Sinuraya, Rano K.
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Published : 17 Documents
Articles

Found 17 Documents
Search

Analisis Peresepan Obat Anak Usia 2–5 Tahun di Kota Bandung Tahun 2012

Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (554.821 KB)

Abstract

Penggunaan obat yang tidak rasional dapat menyebabkan kesalahan dalam pengobatan atau timbulnya efek samping yang tidak diinginkan. Kebijakan Obat Nasional (KONAS) telah mengembangkan kebijakan obat umum yang mengikat semua pelaku farmasi di Indonesia agar penggunaan obat dapat dilakukan secara rasional. Untuk mengembangkan strategi yang efektif dalam mengatasi penggunaan obat tidak rasional, maka perlu diketahui sejauh mana tingkat masalahnya, salah satunya melalui Indikator Peresepan yang telah ditetapkan oleh World Health Organization (WHO). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola peresepan obat pada anak usia 2 hingga 5 tahun di 14 Apotek Kota Bandung periode 2012 melalui indikator peresepan. Data yang digunakan sebanyak 2.195 lembar resep dari 14 Apotek Kota Bandung diambil secara retrospektif dan diolah berdasarkan indikator peresepan WHO. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah obat rata-rata dalam setiap lembar resep 3,54 item; persentase pasien yang menerima obat injeksi 0%; persentase pasien yang menerima antibiotik 75%;persentase obat yang diresepkan dengan nama generik 8,13% dan persentase obat yang diresepkan sesuai dengan Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) adalah 32,9%. Dengan demikian dapat disimpulkan pola peresepan obat anak usia 2–5 tahun di Kota Bandung pada tahun 2012 adalah jumlah item obat rata-rata yang diresepkan masih tinggi jika dibandingkan dengan standar WHO dan KONAS; peresepan injeksi di apotek tidak ada; persentase pasien yang menerima antibiotik jauh lebih tinggi dengan data WHO untuk penggunaan antibiotik di negara berkembang; peresepan obat generik lebih rendah daripada data WHO; dan peresepan obat yang sesuai dengan DOEN masih lebih rendah daripada data KONAS.Kata kunci: Indikator peresepan, pediatrik, penggunaan obat rasionalPrescribing Analysis for 2–5 Years Old Children in Bandung During Year 2012Despite the fact that irrational use of drugs will give medication errors effect or cause the unwanted side effects. The National Drug Policy (KONAS) has developed drug policies that involve all stake-holders in Indonesia in order to minimize the irrational drug use. This study aims to analyze drug prescribing for 2–5 years old children in 14 pharmacies in Bandung during 2012. Approximately 2,195 prescription sheets from 14 pharmacies in Bandung were collected and analyzed by using prescribing indicators from the World Health Organization (WHO). We found an average number of 3.54 drugs in a prescriptionsheet. We also found that 75% and 0% of all patients received antibiotics and injection, respectively. In particular, approximately 8% and 33% of all prescribed drugs were included in generic drug list and National List of Essential Medicines (DOEN), respectively. Based on data from the WHO and KONAS, it can be interpreted that the average number of drugs in a prescription-sheet is still high and the use of antibiotics is significantly higher compared to the use of antibiotics in other developing countries. Also,we summarized that the use of drugs according to generic drug list and DOEN are still low.Key words: Pediatric, prescribing indicators, rational use of medicine

Perbandingan Efektivitas Ampisilin dengan Ampisilin-Gentamisin pada Pasien Balita dengan Pneumonia

Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.153 KB)

