Articles

Found 7 Documents
Search

PEMETAAN WILAYAH LAHAN KERING MENGGUNAKAN DATA PENGINDERAAN JAUH Koto, Arthur Gani
Akademika : Jurnal Ilmiah Media Publikasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Vol 6, No 2 (2017): September
Publisher : LPPM Universitas Muhammadiyah Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.061 KB) | DOI: 10.31314/akademika.v6i2.48

Abstract

Dry land occupies the largest area (90%) and has a strategic position in agricultural development activities in Indonesia. The biggest potential of natural resources in the agricultural sector in the district was reached 40.26%. One of the data provider of effective and efficient in terms of development activities and development of the region is remote sensing data. The purpose of this study is to map the area of dry land with the help of remote sensing data. Landsat imagery 8 extracted to obtain land cover information which is then further processed to produce a land use classification is based on the knowledge based classification. Analyzed land use to obtain the map of dry land. The results showed that the District of Wonosari has an area of dry land scattered in all districts and has an area of 185. 733 km2. Dry land area consists of mixed farms (162.811,8 km2) and bare land (22.921,2 km2). Tanah kering menempati area terbesar (90%) dan memiliki posisi strategis dalam kegiatan pembangunan pertanian di Indonesia. Potensi sumber daya alam terbesar di sektor pertanian di kabupaten ini mencapai 40,26%. Salah satu penyedia data yang efektif dan efisien dalam hal kegiatan pengembangan dan pengembangan kawasan adalah data penginderaan jauh. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memetakan daerah lahan kering dengan bantuan data penginderaan jarak jauh. Citra landsat 8 diekstraksi untuk mendapatkan informasi tutupan lahan yang kemudian diproses lebih lanjut untuk menghasilkan klasifikasi penggunaan lahan berdasarkan klasifikasi berbasis pengetahuan. Menganalisis penggunaan lahan untuk mendapatkan peta lahan kering. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kabupaten Wonosari memiliki lahan kering yang tersebar di semua kecamatan dan memiliki luas wilayah 185. 733 km2. Luas lahan kering terdiri dari lahan pertanian campuran (162,811,8 km2) dan lahan kosong (22.921,2 km2).
DETEKSI PERKEMBANGAN LAHAN TERBANGUN KOTA GORONTALO BERDASARKAN CITRA LAST (LANDSAT, ASTER, & SENTINEL-2A) (Detection of the built-up area development in Gorontalo City Based on LAST (Landsat, ASTER, & Sentinel-2A) Imagery) Koto, Arthur Gani; Taslim, Ivan
JURNAL SAINS INFORMASI GEOGRAFI Vol 1, No 2 (2018): Edisi November
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1550.092 KB) | DOI: 10.31314/jsig.v1i2.177

