Articles

USIA DAN JENIS KELAMIN BERHUBUNGAN DENGAN TINGKAT ANSIETAS PASANGAN YANG DITINGGAL BEKERJA KELUAR NEGERI Mubin, Mohammad Fatkhul; PH, Livana; Rinawati, Fajar
Coping: Community of Publishing in Nursing Vol 7 No 3 (2019): Desember
Publisher : Program Studi Sarjana Keperawatan dan Profesi Ners, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tuntutan sosial ekonomi membuat individu tertarik untuk bekerja keluar negeri, sehingga berdampak pada pasangan yang ditinggalkan. Dampak psikologis yang dialami pasangan yang ditinggal bekerja ke luar negeri adalah ansietas. Ansietas yang dirasakan pasangan berupa rasa khawatir, takut jika terjadi sesuatu pada pasangan selama bekerja diluar negeri. Ansietas yang dialami individu dipengaruhi beberapa faktor baik faktor internal maupun eksternal. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan usia dan jenis kelamin dengan tingkat ansietas pasangan yang ditinggal bekerja keluar negeri. Penelitian kuantitatif melalui pendekatan cross sectional dengan jumlah sampel 60 responden di kabupaten Kendal. Data diambil menggunakan checklist dan wawancara yang sudah dimodifikasi dengan memakai skala Hamilton, terdiri dari 14 pertanyaan. Data dianalisis secara univariat menggunakan central tendensi dan distribusi frekuensi serta dianalisis secara bivariat mengunakan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki, berusia rata-rata 38 tahun. Hasil uji chi square menunjukkan ada hubungan antara usia dan jenis kelamin dengan tingkat ansietas pasangan yang ditinggal bekerja keluar negeri.  Kata kunci: usia, jenis kelamin, ansietas, bekerja keluar negeri   ABSTRACT Socio-economic demands make individuals interested in working abroad, thus impacting the couple left behind. The psychological impact experienced by couples who are left working abroad is anxiety. Anxiety that is felt by the couple in the form of worry, fear if something happens to the couple while working abroad. Anxiety experienced by individuals is influenced by several factors, both internal and external factors. The research aims to determine the relationship of age and sex with the level of anxiety of couples who are left working abroad. Quantitative research through a cross sectional approach with a sample of 60 respondents in Kendal district. Data was taken using a checklist and an interview that was modified using the Hamilton scale, consisting of 14 questions. Data were analyzed univariately using central tendency and frequency distribution and analyzed bivariately using the chi square test. The results showed that the majority of respondents were male, an average age of 38 years. Chi square test results show there is a relationship between age and sex with the level of anxiety of couples who are left working abroad.  Keywords: age, gender, anxiety, work abroad
GAMBARAN PERILAKU KELUARGA DAERAH RURAL DAN URBAN DALAM PENCEGAHAN KEJADIAN DEMAM BERDARAH DI DAERAH ENDEMIS DEMAM BERDARAH Rohmaniah, Anik Fiatur; Susanti, Yulia; PH, Livana
Coping: Community of Publishing in Nursing Vol 5 No 2 (2017): Agustus 2017
Publisher : Program Studi Sarjana Keperawatan dan Profesi Ners, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit   Demam   Berdarah  Dengue   (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang jumlah penderita dan  penyebarannya cenderung meningkat. Jumlah kasus DBD tercatat 49,868 kasus, dengan angka kematian sebesar 0,80%. Kejadian DBD pada daerah rural ditunjukkan dengan adanya perilaku  penyebab DBD diantaranya terdapat tumpukan sampah, menggantung pakaian di dalam kamar, tidak  menyingkirkan barang-barang bekas. Perilaku  daerah urban adanya saluran limbah  yang  tidak  dibersihkan, lahan  kosong yang  tidak dibersihkan dan  banyak  persawahan. Tujuan.  Penelitian bertujuan mengetahui gambaran perilaku  keluarga daerah rural  dan  urban   dalam pencegahan  kejadian  demam  berdarah  di  daerah  endemis.  Metoda. Metode penelitian ini menggunakan  survey deskriptif kuantitatif dan  alat ukur   menggunakan   kuesioner   yang    terdiri   68   pernyataan.   