Puspita Mardika Sari, Puspita Mardika
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents
Articles

Found 4 Documents
Search

Modifikasi ekstraksi serat ubi jalar dengan penambahan arang aktif Sari, Puspita Mardika
Ilmu Gizi Indonesia Vol 1, No 1 (2017): Agustus
Publisher : Program Studi S-1 Ilmu Gizi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.802 KB)

Abstract

Latar Belakang: Ekstrak serat ubi jalar (ESU) terbukti mengandung oligosakarida jenis FOS  dan  raffnosa  serta mampu meningkatkan  imunitas  dan meningkatkan  komposisi  bakteri menguntungkan Bifdobacterium sp. dan Lactobacillus sp. Namun demikian, potensi prebiotik dari ekstrak tersebut belum optimal. Hal ini disebabkan karena ESU masih mengandung pati dan senyawa karbohidrat sederhana yang relatif tinggi sehingga dapat dimanfaatkan oleh bakteri patogen seperti Clostridium sp. Salah satu agensia yang berpotensi untuk meningkatkan efektivitas ekstraksi adalah arang aktif karena kemampuannya mengikat senyawa monosakarida dan disakarida.  Tujuan:  mengetahui  pengaruh  modifkasi ekstraksi  serat  ubi  jalar  dengan penambahan arang aktif guna meningkatkan potensi prebiotik dari ubi jalar. Metode: ESU diekstrak dari ubi jalar segar dengan menggunakan dua metode yaitu ekstraksi etanol 80% sebagai kontrol  (ESU1) dan modifkasi ekstraksi etanol 80% dengan penambahan arang aktif  (ESU2). Kandungan serat dari ESU diukur melalui analisis kadar serat. Efektiftas proses ekstraksi diukur dengan analisis kadar sukrosa (disakarida) dan kadar gula reduksi (monosakarida). Hasil: tidak ada perbedaan kadar serat dan glukosa antara ESU2 dan ESU1. Kadar sukrosa dan gula total pada ESU2 lebih rendah dibandingkan ESU1, namun demikian perbedaan ini tidak signifkan (p>0,05). Kesimpulan: Penambahan arang aktif tidak memberikan pengaruh terhadap kadar serat ESU maupun efektiftas proses ekstraksi dibuktikan dengan perbedaan yang tidak signifkan pada kadar gula total, kadar glukosa, dan kadar sukrosa. Diduga hal ini disebabkan oleh kemampuan arang aktif dalam menyerap senyawa organik seperti fenol. Kemampuan penyerapan monosakarida dan disakarida menurun karena arang aktif menjadi jenuh oleh etanol 80%.Kata kunci: serat ubi jalar; prebiotik; arang aktif; ekstraksi
Modifikasi ekstraksi serat ubi jalar dengan penambahan arang aktif Sari, Puspita Mardika
Ilmu Gizi Indonesia Vol 1, No 1 (2017): Agustus
Publisher : Program Studi S-1 Ilmu Gizi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.802 KB)

Abstract

Latar Belakang: Ekstrak serat ubi jalar (ESU) terbukti mengandung oligosakarida jenis FOS  dan  raffnosa  serta mampu meningkatkan  imunitas  dan meningkatkan  komposisi  bakteri menguntungkan Bifdobacterium sp. dan Lactobacillus sp. Namun demikian, potensi prebiotik dari ekstrak tersebut belum optimal. Hal ini disebabkan karena ESU masih mengandung pati dan senyawa karbohidrat sederhana yang relatif tinggi sehingga dapat dimanfaatkan oleh bakteri patogen seperti Clostridium sp. Salah satu agensia yang berpotensi untuk meningkatkan efektivitas ekstraksi adalah arang aktif karena kemampuannya mengikat senyawa monosakarida dan disakarida.  Tujuan:  mengetahui  pengaruh  modifkasi ekstraksi  serat  ubi  jalar  dengan penambahan arang aktif guna meningkatkan potensi prebiotik dari ubi jalar. Metode: ESU diekstrak dari ubi jalar segar dengan menggunakan dua metode yaitu ekstraksi etanol 80% sebagai kontrol  (ESU1) dan modifkasi ekstraksi etanol 80% dengan penambahan arang aktif  (ESU2). Kandungan serat dari ESU diukur melalui analisis kadar serat. Efektiftas proses ekstraksi diukur dengan analisis kadar sukrosa (disakarida) dan kadar gula reduksi (monosakarida). Hasil: tidak ada perbedaan kadar serat dan glukosa antara ESU2 dan ESU1. Kadar sukrosa dan gula total pada ESU2 lebih rendah dibandingkan ESU1, namun demikian perbedaan ini tidak signifkan (p>0,05). Kesimpulan: Penambahan arang aktif tidak memberikan pengaruh terhadap kadar serat ESU maupun efektiftas proses ekstraksi dibuktikan dengan perbedaan yang tidak signifkan pada kadar gula total, kadar glukosa, dan kadar sukrosa. Diduga hal ini disebabkan oleh kemampuan arang aktif dalam menyerap senyawa organik seperti fenol. Kemampuan penyerapan monosakarida dan disakarida menurun karena arang aktif menjadi jenuh oleh etanol 80%. 
Dietary fiber and carboydrate contents of gathotan and gathot as functional food for people with diabetes mellitus Sari, Puspita Mardika; Puspaningtyas, Desty Ervira; Kusuma, Rio Jati
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 5, NOMOR 2, 2017
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.894 KB) | DOI: 10.21927/ijnd.2017.5(2).88-92

