasien-hari. Efek peresepan penggunaan antibiotik jangka pendek pada pelayanan pengobatan dasar dapat meningkatkan kejadian resistensi. Diperlukan studi kualitatif untuk mengetahui pola ketidakrasionalan penggunaan antibiotik di pusat pelayanan kesehatan masyarakat tersebut dan mengembangkan model intervensinya.Kata kunci: ATC/DDD, DU 90%, ISPA non-pneumonia antibiotikMonitoring the Use of Antibiotics by the ATC/DDD Method and DU 90%: Observational Studies in Community Health Service Centers in North Gorontalo DistrictIrrational use of antibiotics may lead to increase morbidity and mortality. Monitoring of antibiotics was required to support government programs, especially The Department of Health stating the use of antibiotics for non-respiratory diseases pneumonia was less than 20%. The evaluation of antibiotics use in this research applied ATC / DDD methods and DU 90%. The antibiotic used for non-pneumonia ARI were 9 types and the antibiotics contained DU 90% were three types namely amoxicillin 500 mg (2,723 DDD/1000 patients-year), ciprofloxacin (0,378 DDD/1000 patients-day) and cefadroxil (0,202 DDD/1000 patients-day). Quantitative data analysis using the ATC / DDD indicated that the most used antibiotic was amoxicillin (500 mg) 2723 DDD / 1000 patients-day and the least was amoxicillin (125 mg / 5 ml) 1.5 DDD / 1000 patients-day. The effects of short-term use of antibiotic prescribing in primary medical care could increase the resistance. Qualitative studies were needed to determine the pattern of irrational antibiotic use in community health service center and to develop the intervention model.Keywords: ARI non-pneumonia antibiotics, ATC/DDD, DU 90%

Polimorfisme Gen γ-Aminobutyric Acid Type A Receptor Subunit α-6 (GABRA6) dan Gangguan Kecemasan

Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (645.85 KB)

Abstract

Gangguan kecemasan sering terjadi karena pengaruh lingkungan dan juga dipengaruhi oleh variasi genetik. Gamma-aminobutyric acid type A receptors Subunit α-6 (GABRA6) adalah reseptor dari Gamma-aminobutyric acid type A (GABA). Single Nucleotide Polymorphism (SNP) gen GABRA6 pada posisi rs3219151 (T1521C) mempengaruhi respon seseorang terhadap stres. Tujuan penelitian ini adalah identifikasi genotipe gen GABRA6 pada populasi di Kota Bandung serta korelasinya dengan kondisi stres. Penelitian dilakukan terhadap 112 responden yang mengisi kuesioner The Kessler Psychological Distress Scale (K10) untuk melihat kondisi stres. Sampel darah diambil untuk identifikasi variasi gen GABRA6 dan dianalisis menggunakan metode Polymerase Chain Reaction-Refractory Fragment Length Polymorphism (PCR-RFLP) dengan enzim restriksi AlwN1. Hasil identifikasi gen GABRA6 menunjukkan bahwa sebesar 84 responden (75%) memiliki genotipe CC, 14 responden (12,5%) memiliki genotipe CT, dan 14 responden (12,5%) lainnya memiliki genotipe TT. Meskipun mayoritas responden memiliki genotipe CC, namun data genotipe tidak memenuhi asas kesetimbangan Hardy-Weinberg serta tidak ada korelasi antara variasi gen GABRA6 dengan kondisi stres yang menggunakan analisis bivariate (Chi-Square).Kata Kunci: GABRA6, Gangguan Kecemasan, Indonesia, PCR-RFLP, SNPγ-Aminobutyric Acid Type A Receptor Subunit α-6 (GABRA6) Gene Polymorphism and Anxiety Disorder Anxiety disorder caused by environmental factor and individual genetic variations. Gamma-aminobutyric acid type A receptors Subunit α-6 (GABRA6) is γ-aminobutyric acid type A (GABA) receptor. Single Nucleotide Polymorphism (SNP) of GABRA6 gene at rs3219151 (T1521C) affected individual response of stress. The aim of present study was to identify GABRA6 genotype variations in Bandung city population and its correlation with stress condition. Samples were collected from 112 respondents who filled The Kessler Psychological Distress Scale (K10) questionnaire for stress condition. Blood samples were collected and identification of GABRA6 gene was analyzed using Polymerase Chain Reaction‑Refractory Fragment Length Polymorphism (PCR-RFLP) by AlwN1 restriction enzyme digestion. The result of present study showed that 84 respondents (75%) have CC genotype, 14 respondents (12.5%) have CT genotype, and other 14 respondents (12.5%) have TT genotype. Most of respondents have CC genotype but the data did not meet the Hardy-Weinberg equilibrium and showed no correlation between GABRA6 gene variations and stress condition using bivariate analysis (Chi-Square).Keywords: Anxiety disorder, GABRA6, Indonesia, PCR-RFLP, SNP