Abstract

Pneumonia merupakan salah satu penyebab utama kematian anak usia di bawah lima tahun (balita) di dunia. Terapi antibiotik untuk pneumonia biasanya dipilih secara empirik karena mikroorganisme penyebab pneumonia belum dapat diketahui saat diagnosis. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas terapi antibiotik empirik pneumonia dengan menggunakan ampisilin tunggal maupun dikombinasikan dengan gentamisin pada balita yang dirawat dengan pneumonia di salah satu rumah sakit di kota Bandung pada tahun 2013–2015. Metode penelitian yang digunakan adalah potong lintang dengan pengambilan data sekunder secara retrospektif. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji Chi Square, uji Fisher, dan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan efektivitas antara pasien yang diterapi menggunakan ampisilin maupun ampisilin-gentamisin dari parameter perbaikan batuk (p=0,381), sesak (p=0,294), demam (p=0,405), maupun laju pernapasan (p=0,306), namun terdapat perbedaan pada lama hari rawat (p<0,001). Tidak adanya perbedaan efektivitas pada parameter perbaikan gejala (sesak dan batuk) dan tanda (suhu tubuh dan laju pernapasan) tersebut dapat menjadi dasar untuk rekomendasi penggunaan ampisilin tunggal sebagai pilihan terapi utama pada pasien pneumonia balita. Selain pertimbangan efektivitas terapi, pemberian terapi antibiotik harus memperhatikan aspek lain seperti pola kepekaan bakteri, risiko efek samping pada pasien, serta efektivitas biaya.Kata kunci: Anak, antibiotik, efektivitas, pneumonia, terapi empirik Effectiveness of Ampicillin and Ampicillin-Gentamicin for Children under Five Years Old with PneumoniaPneumonia was one of the main causes of mortality in children aged under five years old. Empirical antibiotic therapy was usually selected in pneumonia because the microorganisms have not been known at diagnosis. The purpose of this study was to compare the effectiveness of empirical antibiotic therapy using ampicillin or ampicillin-gentamicin for children aged under five years old with pneumonia at one hospital in Bandung in period of 2013–2015. The method used in this study was cross-sectional method with retrospective data collection. Collected data were analyzed using Chi-Square, Fisher, and Mann-Whitney methods. The results showed that there was no difference in effectiveness between patients treated with ampicillin and ampicillin-gentamicin from improvement of cough (p=0.381), shortness of breath (p=0.294), fever (p=0.405), and respiratory rate (p=0.306) parameters but there was a difference in length of stay (p<0.001). Therefore, it might be the basis for the use of a single ampicillin as a primary treatment option in pneumonia for children aged under five years old. In addition, antibiotic therapy should consider other aspects such as bacterial susceptibility patterns, the risk of side effects in patients, as well as cost effectiveness.Keywords: Antibiotic, children, effectiveness, empirical therapy, pneumonia

Pengukuran Tingkat Pengetahuan tentang Hipertensi pada Pasien Hipertensi di Kota Bandung: Sebuah Studi Pendahuluan

Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 6, No 4 (2017)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (624.613 KB)

Abstract

Hipertensi merupakan penyebab umum dalam peningkatan angka mortalitas dan mobiditas di masyarakat. Selain merupakan silent killer, prevalensi penyakit ini semakin meningkat di seluruh dunia. Prevalensi hipertensi di Indonesia 25,8% dan Jawa Barat berada di peringkat keempat dengan prevalensi 29,4%. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat pengetahuan pasien hipertensi terkait penyakit yang dideritanya. Studi ini merupakan penelitian observasional menggunakan rancangan potong lintang dan dilakukan pada bulan Juni–Oktober 2017 di Apotek Pendidikan Universitas Padjadjaran, Kota Bandung. Sejumlah seratus lima puluh responden mengisi kuesioner yang telah divalidasi setelah menandatangani informed consent terlebih dahulu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 56,7% dari responden memiliki tingkat pengetahuan baik, 40% dari responden memiliki tingkat pengetahuan cukup, dan 3,3% dari responden memiliki tingkat pengetahuan kurang. Data kemudian diolah secara statistik sehingga diperoleh hasil bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna (p>0,05) antara setiap kelompok responden terhadap sosiodemografi dan karakteristik klinis pasien. Hanya sekitar 50% responden yang memiliki tingkat pengetahuan baik, pasien yang memiliki tingkat pengetahuan cukup dan kurang umumnya adalah pasien dengan tingkat pendidikan rendah dan menderita hipertensi kurang dari lima tahun.Kata kunci: Fasilitas kesehatan primer, hipertensi, tingkat pengetahuan Assessment of Knowledge on Hypertension among Hypertensive Patients in Bandung City: A Preliminary StudyHypertension is a common health problems that can increase the mortality and mobility rate in the community. As a silent killer, the prevalence of this disease is increasing worldwide. The prevalence of hypertension in Indonesia is 25.8% and West Java is ranked at top four with prevalence of 29.4%. This study aimed to measure the level of knowledge of hypertensive patients about their disease. This study was an observational study using cross-sectional design in June–October 2017 at Apotek Pendidikan Universitas Padjadjaran, Bandung City. A total of one hundred and fifty respondents completed a validated questionnaire after signing informed consent. The results showed that 56.7% of respondents have “good” level of knowledge, 40% of respondents have “moderate” level of knowledge, and 3.3% of respondents have “poor” level of knowledge. Data were analyzed statistically, the results showed that there was no significant difference (p>0.05) between each group of respondents to sociodemographic and clinical characteristics of the patients. Only fifty percent of respondents have “good” level of knowledge, patients who have “moderate” and “poor” level of knowledge generally are patients with low levels of education and suffer from hypertension less than five years.Keywords: Hypertension, level of knowledge, primary health care

