Barsihannor, Barsihannor
Faculty of Adab and Humanities - Alauddin State Islamic University of Makassar

Published : 5 Documents
Articles

Found 5 Documents
Search

PEMIKIRAN ETIKA IBNU MISKAWAIH Nizar, Nizar; Barsihannor, Barsihannor; Amri, Muhammad
Kuriositas: Media Komunikasi Sosial dan Keagamaan Vol 10 No 1 (2017): Kuriositas: Media Komunikasi Sosial dan Keagamaan
Publisher : P3M STAIN Parepare

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ibnu Miskawaih dijuluki sebagai bapak etika Islam. Ia telah mampu merumuskan dasar-dasar etika di dalam kitabnya Tahdzib al Akhlaq wa Thathir al A‘raq (PendidikanBudi dan Pembersihan Akhlak ). Sumber filsafat etika Ibnu Miskawaih berasal dari fisafat Yunani, peradaban Persia, ajaran syariat Islam dan pengalaman pribadi. Dalam pemikirannya mengenai etika, ia memulainya dengan menyelami jiwa manusia. Ia memandang bahwa ilmu jiwa memiliki keutamaan sendiri dibandingkan dengan ilmu-ilmu jiwa lainnya. Ajaran etika Ibnu Miskawaih berpangkal pada teori jalang tengah. Intinya menyebutkan bahwa keutamaan akhlak secara umum diartikan sebagai posisi tengah ekstrem kelebihan dan ekstrem kekurangan masing-masing jiwa manusia. Dengan demikian, menurut Ibnu Miskawaih bahwa akhlak merupakan keadaan jiwa yang mengajak sesorang untuk melakukan perbuatan tanpa dipikirkan dan diperhitungkan sebelumnya. Sehingga akhlak dapat dijadikan fitrah manusia dengan melakukan latihan-latihan yang terus menerus hingga menjadi sifat diri yang melahirkan akhlak yang baik.
Abdurrahman Wahid (Telaah Atas Ide Neo-Modernisme) Barsihannor, Barsihannor
Jurnal Adabiyah: Humanities and Islamic Studies Vol 11, No 2 (2011): Jurnal Adabiyah
Publisher : Faculty of Adab and Humanities - Alauddin State Islamic University of Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abdurrahman Wahid, as stated by Greg Berton was a new modern thinker of modern Islam who pionered the Islamic movement based on cultural genuine. He who was popularly called Gusdur has ever become the president of Indonesia and abolished a number of racial desrcimination. According to him, Islam highly appreciates the difference among human being, as a part of sunnatullah. In his opinion, two schools of Islamic movement such as progressivism and traditionalism must be mixed in a good harmony. 
M. Arsyad Al-Banjari (Pejuang dan Penyebar Islam di Kalimantan) Barsihannor, Barsihannor
Jurnal Adabiyah: Humanities and Islamic Studies Vol 10, No 2 (2010): Jurnal Adabiyah
Publisher : Faculty of Adab and Humanities - Alauddin State Islamic University of Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Islam had been spread out in South Kalimantan 180 years before M. Arsyad al-Banjari was born. It slowly developed because there is no ulama who pionered the Islamic development and spreading.  Morever Islam in that time was aculturated with local culture due the most people adhered Hindu, anismism, dynamism and “kaharingan”. This former religion or ism very influenced and coloured social life. It was reflected in their daily life.  Observing this fact. Al-Banjari feels responsible on this situiation. He made effort to improve the belief and ritual practice in Moslem community by spreading Islamic mission. Some ways were implemented among others; making Majelis Ta’lim, writing books, preaching and cadre preparation
Sejarah Masuk dan Perkembangan Ahmadiyah di Sulawesi Selatan Barsihannor, Barsihannor
Jurnal Adabiyah: Humanities and Islamic Studies Vol 9, No 2 (2009): Jurnal Adabiyah
Publisher : Faculty of Adab and Humanities - Alauddin State Islamic University of Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ahmadiyah is one of theological schools in Islam. Its theological thinking controversy impacts on religious attitude of the society in common. Thus, they declare Ahmadiyah is deviant teaching and reject Ahmadiyahs concepts claiming that Ghulam Ahmad is a prophet, revelation acceptor, and Messiah as well as al-Masih al-Mauud. For this reason, Ahmadiyah has been undergoing many obstacles to spread its mission. in spite of rejecting its thelogical concept and mission movement, people in South Sulawesi do not reject the existence of Ahmadiyahs people and they also refuse to have physical violence to them. They, indeed, consider that Ahmadiyahs people should be protected and given their right to life. These amicable and tolerant attitudes are due to its core value of the cultures. Therefore Ahmadiyah could live well together with other communities in South Sulawesi.
PEMIKIRAN ETIKA IBNU MISKAWAIH Nizar, Nizar; Barsihannor, Barsihannor; Amri, Muhammad
KURIOSITAS: Media Komunikasi Sosial Keagamaan Vol 10 No 1 (2017): Pemikiran Islam dan Hubungannya dengan Budaya Nusantara
Publisher : LPPM IAIN Parepare

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35905/kur.v10i1.584

Abstract

Ibnu Miskawaih dijuluki sebagai bapak etika Islam. Ia telah mampu merumuskan dasar-dasar etika di dalam kitabnya Tahdzib al Akhlaq wa Thathir al A‘raq (PendidikanBudi dan Pembersihan Akhlak ). Sumber filsafat etika Ibnu Miskawaih berasal dari fisafat Yunani, peradaban Persia, ajaran syariat Islam dan pengalaman pribadi. Dalam pemikirannya mengenai etika, ia memulainya dengan menyelami jiwa manusia. Ia memandang bahwa ilmu jiwa memiliki keutamaan sendiri dibandingkan dengan ilmu-ilmu jiwa lainnya. Ajaran etika Ibnu Miskawaih berpangkal pada teori jalang tengah. Intinya menyebutkan bahwa keutamaan akhlak secara umum diartikan sebagai posisi tengah ekstrem kelebihan dan ekstrem kekurangan masing-masing jiwa manusia. Dengan demikian, menurut Ibnu Miskawaih bahwa akhlak merupakan keadaan jiwa yang mengajak sesorang untuk melakukan perbuatan tanpa dipikirkan dan diperhitungkan sebelumnya. Sehingga akhlak dapat dijadikan fitrah manusia dengan melakukan latihan-latihan yang terus menerus hingga menjadi sifat diri yang melahirkan akhlak yang baik.