Penggunaan Obat yang Berpotensi Tidak Tepat pada Populasi Geriatri di Kota Bandung

Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 4, No 3 (2015)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (713.855 KB)

Abstract

Analisis penggunaan penggunaan obat yang berpotensi tidak tepat pada populasi geriatri penting dilakukan untuk mengidentifikasi strategi manajemen risiko di populasi tersebut. Analisis ini masih sedikit dilakukan di negara-negara Asia, terutama di Indonesia. Penelitian ini dilakukan untuk mengestimasi prevalensi penggunaan obat yang berpotensi tidak tepat pada pasien geriatri di Kota Bandung, dengan melakukan studi potong lintang secara retrospektif pada 11 apotek. Prevalensi penggunaan obat yang berpotensitidak tepat dianalisis menggunakan kriteria eksplisit Beers dan McLeod dengan seting komunitas untuk populasi geriatri. Dengan menggunakan kriteria tersebut, ditemukan bahwa dari total 1.445 resep untuk pasien geriatri yang masuk ke dalam kriteria inklusi pada studi ini, terdapat 203 (14%) resep mengandung Paling tidak 1 pengobatan yang tidak tepat. Selain itu dari total 3.808 obat yang diresepkan, terdapat 218 obat (5.7%) tidak tepat untuk digunakan pada populasi geriatri. Studi ini merupakan studi pertama tentang penggunaan penggunaan obat yang berpotensi tidak tepat untuk pasien geriatri di Indonesia, sehingga hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk meningkatkan kewaspadaan regulator dan tenaga profesional kesehatan tentang penggunaan penggunaan obat yang berpotensi tidak tepat populasi geriatri.Kata Kunci: Evaluasi penggunaan obat, geriatri, IndonesiaPotentially Inappropriate Medication Use for Geriatric Population in Bandung CityAnalysis of potentially inappropriate medication in geriatric population is important to identify specific target risk-management strategies. This, however, is rarely conducted in Asian countries, especially in Indonesia. Thus this study was conducted to estimate the prevalence of potentially inappropriate medication use among geriatric patients in Bandung City, Indonesia. In this study, we conducted a retrospective cross sectional study at 11 selected community pharmacies. Prevalence of potentially inappropriate medication use was documented using Beers and McLeod criterias for geriatrics in community setting. Combining all 3 sets of criteria for potentially inappropriate medication, we found that from total of 1.445 prescriptions for geriatric patients that match to the research inclusion criteria, 203 (14%) prescription contain at least 1 inappropriate medication. Furthermore, from total of 3.808medicines prescribed, 218 (5.7%) was inappropriate for geriatric used. To our knowledge, this is the first study on the prevalence of inappropriate medication for geriatric population in Indonesia. The result of this study should increase the awareness of regulators and healthcare professionals about potentially inappropriate medications in geriatric population.Keywords: Drug use evaluation, geriatric, Indonesia

Analisis Minimalisasi Biaya Penggunaan Antibiotik Meropenem dan Ceftazidime pada Terapi Febrile Neutropenia

Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (567.998 KB)

