0
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Ushuluddin AL-FIKRA
Mansur, Afrizal
Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau
Articles
2
Documents
METODE KALAM IBN RUSYD (KRITIK ATAS METODE MUTAKALLIMIN)

Jurnal Ushuluddin Vol 26, No 1 (2018): Januari - Juni
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (498.055 KB)

Abstract

Kajian metode kalam mendiskusikan sumber dan langkah-langkah yang ditempuh untuk memecahkan persoalan kalam dengan baik untuk memelihara akidah umat. Menurut Ibn Rusyd dasar akidah adalah nash, tetapi para mutakallim tidak dapat memakai teks nash secara harfiah saja bila terjadi benturan nash dengan logika. Ini dilakukan dengan mendiskripsikan pendekatan setiap aliran kalam agar jelas kekuatan dan kelemahan argumentas setiap aliran. Dari sini kelihatan bagaimana Ibn Rusyd mendudukkan persoalan ini dalam memelihara akidah umat. Ternyata melalui ketajaman berpikir yang diimbangi dengan kebijakan yang tepat, Ibn Rusyd berhasil mendudukkan persoalan kalam secara tepat dalam kondisi umat yang cenderung diskriminatif

KONSEP KEADILAN TUHAN: STUDI PEMIKIRAN TEOLOGI ABU MANSUR AL-MATURIDI

AL-FIKRA Vol 17, No 2 (2018): Al-Fikra Jurnal Ilmiah Keislaman
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1624.876 KB)

Abstract

Penelitian ini mengetengahkan kajian tentang keadilan Tuhan, sebuah persepsi al-Maturidi atas keterkaitan antara perbuatan manusia dengan kehendak mutlak-Nya. Berangkat dari keyakinannya bahwa Tuhan adalah Maha Adil (al-‘Adl) dan Maha Bijaksana (al-Hakim), al-Maturidi menyatakan bila Dia tidak akan melakukan tindakan sewenang-wenang. Berseberangan dari Mu’tazilah yang dengan tanpa sedikitpun mengakui adanya campur tangan Tuhan pada perbuatan manusia, juga al-Asy’ari dengan pikiran bahwa manusia sifatnya hanya melakoni sebagai garis takdirnya, al-Maturidi mencoba melerai kedua ekstremisme pandangan ini dengan mengajukan konsep masyi’ah dan ridha-Nya. Baginya, Tuhan dan manusia memiliki andil pada perbuatan yang diwujudkan. Jika yang pertama menyediakan ragam potensi dalam diri manusia, maka peran manusia dengan kemauan (masyi’ah) nya adalah memilih antara melakukan kebaikan atau kejahatan. Ketersediaan ruang memilih inilah yang dalam pandangan al-Maturidi menjadikan wajar adanya kewajiban pertanggungjawaban manusia di hadapan Tuhan.