Sampel penelitian  daerah rural  309  orang   dan  daerah urban   371  orang.   Hasil penelitian  ini  didapatkan  bahwa perilaku   keluarga  di  daerah rural  baik (51,5%),   pengetahuan  baik   (59,2%),   sikap   kurang    baik   (50,8%),   dan tindakan  kurang  baik  (51,8%),  Perilaku  keluarga  di daerah urban  kurang baik  (53,4%), pengetahuan baik  (81,4%), sikap kurang  baik  (54,2%) dan tindakan baik (52,3%). Hasil. Hasil penelitian ini direkomendasikan kepada masyarakat  agar   lebih    bertanggung jawab   dalam  berperilaku  sebagai upaya  pencegahan DBD dengan selalu menerapkan 3M (Mengubur, Menguras   dan     Menutup),    menggunakan   obat     anti    nyamuk     dan pengelolaan sampah secara mandiri.   Kata kunci: perilaku, DBD, rural dan urban   ABSTRACT Dengue  Hemorrhagic Fever (DHF) is a public  health  problem in Indonesia that   the  number of  sufferers and  their  distribution  tends to  increase. Number  of dengue cases recorded 49.868 cases, with a mortality  rate  of 0.80%. Incidence of dengue in rural areas indicated by the behavior causes dengue which there  are piles of garbage, hanging clothes in the room, did not  get  rid of second-hand goods. While the  behavior of their  urban  area sewer is not cleaned, vacant land that  had not been  cleaned and the many rice  fields. The  study aims to  find a picture  of the  behavior of rural  and urban  families  in preventing  the  incidence  of  dengue in endemic  areas. This   research   method   using   descriptive   quantitative   survey   and measurement tools using a  questionnaire comprising 68  statemen. The research sample was 309  rural and  371  urban  areas. The results of this study found  that  the behavior of families in both  rural areas (51.5%), good knowledge (59.2%), a  lack  of  good  (50.8%), and  the  action is not  good (51.8%),  family  Behavior  in  poor  urban   areas (53.4%),  good   knowledge (81.4%), a  lack  of  good  (54.2%)  and  action (52.3%).  The  results of  this study recommended to people to behave more  responsibly in the effort  to prevent dengue by always applying  3M (Bury, draining  and  Closing), using anti-mosquito chemical and waste management independently.                   :   Keywords : behavior, DHF, rural and urban
PENURUNAN TINGKAT ANSIETAS MAHASISWA DALAM MENYUSUN SKRIPSI MELALUI TERAPI GENERALIS ANSIETAS PH, Livana; Susanti, Yulia; Arisanti, Dewi
Jurnal Ilmu Keperawatan Jiwa Vol 1, No 2 (2018): November
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (79.804 KB) | DOI: 10.32584/jikj.v1i2.150

Abstract

DECREASING ANSIETAS LEVELS OF STUDENTS IN PREPARING THE SKRIPSI THROUGH ANSIETAS GENERALIS THERAPY ABSTRACTWhen students make thesis, they get several problems which cause anxiety. The anxiety that not handled soon will become emotional mental problem. The way to overcome anxiety is anxiety generalist therapy. The purpose of this study was determine the affect of anxiety generalist therapy with the student anxiety levels during making thesis. The design of this study used quasi experiment one group design pretest-posttest. The sample were 68 students who divided into 2 groups, first group is the students who hadn’t proposal examination and the second group is the students who had proposal examination. The result of Mann Whitney statistic test showed p value of both group is 0,000 (p<0,05) with heavy anxiety decreasing in the group which had not proposal examination (61,7%) and the group which had proposal examination the moderate anxiety is decreased (17,6%). The result of this study showed there are affect of anxiety generalist therapy to the student anxiety levels who makes thesis in the group student who hadn’t proposal examination and already proposal examination. anxiety generalist therapy can applied as independent on the students who anxiety when makes thesis and it’s used nurses to help anxiety of patient.