Abstract

Abstract – Built-up area is easily found in urban areas which is the most land use compared to other land use. The development of the built-up area has also increased with increasing population and increasing economic activity. Most of the population activities in the form of economy, services, trade, offices, education, health, and entertainment facilities that are centralized in urban areas have caused the availability of non-built-up area to shrink further. Detection of the built-up area can be assessed from remote sensing data using urban indices, multispectral classification (supervised and unsupervised classification), and spectral bands. This study aims to detect the built-up area based on multisensor and multitemporal imagery. Landsat 5 TM, Landsat 8, ASTER, and Sentinel-2B (LAST) images were used in this study. Digital image processing is performed on each image using the guided classification method support vector machine (SVM) algorithm. Four classes of land cover were taken, namely built-up area, vegetation, bare land, and water bodies. Samples of built-up area classes were taken as many as 31 random sampling points spread over the study area. Validation tests were carried out for each image based on the ground check. Results of the study showed that the development of the built-up area was directed to the north and the difference in the extent of information on the built-up area due to differences in spatial resolution. Keywords: built-up area, landsat, aster, sentinel, supervised classification, gorontalo Abstrak –Lahan terbangun mudah ditemukan di wilayah perkotaan yang merupakan penggunaan lahan paling banyak dibandingkan penggunaan lahan lainnya. Perkembangan lahan terbangun turut meningkat seiring pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan aktivitas ekonomi. Sebagian besar aktivitas penduduk berupa ekonomi, jasa, perdagangan, perkantoran, pendidikan, kesehatan, dan sarana hiburan yang terpusat di wilayah perkotaan menyebabkan ketersediaan lahan non-terbangun kian menyusut pula. Deteksi lahan terbangun dapat dikaji dari data penginderaan jauh menggunakan indeks perkotaan (urban index), klasifikasi multispektral (supervised and unsupervised classification), dan saluran spektral (spectral bands). Penelitian ini bertujuan mendeteksi lahan terbangun berdasarkan citra multis-sensor dan multi-temporal. Citra landsat 5 TM, landsat 8, ASTER, dan sentinel-2B (LAST) digunakan dalam penelitian ini. Pengolahan citra digital dilakukan pada masing-masing citra yang menggunakan metode klasifikasi terbimbing algoritma support vector machine (SVM). Sebanyak empat kelas tutupan lahan diambil, yaitu lahan terbangun, vegetasi, lahan terbuka dan tubuh air. Sampel kelas lahan terbangun diambil sebanyak 31 titik secara random sampling yang tersebar di wilayah penelitian. Uji validasi dilakukan untuk masing-masing citra berdasarkan ground check. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan lahan terbangun mengarah ke utara, dan perbedaan luasan informasi lahan terbangun yang disebabkan perbedaan resolusi spasial. Kata kunci: lahan terbangun, landsat, aster, sentinel, klasifikasi terbimbing, gorontalo
ANALISIS SPASIO-TEMPORAL KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI KABUPATEN GORONTALO (Spatio-Temporal Analysis of Dengue Health Fever (DBD) In Gorontalo District) Melangi, Masrin; Koto, Arthur Gani; Taslim, Ivan
JURNAL SAINS INFORMASI GEOGRAFI Vol 1, No 1 (2018): Edisi Mei
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1823.67 KB) | DOI: 10.31314/jsig.v1i1.89

Abstract

Abstract - This research was conducted in Kabupaten Gorontalo. The purpose of this research is to analyze data and information of DHF incidence in Kabupaten Gorontalo spasiotemporal. An ArcGIS 10.1 software was applied in this research to look at descriptive epidemiology which will be presented in the form of maps, and the tables will then be described in an overlap with DHF incidence data through geographic information systems (GIS). The results of this study indicate that in the last six years, from 2010 to 2016 Gorontalo District has DHF outbreaks in Limboto sub-district, then in 2013-2016 there are 9 sub-districts that have DHF outbreak of Telaga District, Telaga Jaya, Telaga Biru, West Limboto , Tilango, Tibawa, Bilato and Tabongo marked by an increase in cases every year in the Eastern Region of Gorontalo Regency precisely located in the area of Lake Limboto Area. if it is verified using Rainfall data, DHF incidence in Gorontalo District in 2011 until 2015 is not affected by rainfall but will be different from dengue fever case in 2016 which is influenced by high rainfall amount. Keywords: spatio-temporal, gis, dengue health fever, gorontalo Abstrak – Data dan informasi secara spasial dan temporal sangat berguna dalam upaya mengurangi jumlah kejadain DBD di setiap Daerah, dan Kabupaten Gorontalo belum memiliki informasi secara spasial dan temporal mengenai kejadian DBD, Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis data dan informasi kejadian DBD di Kabupaten Gorontalo secara spasiotemporal. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Gorontalo.Sebuah perangkat lunak ArcGIS 10.1 diaplikasikan dalam penelitian ini untuk melihat secara epidemiologi deskriptif yang disajikan dalam bentuk peta, dan tabel yang kemudian digambarkan secara tumpang susun dengan data kejadian DBD melalui sistem informasi geografis (SIG). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam enam tahun terakhir, sejak Tahun 2010 hingga Tahun 2016 Kabupaten Gorontalo mengalami KLB DBD di Kecamatan Limboto, kemudian pada tahun 2013-2016 terdapat 9 Kecamatan yang mengalami KLB DBD yakni Kecamatan Telaga, Telaga Jaya, Telaga Biru, Limboto Barat, Tilango, Tibawa, Bilato dan Tabongo yang ditandai oleh peningkatan kasus pada setiap tahun di Wilayah bagian Timur Kabupaten Gorontalo tepatnya berada di area Kawasan Danau Limboto. jika diverivikasi menggunakan data Curah Hujan, Kejadian DBD di Kabupaten Gorontalo pada tahun 2011 hingga tahun 2015 tidak dipengaruhi oleh jumlah Curah Hujan akan tetapi berbeda dengan kejadian DBD pada tahun 2016 yang justru dipengaruhi oleh jumlah Curah Hujan yang tinggi. Kata kunci: spasio-temporal, sig, demam berdarah dengue, gorontalo
INTERPRETASI LAHAN SAWAH DI KECAMATAN LIMBOTO BARAT MENGGUNAKAN CITRA LANDSAT 8 OLI (Interpretation of Paddy Fields in West Limboto Subdistrict Using Landsat 8 OLI) A. Moonti, Egrilianti; Arifin, Sri Sutarni; Koto, Arthur Gani
JURNAL SAINS INFORMASI GEOGRAFI Vol 1, No 1 (2018): Edisi Mei
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (674.582 KB) | DOI: 10.31314/jsig.v1i1.100