Pengukuran Tingkat Kepatuhan Pengobatan Pasien Hipertensi di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama di Kota Bandung

Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (643.161 KB)

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu penyakit dengan angka mortalitas dan morbiditas yang sangat tinggi di dunia. Prevalensi hipertensi semakin meningkat setiap tahunnya dan Jawa Barat berada di peringkat keempat dengan prevalensi 29,4%. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat kepatuhan pasien hipertensi terhadap pengobatanya dengan menggunakan kuesioner Eight-Item Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8). Studi ini merupakan penelitian observasional menggunakan rancangan potong lintang, dilakukan pada bulan Oktober 2017–Februari 2018 di fasilitas kesehatan tingkat pertama di Kota Bandung. Sejumlah dua ratus dua puluh enam responden terlibat dalam penelitian ini. Responden mengisi mengisi kuesioner MMAS-8 versi Bahasa Indonesia yang telah divalidasi setelah menandatangani informed consent terlebih dahulu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 53,5% dari responden memiliki tingkat kepatuhan rendah, 32,3% dari responden memiliki tingkat kepatuhan sedang, dan 14,2% dari responden memiliki tingkat kepatuhan tinggi. Data kemudian diolah secara statistik menggunakan analisis Chi-Square sehingga diperoleh hasil bahwa terdapat korelasi yang bermakna (p>0,05) antara tingkat kepatuhan terhadap gender, tingkat pendidikan, status pekerjaan, riwayat penyakit keluarga, kejadian komplikasi, dan pengalaman mendapatkan informasi mengenai hipertensi dan pola diet. Terdapat korelasi bermakana antara status tekanan darah (terkontrol dan tidak terkontrol) terhadap kepatuhan responden (p=0,000). Lebih dari 50% pasien hipertensi di fasilitas kesehatan tingkat pertama di Kota Bandung masih memiliki tingkat kepatuhan yang rendah terhadap pengobatanya dengan rate kepatuhan pasien hipertensi terhadap pengobatanya sebesar 26,3%.Kata kunci: Hipertensi, tingkat kepatuhan, fasilitas kesehatan tingkat pertamaMedication Adherence among Hypertensive Patients in Primary Healthcare in Bandung CityAbstractHypertension is a disease with high mortality and also mobility all over the world. The prevalence of hypertension is increasing every year and West Java is ranked fourth with a prevalence by 29.4%. This study aimed to measure the level of medication adherence of hypertensive patients by using Eight-Item Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8) questionnaire. This study was an observational study using cross sectional design and conducted in October 2017–February 2018 at primary healthcare facilities in Bandung City. A total of two hundred and twenty-six respondents were involved in the study. Respondents are required to fill out the validated Indonesian version of MMAS-8 questionnaire after signing informed consent. The results showed that 53.5% of the respondents had low level of adherence, 32.3% of the respondents had moderate level of adherence, and 14.2% of the respondents had high level of adherence. Then, data were processed statistically by using Chi-Square analysis and the results showed that there was significant correlation (p>0.05) between the level of adherence to gender, education level, occupational status, family history of disease, incidence of complications, and experience with information about hypertension and diet. There was a significant correlation between the status of blood pressure (controlled and uncontrolled) to respondent’s adherence (p=0.000). In addition, more than 50% hypertensive patients in primary health care in Bandung City still has low level of medications adherence with rate of adherence is 26.3%.Keywords: Hypertension, level of adherence, primary health care

Analisis Minimalisasi Biaya Penggunaan Antibiotik Meropenem dan Ceftazidime pada Terapi Febrile Neutropenia

Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (567.998 KB)

