Putra, Kukuh Pambuka
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Kristen Satya Wacana

Published : 5 Documents
Articles

Found 5 Documents
Search

PENGARUH INTENSITAS BERMAIN GAME TERHADAP TINGKAT KOGNITIF (KECERDASAN LOGIKA-MATEMATIKA) USIA 8-9 TAHUN Manggena, Theresita Febriane; Putra, Kukuh Pambuka; Elingsetyo Sanubari, Theresia Pratiwi
Satya Widya Vol 33 No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (429.381 KB)

Abstract

 Perkembangan tekonologi yang semakin canggih dapat memudahkan pekerjaan manusia. Salah satu tekonologi adalah gadget. Gadget tidak hanya digunakan orang dewasa namun juga digunakan anak-anak untuk mengakses game. Games juga digunakan untuk mendukung aspek-aspek perkembangan salah satunya kognitif. Perkembangan kognitif sangat diperlukan untuk meningkatkan kemampuan otak. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh intensitas bermain game terhadap tingkat kognitif (kecerdasan logika-matematika) anak usia 8-9 tahun. Kecerdasan logika-matematika dapat dinilai atau diwakili dari kemampuan berhitung. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner dan soal tes matematika. Teknik Analisis data menggunakan uji normalitas berupa kolmogrov-smirnov, shapiro-wilk dan uji mann-whitney. Penelitian ini dilakukan di Sekolah Dasar Kristen Satya Wacana Salatiga kelas 3 berjumlah 60 anak. Hasil penelitian Responden dengan nilai kemampuan berhitung < 70 sebanyak 30 anak dengan rata-rata waktu bermain game 4.9 jam per hari dan 4.5 jam per minggu. Responden dengan nilai kemampuan berhitung > 70 sebanyak 30 anak dengan rata-rata waktu bermain game 2.8 jam per hari dan 2.2 jam per minggu. Data ini menunjukkan bahwa nilai ≤ 70 cendrung bermain game lama. Durasi bermain game ≤ 3 jam per hari dan > 3 jam per hari memiliki pengaruh signifikan terhadap kognitif. Durasi bermain game ≤ 21 jam per minggu dan > 21 jam per minggu memiliki pengaruh signifikan terhadap kognitif.  Kata kunci: bermain game, kognitif (Kecerdasa Logika-Matematika), kemampuan otak.AbstractThe advance of technology could ease the people for work. One kind of this is gadget. Gadget is not only used by adult, yet the children too to access the game. The game also used to bolster the aspects of growth, either is cognitive growth. Cognitive growth is required to improve the brain power. The purpose of this research is to find out the effect of the intensity of playing games to cognitive level (Logical-Mathematical Intelegence) for the children aged 8-9 years Logical-Mathematical Intelegence may be valued or represented by the numeracy skills. This research utilize quantitative and descriptive method by using several instrument such as math test and questionnaire. Analysis Data Technique, performed by using the normality test of kolmagrov-smirnov, shapiro-wilk and mann-whitney test. This research done in The Christian Primary School of Satya Wacana to 60 3rd graders pupils. The research to the respondent result that 30 pupils who playing games with average of time 4,9 hours a day and 4,5 hours a week have score of numeracy skills ≤ 70. While theother 30 pupils who playing games with verage of time 2,8 hours a day and 2,2 hours a week have score of numeracy skills >70. This data shows that the score <70 owned by the pupils who play the games longer. Duration of playing games <3 hours or >3 hours a day have a significant impact to cognitive level Likewise, duration of playing games <21 hours or >21 hours a week have a significant impact to cognitive level.Key words : Playing Game, Cognitive (Logical-Mathematical Intelegence ), The ability of the brain.
Perbedaan tingkat keberhasilan 3 metode ekualisasi pada penyelam terlatih di lingkungan air tawar Arbanto, Bonifacius; Putra, Kukuh Pambuka; Al Ardha, Muchamad Arif
Jurnal Keolahragaan Vol 6, No 2: September 2018
Publisher : Program Studi Ilmu Keolahragaan Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyelam mengalami penambahan tekanan lingkungan ketika bergerak turun menambah kedalaman penyelaman. Tekanan tersebut menyebabkan volume ruang udara dalam telinga tengah berkurang dan dapat menyebabkan barotrauma dan kerusakan membran timpani. Tekanan tersebut harus diseimbangkan dengan cara melakukan ekualisasi. Ada tiga metode ekualisasi, yaitu metode valsava, toynbee dan menggerakkan rahang. Namun belum diketahui metode mana yang memiliki tingkat keberhasilan tertinggi. Penelitian ini mempelajari tingkat keberhasilan ketiga metode ekualisasi dengan membandingkan kedalaman yang berhasil dicapai oleh penyelam menggunakan tiga metode yang berbeda. Penelitian ini dilakukan pada 40 orang penyelam terlatih di lingkungan kolam air tawar dengan kedalaman 5 meter. Variabel yang diukur adalah angka kedalaman (dalam meter) yang berhasil dicapai penyelam. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara capaian kedalaman menggunakan metode valsava dengan capaian kedalaman menggunakan metode toynbee (p<0,05) dan terdapat perbedaan yang signifikan pula antara capaian kedalaman menggunakan metode valsava dengan capaian kedalaman menggunakan metode menggerakkan rahang (p<0,05). Namun tidak didapati adanya perbedaan yang signifikan antara data capaian kedalaman menggunakan metode menggerakkan rahang dengan capaian kedalaman menggunakan metode toynbee (p>0,05). Difference in success rate of 3 equalize method among trained divers in the freshwater environment AbstractDivers experience increase of environmental pressure when the diver descends. This pressure causes the volume of air space in the middle ear to decrease, can cause barotrauma and tympanic damage. This pressure must be equalize. There are three methods of equalization, valsava maneuver, toynbee and moving the jaw. But it is not known which method has the highest success rate. This research studied the success rate of the three methods of equalization by comparing the depth achieved by divers using the three different methods. This study was conducted on 40 trained divers in the freshwater pool with 5 meters depth. The variable measured is the number of depths (in meters) successfully achieved by divers. The results of this study showed that there was a significant difference between the depth achieved using the Valsava maneuver with the depth achieved using the toynbee maneuver (p <0.05) and there were also significant differences between the depth achieved using the Valsava maneuver with depth achieved using the jaw moving method (p <0, 05). However, there was no significant difference between the depth achieved using the jaw moving method with depth achieved using the toynbee maneuver (p> 0.05).
Gambaran Aktivitas Fisik Pada Individu Obesitas Di Wilayah Kerja Puskesmas Sidorejo Kidul Salatiga Angga, Daniel Tri; Putra, Kukuh Pambuka; Nugroho, Kristiawan P.A.
Journal of Health Vol 6 No 1 (2019): Journal of Health - January 2019
Publisher : LPPM STIKES Guna Bangsa

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (912.169 KB)

Abstract

Latar Belakang: Obesitas merupakan salah satu masalah kesehatan yang berkaitan dengan prevalensi penyakit kardiometabolik. WHO menyatakan bahwa obesitas merupakan masalah serius yang kompleks yang dialami oleh segala kelompok umur, mulai dari anak – anak, dewasa sampai lansia. Obesitas harus segera ditangani karena berpotensi menjadi suatu masalah kesehatan (1). Pada penderita obesitas yang memiliki Indeks Masa Tubuh (IMT) &gt; 30 kg/m2 akan meningkatkan risiko Penyakit Jantung Koroner (PJK), baik pada laki – laki maupun perempuan. American Heart Association (AHA) mengklasifikasikan obesitas sebagai faktor risiko terjadinya penyakit jantung koroner. Seseorang dengan Obesitas sentral (upper body obesity) akan mudah terkena risiko penyakit jantung dan penyakit metabolik lain yang dikenal sebagai sindrom metabolik dibandingkan dengan obesitas ginoid (lower body obesity) sangat kecil akan risiko terjadinya penyakit metabolik dan jantung koroner. &nbsp;Tujuan: Tujuan penelitian untuk mengetahui gambaran perilaku masyarakat dilihat dari sudut pandang aktivitas fisik yang menjadi salah satu penyebab kejadian obesitas di Kota Salatiga.&nbsp; Metode: Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan observasi. Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang pernah memeriksakan diri ke Puskesmas Sidorejo Kidul, masing – masing berasal dari lingkup wilayah kerja Puskesmas Sidorejo Kidul. Kriteria inklusi yang diterapkan adalah: 1) masyarakat yang tinggal di wilayah kerja puskesmas sidorejo kidul, 2) berusia 40 tahun ke atas, 3) IMT lebih dari 27,0 .variabel yang dipelajari dalam penelitian ini adalah intensitas aktivitas fisik dan IMT. Instrumen yang dipakai untuk mengukur intensitas aktivitas fisik adalah Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ). Wawancara dilakukan untuk mengidentifikasi pemahaman masyarakat yang ada di wilayah kerja Puskesmas Sidorejo Kidul terhadap obesitas dan aktivitas fisik. Hasil: Setelah semua data terkumpul, hasil penelitian dilakukan dengan menganalisis data dengan reduksi data, penyajian data, penarikan simpulan, dan verifikasi. Setelah semua data terkumpul hasil penelitian dilakukan dengan cara analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, kesimpulan, dan verifikasi. Kesimpulan: Aktivitas fisik para lansia yang berada di wilayah kerja puskesmas sidorejo kidul kota salatiga, berdasarkan penghitungan Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ) termasuk dalam kategori sedang 50% dengan aktivitas fisik yang umumnya dilakuan oleh Ibu Rumah Tangga (IRT) seperti menyapu, mengepel, masak, dan mencuci. Sebanyak 15% lansia berada dalam kategori aktifitas fisik rendah dan sisanya termasuk dalam kategori tinggi 35%.
Analisis Perbedaan Peak Expiratory Flow (PEF) Pada Atlet Olahraga Renang dan Lari Putra, Kukuh Pambuka; Kinasih, Angkit; Nugraha, Ardi Purwa
Journal of Health Vol 6 No 1 (2019): Journal of Health - January 2019
Publisher : LPPM STIKES Guna Bangsa

