Stella Tirta, Stella
Faculty of Psychology, Tarumanagara University

Published : 4 Documents
Articles

Found 4 Documents
Search

Intelligence Profile in Deliquent Adolescent (Study on Deliquent Adolescents in Correctional Institution for Male Children- Tangerang) Soetikno, Naomi; Tirta, Stella
Journal of Child Development Studies Vol 2, No 1 (2017): JOURNAL OF CHILD DEVELOPMENT STUDIES
Publisher : Department of Family and Consumer Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (407.54 KB)

Abstract

Violence perpetrated by adolescents is very related with youth psychological conditions, one of which is intelligence aspect. Intelligence is an individual potency to be able to resolve problems logically, directed, and using ways that can be accepted by the environment. Through this study, we want to get the profile of the intelligence of juvenile perpetrators of violence who are now in correctional institution. The benefit of this study is to give an informations for parents and teachers to provide an appropriate parenting and education. This is a qualitatively study from four adolescent participants who commited violent crimes, aged 15-18 years, and they are residents of correctional institution for male children in Tangerang. Participants Intelligence was evaluated using Wechsler Intelligence Scale for Children (WISC) or Wechsler Belleveu (WB), and followed with interview of all participants. The study was conducted in February 2013 to May 2013. The Results show the full IQ scores of participants were in the category of  Borderline Intellectual Functioning, with performance skills grew significantly than verbal skills. The Additional data about the participants was the participants were grew up in the families, which the parenting style of the parents or signficant persons accompanied by violence. 
PENERAPAN FORWARD CHAINING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMAKAI BAJU PADA ANAK PENYANDANG DISABILITAS INTELEKTUAL SEDANG Juandi, Natasya; Tirta, Stella
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (427.726 KB)

Abstract

Anak dengan disabilitas intelektual memiliki keterampilan bina diri yang lebih rendah dari anak seusianya. Penguasaan keterampilan bina diri, seperti keterampilan mengenakan pakaian secara mandiri merupakan komponen penting yang harus dikuasai anak untuk dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan akademik maupun kegiatan sosial. Anak dengan disabilitas intelektual seringkali mengalami kesulitan untuk menentukan bagian depan dan belakang pakaian, dan akhirnya mengenakan pakaian secara terbalik. Oleh sebab itu, diperlukan teknik modifikasi perilaku yang dapat meningkatkan kemampuan anak dengan disabilitas intelektual dalam mengenakan pakaian dengan benar. Teknik modifikasi ini akan berfokus pada pengembangan keterampilan mengenakan baju kaus. Teknik modifikasi perilaku yang diterapkan adalah forward chaining. Forward chaining membantu anak untuk belajar mengenakan baju dengan urutan yang tepat, sehingga kesalahan dalam mengenakan pakaian dapat dihindari. Setiap tahap disusun secara berurutan melalui task analysis dan diukur dalam discrete categorization. Pemberian prompt di setiap tahapannya juga mempermudah anak untuk menguasai tahapan yang diperlukan dalam mengenakan pakaian secara mandiri. Penguatan sosial yang diberikan setiap kali anak menyelesaikan satu tahapan juga memicu anak untuk menguasai tahapan-tahapan tersebut. Penelitian ini menggunakan desain kasus tunggal. Hanya ada 1 partisipan yang terlibat dalam penelitian ini. Kriteria partisipan dalam penelitian ini adalah anak usia 6-10 tahun dengan disabilitas intelektual yang masuk dalam kategori sedang. Berdasarkan hasil pengukuran baseline setelah intervensi dilakukan, ditemukan peningkatan kemampuan memakai baju kaus. Sampel dipilih dengan metode purposive sampling. Secara umum, forward chaining dapat meningkatkan keterampilan anak untuk memakai pakaian secara mandiri, namun terdapat beberapa keterbatasan anak dengan disabilitas intelektual yang perlu mendapat perhatian khusus dalam penerapan intervensi ini.
PENERAPAN GROUP ART THERAPY DALAM MENURUNKAN AGRESI REAKTIF PADA ANAK-ANAK PRASEJAHTERA Witjaksono, Agnes Melati Amelia Listyarini; Tirta, Stella
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (355.106 KB)

