Articles

Found 9 Documents
Search

Wartawan Media Now dalam Mengemas Berita: Perspektif Situational Theory

Jurnal ASPIKOM - Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 2, No 5 (2015): Juli 2015
Publisher : Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.446 KB)

Abstract

The study aims to map and describe relationships between concepts of activity of journalists in the media now cloning technology based activities and relationship between news reporters. This study discusses the focus of news coverage in media activities and relationships among the journalists in the era of technology. The theory used is situational theory Grunig and Hunt and descriptive method of Public Relations. The study found that the situation changes in the era of media encourage actions of unscrupulous hunters cloning news. News media such as online media should now be used as the initial data is not the primary data news writing. The presence of media now facilitates the work of journalists but not always produce good quality of news. Otherwise, the presence of technology encourages more active cloning news reporter. Media now can initiate active and apathetic public situations as influenced by quality news content. The presence of media technology changes the image of the relationship between journalists—from person to person or reporter to reporter to journalists with media technology.

Kampanye Literasi Media (Studi Pada Masyarakat Paseban Kecamatan Senen Jakarta Pusat)

Jurnal Abdimas BSI: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 1, No 1 (2018): Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : LPPM Universitas UBSI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.435 KB)

Abstract

AbstrakArtikel ini membahas tentang perilaku masyarakat dalam menonton televisi. Hal ini dikaji karena masih terdapat masyarakat yang belum memahami tentang literasi media. Penelitian menggunakan studi kasus dengan paradigma konstruktifis. Penelitian merupakan bagiian dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan pada warga Kelurahan Paseban Kecamatan Senen Jakarta Pusat. Teknik pengumpulan data melalui wawancara dengan informan sebanyak 11 orang melibatkan aparat desa dan masyarakat setempat. Hasil penelitian menemukan bahwa masyarakat masih “tertipu” dengan konten tayangan televisi. Masyarakat menganggap nyata setiap konten yang ditayangkan.  Perilaku ini terjadi karena mereka belum memahami tentang literasi media. Tingkat pemahaman mereka teruji ketika diberikan penyuluhan dan praktik tentang produksi televisi. Kesimpulan bahwa pentingnya mengajak dan memberikan pemahaman pada  masyarakat tentang cara memproduksi siaran televisi, sehingga mereka mampu membedakan konten yang sesuai dengan fakta dan konten yang sifatnya imajinatif. Masyarakat yang sudah terliterasi biasanya tidak hanya mengetahui tentang cara memproduksi konten siaran, akan tetapi mereka juga lebih selektif. Masyarakat terliterasi adalah mereka yang pandai tentang dampak dari setiap tayangan televisi.  Kata kunci: literasi media, televisi, konten media AbstractThis article discusses the behavior of people in watching television. This is studied because there are still people who do not understand about media literacy. The study used case study with constructive paradigm. The research is a devotion of community service activities conducted on the citizens of Paseban Subdistrict, Senen District, Central Jakarta. Data collection techniques through interviews with informants of 11 people involved village officials and local communities. The research finds that people are still "fooled" by television content. The public considers every content that is live. This behavior occurs because they have not understood the media literacy. Their level of understanding is tested when given counseling and practices about television production. The conclusion that it is important to invite and provide understanding to the public about how to produce television broadcasts, so that they are able to distinguish content that is in accordance with facts and content that is imaginative. The already literated society usually not only knows about how to produce broadcast content, but they are also more selective. A literate society is one who is good at the impact of every television show. Keywords: media literacy, television, media content