Abstract

Antibiotik dibutuhkan sebagai salah satu terapi dalam menunjang keberhasilan terapi febrile neutropenia. Beragamnya alternatif terapi antibiotik, menjadikan studi farmakoekonomi diperlukan agar didapatkan terapi yang efektif dan efisien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui antibiotik yang lebih efisien dari segi biaya, yang digunakan dalam terapi febrile neutropenia di salah satu rumah sakit rujukan di kota Bandung selama periode 2011–2013. Penelitian ini merupakan studi observasi analisis, dengan pengambilan data secara retrospektif yang dilakukan pada bulan Februari 2014, melalui data rekam medis pasien rawat inap febrile neutropenia yang mendapatkan terapi antibiotik meropenem atau ceftazidime. Hasil penelitian menunjukkan bahwa walaupun secara statistik tidak menunjukkan perbedaan bermakna, rata-rata total biaya terapi menggunakan antibiotik meropenem adalah sebesar Rp11.094.147, sedangkan rata-rata biaya total perawatan kelompok antibiotik ceftazidime sebesar Rp7.082.523. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu tenaga profesional kesehatan dalam manajemen terapi febrile neutropenia.Kata kunci: Ceftazidime, farmakoekonomi, febrile neutropenia, meropenemCost Minimization Analysis of the Use of Meropenem and Ceftazidime in Febrile Neutropenia Therapy Use of antibiotics is required in febrile neutropenia therapy. The variety choice on the use of antibiotics has increased the role of pharmacoeconomics study to determine the most effective and efficient antibiotic in a specific area. The purpose of this study was to investigate the lowest cost antibiotic between meropenem and ceftazidime that were used as one of febrile neutropenia treatments at one of referral hospitals in West Java province during 2011–2013. This study was a retrospective, observational and analytical study that was performed on February 2014 by collecting medical record data related to febrile neutropenia inpatient who received meropenem or ceftazidime therapy. The result showed that although it was not statistically significant, the total cost for ceftazidime therapy was IDR7,082,523, which was lower than meropenem therapy (IDR11,094,147). Hopefully, this result can assist the health professionals in the management of febrile neutropenia therapy.Keywords: Ceftazidime, febrile neutropenia, meropenem, pharmacoeconomics

Mutasi Gen blaCTX-M sebagai Faktor Risiko Penyebab Resistensi Antibiotik

Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1400.309 KB)

Abstract

Saat ini, lebih dari setengah antibiotik yang digunakan di dunia merupakan kelompok β-laktam namun efektivitas klinis antibiotik tersebut kini terbatas karena resistensi antibiotik terhadap mikroorganisme penyebab penyakit infeksius. Beberapa mekanisme resistensi terhadap Enterobacteriaceae terutama disebabkan karena hidrolisis antibiotik oleh enzim spesifik, yang disebut dengan β-laktamase. Enzim β-laktamase menunjukkan kelompok besar enzim yang berbeda secara genetik dan fungsional yaitu extended-spectrum β-lactamase (ESBL) yang diketahui menimbulkan ancaman resistensi yang serius. Lokalisasi plasmid dari gen yang disandi terhadap distribusi enzim pada patogen meningkat setiap tahunnya. ESBL yang memiliki penyebaran yang luas dan relevan secara klinis adalah ESBL kelas A yaitu jenis Temoniera (TEM), Sulphydryl variable (SHV) dan Cefotaxime (CTX-M). Tujuan penulisan review ini adalah untuk mengkaji varian gen blaCTX-M yang banyak menyebabkan peningkatan resistensi antibiotik. Metode yang digunakan pada review ini yaitu penelusuran data berbasis Pubmed, Scopus dan Google Scholar tanpa pembatasan indeks faktor dengan kata kunci "blaCTX-M", "Extended-spectrum β-lactamase", dan "antibiotic resistance". Kesimpulan dari review ini yaitu, ESBL jenis CTX-M telah menggantikan jenis TEM dan SHV secara dominan pada dekade terakhir. ESBL yang dihasilkan oleh Klebsiella pneumoniae diketahui muncul sebagai salah satu patogen nosokomial utama. Infeksi nosokomial yang disebabkan oleh CTX-M-15 pada Klebsiella pneumoniae mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir ini.