GAMBARAN ANSIETAS KELUARGA SAAT MENGHADAPI KEKAMBUHAN ANGGOTA KELUARGA DENGAN PENYAKIT KRONIS PH, Livana; Ayuwatini, Sih; Sari, Rita kartika
Jurnal Ilmu Keperawatan Jiwa Vol 1, No 1 (2018): Mei
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.938 KB) | DOI: 10.32584/jikj.v1i1.34

Abstract

DETERMINE THE IMAGE OF FAMILY ANXIETY WHEN FACING THE RECURRENCE OF FAMILY MEMBERS WITH CHRONIC DISEASES  ABSTRACTChronic illness is a condition (illness) that lasts for a long time and continuously. Some chronic diseases that exist in the community such as diabetes mellitus, hypertension, etc. The aims of this study to determine the image of family anxiety when facing the recurrence of family members with chronic diseases. This research is a descriptive quantitative research, with total sample 64 respondents. The level of family anxiety was measured using an anxiety-related DASS questionnaire consisting of 14 questions. The results showed that the majority families experienced anxiety at the level of moderate anxiety. The need for family and community-based health services to improve the ability of families in overcoming anxiety so as to care for family members with chronic diseases. Keywords: Anxiety, family, chronic illness
FAKTOR- FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HIPERTENSI Sari, Rita Kartika; PH, Livana
Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal Ilmiah STIKES Kendal Vol 6 No 1 (2016): April
Publisher : LPPM STIKES KENDAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.367 KB) | DOI: 10.32583/pskm.6.1.2016.1-10

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Hipertensi merupakan meningkatnya tekanan darah sistolik lebih besar dari 140 mmHg dan atau diastolik lebih besar dari 90 mmHg pada dua kali pengukuran dengan selang waktu 5 menit dalam keadaan cukup istirahat (tenang). Banyak faktor yang mempengaruhinya seperti genetik, lingkungan, hiperaktivitas susunan saraf simpatis, sistem renin-angiotensin, defek dalam eksresi Na dan peningkatan Na dan Ca intraseluler dan faktor-faktor yang meningkatkan resiko seperti obesitas, alkohol, merokok serta polisitemia. Metode: Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor- faktor yang mempengaruhi Hipertensi. Metode penelitian ini menggunakan survey deskriptif kuantitatif. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner Sampel penelitian klien dengan hipertensi berjumlah 49 responden. Hasil: Hasil penelitian menunjukan faktor- faktor yang mempengaruhi Hipertensi diantaranya: (1)Faktor Lingkungan: kebiasaan merokok, budaya memasak gorengan dan bersantan. (2)Faktor Genetik : adanya anggota keluarga yang mengalami hipertensi. (3)Faktor Perilaku: kebiasaan merokok, tidak pernah atau tidak teratur mengkonsumsi obat anti hipertensi, kebiasaan mengkonsumsi kopi, mengkonsumsi makanan berlemak, mengkonsumsi makanan bersantan, kurangnya kebiasaan olahraga. (4)Faktor Yankes : Deteksi dini dari Fasilitas Kesehatan kurang dan masih banyak warga yang tidak mengikuti PROLANIS. Diskusi: Perlu adanya sosialisasi dan penyuluhan yang lebih lanjut antara masyarakat dan pihak yang terkait bahaya Hipertensi &nbsp; Kata kunci: Hipertensi &nbsp; THE FACTORS THAT INFLUENCE HYPERTENSION &nbsp; ABSTRACT Introduction: Hypertension is an increase in systolic blood pressure greater than 140 mmHg and / or diastolic greater than 90 mmHg in two measurements with an interval of 5 minutes in a state of rest (calm). Many influencing factors such as genetic, environmental, sympathetic nervous system hyperactivity, renin-angiotensin system, defects in Na excretion and increased intracellular Na and Ca and risk factors such as obesity, alcohol, smoking and polycythaemia. Methods: The purpose of research to determine the factors that influence Hypertension. This research method using descriptive quantitative survey. The instrument used in the form of questionnaires The sample of research clients with hypertension amounted to 49 respondents. Results: The results showed factors that influence hypertension include: (1) Environmental Factors: smoking habits, fried cooking culture and bersantan. (2) Genetic factors: the presence of family members who have hypertension. (3) Behavior Factors: smoking habits, never or irregularly taking anti-hypertensive drugs, consuming coffee, consuming fatty foods, consuming bersantan food, lack of exercise habits. (4) Yankes Factor: Early Detection of Health Facilities is lacking and there are still many people who do not follow PROLANIS. Discussion: Need for further socialization and counseling between communities and parties related to danger of hypertension &nbsp; Keywords: Hypertension
