Jaswandi, Jaswandi
Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Published : 6 Documents
Articles

Found 6 Documents
Search

Metode Penyuluhan Dalam Adopsi Inovasi Inseminasi Buatan (Ib) Pada Usaha Peternakan Sapi Di Kabupaten Dharmasraya Ediset, Ediset; Jaswandi, Jaswandi
JURNAL PETERNAKAN Vol 14, No 1 (2017): Februari 2017
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.304 KB)

Abstract

This  research  was  conducted  in  the  area  Dharmasraya  Regency,  West  Sumatra  Province.  The  purpose  of  this  study determined : a) Method of extention   in innovation adoption of artificial insemination (AI) in the cattle farm in the District Dharamasraya, and b) Social and economic factors that influence adoption of innovation Artificial Insemination (AI) in the cattle farm  in the District Dharmasraya. This research used survey method and approach to the analysis of secondary data. The number of samples in this study were determined by quota sampling technique by reason of homogeneous samples, the farmers were already adopting  innovations  and cattle ranchers IB program participants snapping Birahi Artificial Insemination (GBIB) thus took a sample of 40 people. The data collected were primary data with the help of question naires and secondary data with the literature study and related agencies. Descriptive analysis of quantitative data which was calculated using a Likert scale. The results showed that the extension method in the adoption of IB in cattle breeding business in the Regency Dharmasraya been implemented, namely the extension methods home and farm visits with category, extension methods demonstrations by both categories, and the campaign extension methods with the medium category. Social and economic aspects such as business scale farmers, revenue, risk, active participation in the innovation adoption had no effect on aspects of the IB whereas age despite being influential in the adoption of innovation, but still in the category of less influential.
RESPON ESTRUS KUDA LOKAL DENGAN INDUKSI HORMON PGF2α DI KOTA PAYAKUMBUH Satria, Haris; Surtina, Dara; Hendri, John; Jaswandi, Jaswandi
JURNAL PETERNAKAN Vol 14, No 2 (2017): September 2017
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.758 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui respon berahi kuda lokal betina yang dipekerjakan menggunakan teknik induksi hormon prostaglandin F2 alfa (PGF2α) secara intramuskular. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 20 ekor kuda betina dengan umur 5-10 tahun yang tidak dalam keadaan bunting atau pada saat fase luteal. Metode singkronisasi estrus dilakukan dengan menginduksi PGF2α (Prostaglandin) dengan dosis 10 mg i.m pada jam 08.00 pagi sebelum ternak kuda dipekerjakan. Pengamatan tingkah laku estrus dilakukan mulai dari satu hari setelah induksi PGF2α sampai munculnya tanda-tanda estrus. Pengamatan tingkah laku estrus dilakukan dengan sistem scoring menurut Colemandan Powell. Data hasil penelitian dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk rataan dan simpangan baku. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa seluruh ternak kuda yang diinduksi dengan 10 mg i.m PGF2α memperlihatkan gejala estrus, namun tanda estrus sangat bervariasi yaitu scoring 1 sebanyak 1 ekor, scoring 2  sebanyak 3 ekor, scoring 3 sebanyak 8 ekor dan scoring 4  sebanyak 7 ekor dengan rata-rata 3.05 ± 0.88 scoring, dan persentase tertinggi pada scoring 3 yaitu 40% dan scoring 4 hanya 35%. Apabila dilihat dari hari mulai meresponya ternak kuda setelah diinduksi hormon PGF2α tergolong cepat yaitu pada 4.25 ± 1.01 hari.
EFEKTIVITAS PENAMBAHAN SERUM SAPI PESISIR FASE BERAHI TERHADAP PEMATANGAN OOSIT KERBAU SECARA IN VITRO Hendri, Jhon; Satria, Haris; Asri, Alfian; Jaswandi, Jaswandi
JURNAL PETERNAKAN Vol 15, No 2 (2018): September 2018