POLA KOMUNIKASI ORGANISASI FORUM LEADER PADA AKTIVITAS EVALUASI BANDUNG CLEAN ACTION

J-IKA Vol 2, No 2 (2015): JURNAL J-IKA
Publisher : J-IKA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTWithin an organitation, often found a communication berrier One of that communication barriers is from culture aspect, such as prespective and behavior. That communication barriers is take effect to organitation participant participation. In this research, the organitation is Forum Leader from Bandung Cleanaction Programm. Every participant in Forum Leader are compound from leaders or liaison unit from affiliated communities in Bandung Cleanaction Programm. Forum Leader participant had many defferent culture and norms. Research methods used in this research is qualitative. Theory used is Organitation Culture Theory. With participant observation and deep interview, researcher have try to find a communication patterning in activities evaluation on Forum Leader. Result from this research showing us that informal communication and kinship atmosphere setting take huge effects to behavior and performance of participant.Keywords : communications activities, communications component, pattern communications. ABSTRAKDalam sebuah organisasi sering adanya hambatan komunikasi. Salah satu hambatan yang sering terjadi adalah dari segi budaya, baik cara pandang maupun perilaku. Hambatan tersebut dapat berpengaruh pada partisipasi anggota organisasi. Pada penelitian ini organisasi yang dimaksud adalah Forum Leaderprogram Bandung Cleanaction. Partisipan yang membentuk Forum Leader ini merupakan gabungan dari para pemimpin atau perwakilan dari komunitas-komunitas yang berafiliasi dalam program Bandung Cleanaction. Partisipan Forum Leader memiliki latar belakang budaya atau nilai-nilai yang berbeda.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan metode etnografi komunikasi. Teori yang digunakan adalah Teori Budaya Organisasi. Dengan menggunakan teknik observasi partisipan serta wawancara mendalam, peneliti berusaha menemukan sebuah pola komunikasi dalam proses evaluasi kegiatan  pada Forum Leader ini. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa aktivitas komunikasi yang bersifat informal serta suasana kekeluargaan yang diciptakan dalam proses evaluasi berpengaruh besar pada perubahan perilaku dan kinerja partisipan Forum Leader.Kata Kunci: aktivitas komunikasi, komponen komunikasi, pola komunikasi

PENGELOLAAN IMAGE WANITA SINGLE PARENT

J-IKA Vol 3, No 1 (2016): Jurnal J-IKA
Publisher : J-IKA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTThis study aimed to describe the Image Management Single Parent. This study used a qualitative approach to the study of phenomenology. Informants who studied consists of 3 (three) people. The data obtained through interviews, observation, literature, and internet searching. The results showed that there are three (3) the important role that must be run by a single parent in managing the image is, the role personally for himself, the role as the backbone of the family and the role of housewife. Single parent image management in instilling confidence in the environment done by a single parent trying to give a sense, that is actually a single parent is not something to be feared by the community, and the focus of educating children to excel so that people can see the results didikannya. Image management in a single parent to place oneself in the environment done by a single parent to attend social activities organized in their environment. Keywords: image, single parentABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Pengelolaan Image Single Parent. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi fenomenologi. Informan yang diteliti berjumlah 3 (tiga) orang. Data yang diperoleh melalui wawancara, observasi, studi literatur, dan internet searching. Hasil penelitian menunjukan bahwa  ada 3 (tiga) peran penting yang harus dijalankan oleh single parent dalam mengelola image  yaitu, peran secara pribadi untuk dirinya sendiri, peran sebagai tulang punggung keluarga dan peran sebagai ibu rumah tangga. Pengelolaan image single parent dalam menanamkan kepercayaan terhadap lingkungannya dilakukan dengan cara single parent berusaha untuk memberikan pengertian, bahwa sebenarnya single parent bukan sesuatu yang harus ditakuti oleh masyarakat, dan fokus mendidik anak hingga berprestasi agar masyarakat dapat melihat hasil didikannya. Pengelolaan image single parent dalam penempatan diri di lingkungannya dilakukan dengan cara single parent mengikuti kegiatan sosial yang diselenggarakan di lingkungannya. Kata kunci : image, single parent

PEMANFAATAN MEDIA CYBER PR JELANG ASEAN COMMUNITY

J-IKA Vol 2, No 1 (2015): Jurnal J-IKA
Publisher : J-IKA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.807 KB)

Abstract

Abstract: Context problems studied  in this paper about the framework of public relations strategy with the use of cyber media PR company in Indonesia through the pillar ahead of the Asean Economic Community. The issue was raised because of the presence of new media or new media in recent years greatly helped the workings of the PR company in an effort to improve the effectiveness of the companys work. However, the use of cyber media as a working tool is considered less than optimal because of the level of understanding of the working methods of the technology-based media. This paper uses the method of writing a literature review. This study is expected to provide an understanding of PR companies to use contemporary media or new media in this regard cyber media PR includes all programs that can be used by technology or e-PR. Awareness of PR companies is very important, as the Indonesian company strategy ahead of the ASEAN Community. The three main pillars of the establishment of the ASEAN Community, namely (1) the ASEAN Political and Security Community (2) and the Asean Economic Community (3) Social and Cultural Community ASEAN. In this scientific paper the authors focus on the ASEAN Economic Community through the use of cyber media Tekonologi PR companies. Asean Community will open up opportunities for ASEAN countries to compete in the interstate without limit again lies the region. This means that each ASEAN country has a great opportunity, and equal opportunities to develop the economy of the ASEAN countries through two key words that excellent service and quality products. Keywords: business strategy, cyber media, asean pillar of community Abstrak: Konteks masalah yang dikaji dalam paper ini mengenai strategi kerja public relation dengan pemanfaatan media cyber PR perusahaan di  Indonesia melalui pilar ekonomi jelang Asean Community. Masalah ini diangkat karena hadirnya media baru atau new media beberapa tahun terakhir ini sangat membantu cara kerja PR perusahaan dalam upaya meningkatkan efektifitas kerja perusahaan. Akan tetapi, pemanfaatan media cyber sebagai alat kerja tersebut dirasa kurang optimal karena tingkat pemahaman tentang metode kerja melalui media berbasis teknologi tersebut. Penulisan paper ini menggunakan metode kajian literatur. Kajian ini diharapkan memberikan pemahaman PR perusahaan terhadap pemanfaatan media kontemporer atau media baru dalam hal ini media cyber PR meliputi semua program yang dapat digunakan melalui teknologi atau e-PR. Kesadaran kerja PR perusahaan ini sangat penting, sebagai strategi perusahaan Indonesia jelang Asean Community. Tiga pilar utama terbentuknya Asean Community yaitu (1) Komunitas Politik dan Keamanan Asean, (2) Komunitas Ekonomi Asean dan (3) Komunitas Sosial dan Budaya Asean.  Pada paper ilmiah ini penulis fokus pada Komunitas Ekonomi Asean melalui pemanfaatan tekonologi media cyber PR perusahaan. Asean Community  akan membuka kesempatan bagi negara-negara Asean untuk bersaing antar negara tanpa di batasi lagi letak wilayah. Artinya bahwa setiap negara Asean memiliki kesempatan yang besar dan peluang yang sama untuk mengembangkan ekonomi antar negara Asean melalui dua kata kunci yaitu layanan prima dan produk berkualitas.Kata Kunci: strategi kerja, cyber media, pilar asean community

KOMUNIKASI MEDIA FILM WONDERFUL LIFE (PENGALAMAN SINEAS TENTANG MENENTUKAN TEMA FILM)

J-IKA Vol 3, No 2 (2016): JURNAL J-IKA
Publisher : Lembaga Penelitian & Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas BSI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTThis study aims to build experience filmmakers about the determination of the films theme. Of the number of movie theme, movie theme of social movements still arguably rare. Not many filmmakers who dare to take this theme for a variety of things including the film difficult to sell in the market. The difficulty competing with more popular movie themes such as film genre horror, comedy and action. However, in the year 2016 one of the filmmakers will release themed movies is a social movement Wonderful Life. The film is overall a story about children with special needs. During these special needs children considered one eye when they have the same rights and opportunities. They just need more support from their environment. This is the reason why the reality of the movie theme important to investigate. Reality does not stand alone but is emik, meaning that individual as an informant can build on the experience of meaning. Each individual will perform interpretations of reality are accepted. In this case, the individual in question is the cinematographer. The study focused on how the filmmakers to build awareness for the courage specify a movie theme. The method used phenomenological qualitative approach. The study says that the experience of every filmmaker diverse backgrounds choose a theme related to social movements but maknya movie remains the same which is difficult to market a movie-themed social movements. Keywords: movie theme, movie media, movie function. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk membangun pengalaman sineas tentang penentuan tema film. Dari sekian jumlah tema film, tema film gerakan sosial masih dibilang langka. Tidak banyak sineas yang berani mengambil tema tersebut karena berbagai hal diantaranya sulitnya film tersebut untuk laku di pasaran. Sulitnya bersaing dengan tema film yang lebih populer seperti film genre horor, komedi dan laga. Namun, ditahun 2016 salah seorang sineas akan merelease film bertemakan  gerakan sosial yaitu Wonderful Life. Film ini secara keseluruhan  mengangkat cerita tentang anak berkebutuhan khusus. Selama ini anak berkebutuhan khusus dianggap sebelah mata padahal mereka memiliki hak dan kesempatan yang sama. Mereka hanya saja membutuhkan dukungan lebih dari lingkungannya. Hal ini yang menjadi alasan kenapa realitas tentang tema film penting untuk diteliti. Realitas yang tidak berdiri sendiri akan tetapi bersifat emik, artinya individu sebagai informan dapat membangun makna atas pengalamannya. Setiap individu akan melakukan interpretasi terhadap realitas yang diterima. Dalam hal ini, individu yang dimaksud adalah para sineas. Penelitian fokus pada bagaimana Sineas membangun kesadarannya terhadap keberanian menentukan tema film. Metode yang digunakan fenomenologi dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menyebutkan bahwa pengalaman setiap sineas beragam terkait latar belakang memilih tema film gerakan sosial namun maknya tetap sama yakni sulitnya untuk memasarkan film bertemakan gerakan sosial. Kata Kunci: tema film, media film, fungsi film

PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN VISUAL PRODUKSI PROGRAM KUIS 3 PROGRAM KARTUN IPIN UPIN MENIT DI MNC TV

CAKRAWALA: JURNAL HUMANIORA BINA SARANA INFORMATIKA Vol 18, No 2 (2018): SEPTEMBER 2018
Publisher : Akademi Komunikasi BSI Jakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (745.365 KB)

Abstract

For planning and controlling visual production programs There are several things that must be considered. One of the most important directors who are required to be creative in the field of cinematography in order to produce good visualizations of scenarios and manuscripts that have previously been made. In addition, the director controls the production he handles and coordinates with elements, facilities and team members in the studio. The research conducted by this author is descriptive with a qualitative approach. The purpose of this research is to make a description and architecture, explain the processes that occur in it, and explain the various contexts behind the event. So qualitative descriptive is a type of research used to make accurate, factual and accurate descriptions, facts or facts about facts, characteristics of descriptions, conditions or phenomena by using data in the form of words or verbally from people and objects used to find or explain relationships, also not to examine facts or make predictions. The directors role in the making and controlling of the visual quiz production program 3 the Ipin Cartoon Program Up in Minutes In MNCTV is not only one part but can also be overcome properly and can work with all concerned.

PENDEKATAN KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA TENTANG PENERAPAN ATURAN PERDA K-3 DAN KEBIASAAN MASYARAKAT KOTA BANDUNG DALAM MEMBUANG SAMPAH

JIPSI Jurnal Ilmu Politik dan Komunikasi Vol 5 No 01 (2015): Jurnal Ilmu Politik dan Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Komputer Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (504.671 KB)

Abstract

Penelitian ini berfokus pada kebiasaan membuang sampah bukan pada tempatnya. Fenomena ini hampirterjadi diseluruh pelosok tanah air. Hal ini yang menjadi faktor utama pemerintah kota Bandung menerapkanPerda K-3 tentang Kebersihan, Kerapihan dan Kenyamanan. Kajian deskriptif kualitatif dengan paradigmakonstruktivis ini, menggunakan pendekatan komunikasi antar budaya. Informan ditentukan secara purposivesebanyak 5 orang. Tujuan penelitian untuk memberikan gambaran tentang sikap dan pandangan masyarakatkota Bandung, terkait diterapkannya Perda K-3. Hasil penelitian menyebutkan bahwa pemerintah kotaBandung menerapkan K-3 belum memperhatikan aspek psikologis masyarakat. Kebiasaan yang sudahmendarah daging, membuang sampah sembarangan, tentu saja tidak dapat dihentikan dengan cara prontal,akan tetapi diperlukan pendekatan antar budaya, mengingat Bandung terdiri dari masyarakat multikultur.Selain itu, kenyaman dan keindahan pengguna angkot juga terganggu, dengan penempatan serta jenis kotaksampah yang tidak disertai ketentuan dari pemerintah kota Bandung.

REPRESENTASI RADIKALISME DAN TOLERANSI DALAM FILM APA ITU ISLAM

JIKE : Jurnal Ilmu Komunikasi Efek Vol 2 No 2 (2019): JUNI
Publisher : Prodi Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui simbol sosial, budaya dan ideologi yang terkandung dalam film Apa Itu Islam. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi semiotika Roland Barthes, hasil penelitian menemukan bahwa pesan komunikasi pada setiap adegan film merepresentasikan radikalisme dan toleransi. Radikalisme dibangun pada beberapa adegan seperti (1) tindakan sekelompok ormas islam melawan aparat keamanan melakukan perusakan fasilitas negara (2) konvoi jamaah habib di jalan raya yang membuat nuansa jalan macet dan mencekam (3) aksi yang tidak menginginkan kegiatan yang dibiayai oleh Amerika karena dinilai sebagai zionis dan musuh Islam. Sedangkan simbol sosial, budaya dan ideologi yang merepresentasikan toleransi yang dibangun dalam film Apa Itu Islam terdapat pada tujuh adegan diantaranya (1) seorang anak bersedih adanya bentuk batasan pertemanan sesuai agama dan tidak adanya toleransi dalam beragama (2) pemahaman anak kecil terhadap doktrin yang diberikan ustadnya mengenai agama yang masuk surga (3) tanaman padi yang menjadi kebutuhan manusia secara jasmani dan agama adalah kebutuhan manusia secara rohani.