Saputra, Irwan
Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh

Published : 4 Documents
Articles

Found 4 Documents
Search

Perbedaan Biaya Riil Rumah Sakit dan Tarif INA-CBG untuk Kasus Katastropik dengan Penyakit Jantung Koroner pada Pasien Rawat Inap Peserta Jaminan Kesehatan Nasional di RSUZA Lilissurian, Lilissurian; Saputra, Irwan; Ruby, Mahlil
Jukema (Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh) Vol 3, No 1 (2017): Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh (JUKEMA)
Publisher : Jukema (Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.022 KB)

Abstract

Latar Belakang: Tarif  riil merupakan tarif yang digunakan rumah sakit berdasarkan jasa per pelayanan sesuai peraturan daerah. Sedangkan Indonesia Case Based Groups (INA-CBG) merupakan paket pembiayaan kesehatan berbasis kasus dengan mengelompokkan berbagai jenis pelayanan menjadi satu kesatuan. Terdapat perbedaan tarif riil dengan tarif INA-CBG pada pembayaran klaim Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) untuk kasus katastropik. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis perbedaan tarif riil dan tarif INA-CBG untuk kasus katastropik dengan penyakit jantung koroner. Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan desain cross-sectional. Pengumpulan data dilakukan dengan studi dokumen dan check list. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien rawat inap peserta JKN yang menderita penyakit jantung koroner yaitu sebanyak 100 orang. Sampel yang digunakan adalah proportional random sampling yang berjumlah 100 orang. Hasil: Ada perbedaan signifikan pada biaya riil rumah sakit dengan tarif INA-CBG yang ditunjukkan dengan nilai p-value 0,001. Selisih tarif rumah sakit dengan INA-CBG adalah sebesar Rp-532.954.324,- atau -27% dari tarif INA-CBG. Kesimpulan: Rumah sakit diharapkan melakukan evaluasi kembali penghitungan biaya pelayanan untuk mencapai efisiensi yang tinggi dengan tetap memperhatikan mutu pelayanan di rumah sakit.
Analisis Pembiayaan/Belanja terhadap Penderita Chronic Kidney Disease (CKD) yang Dirawat Inap di Rumah Sakit Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Syarkawi, Syarkawi; Rahim, Taufiq A.; Saputra, Irwan
Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh Vol 2, No 2 (2016): Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh (JUKEMA)
Publisher : Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Chronic Kidney Disease (CKD) atau Penyakit Ginjal Tahap Akhir (PGTA) merupakan penyakit yang sangat serius di antara beberapa penyakit lain di dunia saat ini. Hal tersebut dapat berimplikasi terhadap peningkatan biaya kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pembiayaan/belanja terhadap penderita CKD yang dirawat inap di Rumah Sakit Umum dr. Zainoel Abidin (RSUZA). Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan cross-sectional design. Populasi dalam penelitian ini semua pasien CKD yang dirawat inap di RSUZA tahun 2016. Sampel diambil sebanyak 50 orang dari total populasi 461 orang dengan menggunakan teknik simple random sampling. Hasil: Dari hasil penelitian, total tarif ina-CBGs Rp. 661.685.089.00, total biaya belanja pasien selama dirawat inap Rp. 49.535.000.00, dan tarif rumah sakit Rp. 930.698.811.00, sedangkan total opportunity cost pendamping Rp. 26.205.000.00, dan total opportunity cost pasien Rp. 112.420.000.00. Hasil uji statistik diperoleh tidak ada perbedaan biaya langsung dan biaya tidak langsung dengan variabel-variabel yang diteliti nilai p-value >0.05. Kesimpulan: Total biaya Ina-CBGs pada 50 pasien CKD yang dirawat inap di RSUZA adalah sebesar Rp. 661.685.089.00. Besarnya biaya pengobatan pada pasien CKD dilihat berdasarkan Severity Level penyakit dan Length of Stay (LOS) pasien.
Analisis Kerugian Ekonomi dan Karakteristik Penderita Kusta di Kabupaten Pidie Yunita, Nona; Rahim, Taufiq A.; Saputra, Irwan
Jukema (Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh) Vol 4, No 2 (2018): Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh (JUKEMA)
Publisher : Jukema (Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.07 KB)

