Articles

Found 10 Documents
Search

Kandungan Nutrisi, Aktivitas Penghambatan ACE dan Antioksidan Hemibagrus nemurus Asal Waduk Cirata, Jawa Barat, Indonesia Susilowati, Rini; Fithriani, Diini; Sugiyono, Sugiyono
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.01 KB)

Abstract

AbstrakKandungan nutrisi dan aktivitas biologis ikan baung (Hemibagrus nemurus) ditentukan oleh kondisi lingkungan dan ketersediaan sumber makanannya. Ikan baung yang dikonsumsi oleh masyarakat sebagai sumber protein dapat ditemukan di habitat aslinya dan lingkungan budidaya dalam karamba jaring apung. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kandungan nutrisi dan aktivitas biologis ikan baung asal Waduk Cirata sebagai penghambat enzim pengubah angiotensin (ACE inhibitor) dan antioksidan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar protein dan kadar abu ikan baung hasil budidaya maupun alam tidak berbeda nyata, sedangkan kadar lemak ikan baung hasil tangkapan alam jauh lebih tinggi dibanding kadar lemak hasil budidaya. Kadar mineral makro dan mikro menunjukkan perbedaan yang signifikan pada kadar K (budidaya 313,04±14,84 mg/100g; alam 457,33±7,50 mg/100g) dan Ca (budidaya 29,15±1,06 mg/100g; alam 42,13±0,85 mg/100g). Mineral mikro didominasi oleh Zn sebesar 0,42±0,04 mg/100g (budidaya) dan 0,44±0,02 mg/100g (alam). Asam amino esensial (AAE) yang dominan yaitu lisin sebesar 7,70±0,97 mg/g (budidaya) dan fenilalanin sebesar 0,80±0,26 mg/g (alam), sedangkan asam amino non esensial (AANE) yang utama pada populasi budidaya adalah alo iso-leusin sebesar 13,77±0,23 mg/g dan prolin 1,79±0,70 mg/g (alam). Rasio AAE/AANE populasi budidaya memiliki nilai sebesar 0,83 dan alam sebesar 0,54. Aktivitas biologi ikan baung menunjukkan nilai aktivitas antioksidan pada populasi budidaya sebesar 0,16±0,02 µmol Fe2+/g dan alam sebesar 0,09 µmol Fe2+/g berat kering. Sedangkan aktivitas penghambat  ACE menunjukkan nilai penghambatan pada populasi budidaya sebesar 96,18±1.37% dan alam  sebesar 88,76±1,82%. Secara umum, ikan baung dari Waduk Cirata memiliki kandungan gizi dan komposisi kimia yang bagus, begitu juga dengan bioaktivitasnya sebagai penghambat ACE, sehingga berpotensi sebagai bahan baku suplemen kesehatan, khususnya untuk suplemen penghambat ACE. Nutritional Contents, ACE Inhibitor and Antioxidant Activities of  Hemibagrus nemurusfrom Cirata Reservoir, West Java, IndonesiaAbstractThe nutritional content and biological activities of redtail catfish (Hemibagrus  nemurus) are determined by environmental condition and food sources. Redtail catfish is consumed by peoples as protein source. It can be found in their natural habitat as well as in maricultured-cage system. This study was carried out to determine the nutritional content and biological activity of redtail catfis h from Cirata Reservoir as ACE and antioxidant inhibitor. The result showed the that protein and ash contents of both populations were not significantly different, while fat content of wild population  was much higher than that of cultured. The Mineral content showed  significant difference for K content (cultured 313.04±14.84 mg/100g; wild 457.33±7.50 mg/100g) and Ca content (cultured 29.15±1.06mg/100g; wild 42.13±0.85 mg/100g). The micro minerals were dominated by Zn i.e., 0.42±0.04 mg/100 for cultured and 0.44±0.02 mg/100g for wild fish. The essential amino acids (EAA) were dominated by lysine i.e., 7.70±0.97 for cultured and phenylalanine i.e., 0.80±0.26 mg/g for wild; while the major non-essential amino acids (AANE) were alo iso-leoucine i.e., 13.77±0.23 mg/g (cultured) and proline i.e., 1.79±0.70 mg/g (wild). The EAA/AANE ratio showed that the cultured population was 0.83 and wild was 0.54. The biological activity of redtail catfish showed that the cultured population had antioxidants activity value of 0.16±0.02 µmol Fe2+/g while the wild was 0,09 µmol Fe2+/g. The inhibitory activity of angiotensin in converting enzyme (ACE inhibitory) of wild population was 84.41±1.17% and cultured was 88.76±1.82%. In general redtail catfish from Cirata Reservoir had a complete nutrient content and chemical composition, as well as its bioactivity as ACE inhibitor. So that the fish is very potent for raw material of health supplement, especially for ACE inhibitor supplement
DETERMINATION OF OIL EXTRACTION RATE FROM Spirulina sp. AND Chlorella sp. BY USING CELL DISRUPTION TECHNIQUE Melanie, Susiana; Fithriani, Diini
Widyariset Vol 1, No 1 (2015): Widyariset
Publisher : Pusbindiklat Peneliti - LIPI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (422.945 KB)

