This Author published in this journals
All Journal AL-FIKRA
abduh, M arrafie
Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Published : 5 Documents
Articles

Found 5 Documents
Search

TASHAWWUF TAHRIKI: Anti Korupsi

AL-FIKRA Vol 10, No 2 (2011): AL-FIKRA
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.193 KB)

Abstract

Dynamic shufism developts positive thinking and realistic behavior about of paradigm of the material, spiritual  and moral. Shufis  are convinced anticorruption. Corruption in Indonesia especially has been in a virus, savage cancer and serious condition and its dangers are out of ordering state and civil society life in the fields of politics (money politics), economy (legalling all ways obtain money and wealth) and law (manipulation of facts). Problem solving these fenomena, anticorruption movements have been done every where, either by an individual, the state or social organization, however, its result is not yet satisfactory. One of the effective methods (thariqah) according to dynamic shufism perspective to solve corruption (fasad or risywah  in al-Qur`an and tradition term),  collusion and nepotism stressing  corruption is a polytheism (syirik). It is a pity, corruption is not yet awared or realized of one of polytheistic existence. In a polytheistic context  necessary is interpreted by perspective of dynamic shufism. Polytheism (syirik) indicate a long time   public and envirement corruption and humankind suffering. Corrupters must be heavily punished and psychotherapy in order to be cured of a psychological disease and moral hazard or immoral.

PERAN TAREKAT NAQSYABANDIYAH KHALIDIYYAH SYEKH ABDUL WAHAB ROKAN (Dalam Dakwah dan Pendidikan Islam di Riau dan Sumut)

AL-FIKRA Vol 11, No 2 (2012): Al-Fikra
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.66 KB)

Abstract

Kalau menuntut ilmu shufiTuntut dahulu ilmu irfaniKarena shufisme rahasianya tinggiSyariat, thariqat, haqiqat, ma’rifat dahulu kaji.Penyebaran Islam di Nusantara tak dapat dipisahkan dari shufisme dan thariqat, bahkan Islam pertama yang dikenal di Indonesia, Malaysia, Thailand Selatan, Filifina Selatan dan Kamboja, khususnya di Rokan Hulu, sesungguhnya adalah Islam shufistik. Dalam perkembangannya, shufisme terpolarisasi dalam tiga kutub yaitu tashawwuf sunni (ortodoks), shufisme falsafi (heterodoks) dan shufisme kompromistik (mempertemukan tashawwuf sunni dan falsafi). Dalam lingkaran tashawwuf sunni tokoh piawainya a.l., Nuruddin Arraniry, Abd al-Shamad al-Palimbani dan Muhammad Hasyim Asy’ari. Sedangkan shufisme falsafi adalah Hamzah Fanshuri, Syamsuddin Sumaterani dan Muhammad Nafis al-Banjari. Tokoh shufisme kompromistik salah satunya adalah Dawud ibnu Abdillah al-Fathani, yang mempertemukan tashawwuf sunni al-Ghazali dengan shufisme falsafi (wahdat al-wujud) Ibnu Arabi. Corak pemikiran dan praktek keagamaan Islam di Indonesia pada mulanya identik dengan keshufian (shufisme dan thariqat). Fenomena tersebut dapat dibuktikan antara lain dengan mencermati sosok pemimpin spiritual dan perlindungan  penguasa kepada guru-guru shufi atau khalifah  tarekat (Syekh Abdul Wahab Rokan, w.1926 M, tokoh pertama yang sukses mengembangkan thariqat Naqsyabandiyah di Rokan Hulu). Kerajaan Siak misalnya, peran penting Sultan  dalam pengembangan Islam  di daerah ini seperti memberikan kesempatan kepada berbagai kelompok keislaman, baik untuk berdakwah maupun dalam aktivitas tarbiyyah (edukasi).  Di antara kelompok keagamaan itu  adalah Islam yang  bercorak tarekat, suatu paham keagamaan yang  sampai sekarang hampir di mana-mana  dalam daerah eks-kekuasaan Sultan Siak   masih eksis dan terus dikembangkan melalui kegiatan suluk (khalwat) dan yang lebih menarik bahwa di salah satu kabupaten di Riau ada yang disebut dengan daerah seribu suluk yaitu kabupaten Rokan Hulu yang diduga oleh kalangan luar daerah tersebut sebagai daerah yang banyak didapati ilmu hitam (black magic dan penyebaran racun) oleh sebagian masyarakat yang kurang dalam Keislamannya.

