Diza, Yulia Helmi
Balai Riset dan Standardisasi Industri Padang

Published : 4 Documents
Articles

Found 4 Documents
Search

Formula Makanan Tradisional Bubur Kampiun Instan Diza, Yulia Helmi
Jurnal Litbang Industri Vol 2, No 1 (2012)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1032.381 KB) | DOI: 10.24960/jli.v2i1.595.9-18

Abstract

The traditional food formula study of kampiun instant porridge had been carried out in three stages. Firstly, the optimization of the process to make filler of kampiun instant porridge, which consisted of instant mung beans, instant rice porridge, black glutinous rice porridge and banana instant. Secondly, preparation of sauce formula, and thirdly the mixing of fillers and formula sauce became a kampiun instant porridge. From the 8 (eight) formula, the F7 treatment that used E7 formula sauce (coconut milk powder instant : palmsuiker : sugar : milk were 1 : 0,5 : 0,5 : 0,25) tends to be preferred by the panelists. Nutrients and calories of kampiun instant porridge had good content of fat, protein and carbohydrates. Fat content of 5.70%-8.94%, protein content of 4.36%-20.46%, and carbohydrate content of 26.73%-32.61%. While the caloric value of 180.27 kcal-254, 62 kcal.  Therefore, the kampiun instant porridge can be used as an alternative for breakfast, emergency food for disaster-prone areas and specific food souvenirs of West Sumatra.ABSTRAKPenelitian formula makanan tradisional bubur kampiun instan telah dilakukan melalui tiga tahapan. Pertama, tahap optimasi proses pembuatan bahan pengisi bubur kampiun instan, yang terdiri dari kacang hijau instan, bubur beras instan, bubur ketan hitam instan dan pisang instan. Kedua, pembuatan formula kuah bubur kampiun instan, dan ketiga, pencampuran bahan pengisi dan formula kuah menjadi bubur kampiun instan. Dari 8 (delapan) formulasi, perlakuan F7 yang menggunakan formula kuah E7 (santan powder instan : palmsuiker : gula pasir : susu adalah 1 : 0,5 : 0,5 : 0,25) merupakan perlakuan yang cenderung lebih disukai oleh panelis. Dilihat dari kandungan gizi dan kalori, bubur kampiun instan mengandung lemak, protein dan karbohidrat yang baik. Kandungan lemak sebesar 5,70-8,94%, protein sebesar 4,36-20,46% dan karbohidrat sebesar 26,73-32,61%. Sedangkan nilai kalori sebesar 180,27- 254,62 kkal. Karena itu bubur kampiun instan ini dapat dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif untuk sarapan pagi, makanan darurat untuk daerah rawan bencana dan sebagai makanan oleh-oleh khas Sumatera Barat.
Penentuan Jumlah Bakteri Asam Laktat (BAL) dan Cemaran Mikroba Patogen Pada Yoghurt Bengkuang Selama Penyimpanan Diza, Yulia Helmi; Wahyuningsih, Tri; Hermianti, Wilsa
Jurnal Litbang Industri Vol 6, No 1 (2016)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.441 KB) | DOI: 10.24960/jli.v6i1.891.1-11