Abstract

Antibiotik dibutuhkan sebagai salah satu terapi dalam menunjang keberhasilan terapi febrile neutropenia. Beragamnya alternatif terapi antibiotik, menjadikan studi farmakoekonomi diperlukan agar didapatkan terapi yang efektif dan efisien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui antibiotik yang lebih efisien dari segi biaya, yang digunakan dalam terapi febrile neutropenia di salah satu rumah sakit rujukan di kota Bandung selama periode 2011–2013. Penelitian ini merupakan studi observasi analisis, dengan pengambilan data secara retrospektif yang dilakukan pada bulan Februari 2014, melalui data rekam medis pasien rawat inap febrile neutropenia yang mendapatkan terapi antibiotik meropenem atau ceftazidime. Hasil penelitian menunjukkan bahwa walaupun secara statistik tidak menunjukkan perbedaan bermakna, rata-rata total biaya terapi menggunakan antibiotik meropenem adalah sebesar Rp11.094.147, sedangkan rata-rata biaya total perawatan kelompok antibiotik ceftazidime sebesar Rp7.082.523. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu tenaga profesional kesehatan dalam manajemen terapi febrile neutropenia.Kata kunci: Ceftazidime, farmakoekonomi, febrile neutropenia, meropenemCost Minimization Analysis of the Use of Meropenem and Ceftazidime in Febrile Neutropenia Therapy Use of antibiotics is required in febrile neutropenia therapy. The variety choice on the use of antibiotics has increased the role of pharmacoeconomics study to determine the most effective and efficient antibiotic in a specific area. The purpose of this study was to investigate the lowest cost antibiotic between meropenem and ceftazidime that were used as one of febrile neutropenia treatments at one of referral hospitals in West Java province during 2011–2013. This study was a retrospective, observational and analytical study that was performed on February 2014 by collecting medical record data related to febrile neutropenia inpatient who received meropenem or ceftazidime therapy. The result showed that although it was not statistically significant, the total cost for ceftazidime therapy was IDR7,082,523, which was lower than meropenem therapy (IDR11,094,147). Hopefully, this result can assist the health professionals in the management of febrile neutropenia therapy.Keywords: Ceftazidime, febrile neutropenia, meropenem, pharmacoeconomics

Analisis Minimalisasi Biaya Penggunaan Antibiotik Meropenem dan Ceftazidime pada Terapi Febrile Neutropenia

Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Antibiotik dibutuhkan sebagai salah satu terapi dalam menunjang keberhasilan terapi febrile neutropenia. Beragamnya alternatif terapi antibiotik, menjadikan studi farmakoekonomi diperlukan agar didapatkan terapi yang efektif dan efisien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui antibiotik yang lebih efisien dari segi biaya, yang digunakan dalam terapi febrile neutropenia di salah satu rumah sakit rujukan di kota Bandung selama periode 2011–2013. Penelitian ini merupakan studi observasi analisis, dengan pengambilan data secara retrospektif yang dilakukan pada bulan Februari 2014, melalui data rekam medis pasien rawat inap febrile neutropenia yang mendapatkan terapi antibiotik meropenem atau ceftazidime. Hasil penelitian menunjukkan bahwa walaupun secara statistik tidak menunjukkan perbedaan bermakna, rata-rata total biaya terapi menggunakan antibiotik meropenem adalah sebesar Rp11.094.147, sedangkan rata-rata biaya total perawatan kelompok antibiotik ceftazidime sebesar Rp7.082.523. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu tenaga profesional kesehatan dalam manajemen terapi febrile neutropenia.Kata kunci: Ceftazidime, farmakoekonomi, febrile neutropenia, meropenemCost Minimization Analysis of the Use of Meropenem and Ceftazidime in Febrile Neutropenia Therapy Use of antibiotics is required in febrile neutropenia therapy. The variety choice on the use of antibiotics has increased the role of pharmacoeconomics study to determine the most effective and efficient antibiotic in a specific area. The purpose of this study was to investigate the lowest cost antibiotic between meropenem and ceftazidime that were used as one of febrile neutropenia treatments at one of referral hospitals in West Java province during 2011–2013. This study was a retrospective, observational and analytical study that was performed on February 2014 by collecting medical record data related to febrile neutropenia inpatient who received meropenem or ceftazidime therapy. The result showed that although it was not statistically significant, the total cost for ceftazidime therapy was IDR7,082,523, which was lower than meropenem therapy (IDR11,094,147). Hopefully, this result can assist the health professionals in the management of febrile neutropenia therapy.Keywords: Ceftazidime, febrile neutropenia, meropenem, pharmacoeconomics

Potensi Interaksi Obat pada Pasien Skizofrenia di Salah Satu Rumah Sakit Jiwa di Provinsi Jawa Barat

Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 7, No 4 (2018)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Antipsikotik merupakan terapi utama pada penyakit skizofrenia. Banyak di antara pasien skizofrenia menerima terapi kombinasi antipsikotik. Hal ini dapat menyebabkan kemungkinan timbulnya potensi interaksi obat. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi interaksi obat dan mengidentifikasi faktor-faktor yang berpengaruh terhadap potensi interaksi obat. Studi potong lintang dan retrospektif dilakukan pada pasien skizofrenia periode tahun 2015–2016 di salah satu Rumah Sakit Jiwa di Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan data rekam medik pasien pada saat pasien menjalani rawat inap. Sebanyak 92,54% pasien teridentifikasi memiliki potensi interaksi obat dengan kategori significant (78,24%), serious (9,64%) dan minor (12,11%). Potensi interaksi farmakodinamik (85%) lebih mendominasi dibandingkan farmakokinetik (15%). Hasil studi ini juga menyatakan sebanyak 35,16% pasien tidak patuh dalam menjalani terapi dan 67,03% memiliki komorbiditas berupa efek samping gejala ekstrapiramidal akibat antipsikotik. Analisis bivariat menunjukkan bahwa jumlah obat yang diresepkan, kepatuhan terapi dan komorbid (gejala ekstrapiramidal) berkaitan dengan potensi interaksi (p<0,05). Hasil ini diperkuat oleh hasil analisis regresi logistik biner yang menunjukkan bahwa jumlah obat yang diresepkan (OR=14,139; (5,887–33,957); p=0,000) dan kepatuhan (OR=2,424; (1,277–4,601); p=0,007) berhubungan signifikan terhadap potensi interaksi obat. Potensi kejadian interaksi obat pada pasien skizofrenia adalah sebesar 92,54% yang berkaitan dengan jumlah obat yang diberikan kepada pasien, dalam bentuk kombinasi terapi dan ketidakpatuhan pasien.Kata kunci: Faktor potensi interaksi obat, interaksi obat potensial, skizofrenia Potential Drug Interactions on Schizophrenic Patients at a Mental Hospitals in West Java, IndonesiaAbstractAntipsychotic is a primary therapy in schizophrenia. Many shizophrenic patients receive combination antipsychotic therapy which might lead to potential drug interactions. The aim of this study was to evaluate and identify factors associated with potential drug interactions. A cross-sectional and retrospective study was conducted on schizophrenic patients in the period of 2015–2016 at one of mental hospitals in the Province of West Java, Indonesia. This study used patients’ medical record data when the patients were hospitalized. A total of 92,54% patients were identified as having potential drug interactions which categorized as significant (78.24%), serious (9.64%) and minor (12.11%). Potential pharmacodynamic interaction (85%) was more dominating than pharmacokinetic (15%). It was also found that 35.16% of patients had poor therapeutic adherence and 67.03% had comorbidities in the form of extrapyramidal symptoms due to antipsychotics. Bivariate analysis showed that the adherence medication, comorbid (syndrome extrapyramidal), and the number of prescribed were related to the number of potential drugs interaction (p-value<0.05). This result was strengthened by the result of logistic binary regression analysis which showed that the number of prescribed drugs (OR=14.139; (5.887–33.957); p=0.000) and therapy adherence (OR=2.424; (1.277–4.601); p=0.007) were significantly associated with potential drug interactions. The potential drug interaction in schizophrenic patient was 92.54% which related to a number of drugs taken by the patients in the form of combination therapy and patients’ inadherence.Keywords: Potential drug interaction, potential factors of drug interaction, schizophrenia

Penggunaan Obat yang Berpotensi Tidak Tepat pada Populasi Geriatri di Kota Bandung

Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 4, No 3 (2015)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Analisis penggunaan penggunaan obat yang berpotensi tidak tepat pada populasi geriatri penting dilakukan untuk mengidentifikasi strategi manajemen risiko di populasi tersebut. Analisis ini masih sedikit dilakukan di negara-negara Asia, terutama di Indonesia. Penelitian ini dilakukan untuk mengestimasi prevalensi penggunaan obat yang berpotensi tidak tepat pada pasien geriatri di Kota Bandung, dengan melakukan studi potong lintang secara retrospektif pada 11 apotek. Prevalensi penggunaan obat yang berpotensitidak tepat dianalisis menggunakan kriteria eksplisit Beers dan McLeod dengan seting komunitas untuk populasi geriatri. Dengan menggunakan kriteria tersebut, ditemukan bahwa dari total 1.445 resep untuk pasien geriatri yang masuk ke dalam kriteria inklusi pada studi ini, terdapat 203 (14%) resep mengandung Paling tidak 1 pengobatan yang tidak tepat. Selain itu dari total 3.808 obat yang diresepkan, terdapat 218 obat (5.7%) tidak tepat untuk digunakan pada populasi geriatri. Studi ini merupakan studi pertama tentang penggunaan penggunaan obat yang berpotensi tidak tepat untuk pasien geriatri di Indonesia, sehingga hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk meningkatkan kewaspadaan regulator dan tenaga profesional kesehatan tentang penggunaan penggunaan obat yang berpotensi tidak tepat populasi geriatri.Kata Kunci: Evaluasi penggunaan obat, geriatri, IndonesiaPotentially Inappropriate Medication Use for Geriatric Population in Bandung CityAnalysis of potentially inappropriate medication in geriatric population is important to identify specific target risk-management strategies. This, however, is rarely conducted in Asian countries, especially in Indonesia. Thus this study was conducted to estimate the prevalence of potentially inappropriate medication use among geriatric patients in Bandung City, Indonesia. In this study, we conducted a retrospective cross sectional study at 11 selected community pharmacies. Prevalence of potentially inappropriate medication use was documented using Beers and McLeod criterias for geriatrics in community setting. Combining all 3 sets of criteria for potentially inappropriate medication, we found that from total of 1.445 prescriptions for geriatric patients that match to the research inclusion criteria, 203 (14%) prescription contain at least 1 inappropriate medication. Furthermore, from total of 3.808medicines prescribed, 218 (5.7%) was inappropriate for geriatric used. To our knowledge, this is the first study on the prevalence of inappropriate medication for geriatric population in Indonesia. The result of this study should increase the awareness of regulators and healthcare professionals about potentially inappropriate medications in geriatric population.Keywords: Drug use evaluation, geriatric, Indonesia