HUBUNGAN KARAKTERISTIK REMAJA, KELUARGA DAN POLA ASUH ORANGTUA DENGAN PERILAKU SEKSUAL REMAJA Mukaromah, Fitriyatul; PH, Livana; Susanti, Yulia
Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal Ilmiah STIKES Kendal Vol 5 No 2 (2015): Oktober
Publisher : LPPM STIKES KENDAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.832 KB) | DOI: 10.32583/pskm.5.2.2015.61-66

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Perilaku seksual remajamerupakan segala tingkah laku remaja yang didorong oleh hasrat seksual baik dilakukan dengan lawan jenis maupun sesama jenis. Metode: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya hubungan antara karakteristik remaja, keluarga dan pola asuh orangtua dengan perilaku seksual remaja. Penelitian ini merupakan penelitian korelasi dengan menggunakan rancangan penelitian croos sectional. Responden yang menjadi subjek penelitian ini adalah remaja dengan populasi 160 yang menjadi sampel berjumlah 125. Teknik yang digunakan teknik&nbsp; Pro portionate Stratified Random Sampling. Analisis data menggunakan univariat dan bivariat dengan Spearman dan Anova. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara karakteristik remaja (umur =p value 0,397 dan jeniskelamin= p value 732), karakteristik keluarga (tipekeluarga = p value 0,896, pekerjaan ayah = p value 0,711, penghasilan ibu = p value 0,064, pendidikan ayah = value 0,317 dan pendidikan ibu = p value 0,119) dengan perilaku seksual remaja. Sementara itu ada hubungan yang signifikan antara pekerjaan ibu (p value = 0,042), pekerjaan ayah (p value =0,026), pola asuh orang tua (p value=0,000)dengan perilaku seksual remaja. Sedangkan suku bangsa ayah dan ibu tidak dapat dikorelasikan karena semua suku bangsa Jawa. Diskusi: Hasil penelitian ini diharapkan remaja dapat bekerja sama dengan petugas kesehatan atau instansi kesehatan untuk mengadakan penyuluhan kesehatan mengenai seksualitas. &nbsp; Kata kunci: Karakteristik Remaja, Keluarga, Pola Asuh, Perilaku Seksual Remaja &nbsp; ABSTRACT Introduction: Adolescent sexual behaviour is all adolescent behaviour that is pushed by good sexual desire is done with also kind fellow. Methods: This research will aim to detects connection existence between adolescent characteristics, family and pattern brings up parents with behaviour adolescent sexual. This research is correlation watchfulness by using research plan cross sectional. Respondent that be subject this research adolescent with population 160 that is sample numbers 125. Technique that used technique proportionate stratified random sampling. Data analysis uses univariate and bivariate with Spearman and Anova. &nbsp;Results: Research result shows that there is no connection between adolescent characteristics (age =p value 0,397 and sex = p value 732, families characteristics (family type = p value 0,896, father job = p value 0,711, mother income = p value 0,064, father educations = value 0,317 and mother education = p value 0,119) with adolescent sexual behaviour. Meanwhile there connection significant between mother job (p value = 0,042, father jobs (p value =0,026, pattern brings up parents (p value=0,000) with adolescent sexual behaviour. While father tribe and mother can not correlation because all java tribe. Discussion: This research result is supposed adolescent can cooperate with well-being operator or well-being resort to hold well-being elucidation hits sexuality.&nbsp; Keywords: Adolescent characteristics, family and pattern care parents with adolescent sexual behaviour
GAMBARAN TINGKAT STRES KELUARGA LANSIA Mubin, Mohammad Fatkhul; PH, Livana; Mahmudah, Azizah Rahma
Jurnal Keperawatan Jiwa Vol 6, No 2 (2018): November 2018