PERAN SASTERA SHUFISTIK DALAM MENDIDIK KESADARAN

AL-FIKRA Vol 12, No 2 (2013): Al-Fikra
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.768 KB)

Abstract

Wa idza saalaka ‘ibadi ‘anni fainni qarib (bila hamba-Ku bertanya tentang Aku, sesungguhnya Aku sangat dekat, Q.S. al-Baqarah ayat 186), merupakan inti shufisme yang terdapat dalam kitab suci Alqur’an untuk menapis, memberi pengajaran dan kesadaran (syu’ur atau consciouness) kepada sebagian ulama yang menolak eksistensi esensi mistisisme dalam Islam. Shufisme atau tashawwuf sering dideskriditkan dan dikambinghitamkan oleh sebagian kelompok modernis, sekularis dan rasionalis, karena ajarannya yang dianggap eksesif, bid’ah, khurafat, tahayyul, akhirat oriented dan sangat tolerans (tasammuh), sehingga ajarannya dianggap kacau, kocar kacir dan tidak punya pendirian. Munculnya mistisisme dalam Islam didasari oleh adanya sekelompok ummat Islam yang belum merasa puas dengan manhaj (thariqah) pendekatan diri (taqarrub) kepada Tuhan melalui ibadat shalat, puasa, zakat dan haji. Mereka ingin merasa lebih dekat lagi dengan Tuhan. Jalan untuk itu dikembangkan melalui pendidikan (tarbiyyah)  tashawwuf.  Tashawwuf atau shufisme pendidikan adalah istilah teknis yang digunakan untuk mendeskripsikan gagasan mistisisme dalam Islam (Islamic Mystic) yang dinamis.       Tujuan dari shufisme dinamis (dynamic shufism atau tashawwuf tahriki), baik yang di dalam maupun yang di luar Islam, adalah membentuk dan mendidik kesadaran untuk memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan, sehingga disadari benar bahwa seseorang berada dekat di hadirat Tuhan (ma’rifat dan wahdat). Intisari dari mistisisme, inklusif tashawwuf, adalah kesadaran adanya komunikasi dan dialog (munajat) antara ruh manusia dengan Tuhan, dengan hidup zuhud (asketik), bermeditasi (khalwat dan uzlah) dan berkontemplasi (dzikir dan fikir)

MENELUSURI AKAR SEJARAH DAN AKTIVITAS JAMAAH TAREKAT NAQSYABANDIYAH DI KABUPATEN PELALAWAN

AL-FIKRA Vol 8, No 2 (2009): AL-FIKRA
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (147.511 KB)

Abstract

The history of Islamic thought development, particularly tasauf  and tarekat nagsabandiyah, has a complicated and crucial relationship between Javanese ulama and elite of Malay ulama. A study of the development and activity of Sufism in Riau is not paid a great attention yet. This study then tries to find the obscurity of the development and activity of Sufism in Riau, particularly in Pelalawan. Regarding this, the information is taken from some ulamas, mursyid, khalifah, and syekh.  This is because they play an important role in disseminating Sufism tradition in this modern era

THARIQAT DALAM PERSPEKTIF SYI’AH

AL-FIKRA Vol 3, No 2 (2004): Al-Fikra
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.916 KB)

Abstract

Tariqat Ni`matullahiyah was founded by Shah Nimat Allah Wali and had spread across world parts of Asia, Europe, America, and Africa. London is the center of this Tariqa in the West, but it seems that it does not unfold its wings in Southeast Asia yet i.e. in Malay world especially in Indonesia despite of Shiite teachings influenced the culture of its community. Tariqat Ni`matullahiyah refused fatalistic, static, excessive, alienation paradigm of tariqat and suluk. Nevertheless, the adherents of this tariqat strives to free themselves from any bunches and attentions both of physically and spiritually as facilities for attaining the more gracious and eternal objective.