Articles

Found 3 Documents
Search

Pemetaan Risiko Tsunami terhadap Bangunan secara Kuantitatif

Majalah Geografi Indonesia Vol 31, No 2 (2017): September 2017
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Tsunami merupakan bencana alam yang sebagian besar kejadiannya dipicu oleh gempabumi dasar laut. Dampak kerugian tsunami terhadap lingkungan pesisir antara lain rusaknya properti, struktur bangunan, infrastruktur dan dapat mengakibatkan gangguan ekonomi. Bencana tsunami memiliki keunikan dibandingkan bencana lainnya, karena memiliki kemungkinan sangat kecil tetapi dengan ancaman yang tinggi. Paradigma Pengurangan Risiko Bencana (PRB) yang berkembang dalam beberapa tahun terakhir yang menekankan bahwa risiko merupakan hal utama dalam penentuan strategi terhadap bencana. Kelurahan Ploso, merupakan salah satu lokasi di Kabupaten Pacitan yang berpotensi terkena bencana tsunami. Pemetaan risiko bangunan dilakukan dengan metode kuantitatif, yang mana disusun atas peta kerentanan dan peta harga bangunan. Papathoma Tsunami Vulnerability 3 (PTVA-3) diadopsi untuk pemetaan kerentanan. Data harga bangunan diperoleh dari kombinasi kerja lapangan dan analisis Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil pemetaan risiko menunjukkan bahwa Lingkungan Barehan memiliki risiko kerugian paling tinggi diantara semua lingkungan di Kelurahan Ploso. Hasil ini dapat dijadikan sebagai acuan untuk penentuan strategi pengurangan risiko bencana di Kelurahan Ploso.ABSTRACT Tsunami is a natural disaster whose occurrences are mostly triggered by submarine earthquakes. The impact of tsunami on coastal environment includes damages to properties, building structures, and infrastructures as well as economic disruptions. Compared to other disasters, tsunamis are deemed unique because they have a very small occurrence probability but with a very high threat. The paradigm of Disaster Risk Reduction (DRR) that has developed in the last few years stresses risk as the primary factor to determine disaster strategies. Ploso Sub-district, an area in Pacitan Regency, is potentially affected by tsunamis. The risk mapping of the buildings in this sub-district was created using a quantitative method based on maps of vulnerability and building’s cost. This research used Papathoma Tsunami Vulnerability 3 (PTVA-3) for vulnerability mapping. The cost of the buildings was obtained from a combination of fieldwork and Geographic Information System (GIS). The results of risk mapping showed that the Barehan Environment had the highest risk of loss among the other environments in Ploso Sub-district. These findings, thereby, can be used as a reference for determining DRR strategy in Ploso Sub-district.

Line Generalization Evaluation on Contour Map Generated From SRTM and ASTER GDEM

Journal of Applied Geospatial Information Vol 2 No 1 (2018): Journal of Applied Geospatial Information (JAGI)
Publisher : Politeknik Negeri Batam

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A contour map is one of many layers that composed Informasi Geospasial Dasar (IGD), which according to Act. No 4 2011 serves as a reference for any thematic map. The provision of contour map at a different level of scale is needed since mapping activities will always refer to map scale based on the mapping area. This research aims to analyze automated contour generation quality to produce 1:50.000 contour map, by means of using open access Digital Elevation Model (DEM) data, such as Shuttle Radar Topographic Mission (SRTM) and Advanced Spaceborne Thermal Emission and Reflection Radiometer (ASTER) Global Digital Elevation Model (GDEM). The automated contour generation was done by using contour interpolation in Quantum GIS software. Furthermore, simplification and smoothing algorithm was applied to both data, in order to improve their visual appearance. In this case, there are four algorithms used in the study, namely Douglas-Peucker, Visvalingam, Chaikin, and McMaster. Quality assessment, both qualitative and quantitative assessment, was done to each derived contour map to ensure the applicability of the procedure. The result shows that contour map generated from SRTM has a better quality than contour map generated from ASTER GDEM. Nevertheless, both data has a similar pattern on each topographical classes, which tends to produce bad quality contour line in the flat area. The more mountainous the area, the better the contour line. Meanwhile, of all generalization algorithm applied in this study, Chaikin’s algorithm is the best algorithm in terms of smoothing the contour line and improving visual quality, but still doesn’t significantly improved the metric accuracy. The contour line can be either directly added to the Digital Cartographic Model of Topographic Map (Rupabumi Map), or used as compliance data in a thematic map.

TEKNIK GEOVISUALISASI UNTUK PERCEPATAN PEMETAAN BATAS DESA DI DAERAH BERBUKIT

MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 21, No 1 (2019)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemetaan desa menjadi salah satu fondasi untuk melakukan pembangunan desa. Metode kartometrik menjadi cara yang banyak digunakan untuk menarik batas desa yang didukung dengan berbagai macam data geospasial misalnya Citra Satelit Resolusi Tinggi (CSRT) dan Digital Elevation Model (DEM). Peta kerja yang digunakan sebagai data utama dalam diskusi para pemangku kepentingan untuk menarik batas desa, semestinya disusun secara optimal untuk mempermudah penarikan garis batas. Umumnya pengenalan batas desa pada daerah perkotaan terbantu dengan penggunaan CSRT, karena objek yang menjadi penanda batas mudah dikenali. Namun demikian, pada daerah berbukit pengenalan batas desa dari CSRT relatif lebih sulit dilakukan, karena minimnya unsur buatan manusia yang umumnya menjadi penanda batas. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan optimalisasi peta kerja dengan memanfaatkan kombinasi geovisualisasi 2D, 2,5D, dan 3D untuk penarikan garis batas desa pada daerah berbukit. Geovisualisasi tersebut didukung dengan menggunakan data DEMNAS untuk menghasilkan hillshade yang disajikan dengan teknik multi hillshade. DEMNAS digunakan karena memiliki resolusi spasial yang cukup tinggi (0.27-arcsecond) dan bersifat open access. Data lain yang digunakan adalah CSRT, peta kontur, dan peta jaringan sungai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam penarikan batas desa pada daerah berbukit, diperlukan peta kerja yang mengombinasikan geovisualisasi dari berbagai dimensi. Dalam hal ini visualisasi 2,5D dan 3D dapat membantu pengenalan objek perbukitan seperti punggung dan lembah, sehingga delineasi dapat dilakukan dengan lebih mudah. Informasi tambahan seperti adanya data pilar batas dan ketersediaan sumber daya manusia yang mengerti batas desa akan semakin mempermudah proses penarikan garis batas desa.