Publisher : Jurnal Keperawatan Jiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Semakin meningkatnya usia harapan hidup penduduk, menyebabkan jumlah lansia terus meningkat dari tahun ketahun. Begitu juga dengan jumlah lansia diseluruh indonesia juga mengalami peningkatan tiap decade. Keluarga merupakan kesatuan dari orang-orang yang terkait dalam perkawinan, hubungan darah, adopsi dan tinggal dalam satu rumah. Adanya kejadian-kejadian yang signifikan seperti anggota keluarga yang mempunyai lansia dalam satu rumah menciptakan kondisi stres bagi keluarga yang merawatnya sehingga menjadi tuntutan yang memaksa keluarga untuk dapat beradaptasi terhadap adanya berubahan dalam segi membagi waktu untuk merawat lansia tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat stres pada keluarga yang mempunyai lansia. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, total sampel 55 responden. Penelitian dilakukan di Desa Mororejo kec. Kaliwungu menggunakan kuesioner Weber State Sniversity dan dianalisis dengan metode deskriptif presentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar keluarga mengalami tingkat stres sedang sebanyak 37 responden (67.27%) sedangkan tingkat stres berat sebanyak 8 responden (14.55%) dan tingkat stres ringan sebanyak 10 responden (18.18). Penelitian ini diharapkan keluarga dan lansia untuk lebih memaksimalkan peran sertanya didalam memberikan dukungan kepada keluarga dan lansia guna mengurangi tingkat stres keluarga yang pada akhirnya dapat tercipta kehidupan mental yang lebih sehat baik bagi keluarga maupun lansia dan Sebagai tolak ukur keluarga dalam meningkatkan pengetahuan serta ketrampilan dalam memberi perawatan aktivitas kehidupan sehari-hari. Kata kunci : Tingkat Stres, Keluarga. DESCRIPTION OF THE ELDERLY FAMILY STRESS LEVEL ABSTRACTThe family is the unity of the people involved in the marriage, blood relationship, adoption and living in one house. The presence of significant events such as family members who have elderly in a home creates stres for families who care for them so that the demands are forcing the family to be able to adapt to the berubahan in terms of allocating their time to care for the elderly. This study aims to describe the level of stress in families with elderly. This study used a descriptive exploratory method, the total sample of 55 respondents. The study was carried out in the village of Mororejo Kec. Kaliwungu used the Weber State Sniversity questionnaire and analyzed it using descriptive percentage method. The results showed that most families experienced moderate stress levels as much as 37 respondents (67.27%) while severe stress levels were 8 respondents (14.55%) and mild stress levels as many as 10 respondents (18.18). This research is expected that families and elderly people to maximize their participation in providing support to families and the elderly to reduce the level of family stress which ultimately can create a healthier mental life for both families and the elderly and as a family benchmark in increasing knowledge and skills in giving daily life care activities. Keywords: Tinhkat Stress, Family
HUBUNGAN KECEMASAN DENGAN DEPRESI PADA ANAK SEKOLAH DASAR Utami, Tantri Widyarti; Astuti, Yunani Sri; PH, Livana
Jurnal Keperawatan Vol 9 No 1 (2017): Maret
Publisher : LPPM STIKES KENDAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.358 KB) | DOI: 10.32583/keperawatan.9.1.2017.1-5

Abstract

&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; ABSTRAK Pendahuluan: Kesehatan mental merupakan hal penting dalam perkembangan anak, karena anak merupakan generasi penerus bangsa. gangguan kesehatan mental pada anak akan mempengaruhi perkembangan mental pada tahap perkembangan selanjutnya. Perkiraan jumlah anak dengan masalah kesehatan mental bervariasi sekitar 2-3% hingga 22%, angka tersebut meningkat untuk anak yang memiliki penyakit atau disabilitas (ketidakmampuan).Masalah kesehatan jiwa yang terjadi pada anak adalah Autisme, ADHD, gangguan mood, kecemasan, psikotik, depresi, phobia sosial, gangguan obsesif konvulsif, gangguan bipolar dan skizofrenia. Metode: Penelitian melibatkan 196 anak sekolah dasar menggunakan kuesioner Screen for Child Anxiety Related Disorders (SCARED) terdiri dari 41 pertanyaan dan kuesionerDepression Scale for Children (CES-DC) terdiri dari 20 pertanyaan. Hasil: Dengan menggunakan uji kai kuadrat didapatkan hasil terdapat hubungan antara kecemasan dan depresi&nbsp; anak sekolah dasar (p value ? 