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (58.032 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persentase oosit kerbau yang matang dalam media TCM-199 yang disuplementasi serum sapi pesisir fase berahi secara in vitro. Selanjutnya untuk meningkatkan efisiensi produksi embrio in vitro pada ternak kerbau dengan suplementasi serum sapi pesisir fase berahi. Oosit ternak kerbau dimatangkan dalam media TCM-199 pada inkubator Co2 5% dan masing-masing perlakuan ditambahkan serum sapi pesisir fase berahi dengan konsentrasi yang berbeda (0%, 10% dan 20%). Peubah yang diamati dalam penelitian ini adalah persentase oosit kerbau yang matang tanpa penambahan serum sapi pesisir fase berahi, persentase oosit yang matang dengan penambahan serum sapi pesisir fase berahi 10 % dan persentase oosit kerbau yang matang dengan penambahan serum sapi pesisir fase berahi 20 % secara in vitro. Persentase oosit kerbau yang matang dengan penambahan serum sapi pesisir fase barahi sebanyak 20% menunjukkan perbedaan yang sangat nyata (P<0.01) yaitu 70.04% bila dibandingkan dengan pematangan dengan penambahan serum sapi pesisir 10% yaitu 56.00 %  dan tanpa serum sapi pesisir fase berahi  yaitu 36.96% secara in virto. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa suplementasi serum sapi pesisir fase dengan konsentrasi 20% dalam media pematangan TCM-199 nyata (P<0.01) meningkatkan tingkat maturasi oosit kerbau secara in vitro dibandingkan dengan penambahan serum sapi pesisir fase berahi 10% dan tanpa penambahan serum sapi pesisir (kontrol).   Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persentase oosit kerbau yang matang dalam media TCM-199 yang disuplementasi serum sapi pesisir fase berahi secara in vitro. Selanjutnya untuk meningkatkan efisiensi produksi embrio in vitro pada ternak kerbau dengan suplementasi serum sapi pesisir fase berahi. Oosit ternak kerbau dimatangkan dalam media TCM-199 pada inkubator Co2 5% dan masing-masing perlakuan ditambahkan serum sapi pesisir fase berahi dengan konsentrasi yang berbeda (0%, 10% dan 20%). Peubah yang diamati dalam penelitian ini adalah persentase oosit kerbau yang matang tanpa penambahan serum sapi pesisir fase berahi, persentase oosit yang matang dengan penambahan serum sapi pesisir fase berahi 10 % dan persentase oosit kerbau yang matang dengan penambahan serum sapi pesisir fase berahi 20 % secara in vitro. Persentase oosit kerbau yang matang dengan penambahan serum sapi pesisir fase barahi sebanyak 20% menunjukkan perbedaan yang sangat nyata (P<0.01) yaitu 70.04% bila dibandingkan dengan pematangan dengan penambahan serum sapi pesisir 10% yaitu 56.00 %  dan tanpa serum sapi pesisir fase berahi  yaitu 36.96% secara in virto. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa suplementasi serum sapi pesisir fase dengan konsentrasi 20% dalam media pematangan TCM-199 nyata (P<0.01) meningkatkan tingkat maturasi oosit kerbau secara in vitro dibandingkan dengan penambahan serum sapi pesisir fase berahi 10% dan tanpa penambahan serum sapi pesisir (kontrol). Kata kunci: in vitro, serum, sapi pesisir, fase berahi 
KUALITAS SPERMATOZOA CAUDA EPIDIDIMIS SAPI PERANAKAN SIMMENTAL PADA SUHU 5ºC DENGAN PENAMBAHAN CAIRAN OVIDUCT Satria, Haris; Hendri, Jhon; Jaswandi, Jaswandi; Hidayat, Fajar
JURNAL PETERNAKAN Vol 15, No 2 (2018): September 2018
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (157.388 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penamban cairan oviduct terhadap kualitas spermatozoa cauda epididimis sapi peranakan simmental sesudah ekuilibrasi pada suhu 5°C meliputi  persentase hidup, motilitas dan abnormalitas. Cauda epididymis sapi peranakan simmental diperoleh dari Rumah Potong Hewan Kota Solok dengan umur berkisar 3-4 tahun yang dikoleksi menggunakan metode slicing dan dievaluasi secara mikroskopis. Semen diberi perlakuan cairan oviduct P1 (0%), P2 (10%)  dan P3 (20%) dengan waktu ekuilibrasi 4 jam. Setelah diekuilibrasi, dilakukan evaluasi persentase hidup, motilitas dan abnormalitas spermatozoa. Hasil penelitian persentase hidup spermatozoa pada masing-masing perlakuan adalah P1 (60,16±2,71%), P2 (78,83±6,83%) dan P3 (71,33±13,42%). Motilitas spermatozoa masing-masing  perlakuan P1 (58,33±3,38%), P2 (72,25±9,11%),  dan P3 (67,25±9,47%). Abnormalitas spermatozoa pada masing-masing perlakuan adalah P1 (11,91±0,91%), P2 (11±1,26%) dan P3 (11,66±0,93%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan cairan oviduct 10% berpengaruh nyata (P<0,01) terhadap persentase hidup dan motilitas spermatozoa cauda epididimis sapi peranakan Simmental.
Peningkatan Produktivitas Peternak Sapi di Daerah Transmigrasi Lubuk Aur Sitiung I Kabupaten Dharmasraya Ediset, Ediset; Jaswandi, Jaswandi; Heriyanto, Edwin; Basyar, Basril
LOGISTA - Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat Vol 1 No 1 (2017)
Publisher : Department of Agricultural Product Technology, Faculty of Agricultural Technology, Universitas Andalas Kampus Limau Manis - Padang, Sumatera Barat Indonesia-25163

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1037.661 KB)