Abstract

Abstract - One of the issues of national food security is the availability of staple food in the form of rice in a sustainability. The availability of paddy fields in West Limboto subdistrict, which is one of the rice producing areas in Gorontalo Regency needs to be interpreted to be known if there is land conversion in the future. Calculation of rice fields can be interpreted using remote sensing data. The purpose of this research is to interpreationt the extent of paddy field located in West Limboto subdistrict. Landsat 8 OLI (Operational Land Imager) acquired November 20, 2015 is the data used in this study. GPS measuring instrument is used as a tool for checking the coordinates of sample points that will be in the fiel d check. The method by digital image processing landsat 8 OLI using supervised classification algorithm maximum likelihood. Landsat 8 layer stacking process then do corrected geometric. Unsupervised classification is performed as an initial interpretation stage to classify land cover and also as sample point extraction. Total 18 sample points were taken that were used for ground data. Reclassified using supervised method processing after finished ground data. The results show that the paddy fields about 886,66 ha spread in 8 villages. Keywords: paddy fields, supervised, mapping, west limboto, gorontalo Abstrak – Salah satu isu ketahanan pangan nasional adalah ketersediaan bahan makanan pokok berupa beras secara berkelanjutan. Ketersediaan lahan sawah di Kecamatan Limboto Barat yang merupakan salah satu wilayah penghasil beras di Kabupaten Gorontalo perlu diinterpretasi agar dapat diketahui bila terjadi alih fungsi lahan pada masa mendatang. Penghitungan luas lahan sawah dapat diinterpretasi menggunakan data penginderaan jauh yaitu citra landsat 8. Tujuan penelitian ini adalah untuk menginterpretasi luasan lahan sawah yang terdapat di Kecamatan Limboto Barat. Citra landsat 8 OLI (Operational Land Imager) perekaman 20 November 2015 merupakan data yang digunakan dalam penelitian ini. Alat ukur berupa GPS digunakan sebagai alat bantu untuk pengecekan koordinat titik sampel yang akan di cek lapangan. Metode penelitian dilakukan dengan teknik pengolahan citra digital landsat 8 OLI menggunakan klasifikasi supervised algoritma maximum likelihood. Citra landsat 8 dilakukan proses layer stacking kemudian dikoreksi geometrik. Klasifikasi tak terbimbing (unsupervised) dilakukan sebagai tahap interpretasi awal untuk mengklasifikasi tutupan lahan dan juga sebagai pengambilan titik sampel. Sebanyak 18 titik sampel diambil yang digunakan untuk cek lapangan. Reklasifikasi metode terbimbing (supervised) dilakukan dari hasil data lapangan. Hasil yang diperoleh menunjukkan luas lahan sawah sekitar 886,66 ha yang tersebar di 8 desa. Kata kunci: sawah, landsat, supervised, pemetaan, limboto barat, gorontalo
ANALISIS KESESUAIAN PENGGUNAAN LAHAN BERDASARKAN ARAHAN FUNGSI KAWASAN DI DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) ALO KABUPATEN GORONTALO (Analysis of The Suitability of Land Use Based on The Direction of The Function of The Area in Alo Basin in Gorontalo District) Ake, Ulfan R.; Koto, Arthur Gani; Taslim, Ivan
JURNAL SAINS INFORMASI GEOGRAFI Vol 1, No 1 (2018): Edisi Mei
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (976.078 KB) | DOI: 10.31314/jsig.v1i1.118