Polimorfisme Gen γ-Aminobutyric Acid Type A Receptor Subunit α-6 (GABRA6) dan Gangguan Kecemasan

Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gangguan kecemasan sering terjadi karena pengaruh lingkungan dan juga dipengaruhi oleh variasi genetik. Gamma-aminobutyric acid type A receptors Subunit α-6 (GABRA6) adalah reseptor dari Gamma-aminobutyric acid type A (GABA). Single Nucleotide Polymorphism (SNP) gen GABRA6 pada posisi rs3219151 (T1521C) mempengaruhi respon seseorang terhadap stres. Tujuan penelitian ini adalah identifikasi genotipe gen GABRA6 pada populasi di Kota Bandung serta korelasinya dengan kondisi stres. Penelitian dilakukan terhadap 112 responden yang mengisi kuesioner The Kessler Psychological Distress Scale (K10) untuk melihat kondisi stres. Sampel darah diambil untuk identifikasi variasi gen GABRA6 dan dianalisis menggunakan metode Polymerase Chain Reaction-Refractory Fragment Length Polymorphism (PCR-RFLP) dengan enzim restriksi AlwN1. Hasil identifikasi gen GABRA6 menunjukkan bahwa sebesar 84 responden (75%) memiliki genotipe CC, 14 responden (12,5%) memiliki genotipe CT, dan 14 responden (12,5%) lainnya memiliki genotipe TT. Meskipun mayoritas responden memiliki genotipe CC, namun data genotipe tidak memenuhi asas kesetimbangan Hardy-Weinberg serta tidak ada korelasi antara variasi gen GABRA6 dengan kondisi stres yang menggunakan analisis bivariate (Chi-Square).Kata Kunci: GABRA6, Gangguan Kecemasan, Indonesia, PCR-RFLP, SNPγ-Aminobutyric Acid Type A Receptor Subunit α-6 (GABRA6) Gene Polymorphism and Anxiety Disorder Anxiety disorder caused by environmental factor and individual genetic variations. Gamma-aminobutyric acid type A receptors Subunit α-6 (GABRA6) is γ-aminobutyric acid type A (GABA) receptor. Single Nucleotide Polymorphism (SNP) of GABRA6 gene at rs3219151 (T1521C) affected individual response of stress. The aim of present study was to identify GABRA6 genotype variations in Bandung city population and its correlation with stress condition. Samples were collected from 112 respondents who filled The Kessler Psychological Distress Scale (K10) questionnaire for stress condition. Blood samples were collected and identification of GABRA6 gene was analyzed using Polymerase Chain Reaction‑Refractory Fragment Length Polymorphism (PCR-RFLP) by AlwN1 restriction enzyme digestion. The result of present study showed that 84 respondents (75%) have CC genotype, 14 respondents (12.5%) have CT genotype, and other 14 respondents (12.5%) have TT genotype. Most of respondents have CC genotype but the data did not meet the Hardy-Weinberg equilibrium and showed no correlation between GABRA6 gene variations and stress condition using bivariate analysis (Chi-Square).Keywords: Anxiety disorder, GABRA6, Indonesia, PCR-RFLP, SNP