Analisis Efektivitas Biaya Penggunaan Antibiotik Pasien Sepsis di Rumah Sakit di Bandung

Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (597.835 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kelompok kombinasi antibiotik empirik yang paling efektif secara biaya (cost effectiveness) yang digunakan pada sepsis sumber infeksi pernapasan yang dirawat di salah satu rumah sakit di kota Bandung periode tahun 2010–2012. Penelitian merupakan studi analisis observasional dengan pengumpulan data secara retrospektif. Data diambil dari rekam medis pasien rawat inap sepsis sumber infeksi pernapasan dan mendapat terapi antibiotik empirik sefotaksimmetronidazol dan sefotaksim-eritromisin. Komponen biaya yang dikumpulkan meliputi biaya antibiotik empirik, biaya tindakan, biaya penunjang, biaya rawat inap, dan biaya administrasi. Hasil Incremental Cost Effectiveness Ratio (ICER) menunjukkan rasio nilai biaya langsung terhadap pasien yang selamat sebesar Rp 3.301.090,00 untuk kombinasi sefotaksim- metronidazol yang dibandingkan dengan antibiotik empirik lain, sedangkan perbandingan kombinasi sefotaksim-eritromisin dengan antibiotik lain terhadap biaya dan pasien yang selamat sebesar Rp 2.227.366,89. Dapat disimpulkan bahwa kombinasi antibiotik sefotaksim-eritromisin lebih efektif secara biaya dibanding kombinasi sefotaksim-metronidazol.Kata kunci: Antibiotik empirik, cost effectiveness, farmakoekonomi, sepsis Cost Effectiveness Analysis of Antibiotic Used among Sepsis Patients in Hospital in BandungThe aim of this study was to determine the antibiotic combination group that were the most effective in cost (cost effectiveness) used as sepsis with respiratory infections treatment at one of hospital in Bandung. Observational study was conducted by retrospective data. Data were collected from medical record from inpatients sepsis with respiratory infection and received empirical therapy cefotaximemetronidazole or cefotaxime-erythromycin. Direct medical cost is collected from empirical antibiotic costs, costs of medical treatment, medical expenses, hospitalization costs, and administrative costs. The results of Incremental Cost Effectiveness Ratio (ICER) showed that ratio of direct medical cost and survived patients is 3.301.090,00 IDR for cefotaxime-metronidazole that compared to other empirical antibiotic, and 2.227.366,89 IDR for cefotaxime-erythromycin. It can be conclude that the combination of cefotaxime-erythromycin is more cost effective than cefotaxime-metronidazole.Key words: Empirical therapy, cost effectiveness, pharmacoeconomic, sepsis

Terapi Kanker dengan Radiasi: Konsep Dasar Radioterapi dan Perkembangannya di Indonesia

Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 6, No 4 (2017)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (815.953 KB)

Abstract

Kanker merupakan salah satu penyakit yang menyebabkan kematian yang tinggi di dunia. Berdasarkan data WHO, pada tahun 2015 terdapat 8,8 juta kematian yang diakibatkan oleh penyakit kanker. Berdasarkan data riskesdas tahun 2013, prevalensi kanker di Indonesia mencapai 1,4% atau sekitar 347.792 orang. Berbagai metode telah dikembangkan untuk mengobati kanker, salah satunya dengan menggunakan terapi radiasi atau radioterapi. Berdasarkan International Agency for Research on Cancer (IARC), dari 10,9 juta orang yang didiagnosis menderita kanker di seluruh dunia setiap tahun, sekitar 50% membutuhkan radioterapi. Penggunaan radiasi untuk terapi kanker belum banyak digunakan dan masih terbatas di Indonesia. Tujuan penulisan review ini adalah untuk memaparkan konsep dasar terapi kanker dengan radiasi dan perkembangan radioterapi di Indonesia melalui penelusuran pustaka. Metode penelusuran pustaka dalam artikel review ini adalah penelusuran pustaka pada mesin pencari Google, Google Scholar dan PubMed basis data dengan kata kunci “basic radiotherapy” “radiation therapy in Indonesia” “novel radiotherapy in Indonesia” serta peraturan perundang-undangan Republik Indonesia yang berkaitan dengan radioterapi. Hasil penelusuran pustaka menunjukkan bahwa teknologi radiasi telah ada di Indonesia sejak tahun 1927. Sampai tahun 2013, terdapat 29 pusat pelayanan radioterapi di Indonesia. Radioterapi telah menjadi salah satu terapi yang penting dalam pengobatan kanker di Indonesia. Pemerintah Indonesia mendukung kemajuan teknologi ini dengan menerbitkan peraturan tentang standar pelayanan radioterapi di rumah sakit. Semakin banyak dan berkembangnya fasilitas radioterapi diharapkan dapat mengurangi prevalensi penyakit kanker di Indonesia.Kata kunci: Kanker, radioterapi, regulasi, terapi radiasi Cancer Therapy with Radiation: The Basic Concept of Radiotherapy and Its Development in IndonesiaCancer is one of the leading causes of death worldwide. According to WHO, 8,8 million deaths in 2015 was caused by cancer. In Indonesia, based on basic health research data in 2013, the prevalence of cancer was 1.4% or 347.792 people in Indonesia suffer from cancer. Various methods have been developed to treat cancer, one of them is by using radiation therapy or radiotherapy. According to International Agency for Research on Cancer (IARC), from 10.9 million people diagnosed with cancer, about 50% require radiotherapy. The use of radiation for cancer therapy has not been widely used and is still limited in Indonesia. This review article was aimed to describe the basic concept of cancer therapy with radiation and its development in Indonesia. Literature review was conducted from Google search engine, Google Scholar and PubMed database with keyword “basic radiotherapy” “radiation therapy in Indonesia” “novel radiotherapy in Indonesia” and radiotherapy regulations in Indonesia. The results revealed that radiation technology has been availabe in Indonesia since 1927. Until 2013, 29 radiotherapy centers were available in Indonesia. Radiotherapy has become one of important modalities for cancer treatment in Indonesia. Indonesian government supports the development of this technology, by issuing regulations on radiotherapy service standards in hospitals. More technology development and radiotherapy facilities are expected to reduce the prevalence of cancer in Indonesia.Keywords: Cancer, radiation therapy, radiotherapy, regulation