Abstract

Abstract - Determination of the function of the area is very important in order to preserve and prevent environmental damage, so as to improve the safety, prosperity, and comfort of life. The occurrence of landslide in Gorontalo regency partly from alo watershed area in pulubala subdistrict and tibawa sub-district has destroyed 221 houses, 31 houses were badly damaged and 628 people were injured. In addition, the factors causing avalanches in the alo watershed are slope, soil type, high rainfall and community land use. This study aims to: (1) map the main function of the area in alo watershed based on the decree of the minister of agriculture no. 837 / kpts / um / 11/1980 (2) analyze the suitability of land use in the alo watershed based on the main function of the region and present it in the form map. Method and analysis used in this research is scoring, overlay, and field survey. Based on the result of alo river basin analysis, there are 4 directives of the area function. The function of protected area covers 93.09 ha (0.40%), buffer area 4970.74 ha (21.13), annual cultivation area 3614.56 ha (15.37%), while the cultivation area annual crops and settlements have an area of 14,843.3 ha (63.10%). Most of the land use in the alo basin is said to be appropriate to the direction of the function of the area, where the land has an area of 18,566.6 hectares or 79.05% while the unsuitable land is 4,920.7 ha or 20.95% of the entire alo watershed. Keywords: land suitability, directed land functions, alo watershed, gorontalo Abstrak - Penetapan fungsi kawasan sangat penting guna menjaga kelestarian dan mencegah kerusakan lingkungan, sehingga dapat meningkatan keselamatan, kesejahteraan serta kenyamanan hidup. Kejadian longsor di Kabupaten Gorontalo sebagian dari wilayah DAS Alo yaitu berada di Kecamatan Pulubala dan Kecamatan Tibawa telah menghancurkan 221 buah rumah, 31 buah rumah di antaranya rusak parah, dan korban luka-luka sejumlah 628 orang. Selain itu yang menjadi faktor penyebab longsoran di DAS Alo diantaranya adalah faktor lereng, jenis tanah, curah hujan yang tinggi dan pemanfaatan lahan oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Memetakan arahan fungsi utama kawasan di DAS Alo berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 837/Kpts/Um/11/1980 (2) Menganalisis kesesuaian penggunaan lahan di DAS Alo berdasarkan arahan fungsi utama kawasan dan menyajikannya dalam bentuk peta. Metode dan analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah skoring, overlay, dan survey lapangan. Berdasarkan hasil analisis DAS Alo memiliki 4 arahan fungsi kawasan yaitu Arahan fungsi kawasan lindung memilki luas 93.09 ha (0.40%), kawasan penyangga 4970.74 ha (21.13), kawasan budidaya tanaman tahunan 3614,56 ha (15,37%), sedangkan kawasan budidaya tanaman semusim dan pemukiman memilki luas sebasar 14.843,3 ha (63,10%). Sebagian besar pemanfaatan lahan di DAS Alo dikatakan sudah sesuai terhadap arahan fungsi kawasan, dimana lahan sesuai memilki luas 18.566,6 ha atau 79,05 % sedangkan lahan yang tidak sesuai 4.920,7 ha atau 20,95 % dari seluruh wilayah DAS Alo. Kata kunci: kesesuaian lahan, arahan fungsi lahan, daerah aliran sungai alo, gorontalo
IDENTIFIKASI POTENSI ALAM DESA DULANGEYA SEBAGAI KAWASAN WISATA MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (Identification of the Natural Potential of Dulangeya Village as a Tourism Area Using Geographic Information Systems) Saleh, Herman; Koto, Arthur Gani; Taslim, Ivan
JURNAL SAINS INFORMASI GEOGRAFI Vol 1, No 2 (2018): Edisi November
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (654.041 KB) | DOI: 10.31314/jsig.v1i2.173