Abstract

Oil derived from microalga has a big potential to substitute fossil fuel so that the oil extraction method needs to be developed. This study aims to compare the method for cell disruption in oil extraction of Spirulina sp. and Chlorella sp. microalgae. Spirulina sp. and Chlorella sp. were cultivated each in a pond with maximum capacity of 600 liters at Biotechnology Laboratory of Research and Development Center for Marine and Fisheries Product Processing and Biotechnology. Spirulina sp. were harvested by filtered it using satin. Chlorella sp. was harvested using coagulant NaOH, so it was needed to be neutralized to pH 7 with citric acid addition. The cell wall of Spirulina sp. and Chlorella sp. then was ruptured using sonicator and microwave, while other sample without disruption as control. The suspension then was macerated with n-hexane solvent, to extract the oil content. Oil content of Spirulina sp. which has been collected from this experiment gave result control: microwave: sonicator as 1.17%, 1.28%, and 1.97% respectively. Meanwhile, oil content of Chlorella sp. gave result from control, microwave, and sonicator as 0.93%, 1.20%, and 1.69% respectively. It was concluded that sonicator is the best method in oil extraction of cultured microalgae.
Uji Fitokimia, Kandungan Total Fenol Dan Aktivitas Antioksidan Mikroalga Spirulina Sp., Chlorella Sp., dan Nannochloropsis Sp. Fithriani, Diini; Amini, Sri; Melanie, Susiana; Susilowati, Rini
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.948 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan fitokimia, total fenol, dan aktivitas antioksidan dari mikroalga Spirulina sp., Nannochloropsis sp., dan Chlorella sp. Mikroalga diekstrak dengan ekstraksi tunggal menggunakan etanol. Skrining fitokimia dilakukan secara kualitatif. Analisis total fenol dilakukan secara spektrofotometri dengan metode Folin-Ciocalteu. Analisis antioksidan dilakukan dengan metode 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH) dan Ferric Reducing Antioxidant Power (FRAP). Skrining fitokimia menunjukkan keberadaan tanin, flavonoid, steroid, glikosida, dan alkaloid pada ekstrak etanol ketiga jenis mikroalga, sedangkan saponin hanya terdeteksi pada ekstrak etanol Spirulina sp. dan Chlorella sp., adapun triterpenoid tidak terdeteksi pada ekstrak etanol ketiga jenis mikroalga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan total fenol, aktivitas antioksidan (IC50), dan kapasitas antioksidan (FRAP) tertinggi diperoleh pada ekstrak etanol Spirulina sp. dengan nilai berturut turut sebesar 0,32 ± 0,025 mg GAE g-1D.W., 518,94 ppm, dan  49,95 ± 2,02 (mmol Fe2+ eq.g-1D.W). Dalam penelitian ini diketahui bahwa kandungan fenol total memiliki korelasi  yang kuat  dengan kapasitas antioksidan metode FRAP (R2= 0,84), dan aktivitas antioksidan metode DPPH (R2= 0,79).
Pengaruh Konsentrasi Maleat Anhidrida terhadap Mutu Papan Partikel yang Dibuat dari Limbah Padat Gracilaria sp. dan Polietilen sebagai Perekat Fithriani, Diini; Basmal, Jamal; Utomo, Bagus Sediadi Bandol
