Articles

Found 7 Documents
Search

PELATIHAN DASAR-DASAR CAD/CAM/CAE DAN SOFTWARE AUTOCAD UNTUK GURU-GURU SMK BIDANG KEAHLIAN TEKNIK MESIN DI WILAYAH KABUPATEN BEKASI Sukarno, Ragil; Sugita, I Wayan; Syaefudin, Eko Arif
Bahasa Indonesia Vol 11 No 2 (2014): SARWAHITA : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (456.616 KB) | DOI: 10.21009/sarwahita.112.10

Abstract

Di dunia industri, proses desain sebuah produk tidak lagi menggunakan cara-cara yang konvensional, akan tetapi menggunakan sebuah sarana komputer melalui sebuah software desain dan optimasi yang biasa disebut  dengan istilah CAD/CAM/CAE.  Namun,  seiring dengan  tantangan  persaingan  global yang sudah didepan mata, masih banyak guru-guru SMK terutama di wilayah Kecamatan Tarumajaya dan sekitarnya  di Kabupaten  Bekasi  yang belum  mumpuni  dalam penguasaan  teknologi  informasi atau teknologi komputer di bidang desain dan analisa. Tujuan dari kegiatan pelatihan ini adalah untuk memberikan pengetahuan baru kepada guru teknik mesin di wilayah  Kabupaten  Bekasi, khususnya SMK di Tarumajaya dan sekitarnya melalui  pengenalan teknologi CAD/CAM/CAE dan pelatihan AutoCAD, sehingga bisa menjadi alternatif proses desain dan perancangan produk dari metode konvensional  ke metode komputerisasi.  Metode  yang digunakan  pada pelatihan  ini adalah  melalui teori, praktek dan diskusi serta memberikan tugas kepada peserta agar langsung mempraktekan materi yang telah disampaikan. Materi yang diberikan dalam pelatihan adalah pengenalan dasar-dasar CAD/CAM/CAE dan menggambar objek 2 dimensi dan 3 dimensi dengan menggunakan software AutoCAD.  Program  pelatihan  ini  dapat  diselenggarakan  dengan  baik  dan  berjalan  dengan  lancar sesuai dengan rencana kegiatan yang telah disusun serta mendapat sambutan yang sangat baik terbukti dengan  keaktifan  peserta  mengikuti  pelatihan  dengan  tidak  meninggalkan  tempat  sebelum  waktu pelatihan berakhir. Terjadinya peningkatan pengetahuan tentang konsep perancangan produk melalui pengenalan  dasar-dasar  CAD/CAM/CAE  dan peningkatan  kemampuan  dan  motivasi  dalam mendalami desain dengan software CAD, khususnya AutoCAD. Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi guru-guru SMK bidang keahlian teknik mesin  di wilayah kabupaten Bekasi, Jawa Barat
KINERJA PIPA KALOR DENGAN STRUKTUR SUMBU FIBER CARBON dan STAINLESS STEEL MESH 100 dengan FLUIDA KERJA AIR Sugita, I Wayan
JURNAL KAJIAN TEKNIK MESIN Vol 1, No 1 (2016): Jurnal Kajian Teknik Mesin
Publisher : JURNAL KAJIAN TEKNIK MESIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.714 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja pipa kalor dengan struktur sumbu fiber carbon yang akan dibandingkan terhadap pipa kalor dengan struktur sumbu stainless steel mesh 100. Dilakukan perhitungan kinerja pipa kalor pada berbagai variasi sudut pengoperasian (0o-90o), dengan menghitung laju perpindahan panas dan koefisien perpindahan panas konduksi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen. Pipa kalor yang menggunakan struktur sumbu fiber carbon dan struktur sumbu stainless steel mesh 100 dibuat dari bahan pipa tembaga dengan diameter luar 9.525 mm, tebal 0.8 mm, panjang 300 mm. Didalam pipa kalor dimasukkan struktur sumbu fiber carbon dan stainless steel mesh 100. Fluida kerja yang digunakan adalah air karena air mudah didapat serta memenuhi syarat utama sebagai fluida kerja, yaitu tidak bereaksi dengan material pipa maupun struktur sumbu (wick), mampu beroperasi pada temperatur 30o - 200oC, sifat termalnya stabil dan panas laten yang tinggi. Pengujian pipa kalor dengan memberikan beban panas pada evaporator sebesar 14 W dan mendinginkannya pada bagian kondensor dengan pendinginan dilakukan secara konveksi paksa menggunakan air pada debit yang konstan.Hasil yang didapat menunjukkan bahwa laju perpindahan panas dan koefisien perpindahan panas konduksi pipa kalor dengan struktur sumbu fiber carbon dalam berbagai variasi sudut selalu lebih besar dibandingkan dengan pipa kalor struktur sumbu stainless steel mesh 100. Laju perpindahan panas tertinggi terjadi pada pipa kalor struktur sumbu fiber carbon dengan sudut 90o sebesar 13.8 W. Koefisien perpindahan panas konduksi pipa kalor struktur sumbu fiber carbon lebih besar dibandingkan dengan pipa kalor struktur sumbu stainless steel mesh 100 dengan nilai terbesar 16299.96 yang terjadi pada sudut 90o.Kata Kunci : Pipa Kalor, Struktur Sumbu, Fluida Kerja
DEKONTRUKSI ALASAN MAKNAWI DALAM PENERAPAN AJARAN HIMSA KARMA PADA TRADISI MAJAGA-JAGA DI DESA PAKRAMAN BESANG KAWAN TOHJIWA KECAMATAN KLUNGKUNG KABUPATENKLUNGKUNG (Perspektif Pendidikan Sosio-Religius) Purnama Dewi, Ni Luh Kadek; Redana, I Made; Sugita, I Wayan
Jurnal Penelitian Agama Hindu Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.856 KB)

Abstract

Majaga-jaga  is a legacy of ancestors who should be preserved. The uniqueness is very visible at the time of execution of the master-guard traditions in the village of Pakraman Besang Kawan Tohjiwa during the ceremony using the means of cattle, cows used in cattle jagiran (male) and without mala (physical defect), the cow must be red. At the time of the ceremony took place cow paraded from the intersection of Agung (Catus Pata) to the north of the temple puseh then in upacarai. The conduct of the drill-keeping ceremony aims to invoke the clarity of the universe and to ward off the mala or disturbance of the bhuta kala.Formulation of problem in this research that is; 1) What is the religious system in the practice of majaga-jaga  traditions in Pakraman Village Besang Kawan Tohjiwa, Klungkung Sub-district, Klungkung Regency ?, 2) What is the deconstruction of the meaning of non-violent teachings / himsa karma in the tradition of the majaga-jaga  master tradition in Pakraman Village Besang Kawan Tohjiwa, Klungkung Sub-district, Klungkung Regency, and 3) What is the expectation of the non-violent teachings / himsa karma in the majaga-jaga  tradition in Pakraman Village Besang Kawan Tohjiwa, in the context of the values of socio-religious education?This research uses three theories namely; religious theory, deconstruction theory, and theory of meaning, in which these three theories will dissect the problem formulation in this study. This research is qualitative, the source of data collected through observation, interview and documentation study. Determination of informants using purposive sampling method.The results of the study are as follows; (1) Implementation of the majaga-jaga  traditions in Pakraman Village Besang Kawan Tohjiwa is one of the forms of bhuta yadnya implementation with its facilities and infrastructures. The use of upakara or banten is a supporting or auxiliary facilities that become the main means of cattle. The time and place of the execution is very important, in which case the holding of the majaga-jaga  ceremony is sasih karo and the place of execution is the village area with five directions, namely north, south, east, west and center. The ceremony is led by the village stakeholders, especially the stakeholders and the puseh dibanru by other stakeholders and the customary and all the community, (2) Deconstruction of the Meaning of Maknawi Nir Violence / Himsa Karma in Tradition The majaga-jaga in Pakraman Village Besang Kawan Tohjiwa is 1) The Reason of Religious Emotions and 2) Reasons for Preserving Dresta's Village-Based Traditions. (3) Expectation of Socio-religious Education in the guardian-watch tradition in Pakraman Village Besang Kawan Tohjiwa are: 1) Dekrakruksi Based Ahimsa's Teachings, 2) Expectation of Socio-Religious Education which is divided into three namely; a) Expectation of the Non-Violent Teachings of Harmony in Religious Life, b) Expectations on Harmonization in Religious Life, and c) Expectations on the Formation of Behavior / Ethics.
PENGAJARAN APRESIASI SASTRA DI SEKOLAH LANJUTAN ATAS KEAKRABAN GURU-MURID DENGAN KARYA SASTRA Sugita, I Wayan
Kalangwan: Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 7, No 2 (2017)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.276 KB)

Abstract

The high school is the last level in the framework of basic education, which prepares students to continue their education or to college, or to the largest number work in the society. Especially if we remember this second possibility, that possibility can not be avoided by the majority of high school graduates as a result of the state of our education today, then we should be really concerned. These concerns are not just demanding to pitch our chest, but and even more demanding of ourselves efforts to bridge the gaps between reality and expectations of education
WACANA KESENIAN GENJEK Sugita, I Wayan
Kalangwan: Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.938 KB)

Abstract

Kesenian genjek ini tergolong jenis kesenian tradisional Bali yang memadukan antara seni suara dengan seni musik tradisional Bali yang dapat digolongkan sebagai etnomusikologi. Genjek sebagai salah satu kesenian tradisional yang memadukan antara kesenian musik tradisional dengan seni suara ini juga mempunyai ekspresi, nilai, dan pesan yang ingin disampaikan lewat syairsyair lagu yang dinyanyikan itu. Nilai dan pesan itu dapat berupa kritik sosial, percintaan, nasihat, dan bahkan mungkin ada yang bersifat religius. Dalam tulisan ini dicoba untuk mengkaji bentuk, fungsi, dan makna pada wacana kesenian genjek dengan menggunakan teori ethnography speaking oleh Dell Hymes (1972). Adapun sumber data tulisan ini adalah data lisan yang telah direkam dalam bentuk kaset rekaman dan telah banyak diperjualbelikan di toko-toko kaset. Berdasarkan kajian yang telah dilakukan dapat dikatakan bahwa bentuk wacana kesenian genjek di Bali ini berupa syair lagu yang dikemas dengan menggunakan bahasa Bali. Pemilihan bentuk bahasanya disesuikan dengan pesan nilai yang ingin disampaikan. Fungsi wacana kesenian genjek ini selain sebagai hiburan, juga sebagai sarana untuk menyampaikan pesan terhadap gejala kemasyarakatan yang sedang berkembang.Makna wacana kesenian genjek ini adalah untuk memperoleh kesadaran warga masyarakat dan dapat melakukan introspeksi diri dalam berperilaku sosial.
PENDIDIKAN BUDAYA DAN KARAKTER Sugita, I Wayan
GUNA WIDYA: JURNAL PENDIDIKAN HINDU Vol 5, No 2 (2018): Guna Widya : Jurnal Pendidikan Hindu
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1083.86 KB)

Abstract

Pendidikan nasional Indonesia saat ini masih menghadapi berbagai masalah. Capaian hasil pendidikan masih belum memenuhi hasil yang diharapkan. Pembelajaran di sekolah belum mampu membentuk secara utuh pribadi lulusan yang mencerminkan karakter dan budaya bangsa. Proses pendidikan masih menitikberatkan dan memfokuskan capaiannya secara kognitif. Sementara, aspek afektif pada diri peserta didik yang merupakan bekal kuat untuk hidup di masyarakat belum dikembangkan secara optimal. Karena itu, pendidikan karakter dan budaya bangsa merupakan seatu keniscayaan untuk dikembangkan di sekolah. Sekolah sebagai pusat perubahan perlu mengupayakan secara sungguh-sungguh pendidikan yang berbasis karakter dan budaya bangsa. Karakter dan budaya bangsa yang dikembangkan di sekolah harus diselaraskan dengan karakter dan budaya lokal, regional, dan nasional. Untuk itu, pendidikan karakter dan budaya bangsa perlu dikembangkan berdasarkan kearifan lokal.
GEGURITAN NALADAMAYANTI ANALISIS PENOKOHAN Sugita, I Wayan
GUNA WIDYA: JURNAL PENDIDIKAN HINDU Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.187 KB)

Abstract

Tokoh utama (protagonis) diduduki oleh Raja Nala, sedangkan tokoh antagonis diperankan oleh Dewi Damayanti. Penokohan Raja Nala mengalami perubahan atau dilukiskan secara dinamis, secara fisik, semula tampan, kemudian berubah menjadi cacat, kurus, dan kotor, akhirnya kembali tampan sesuai dengan rangkaian peristiwa yang dialaminya. Raja Nala secara psikologis diceritakan berwatak jujur, adil, bijaksana, dan setia. Perilaku Raja Nala didorong oleh faktor kekuasaan dan seks, yakni ia berusaha merebut kembali cinta kasihnya dengan Dewi Damayanti yang telah ditinggalkannya di tengah hutan. Beliau mengalami kesedihan dan kesengsaraan karena tidak mampu mengendalikan pikirannya dan mengingkari kesetiaannya kepada Dewi Damayanti. Pernikahan dengan Raja Nala merupakan pertemuan jodoh yang serasi, harmonis, dan sangat setia. Kesetiaan Dewi Damayanti diuji oleh Catur Dewata.Kata Kunci: Penokohan