Abstract

Abstract - This research was conducted in Dulangeya Village, Botumoito District, Boalemo Regency. Dulangeya village is one of the villages in Botumoito Subdistrict that has natural resources (SDA) that deserve to serve as the object of natural tourist attraction. The natural potential is hot springs, mangroves and white sandy beaches based on the above objective of this research is to identify the natural potentials in Dulangeya village into tourist areas by utilizing GIS applications. Methods and data analysis used is the method of interview and field observation is a method that aims to determine the level of natural potential feasibility in Dulangeya village which will serve as a spatial analysis and scoring. The results of spatial analysis based on land cover map, slope map and geological map shows that Dulangeya village has land cover (primary mangrove forest, secondary mangrove forest, dryland farming, dryland farming mixed with shrubs / bushes), alluvium geology and granodiorite and slope which range between 2-5% and 5-15%. Meanwhile, based on scoring analysis for each criterion is attractiveness (94.44%), accessibility (70.83%), accommodation (33.33%) and facilities and infrastructure (70%). Based on the results of spatial analysis and scoring analysis shows that Dulangeya Village is one of the villages in Botumoito Subdistrict that has the potential of natural resources that deserve to be used as one of the natural attractions. Keywords: Nature Potential, Tourism, Dulangeya Village, GIS Abstrak - Penelitian ini dilakukan di Desa Dulangeya Kecamatan Botumoito Kabupaten Boalemo. Desa Dulangeya merupakan salah satu Desa di Kecamatan Botumoito yang memiliki Sumber Daya Alam (SDA) yang layak untuk dijadikan sebagai obyek daya tarik wisata alam. Potensi alam tersebut berupa sumber mata air panas, mangrove dan pesisir pantai berpasir putih berdasarkan hal tersebut maka tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi potensi alam di Desa Dulangeya menjadi kawasan wisata dengan memanfaatkan aplikasi SIG. Metode dan analisis data yang digunakan adalah metode wawancara dan observasi yaitu metode yang bertujuan untuk mengetahui tingkat kelayakan potensi alam di Desa Dulangeya yang akan dijadikan sebagai kawasan wisata dan dianalisis secara spasial dan skoring. Hasil analisis spasial berdasarkan peta tutupan lahan, peta lereng dan peta geologi menunjukan bahwa Desa Dulangeya memiliki tutupan lahan (hutan mangrove primer, hutan mangrove sekunder, pertanian lahan kering, pertanian lahan kering bercampur semak/belukar), tataran geologi aluvium dan granodiorit serta kemiringan lereng yang berkisar antara 2-5% dan 5-15%. Sedangkan berdasarkan hasil analisis skoring untuk setiap kriteria penilian adalah daya tarik (94,44%), aksesibilitas (70,83%), akomodasi (33,33%) serta sarana dan prasana (70%). Berdasarkan hasil analisis spasial dan analisis skoring menunjukkan bahwa Desa Dulangeya merupakan salah satu Desa di Kecamatan Botumoito yang memiliki potensi SDA yang layak untuk dijadikan sebagai salah satu obyek wisata alam. Kata Kunci: Potensi Alam, Wisata, Desa Dulangeya, SIG
Kajian Ruang Terbuka Hijau Kampus Universitas Muhammadiyah Gorontalo Menggunakan Foto Udara Drone Koto, Arthur Gani; Taslim, Ivan
Media Komunikasi Geografi Vol 19, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (516.948 KB) | DOI: 10.23887/mkg.v19i2.14735

Abstract

Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGo) yang berdiri sejak tahun 2008 merupakan salah satu Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang salah satu tujuannya adalah untuk pengembangan dan pendidikan generasi muda Indonesia. Kelengkapan sarana dan prasarana perkuliahan merupakan suatu hal yang harus dipenuhi demi terciptanya proses pendidikan dan keberlanjutannya. Ketersediaan kebutuhan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kampus UMGo sangat dibutuhkan bagi sivitas akademik UMGo karena fungsi dan peranannya sebagai paru-paru kampus dan dapat meminimalisir perubahan iklim serta memberikan kontribusi positif bagi AUM lainnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji ketersediaan RTH Kampus UMGo menggunakan foto udara drone. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif menggunakan citra foto udara yang direkam menggunakan drone kemudian dianalisis dengan teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketersedian RTH di Kampus UMGo telah memenuhi syarat yang ditetapkan Undang-Undang No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang.