Kirono, Dewi Galuh
Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Published : 2 Documents
Articles

Found 2 Documents
Search

KAJIAN METEOROLOGIS HUBUNGAN ANTARA HUJAN HARLAN DAN UNSUR-UNSUR CUACA STUDI KASUS DI STASIUN METEOROLOGI ADISUCIPTO YOGYAKARTA

Majalah Geografi Indonesia Vol 18, No 2 (2004): September 2004
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKHujan merupakan salah satu unsur cuaca yang sangat penting. Dalam proses kejadiannya, hujan dipengaruhi oleh unsur cuaca yang lain, yaitu suhu, kelembaban, dan tekanan udara. Penelitian ini merupakan kajian awal tentang hubungan hujan dengan ketiga unsur cuaca tersebut. Pengkajian difokuskan pada hubungan antara hujan dengan kondisi cuaca pada hart yang sama (t=T), saiu hart sebelumnya (t=T-1), sampai tiga hart sebelumnya (t=T-3), dengan melihat koefisien korelasi dan koefisien regresi dalam hubungan multi-regresi. Multi-regresi dilakukan untuk menganalisis hubungan hujan harian dengan berbagai variabel, yaitu:1. hujan vs suhu (r413.00) kelembabano4,100) + tekanan udara;2. hujan vs suhufr..m4 + kelembaban tekanan udara;3. hujan vs suhu (maw kelembaban wzoo) + tekanan udara;4. hujan vs suhu ro a rna + kelembaban + tekanan udara;Hasil yang didapat menunjukkan bahwa: (1) hujan harian memiliki hubungan yang erat dengan unsur cuaca lain pada hart yang sama, maupun beberapa hart sebelumnya. Hal ini ditunjukkan oleh koefisien korelasi pada berbagai model sebesar 0,188 hingga 0,489 yang signifikan pada tingkat 0,01; (2) pada musim hujan, yang paling erat hubungannya dengan hujan adalah kelembaban. Pada musim ketnarau, yang paling erat hubungannya adalah tekanan udara, dan musim peralihan yang berpengaruh adalah kelembaban dan tekanan udara. Pada semua musim, unsur suhu tidak menunjukkan korelasi yang signifikan.

ANALISIS CURAH HUJAN UNTUK ANTISIPASI KEKERINGAN DAN MITIGASINYA DI DAERAH ALIRAN SUNGAI PROGO

Majalah Geografi Indonesia Vol 16, No 2 (2002): September 2002
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Daerah Aliran Sungai (DAS) Progo dapat Magi ke dalam beberapa Sub DAS yaitu Sub DAS Progo Hulu, Sub DAS Tangsi, Sub DAS Elo, Sub DAS Blongkeng, dan Sub DAS Progo Hilir. Wilayah DAS Progo cukup bervariasi dalam hal topografi, unit geologi dan geomorfologi, hidrologi, jenis tanah, tipe vegetasi, dan tipe curah hujan (iklim), sehingga karakteristik fisik tersebut diharapkan berpengaruh terhadap keragaman nilai indeks kekeringan (drought index). Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari karakteristik hujan, khususnya curah hujan rata-rata bulanan, sebagai dasar untuk menganalisis keadaan neraca air. Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan analisis terhadap nilai evapotranspirasi, dan perkiraan nilai kapasitas tanah menahan air (water holding capasity). Hasil dari analisis neraca air dapat diperoleh nilai kekurangan lengas (moisture deficit) dalam tanah, sehingga dapat ditentukan nilai indeks kekeringan dengan cara Thornthwaite, dan dirumuskan pula berbagal upaya mitigasinya. Hasil pernelitian menunjukkan bahwa secara umum makin tinggi elevasi suatu tempest, hujan yang jatuh di wilayah tersebut semakin tinggi dengan intensitas hujan yang tinggi pula. Hubungan tersebut selanjutnya menentukan tipe iklim di daerah penelitian. Tipe iklim A menurut klasifikasi Schmidt-Ferguson meliputi sebagian besar wilayah pegunungan dengan ketinggian di atas 500 meter, tipe B umumnya antara 250-500 meter, dan tipe C umumnya kurang dari 250 meter. Hasil analisis neraca air bulanan dengan metode Thornthwaite-Mather menunjukkan bahwa defisit air mulai terjadi bulan Mei hingga Oktober dengan puncak defisit air antara Agustus dan September. Perkembangan spasial tingkat kekeringan terutama dimulai dari bagian hilir meliputi daerah Kenteng, Sentolo dan rneluas ke bagian tengah meliputi daerah Mendut dan Salaman dengan defisit air mencapai antara 50-70 mm per bulan. Kecenderungan perubahan indeks kekeringan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor yang menentukan kapasitas tanah menahan air, yailu faktor tekstur tanah, kedalaman zone pekarangan, dan nilai evapotranspirasi. Faktor iklim tidak selalu berpengaruh nyata terhadap perubahan nilai (indeks) kekeringan, sehingga diduga faktor jenis tanah dan tipe penggunaan lahan yang lebih berpengaruh terhadap indeks kekeringan. Upaya mitigasi yang perlu dilakukan untuk mengatasi kekeringan antara lain penghijauan, konservasi tanah dan air antara lain berupa teras pada lereng yang terjal, pembuatan sumur resapan, dan pembuatan waduk-waduk kecil, bagi tempat-tempat yang memungkinkan.