Abstract

Kegiatan penyuluhan secara tidak langsung merupakan bagian dari upaya untuk mendukung pembangunan peternakan, melalui transfer ilmu dan teknologi diharapkan terjadi adopsi inovasi sehingga terjadi perubahan perilaku pada peternak, baik itu perubahan pengetahuan (koqnitif), perubahan sikap (afektif) maupun perubahan keterampilan (pisikomotor). Ilmu dan teknologi yang ditawarkan dalam kegiatan penyuluhan ini adalah penguatan kelembagaan, motivasi usaha, reproduksi ternak, pemanfaatan limbah pertanian kakao sebagai pakan ternak dan pemanfaatan limbah kotoran ternak. Metoda yang digunakan dalam kegiatan pengabdian ini adalah metode Penyuluhan melalui pendekatan ceramah/pidato, kunjungan rumah dan usahatani serta pendekatan demonstrasi, setelah dilakukan penyuluhan dilakukan pembinaan dan evaluasi terhadap kegiatan yang sudah dilakukan. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan motivasi peternak, meningkatkan pengetahuan (koqnitif) dan keterampilan peternak (psykomotorik) dalam menerapkan suatu inovasi serta peternak mau dan mampu menerapkan inovasi (afektif) yang ditawarkan oleh oleh narasumber, sehingga pada gilirannya usaha peternakan sapi yang digeluti oleh peternak mampu meningkatkan pendapatan sehingga mampu memperbaiki perekonomian rumah tangga peternak. Pelaksanaan kegiatan ini menghasilakn beberapa perubahan pada peternak sasaran, seperti muncul keinginan untuk membuat kelompok baru dan mendaftarkan kelompok tersebut pada instansi terkait untuk mendapatkan legalitas keberadaan kelompok. Peternak sasaran kegiatan mengalami peningkatan pengetahuan terutama tentang tanda tanda birahi pada ternak sapi, pemanfaatan limbah pertanian kakao sebagai pakan ternak serta pengetahuan tentang pemanfaatan limbah kotoran ternak untuk dijadikan suatu produk yang bernilai ekonomi.Kata Kunci: Penyuluhan, Inovasi, Perubahan Perilaku, Peternak sapi ENHANCING PRODUCTIVITY OF CATCHERS IN THE AREA OF TRANSMIGRATION OF LUBUK AUR SITIUNG I DISTRICT DHARMASRAYAABSTRACT: Indirect counseling activities are part of efforts to support livestock development, through the transfer of science and technology is expected to occur the adoption of innovation so that there is a change of behavior in the breeders, whether it changes knowledge (koqnitif), attitude changes (affective) and skills changes (psykomotorik). The science and technology offered in this extension activity is institutional strengthening, business motivation, livestock reproduction, utilization of cocoa farm waste as animal feed and utilization of cattle dung waste. The method used in this devotional activity is the method of counseling through the approach of lectures / speeches, home visits and farming and demonstration approaches, after the counseling done coaching and evaluation of activities that have been done. This activity is expected to increase the motivation of farmers, improve the knowledge (koqnitif) and skills of farmers (psykomotorik) in applying an innovation and breeders willing and able to apply innovation (affective) offered by the speakers, so in turn cattle breeding business that is cultivated by farmers are able Increase the income so as to improve the household economy of farmers. The implementation of these activities resulted in some changes to the target farmers, such as the desire to create new groups and register the group with relevant agencies to obtain the legality of group existence. Target farmers experience increased knowledge, especially about the signs of lust in cattle, the use of agricultural waste cocoa as animal feed and knowledge of the use of cattle manure waste to be a product of economic value.Keywords: Counseling, Innovation, Behavior Change, Cattle ranchers
QUALITY DIFFERENCES OF BOER LIQUID SEMEN DURING STORAGE WITH ADDITION SWEETORANGEESSENTIAL OIL IN TRIS YOLK AND GENTAMICIN EXTENDER Sitepu, Sukma Aditya; Udin, Zaituni; Jaswandi, Jaswandi; Hendri, Hendri
Journal of Community Research and Service Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Center of Community Service of State University of Medan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.84 KB)

Abstract

AbstractThe purpose of this study was to know the quality of Boer liquid semen during storage by adding sweet orange essential oil and gentamicin into the tris yolkextender.The semenlongevity test was carried out by storing semen in a closed tube at room temperature and refrigerator, and evaluated motility and Viability every 3 hours at room temperature and 12 hours in refrigerator. The results showed that the characteristics of the liquid semen, with the addition of 1% of essential oils showed percentage of motility and Viability significantly higher than 0.5% and without the addition of essential oil, either stored at room temperature or in the refrigerator. This may be related to the content of essential oils of sweet orange peel containing flavonoids and antibacterials that are capable of maintaining liquid semen quality of Boer Goat.In addition, gentamicin contains antibacterials capable of suppressing the growth of bacteria which can damage and durabilitythe spermatozoa.Keywords: Boer Goat,Gentamicin, Liquid semen, Sweet orange