Analisis Minimalisasi Biaya Antibiotik Pasien Sepsis Salah Satu Rumah Sakit Kota Bandung

Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (691.334 KB)

Abstract

Terapi antibiotik empirik merupakan salah satu komponen penunjang keberhasilan terapi sepsis, khususnya sepsis sumber infeksi pernapasan. Ketidaktepatan pemilihan terapi antibiotik empirik akan menimbulkan dampak buruk berupa munculnya resistensi bakteri terhadap antibiotik, perawatan pasien menjadi lebih lama, kematian, biaya pengobatan menjadi lebih mahal dan bagi rumah sakit akan menurunkan kualitas pelayanan rumah sakit bersangkutan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kelompok kombinasi antibiotik empirik yang paling efisien secara biaya yang digunakan pada pasien sepsis sumber infeksi pernapasan yang dirawat di salah satu rumah sakit di Kota Bandung periode tahun 2010–2012. Penelitian ini merupakan studi observasional analisis dengan pengumpulan data secara retrospektif. Data diambil dari rekam medis pasien rawat inap sepsis sumber infeksi pernapasan dan mendapat terapi antibiotik empirik seftazidim-levofloksasin atau sefotaksim-eritromisin. Komponen biaya yang dikumpulkan meliputi biaya antibiotik empirik, biaya tindakan, biaya penunjang, biaya rawat inap, dan biaya administrasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total biaya perawatan kombinasi antibiotik seftazidim-levofloksasin sebesar Rp 12.751.082,49 dan kombinasi sefotaksim-eritromisin sebesar Rp 21.641.678,02. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kombinasi antibiotik seftazidim-levofloksasin lebih efisien dibanding kombinasi sefotaksim-eritromisin.Kata kunci: Antibiotik empirik, infeksi pernapasan, minimalisasi biaya, farmakoekonomi, sepsis Cost Minimization Analysis of Antibiotic Used by Sepsis Patients at a Hospital in Bandung Empirical therapy is one of the important supporting therapies for successful sepsis management including, sepsis with respiratory infection. Inappropiate empirical antibiotic therapy leads to resistance of antibiotics which results increases length of stay, mortality and subsequently higher the cost of healthcare and decreases the quality of hospital’s service. This study’s objective was to determine which the antibiotic combination group used for the treatment of sepsis with respiratory infection is the most efficient in cost minimization at a hospital in Bandung. Observational analitycal study is conducted by retrospective data. Data were collected from medical record of inpatients sepsis with respiratory infection who received empirical antibiotic therapy of ceftazidime-levofloxacin or cefotaxime-erythromycin. Direct medical cost were calculated from empirical antibiotic costs, costs of medical treatment, medical expenses, hospitalization costs, and administrative costs. The results showed that total cost of the combination of ceftazidime-levofloxacin is 12,751,082,49 IDR and cefotaxime-erythromycin is 21,641,678,02 IDR. It can be conclude that the combination of ceftazidime-levofloxacin is more efficientthan cefotaxime-erythromycin.Key words: Empirical antibiotics, respiratory infection, cost minimization, pharmacoeconomy, sepsis