Abstract

One of the research result in order to diversify the processed jicama is jicama yoghurt with quality characteristics has largely met the quality requirements of SNI 2981: 2009 about yoghurt, but it is not known how long the jicama yoghurt can be stored with the availability of lactic acid bacteria alive eligible probiotic drink, namely a minimum of 106 colonies/g and there are no pathogenic microbial contamination Coliform and Salmonella that are safe for consumption. This research was conducted with the treatment of storage time of 0, 1, 2, 3 and 4 weeks at cold temperature (4°C). The yoghurt produced was tested a total value of lactic acid bacteria and pathogenic microbial contamination (Coliform and Salmonella). During storage was also tested total acid content, inulin and calcium, as well as organoleptic testing. Analysis of the various treatments showed the number of lactic acid bacteria that grow until week 3 (three) as much as 2.81 x 106 colonies/gram, or 6.4 log cycles, the yoghurt quality was still good and safe from contamination of pathogenic microbes that coliform <2 colonies/g and salmonella negative/100 ml. Decrease the number of lactic acid bacteria grow during storage of 2.38 x 108 colonies/gram at storage 0 weeks to 6.0 x 105 colonies/gram at 4 weeks of storage, or a decrease of 2.6 log cycle. During storage, the total acid tends to increase but still meet the quality requirements yoghurt, while the content of inulin and calcium tend to remain and organoleptic preferred by the panelists until the fourth week of storage.ABSTRAKSalah satu hasil penelitian dalam rangka diversifikasi olahan bengkuang adalah yoghurt bengkuang dengan karakteristik mutu telah memenuhi sebagian besar syarat mutu SNI 2981:2009 tentang yoghurt, namun belum diketahui berapa lama yoghurt bengkuang dapat disimpan dengan ketersediaan bakteri asam laktat hidup yang memenuhi syarat minuman fungsional, yakni  minimal 106 koloni/g dan tidak terdapat cemaran mikroba patogen Coliform dan Salmonella sehingga aman untuk dikonsumsi. Penelitian ini dilakukan dengan perlakuan lama penyimpanan 0, 1, 2 , 3 dan 4 minggu pada suhu dingin (4oC). Yoghurt yang dihasilkan diuji nilai total bakteri asam laktat dan cemaran mikroba patogen (Coliform dan Salmonella). Pengujian total asam, kandungan inulin dan kalsium, serta pengujian organoleptik juga dilakukan selama penyimpanan. Hasil analisis pada berbagai perlakuan menunjukkan jumlah bakteri asam laktat yang tumbuh sampai minggu ke-3 (tiga) masih memenuhi syarat yoghurt yang baik, yaitu sebanyak 2,81 x 106 koloni/g atau 6,4 siklus log dan aman dari cemaran mikroba patogen yaitu coliform <2 koloni/g dan salmonella negatif/100 ml. Jumlah bakteri asam laktat yang tumbuh mengalami penurunan selama penyimpanan dari 2,38 x 108 koloni/g pada penyimpanan 0 minggu menjadi 6,0 x 105 koloni/g pada penyimpanan 4 minggu, atau turun sebesar 2,6 siklus log. Total asam selama penyimpanan cenderung mengalami peningkatan tapi masih memenuhi syarat mutu yoghurt, sementara kandungan inulin dan kalsium cenderung tetap dan secara organoleptik disukai oleh panelis sampai penyimpanan minggu keempat.
Pengaruh Penambahan Crude Stearin Minyak Kelapa Sawit Terhadap Kestabilan Dark Chocolate Muchtar, Hendri; Diza, Yulia Helmi
Jurnal Litbang Industri Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24960/jli.v1i1.588.1-7

Abstract

The research about effect of crude palm oil stearin addition to the stability of dark chocolate had been caried out with the purpose to determine the effect of crude stearin as a substitute of cocoa butter and as a stabilizer of dark chocolate during storage. A number of stearin used was varied from 0%, 5%, 10%, 15%, 20% and 34%, while other ingredients (cocoa powder, cocoa fat, sugar, lecithin and salt) were given in the same amount. The properties of chocolate product which had been analyzed were the melting point, fat content and free fatty acids (FFA) content, then it was conducted storage stability and the organoleptic test. The results showed that the higher concentration of stearin used, the stability of the chocolate tends to be better with a melting point of chocolate is also higher (ranging from 49oC to 55oC). During storage the FFA levels increased from 0,15% in the first week to 0,71% in the fifth week. This numbers are still within the limits required by Indonesia National Standard (SNI) 01-3748-1995 on cocoa butter. The fat content decreased from 40% to 35% during 7 weeks storage. From the results of organoleptic test, treatment of 10% crude strearin addition was preferred by panelist.ABSTRAKPenelitian pengaruh penambahan crude stearin minyak kelapa sawit terhadap kestabilan dark chocolate telah dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh crude stearin sebagai pengganti lemak cokelat sekaligus sebagai stabilisator dark chocolate selama penyimpanan. Jumlah crude stearin yang digunakan divariasikan mulai dari 0%, 5%, 10%, 20% dan 34%, sedangkan bahan-bahan lain (cokelat bubuk, lemak cokelat, gula, lesitin dan garam) diberikan dalam jumlah yang sama. Kepada produk cokelat yang dihasilkan dilakukan analisa titik leleh, kadar lemak dan asam lemak bebas (FFA), selanjutnya dilakukan uji ketahanan simpan serta uji organoleptik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi crude stearin yang digunakan, kestabilan cokelat cenderung lebih baik dengan titik leleh cokelat juga semakin tinggi (berkisar dari 49oC sampai 55oC). Selama penyimpanan, kadar FFA semakin meningkat dari 0,15% pada minggu pertama menjadi 0,71% pada minggu kelima. Angka ini masih berada dalam batas yang dipersyaratkan pada Standar Nasional Indonesia (SNI) 01-3748-1995 tentang lemak kakao. Kadar lemak cenderung mengalami penurunan dalam penyimpanan selama 7 minggu, yaitu dari 40% sampai 35%. Dari hasil uji organoleptik, perlakuan penambahan stearin 10% memberikan hasil yang cenderung lebih disukai oleh panelis.
Potensi Pigmen Cassiavera pada Minuman Jahe Instan Sebagai Minuman Fungsional Firdausni, Firdausni; Failisnur, Failisnur; Diza, Yulia Helmi
Jurnal Litbang Industri Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (107.758 KB) | DOI: 10.24960/jli.v1i1.590.15-21

