Harnani, Harnani
J - SIMBOL (Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya)

Published : 2 Documents
Articles

Found 2 Documents
Search

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN JIGSAW PADA SISWA KELAS VII Harnani, Harnani; Samhati, Siti
J - SIMBOL (Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya) Vol 4, No 1 (2016): J-SIMBOL (Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya)
Publisher : J - SIMBOL (Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The problem in this research is the level of speaking ability students of class VII SMP Negeri 1 Abung Surakarta. The purpose of this research was to improve the preparation of lesson plan, implementation of learning speaking skills, learning assessment system, and their speaking ability by applying the learning model Jigsaw.The method used is classroom action research. The results showed the preparation of lesson plan used model Jigsaw ie from the first cycle enough, and the second cycle increased to very good. Similarly, in the implementation of learning speaking skills through learning model Jigsaw, which was the first cycle enough, the second cycle increased to very good.Increased activity of the students from the first cycle72.27 to the second cycle 79.4, amounting to 7.13.Increased ability to speak through learning model Jigsaw 64.22 which is pre-cycle, the first cycle increased by 69.22 there was an increase of 5.00%, 81.32 second cycle increased by 12.10%.Masalah dalam penelitian ini adalah tingkat kemampuan berbicara siswa kelas VII SMP Negeri 1 Abung Surakarta. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kualitas Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), pelaksanaan pembelajaran kemampuan berbicara, sistem penilaian pembelajaran, dan kemampuan berbicara siswa dengan menerapkan model pembelajaran Jigsaw. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research).Hasil penelitian menunjukkan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) menggunakan model pembelajaran Jigsaw yaitu dari siklus I cukup, dan siklus II meningkat menjadi sangat baik. Begitu pula pada pelaksanaan pembelajaran kemampuan berbicara melalui model pembelajaran Jigsaw, yaitu siklus I cukup, siklus II meningkat menjadi sangat baik. Peningkatan rata-rata nilai aktivitas siswa dari siklus I 72,27 ke siklus II 79,4 sebesar 7,13. Peningkatan kemampuan berbicara melalui model pembelajaran Jigsaw yaitu prasiklus 64,22, siklus I meningkat 69,22 ada peningkatan sebesar 5,00%, siklus II 81,32 meningkat sebesar 12,10%.Kata kunci: kemampuan berbicara, model pembelajaran, jigsaw.
IDENTIFYING THE CAUSE AND IMPACT OF MISINTERPRETATION ON A MASS MEDIA INTERVIEW Harnani, Harnani
Jurnal SORA Vol 3 No 1 (2018): Jurnal SORA
Publisher : Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STBA) Yapari-ABA Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.583 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu penyebab kesalahpahaman dalam wawancara di salah satu media cetak dan untuk menjawab apakah kesalahpahaman dalam wawancara ini telah melanggar teori Co-operative Principle dan Conversational Maxims dari Grice (1967), lalu menganalisa bagian dari wawancara yang telah menyebabkan kesalahpahaman tersebut. Lebih jauh lagi, penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui respon pembaca dan publik terhadap wawancara tersebut dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif. Subyek penelitian ini adalah wawancara antara Will Smith dan Siobhan Synnot yang terbit di media cetak Daily Records pada tanggal 22 Desember 2007. Bagian wawancara yang diteliti adalah komentar Smith mengenai Adolf Hitler dan pernyataan Synnot yang menyimpulkan komentar Smith tersebut. Hasil penelitian berdasarkan data yang sudah dianalisis menunjukkan bahwa pewawancara telah melanggar Maxim of Quality dan lawan bicara telah melanggar Maxim of Quantity dan Maxim of Manner. Pelanggaran-pelanggaran ini menyebabkan kesalahpahaman yang telah tersebar luas melalui media massa. Walaupun pada awalnya respon dari publik adalah negatif, namun setelah lawan bicara mengklarifikasi melalui pernyataannya, respon publik pun menjadi suportif. Sebagai simpulan, perkataan yang ingin disampaikan sebaiknya diutarakan dengan hati-hati agar tidak menyimpang dari arti sesungguhnya, dan sebaliknya perkataan yang terucap oleh orang lain sebaiknya diinterpretasikan dengan cermat agar arti sebenarnya dari kata-kata tersebut dapat dimaknai dengan tepat.