Indikator Perawatan Pasien: Resep Pasien Degeneratif-Nondegeneratif dan Resep Racikan-Nonracikan di Salah Satu Apotek di Bandung

Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (655.68 KB)

Abstract

Apotek merupakan salah satu sarana dilakukannya pelayanan kefarmasian oleh seorang apoteker. Dilaporkan bahwa 50% pasien gagal menerima pengobatan secara tepat karena peresepan dan praktik pemberian obat (dispensing) yang tidak sesuai. Apoteker memiliki peran untuk lebih terlibat dalam pelayanan kefarmasian (pharmaceutical care) yang berorientasi pada pasien. Pada penelitian ini dilakukan evaluasi perawatan pasien (patient care) di Apotek Pendidikan Universitas Padjadjaran (Unpad) Kota Bandung, pada bulan Juli–Oktober tahun 2017, dengan menilai beberapa faktor dalam pemberian obat sesuai dengan ketentuan instrumen indikator perawatan pasien dari WHO. Penelitian ini menggunakan rancangan cross-sectional dengan jumlah sampel minimal 20 pasien. Indikator yang digunakan meliputi: lama waktu konsultasi, lama waktu pemberian obat, persen obat yang dapat diserahkan, pelabelan yang benar, dan pengetahuan akan dosis. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata waktu pemberian obat 264 detik, persentase obat yang diserahkan 97,18%, persentase obat yang terlabeli dengan benar 100%, dan waktu rata-rata konsultasi 99,03 detik. Indikator pengetahuan pasien mengenai obatnya hanya 17,07% dan waktu konsultasi bervariasi yaitu 10–370 detik, dibandingkan waktu rekomendasi yaitu 60 detik. Tingkat pengetahuan pasien mengenai obat atau dosis hanya 21,17%. Kegiatan pelayanan kefarmasian di Apotek Pendidikan Unpad dapat dinilai dengan menggunakan indikator WHO dan diketahui bahwa pengetahuan pasien akan dosis obat dipengaruhi oleh jenis penyakit yaitu penyakit degeneratif dan nondegeneratif, sedangkan waktu pemberian obat dan pelabelan obat yang benar dipengaruhi oleh jenis resep pasien yaitu resep racikan atau nonracikan. Kecepatan waktu pelayanan untuk pasien nonkonseling perlu ditingkatkan sehingga diharapkan pasien dapat menerima obat dengan cepat. Pengetahuan pasien mengenai terapinya yang masih rendah juga diharapkan dapat meningkat dengan pemberian informasi obat atau konseling.Kata kunci: Indikator pasien, pelayanan kefarmasian, pengetahuan pasien, waktu konsultasi, waktu dispensing, tepat labelPatient Care Indicator: Degenerative-Nondegenerative Patients and Compounded-Non-Compounded Prescription in One of Community Pharmacy in BandungAbstractPharmacy is one of facilities for pharmacist to do a pharmaceutical care. It has been reported that 50% of patients failed to receive a treatment properly because of error in prescription and dispensing practices. Pharmacist has to be more involved in patient-oriented of pharmaceutical care. This study was conducted to evaluate pharmaceutical care in Apotek Pendidikan Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung from July–October in 2017, by assessing several factors in drugs dispensing using WHO patient indicators instrument. This cross-sectional study was conducted with a minimum sample size of 20 patients. The indicators that we used based on WHO assessment were average consultation time, dispensing time, percent of drugs that can be delivered, percent of labeling, and knowledge of dosage. The results showed that the average of consultation time was 99.03 s, average of dispensing time was 264 s, percentage of delivered drug was 97.18%, and 100% of correctly labeled drugs. Patients’ knowledge about their drug was only 17.07%, and consultation time varied from 10 to 370 s, compared with recommended time which is 60 s. Patients’ knowledge about dose was only 21.17%. Pharmaceutical care in Apotek Pendidikan Unpad Bandung could be assessed by WHO indicators and can be seen that patients’ knowledge of drug dose was influenced by type of disease which is degenerative and nondegenerative diseases, while time of drug administration and correct drug labeling was influenced by type of prescription of patients that is prescription of compounded medicine or non-compounded medicine. Pharmacists need to increase their service time so that patients can receive the drug quickly. Low patient’s knowledge is also expected to increase by drug information service and counseling.Keywords: Consultation time, dispensing time, patient indicators, patient knowledge, pharmaceutical care, right label