Abstract

Latar Belakang: Data kesehatan Kabupaten Pidie didapatkan bahwa adanya peningkatan kasus Lepra yang ditemukan dari tahun 2014 ke tahun 2015 baik jenis Kusta kering atau pausi basiler (PB) maupun kusta basah atau multi basiler (MB). Bahkan di beberapa kecamatan menunjukkan peningkatan kasus baru yang signifikan dari pada tahun sebelumnya. Hal ini memberi gambaran bahwa masalah belum teratasi sepenuhnya mengingat banyaknya kasus baru seperti di kecamatan: Sakti 11 kasus, Padang Tiji 9 kasus, Indrajaya 7 kasus, Pidie 11 kasus, Batee 7 kasus, dan Muara Tiga 10 kasus. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kerugian ekonomi akibat kusta di Kabupaten Pidie. Metode: Penelitian ini bersifat analitik dengan pendekatan cross sectional study. Populasi dalam penelitian ini adalah semua penderita kusta Kabupaten Pidie berjumlah 150 orang. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan secara purposive sampling berjumlah 66 orang. Pengambilan data dilaksanakan tanggal 28 September s/d 28 Oktober 2016 dengan menggunakan kuesioner dan wawancara. Hasil: Kerugian ekonomi akibat kusta di Kabupaten Pidie sebesar Rp1.955.886.500,- per Oktober 2016. Kerugian ekonomi rata-rata Rp29.634.643,- dalam setahun. Umur dewasa muda (22-40 tahun) berjumlah 35 orang (53%), pendidikan dasar sebanyak 52 orang (78,8%), bekerja sebanyak 49 orang (74,2%), pendapatan <UMP (Upah Minimum Provinsi) sebanyak 50 orang (75,8%). Tidak ada hubungan Umur dengan Kerugian Ekonomi penderita kusta (OR: 0,6, P = 0,081). Ada hubungan Pendidikan (OR: 0,06, P = 0,001), Pekerjaan (OR: 0,12, P = 0,011), Pendapatan (OR: 0,02, P = 0,001) dengan Kerugian Ekonomi penderita kusta. Kesimpulan: Bagi dinas kesehatan agar dapat meningkatkan upaya pendidikan kesehatan kepada masyarakat khsususnya penderita kusta agar dapat mengikuti program pengobatan kusta sampai selesai guna mengurangi dampak kerugian ekonomi akibat kusta.
Kerugian Ekonomi Akibat Schizophrenia pada Penderita Rawat Inap di Rumah Sakit Jiwa Aceh Tahun 2016 dan Estimasi Nilai Kerugian pada Tahun Berikutnya Isnaini, Isnaini; Abdullah, Asnawi; Saputra, Irwan
Jukema (Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh) Vol 4, No 2 (2018): Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh (JUKEMA)
Publisher : Jukema (Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.567 KB)

Abstract

Latar belakang: Rumah Sakit Jiwa Aceh merupakan pusat rujukan pelayanan kesehatan jiwa, dimana sebagian besar penderitanya adalah peserta asuransi sosial. Hal ini tentunya menjadi beban ekonomi bagi Pemerintah Aceh yang membayar premi asuransi kesehatan kepada seluruh masyarakat. Di samping beban ekonomi yang harus ditanggung penderita dan keluarga yang terus meningkat. Metode: Jenis penelitian ini adalah deskiptif dengan pendekatan Costs of Illness (COI) menggunakan desain cross sectional. Populasi berjumlah 318 penderita Schizophrenia rawat inap dan sampel sebanyak 74 penderita/keluarga. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan kriteria; penderita schizophrenia yang dirawat di kelas III, penderita baru pulang dirawat saat penelitian dilakukan, keluarga dapat diakses dan mau memberikan data. Hasil: Kerugian ekonomi akibat schizophrenia adalah sebesar Rp1.076.899.205,- dengan rata-rata kerugian Rp12.404.158,- per penderita. Dengan perkiraan penderita schizophrenia rawat inap tahun 2016 sebanyak 1.574 orang dan dikalikan dengan rata-rata kerugian per penderita, maka total kerugian ekonomi akibat Schizophrenia pada penderita rawat inap tahun 2016 sebesar Rp19.524.144.692,-. Estimasi nilai kerugian pada tiga tahun berikutnya yaitu; tahun 2017 dengan estimasi penderita 1.485 orang maka kerugian Rp18.420.174.630, tahun 2018 dengan estimasi penderita 1.396 orang maka kerugian Rp17.316.204.568,- dan tahun 2019 dengan estimasi penderita 1.307 orang akan terjadi kerugian Rp16.212.234.506,- Kesimpulan: Kerugian ekonomi akibat Schizophrenia pada penderita rawat inap di Rumah Sakit Jiwa Aceh tahun 2016 adalah Rp19.524.144.692,-. Jumlah ini 1,02% dari 20 triliun rupiah kerugian ekonomi minimal akibat masalah kesehatan jiwa di Indonesia.