Abstract

Cassiavera (Cinnamomum burmannii) contains reddish brown to dark brown pigment that can be used as additives in instant ginger drink. The pigment was generated by maceration method in water at initial temperature 25-27ºC and 85-100ºC with maceration time of 24, 48 and 72 hours. Cassiavera filtrate with optimal color intensity was then added to the ginger powder in the ratio w/v (10:1), (10:2) and (10:3). The potency of cassiavera pigment in the instant ginger was seen from the color intensity by using a spectrophotometer, test of total phenols and panelist preference level of aroma, color, and flavor generated. Results of the research showed that the treatment time of maceration significantly affected the color intensity of the product. The best treatment of cassiavera pigment generating was found on maceration with water at temperature 85-100ºC for 48 hours and comparison of ginger powder and cassiavera filtrate 10:3 (w/v) with the highest color intensity 0, 3813 and the color preferred by the panelists. Total phenol was 26.51 ppm, with average values of organoleptic test of taste, color, and aroma were 3.20, 3.40, and 3.40 respectively. The Color intensity was measured by using a spectrophotometer at a wavelength of 556 nm indicated the intensity of color between 0.0345 - 0.3813, and total phenols between 20.47 and 26.51 ppm.ABSTRAKCassiavera (Cinnamomum burmannii) mengandung pigmen berwarna coklat kemerahan sampai coklat tua yang digunakan sebagai bahan tambahan pada minuman jahe instan. Pengambilan pigmen dengan maserasi air pada suhu awal 25-27ºC dan 85-100ºC dengan lama maserasi 24, 48 dan 72 jam. Filtrat cassiavera dengan intensitas warna optimal yang didapatkan selanjutnya ditambahkan pada jahe bubuk dengan perbandingan antara jahe bubuk dan filtrat cassiavera b/v (10:1), (10:2) dan (10:3). Potensi pigmen cassiavera pada jahe instan dilihat dari intensitas warna dengan menggunakan spektrofotometer, uji total fenol dan tingkat kesukaan fanelis terhadap aroma, warna, dan rasa yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan lamanya maserasi berpengaruh nyata terhadap intensitas warna produk. Pada pengambilan pigmen cassiavera didapatkan perlakuan terbaik pada  maserasi dengan air pada suhu 85-100ºC selama 48 jam dan perbandingan jahe bubuk dengan filtrat cassiavera dalam pembuatan jahe cassiavera instan adalah 10:3 (b/v) dengan intensitas warna tertinggi 0,3813, memiliki total fenol 26,51 ppm, aroma, warna, dan rasa yang disukai oleh panelis  dengan nilai rata rata  3,40; 3,47, dan  3,20. Pengujian intensitas warna menggunakan spektrofotometer yang diukur pada panjang gelombang 556 nm menunjukkan intensitas warna antara 0.0345-0.3813, dan total fenol antara 20,47-26,51 ppm.