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (863.197 KB)

Abstract

Latar Belakang: Asma merupakan penyakit kronis yang dapat dijumpai di semua usia. Data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2013 menunjukan prevalensi di Indonesia sebesar 4,5%. Penyakit asma berpengaruh terhadap kecepatan ekspirasi pada paru-paru. PEF adalah kecepatan ekspirasi maksimal yang bisa dicapai oleh seseorang, dinyatakan dalam liter per menit (L/menit) atau liter per detik (L/detik). PEF dapat diukur menggunakan PEF meter. PEF meter merupakan alat untuk mengukur kecepatan ekspirasi maksimal. Olahraga yang bersifat aerobik seperti renang dan lari adalah olahraga yang dianjurkan untuk penderita asma. &nbsp;Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari perbedaan PEF pada individu yang rutin melakukan olahraga renang dan lari.&nbsp; Metode: Penelitian ini merupakan studi komparatif. Subyek penelitian ini adalah 20 atlet yang aktif olahraga renang dan 20 atlet yang aktif olahraga lari yang ditentukan dengan teknik purposive sampling. Analisis data menggunakan uji t independent. Hasil: Hasil penelitian menggunakan uji t independent nilai sig.0,890 yang menyatakan rata–rata nilai PEF atlet renang dan lari sama. Kesimpulan: Berdasarkan penelitian nilai PEF atlet renang lebih tinggi dibandingkan nilai PEF atlet lari.
Cognitive Function Differences on Elderlies (> 50 years) Examined from Daily Physical Activity Intensity Differences Putra, Kukuh Pambuka; Messakh, Sanfia Tesabela; Adhitya, Yosta Doni
JURNAL PENDIDIKAN JASMANI DAN OLAHRAGA Vol 4, No 2 (2019): Promote a More Active and Healthier lifestyle Through Physical Education
Publisher : Departemen of Physical Education-Indonesian University of Education

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (848.875 KB)

Abstract

The general retirement age is 50-60 year old related to the assumption that, as people get older, a person will experience degeneration of brain cells which results in cognitive function decrease that affects work quality and productivity. Physical activity is believed to help reduce the cognitive function decrease in elderlies and provide opportunities to extend the productive period. This study was aimed at finding out the cognitive function differences in physically active elderlies and physically inactive elderlies, as well as the relationship between the level of daily physical activity and cognitive function of the elderlies. This study was an observative analytic study involving 90 elderlies (> 50 years) grouped into 2 groups based on the intensity of their daily physical activities. The instrument used for measuring physical activity level was GPAQ and the cognitive function measurement instrument was MMSE. The data obtained were analyzed by independent t-test and correlation test. The results showed a significant cognitive function difference (p <0.05) in the high physical activity group (KT) and the low physical activity group (KR). Correlation test showed a strong relationship (p <0.05) between the intensity of daily physical activity and cognitive function of the elderlies.