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh maleat anhidrida terhadap mutu papan partikel yang dibuat dari limbah padat hasil pengolahan Gracilaria sp. Dan polietilen. Pada penelitian ini limbah padat hasil pengolahan Gracilaria sp.dicampur secara homogen pada suhu ruang dengan bahan perekat polietilen dengan perbandingan berat 1:1, dan ditambahkan maleat anhidrida dengan konsentrasi 0,6, 9, dan 12% b/b. Pembuatan papan partikel dilakukan dengan teknik pengempaan panas pada cetakan 30 x 30 x 4 cm3. Pengempaan dilakukan pada tekanan 9 kg/cm2, suhu 150°C, dengan lama waktu pengempaan 7 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan maleat anhidrida sebagai compatibilizerpada pembuatan papan partikel dari limbah padatpengolahan Gracilaria sp. dan polietilen berpengaruh pada meningkatnya kadar air, daya serap air dan pengembangan tebal serta berpengaruh pada menurunnya modulus patah  (MOR) dan modulus elastisitas papan. Pada penelitian ini pembuatan papan partikel dari limbah Gracilaria sp.dan polietilen dapat menghasilkan papan dengan sifat fisik dan mekanis yang s es uai s tandar J IS A5908 kecuali pada nilai modulus elastisitasnya.
Pengaruh Waktu Pengempaan Terhadap Karakteristik Papan Partikel Dari Limbah Padat Pengolahan Gracilaria Sp Fithriani, Diini; Nugroho, Tri; Basmal, Jamal
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian pemanfaatan limbah padat rumput laut (Gracilaria sp) sebagai bahan baku untuk pembuatan papan partikel telah dilakukan. Empat perlakuan waktu pengempaan digunakan untuk mengetahui optimasi proses. Perlakuan waktu pengempaan tersebut adalah 0, 5, 10 dan 25 menit pada suhu 150ºC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu pengempaan yang optimum adalah 0 menit terhitung sejak suhu tercapai 150ºC, yang menghasilkan kerapatan 0,09 g/cm3, kadar air 2,5%, daya serap air 14,9%, pengembangan linier pada 2 jam 0,2% dan pada 24 jam 0,5%, pengembangan tebal pada 2 jam 0,8% dan pada 24 jam 1,9%, modulus patah 154 kg/cm2, modulus elastisitas 14804,32 kg/cm2 dan kekuatan rekat internal 6 kg /cm2.
Ekstraksi Selulosa Dari Limbah Pembuatan Karaginan Fithriani, Diini
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian pemanfaatan limbah padat karaginan sebagai bahan baku selulosa telah dilakukan untuk mencari bahan baku alternatif pembuatan selulosa. Percobaan dilakukan dengan alkalinasi limbah karaginan menggunakan larutan NaOH dan pemucatan menggunakan larutan H2O2 Alkalinasi dilakukan dengan variasi konsentrasi larutan NaOH 20; 30; 40% dan pemucatan dengan larutan H2O2 2:4 dan 6%. Perbandingan antara limbah dan larutan NaOH adalah 1:12 (b/v) dan perbandingan antara limbah dan larutan H2O2 adalah 1: 30 (b/v). Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa perlakuan terbaik adalah alkalinasi menggunakan NaOH 20% dan H2O2 6% yang menghasilkan alfa selulosa 71,38%; kadar air 10,4% dan kadar abu 10,69% dengan nilai derajat putih 17,8% .
Potensi Ikan Air Tawar Budidaya sebagai Bahan Baku Produk Nutraseutikal Berbasis Serum Albumin Ikan Susilowati, Rini; Januar, Hedi Indra; Fithriani, Diini; Chasanah, Ekowati
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (134.191 KB)

Abstract

Nutraseutikal berbasis Fish Serum Albumin (FSA) adalah produk komersial yang berasal dari sumber perairan. Namun, oleh karena produk ini secara umum diproduksi dari ikan gabus (Channa striata) di alam, pasokan bahan baku dapat menjadi masalah pada produksi yang berkesinambungan. Penelitian ini telah dilakukan dengan menganalisis kandungan FSA dari 17 ikan air tawar budidaya, untuk mendapatkan bahan baku alternatif bagi produk nutraseutikal berbasis FSA. 3–10 individu ikan air tawar (150–500 g) dari jenis ordo Perciformes, Anguilliformes, Cypriniformes, Osteoglossiformes, dan Siluriformes telah diambil secara acak dari lokasi budidaya ikan di Bogor dan Cianjur (Jawa Barat). Ekstraksi protein larut air dilakukan menggunakan Ultra Turax homogeniser dengan pelarut akuabides. Analisis FSA telah dilakukan menggunakan High Performance Liquid Chromatography (HPLC). Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa kadar FSA dari 17 ekstrak air dari ikan berada pada rentang 42,51 to 215,57 mg/g, dengan kadar FSAikan gabus pembanding adalah 107,28 ± 3,2 mg/g. Konsentrasi FSA tertinggi ditemukan sebesar 215,57 ± 52,84 mg/g dari ekstrak air ikan gurame (Osphronemus gouramy). Analisis lebih lanjut terhadap komposisi asam amino menggunakan Gas Chromatography – Flame Ionization Detector (GC-FID) menemukan bahwa ekstrak air ikan gabus memiliki konsentrasi asam amino esensial dan non-esensial yang lebih tinggi dibandingkan dengan ikan gurame. Hal ini menunjukkan banyaknya protein lain selain FSA pada ekstrak air ikan gabus dibandingkan ikan gurame. Berdasarkan hasil ini, ekstrak air ikan gurame memiliki konsentrasi FSA yang lebih besar dan relatif lebih murni dibandingkan ekstrak air ikan gabus, sehingga merupakan alternatif yang prospektif sebagai bahan baku untuk produk nutraseutikal berbasis FSA.
Komposisi Kimia, Kadar Albumin Dan Bioaktivitas Ekstrak Protein Ikan Gabus (Channa Striata) Alam Dan Hasil Budidaya Chasanah, Ekowati; Nurilmala, Mala; Fithriani, Diini
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.791 KB)

Abstract

Khasiat kesehatan ikan gabus (C. striata) telah dikenal secara luas dan saat ini C. striata telah digunakan sebagai bahan baku industri produk suplemen. Tingginya permintaan akan produk suplemen tersebut menimbulkan masalah pada ketersediaan C. striata yang sebagian besar ditangkap dari sungai dan danau sebagai tempat hidupnya. Ikan gabus budidaya dipercaya memiliki kualitas tidak sebaik ikan gabus alam.Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi mengenai komposisi kimia, termasuk albumin dan potensi ekstrak protein kasar ikan gabus alam dan hasil budidaya sebagai antioksidan dan anti hipertensi. Hasil analisis menunjukkan bahwa ikan gabus alam dan hasil budidaya memiliki kadar protein yang tidak berbeda secara nyata, tetapi berbeda pada kadar air, abu, dan lemak. Ikan gabus alam memiliki kadar lemak dan abu lebih rendah tetapi kadar air lebih tinggi dibanding ikan gabus budidaya. Ikan dari kedua sumber memiliki bagian yang dapat dimakan atau edible portion (EP) sebesar 36%,dengan kadar mineral makro (Na, K, Ca) dan mikro (Zn, Fe) pada ikan hasil budidaya lebih tinggi dibanding kedua kelompok mineral pada ikan gabus alam. Kadar albumin ikan gabus alam lebih tinggi daripada kadar albumin ikan gabus budidaya. Namun demikian, hasil analisis asam amino menunjukkan bahwa ikan gabus hasil budidaya memiliki kuantitas asam amino yang lebih tinggi daripada ikan gabus alam. Asam amino non essensial dominan adalah alanin, asam aspartat, glisin, alloisoleusin, prolin, dan glutamin, sedangkan asam amino esensial didominasi oleh leusin, lisin, dan fenilalanin. Kedua ikan gabus yang diperoleh dari tempat yang berbeda tersebut memiliki bioaktivitas sebagai antioksidan yang lemah, namun berpotensi sebagai antihipertensi (penghambat Angiotensin Converting Enzyme (ACE)) dengan kekuatan 1/10 kekuatan kontrol obat hipertensi captopril.
Karakteristik dan Model Matematika Kurva Pengeringan Rumput Laut Eucheuma cottonii Fithriani, Diini; Assadad, Luthfi
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1212.925 KB)

Abstract

Studi ini dimaksudkan untuk menginvestigasi karakteristik dan model matematika kurvapengeringan rumput laut  Eucheuma cottonii. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakanuntuk perancangan alat pengering rumput laut yang efisien. Pengeringan E.cottonii dilakukandengan menggunakan alat pengering laboratorium terkendali yang dilengkapi dengan sistemakuisisi data dengan kecepatan udara 0,5 m/detik. Empat variasi RH yang dilakukan pada suhu50 °C adalah 30%, 40%, 50% dan 60% serta empat variasi suhu yang dilakukan pada RH 40%adalah 40 °C, 50 °C, 60 °C dan 70 °C. Tiga model pengeringan yang diuji adalah model Newton, Henderson & Pabis dan Page. Simulasi model yang paling tepat ditentukan berdasarkan nilai R2 yang paling tinggi, serta nilai  sum square error  (SSE) dan  root mean square error  RMSE yang paling rendah. Laju pengeringan lapis tipis rumput laut  E.cottonii umumnya berada pada periodelaju menurun. Hal ini sesuai dengan karakteristik pengeringan bahan-bahan biopolimer yang umumnya berlangsung dengan laju menurun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan RH cukup efektif dalam menurunkan kadar air dibandingkan peningkatan suhu. Pada RH rendah yaitu 30% suhu 50 °C, penurunan kadar air 50% dicapai dalam waktu 80-85 menit jauh lebih cepat dari RH 60% suhu 50 °C yaitu 165-170 menit. Pada suhu tertinggi yaitu 70 °C RH 40%penurunan kadar air 50% dicapai dalam waktu 90 menit selisih 15 menit lebih cepat dibandingkan suhu terendah yaitu 40 °C RH 40%. Kajian ini mendapati model pengeringan  E.Cotonii yang paling sesuai adalah model pengeringan Page dengan nilai R2, R2 terkoreksi, SSE and RMSE berturut - turut sebesar 0,98-0,99 ; 0,96-0,98 ; 0,0002-0,0126 dan 0,0002- 0,0206.
Uji Coba Proses Daur Ulang Limbah Cair ATC (Alkali Treated Cottonii) Dengan Teknik Koagulasi dan Filtrasi Basmal, Jamal; Fithriani, Diini
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Industri pengolahan alkali treated cottonii (ATC) menghasilkan limbah cair yang sangat besar. Pendaur ulangan limbah cair akan mengefisienkan penggunaan air untuk pengolahan sekaligus mengurangi masalah pencemaran lingkungan. Untuk itu dilakukan ujicoba proses daur ulang limbah cair ATC menggunakan alat yang dirancang oleh Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan yang berkapasitas 360 liter/jam. Pengolahan limbah cair dilakukan dengan teknik koagulasi dan filtrasi. Proses koagulasi dilakukan dengan penambahan bahan koagulan tawas (Al 2(SO4)3 ) dan flokulan blok di dalam tangki koagulasi, sedangkan filtrasi dilakukan dengan melewatkan limbah melalui kolom zeolit‑arang aktif dan filter selulosa asetat. Pengamatan dilakukan terhadap limbah cair dan air hasil olahan yang meliputi total padatan terlarut (Total Dissolved Solids/TDS), total padatan anorganik terlarut (Total Inorganic Dissolved Solids/TIDS), Biological Oxygen Demand (BOD), pH, kekeruhan, bau, dan warna limbah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengolahan limbah cair ATC dapat menurunkan jumlah TDS, TIDS dan BOD hingga 56,60%, 32,29%, dan 60,66%, meskipun kemampuan alat filtrasi menggunakan kolom zeolit‑arang aktif menurun seiring dengan banyaknya proses daur ulang yang dilakukan. Berdasarkan hasil analisis didapatkan juga bahwa proses daur ulang limbah cair ATC mampu menurunkan nilai pH, kekeruhan, bau, dan warna limbah. Dengan pengolahan tersebut limbah cair dapat didaur ulang hingga 5 kali untuk proses pengolahan ATC berikutnya.