0,05). Diskusi: Kecemasan dan depresi merupakan masalah kesehatan jiwa pada anak sekolah sehingga perlu penanganan yang khusus baik oleh guru, orang tua maupun pelayanan kesehatan. &nbsp; Kata kunci:Kecemasan, depresi, anak sekolah dasar. &nbsp; ABSTRACT Introduction: Mental health is an important for&nbsp; child development, because child is next generation for the future, . Children's mental health disorders will be affect the next stage mental health development. Estimated Children with mental health problems Approximately 2-3% to 22%, the figure increases For Children Who has the disease or disability (disability). Mental health problems in children is autism, ADHD, mood Disorder, anxiety, psychotic, depression, social phobia, obsessive convulsive Disorders, Bipolar disorder and schizophrenia. Methods: The study involved 196 Primary School Children using questionnaires to Screen Children Related Anxiety Disorders (SCARED) consists out of 41 questions and questionnaires Child Depression Scale (CES-DC) consists of 20 questions. Results: chi-square test results are obtained Relationship anxiety and depression Primary School Children (p value ? 0.05). Discussion: Anxiety and depression are mental health problems in child school and need intervention&nbsp; by teachers, Parents and&nbsp; mental health services. &nbsp; Keywords:Children primary school, anxiety, depression.
GAMBARAN KARAKTERISTIK DAN TINGKAT ANSIETAS SUAMI ATAU ISTRI YANG DI TINGGAL PASANGANNYA BEKERJA DILUAR NEGERI PH, Livana; Mubin, M Fatkhul; Fatoni, Nur
Jurnal Keperawatan Vol 6 No 1 (2014): Maret
Publisher : LPPM STIKES KENDAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.362 KB) | DOI: 10.32583/keperawatan.6.1.2014.33-38

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Ansietas merupakan respon emosional terhadap penelitian individu yang subjektif, yang dipengaruhi alam bawah sadar dan tidak diketahui secara khusus penyebabnya. Ansietas merupakan reaksi emosional terhadap persepsi adanya bahaya, baik yang nyata maupun yang hanya dibayangkan. Ansietas yang dirasakan pada pasangannya yang ditinggal keluar negeri yaitu ansietas ringan sampai berat yang dialami oleh semua orang. Metode: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran tingkat ansietas pada suami atau istri yang ditinggal pasangannya bekerja diluar negeri Penelitian ini menggunakan desain deskriptif eksploratif. Populasi penelitian ini adalah suami atau istri yang ditinggal pasangnnya bekerja keluar negeri yang berjumlah 116 orang. &nbsp;Analisa data menggunakan analisa univariat. Hasil: Hasil penelitian menunjukan bahwa Mayoritas responden berumur 20-35 tahun, berjenis kelamin laki-laki, berpendidikan SMP, berpenghasilan sama dengan UMR Kabupaten Kendal (Rp. 904.500), dan rata-rata penghasilan responden untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mempunyai kebutuhan yang kurang sebanyak 27 orang. Mayoritas responden mengalami ansietas sedang. Diskusi: Diharapkan masyarakat tidak terlalu ansietas karena memikirkan suami atau istri yang bekerja keluar negeri, sehingga bisa bekerja dirumah untuk membantu suami/istri yang bekerja diluar negeri dan diharapakn bisa menjalin komunikasi yang baik antara suami dan istri. &nbsp; Kata kunci: Ansietas, suami atau istri, bekerja keluar negeri &nbsp; ABSTRACT Introduction: Anxiety is an emotional response to subjective individual studies, which are influenced by the unconscious and are not specifically known for their cause. Anxiety is an emotional reaction to perceptions of danger, both real and imagined. Anxiety that is felt in the partner who abandoned the country is mild to severe ansietas experienced by everyone. Methods: The purpose of this study was to determine the description of anxiety levels in husbands or wives left behind by their partners working abroad. This study used descriptive