Abstract

Background : Gathotan and gathot are Indonesian cassava traditional fermented food from Gunungkidul, Yogyakarta. These fermented foods may be considered as an important component of a functional-foods based diet for management of type 2 diabetes mellitus (DM). Previous study found that gathotan and gathot hadve low glycemic index (GI). Fermentation processed using fungi and bacteria hadve potency to give many beneficial effects, such as prebiotic that gives contribution on the forming of short chain fatty acid (SCFA). SCFA gives many beneficial effects on metabolism and prognosis on DM type 2. However, there have been no study on the potency of gathotan and gathot as dietary fiber sources.Objectives: This study was designed to examine carbohydrate and dietary fiber content in gathotan and gathot as functional food for people with DM.Methods: Gathotan was made by spontaneous fermentation. Gathot was made by soaking overnight of gathotan, then steaming and drying. Carbohydrates content was calculated by using “carbohydrate by diference” method. Dietary fiber content was analyzed by using enzymatic gravimetri method.Results: The highest carbohydrate content was found in cassava (81,13%), followed by gathotan (68,32%), and gathot (39,03%), respectively. The highest dietary fiber content was found in gathot (17,36%), followed by gathotan (14%), and cassava (8,61%) respectively.Conclusions: Fermentation process of cassava to be gathotan and gathot are potential to increase dietary fiber and decrease carbohydrate content. KEYWORDS: gathotan, gathot, functional food, diabetes mellitus.
Skor aktivitas prebiotik growol (makanan fermentasi tradisional dari singkong) terhadap Lactobacillus sp. dan Escherichia coli Sari, Puspita Mardika; Puspaningtyas, Desty Ervira
Ilmu Gizi Indonesia Vol 2, No 2 (2019): Februari
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.349 KB)

Abstract

Latar Belakang: Growol adalah makanan fermentasi tradisional dari singkong. Proses fermentasi diduga mampu memperbaiki karakteristik fisik tepung, meningkatkan kadar serat pangan dan kadar pati resisten. Namun demikian, potensi prebiotik dari growol terhadap perubahan bakteri saluran cerna secara in vitro belum pernah dipelajari. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi prebiotik growol terhadap bakteri saluran cerna (Lactobacillus sp. dan Escherichia coli). Metode: Bahan yang digunakan adalah tepung growol sebagai produk fermentasi, tepung singkong sebagai kontrol bahan baku, glukosa sebagai kontrol substrat pada medium mikrobiologis, serta FOS dan dekstrin sebagai kontrol positif prebiotik komersial. Growol dibuat melalui fermentasi spontan yang selanjutnya dikeringkan dan digiling hingga berukuran 60 mesh menjadi tepung growol. Pengujian in vitro dilakukan pada Lactobacillus sp. dan Escherichia coli dengan menambahkan 1% (v/v) kultur ke dalam basal MRS dan basal Nutrient Broth. Pertumbuhan bakteri diukur pada jam 0, 24 dan 48 dengan metode plate count. Skor aktivitas prebiotik dihitung berdasarkan persamaan Huebner, selanjutnya data diolah dengan uji Kruskal Wallis. Hasil: Tidak terdapat perbedaan skor aktivitas prebiotik yang signifkan baik pada jam 24 (p=0,193) maupun jam 48 (p=0,244). Namun demikian semua sampel menunjukkan skor aktivitas prebiotik positif dengan nilai skor tertinggi pada jam ke 24 adalah dextrin (0,46) diikuti FOS (0,07), growol (0,04), dan singkong (0,02). Skor tertinggi pada jam ke-48 adalah FOS (8,56) diikuti growol (1,06), dekstrin (0,61), dan singkong (0,70). Kesimpulan: Singkong maupun growol berpotensi untuk dikembangkan sebagai bahan pangan sumber prebiotik. Namun demikian, penelitian lebih lanjut terutama secara in vivo diperlukan untuk mengkaji lebih lanjut mengenai potensi prebiotik growol.