explorative design. The population of this study is a husband or wife who left pairs of work abroad, amounting to 116 people. Analysis data using univariate analysis. Results: The results showed that the majority of respondents aged 20-35 years, male sex, junior high school, earning the same as UMR Kendal Regency (Rp 904,500), and average respondents' income to meet daily needs have a need less as many as 27 people. The majority of respondents experienced moderate anxiety. Discussion It is hoped that the people will not be too anxious because they are thinking of their husbands or wives working abroad, so they can work at home to help their spouses who work overseas and are expected to establish good communication between husband and wife.&nbsp;Keywords: Anxiety, husband or wife, working abroad
KUALITAS HIDUP REMAJA PUTUS SEKOLAH Wardanii, Ice Yulia; PH, Livana; Sopha, Rahma Fadillah
Jurnal Keperawatan Vol 9 No 2 (2017): September
Publisher : LPPM STIKES KENDAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.358 KB) | DOI: 10.32583/keperawatan.9.2.2017.38-43

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Remaja merupakan masa yang menentukan kualitas hidup manusia karena pada masa ini terjadi perubahan fisik, psikologis, dan sosial yang signifikan. Remaja membutuhkan kesempatan untuk menyalurkan pergolakan jiwa akibat perubahan yang sedang terjadi. Hal ini memunculkan peranan sekolah sebagai mekanisme perlindungan dan koping efektif dalam menjaga kesehatan psikologis remaja. Kejadian putus sekolah pada akhirnya mempengaruhi munculnya berbagai masalah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas hidup remaja putus sekolah di Indonesia. Metode: Penelitian ini menggunakan metode cross sectional yang dilaksanakan di kota Bogor pada tahun 2015 dengan melibatkan 92 remaja putus sekolah yang memenuhi kriteria inklusi. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner kualitas hidup WHOQOL-BREF yang memiliki nilai reliabilitas antara 0,64 ? 0,79. Data diolah menggunakan analisis univariat untuk memperoleh gambaran kualitas hidup remaja putus sekolah. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar remaja berada dalam kategori kualitas hidup rendah. Hal ini tampak pada domain kesehatan fisik (98,9%), kesehatan psikologis (75,0%), dan lingkungan (80,4%). Diskusi: Hasil ini membuktikan bahwa salah satu atau lebih dari indikator kualitas hidup tidak dimiliki oleh remaja. Penelitian lebih lanjut tentang gambaran masing-masing komponen dalam domain kualitas hidup dibutuhkan guna mengetahui secara rinci bagian mana yang berpengaruh pada kualitas hidup. Kata kunci: Kualitas hidup, putus sekolah, remaja. &nbsp; ABSTRACT Introduction: Adolescence is a time that determines the quality of human life because at this time there are significant physical, psychological and social changes. Teenagers need the opportunity to channel the throes of the soul due to the changes that are going on. This raises the role of schools as a mechanism of protection and effective coping in maintaining the psychological health of adolescents. The dropout event ultimately affects the emergence of various problems. This study aims to determine the quality of life of teenagers dropping out of school in Indonesia. Methods: This research uses cross sectional method implemented in Bogor city in 2015 involving 92 drop out teenagers fulfilling inclusion criteria. The data were collected using a WHOQOL-BREF quality life questionnaire that has a reliability value of between 0.64 to 0.79. The data were processed using univariate analysis to obtain the quality of life of out-of-school drop-outs. Results: Research shows that most teenagers are in the category of low quality of life. This appears in the domain of physical health (98.9%), psychological health (75.0%), and environment (80.4%). Discussion: These results prove that one or more of the indicators of quality of life are not owned by adolescents. Further research on the description of each component in the domain of quality of life is needed to know in detail which parts affect the quality of life. &nbsp; Keywords: Quality of life, drop out, Teenagers.&nbsp;