Abstract

Perilaku agresif adalah suatu kategori perilaku yang dapat mengancam orang lain secara fisik maupun secara verbal. Art therapy merupakan intervensi yang dapat digunakan untuk mengurangi perilaku agresif. Art therapy dapat menurunkan perilaku agresif karena art therapy merupakan sarana yang dapat dijalankan oleh anak untuk mengekspresikan kemarahannya secara aman. Anak juga dapat belajar bagaimana mengatur dan mengendalikan perasaan marahnya, sehingga tidak ditujukkan dalam bentuk perilaku agresif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seperti apakah penerapan group art therapy dengan tema anger management dalam menurunkan perilaku agresif pada anak-anak prasejahtera. Terdapat lima partisipan yang mengikuti intervensi ini. Pemeriksaan mengenai perilaku agresif setiap partisipan dilakukan melalui proses wawancara dan observasi. Jenis agresi yang ditunjukkan oleh para partisipan adalah agresi reaktif, yaitu perilaku agresif yang merupakan respons untuk melindungi diri dari suatu provokasi atau kesulitan tertentu yang disertai dengan perasaan marah. Group art therapy yang dijalankan oleh partisipan berlangsung selama 8 sesi. Evaluasi dilakukan menggunakan post-test dan pre-test Draw-A-Person Test dan Skala Perilaku Agresif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kelima partisipan mengalami penurunan skor perilaku agresif, meskipun tetap berada pada kategori perilaku agresif sedang, namun ada satu partisipan yang skornya menurun hingga masuk ke dalam kategori perilaku agresif yang rendah. Perubahan dalam tes grafis yang terjadi dapat dilihat dari perubahan gambar orang yang dibuat oleh para peserta berdasarkan ukuran, letak, bentuk, arah, dan coretan garis yang dilakukan oleh para peserta.
PENERAPAN ART THERAPY DALAM MENURUNKAN PERILAKU AGRESI PADA ANAK PERIODE MIDDLE CHILDHOOD DI PANTI ASUHAN Wijaya, Riska; Tirta, Stella
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (345.321 KB)

Abstract

Perilaku agresi merupakan perilaku baik fisik maupun verbal yang bertujuan untuk menyakiti orang lain. Beberapa metode digunakan untuk menurunkan perilaku agresi yang dilakukan anak pada periode middle childhood, misalnya dengan pendekatan perilaku. Namun, art therapy merupakan pendekatan lain yang juga dapat digunakan untuk membantu menurunkan perilaku agresi pada anak. Art therapy merupakan salah satu jenis dari berbagai jenis terapi yang melibatkan individu dalam aktivitas kreatif dalam bentuk penciptaan karya seni. Dengan art therapy, individu diharapkan dapat membentuk hubungan yang baik dengan lingkungan, mengembangkan diri sendiri dan mengurangi atau menghilangkan perasaan serta perilaku negatif yang ada pada dirinya. Dengan demikian penelitian ini bertujuan untuk melihat seperti apakah penerapan art therapy untuk menurunkan perilaku agresi anak periode middle childhood yang tinggal di panti asuhan. Desain dalam penelitian ini adalah mix method. Dilakukan pre-intervention dengan melakukan tes serta autoanamnesa. Setelah itu sesi intervensi dilakukan sebanyak 6 sesi yang dilakukan terhadap 5 partisipan yang dirujuk panti asuhan memiliki perilaku agresi yang meresahkan. Hasil intervensi menunjukkan bahwa pendekatan art therapy dapat menurunkan agresivitas pada seluruh partisipan yang mengikuti proses intervensi walaupun belum nampak perubahan secara signifikan. Kemudian terjadi perkembangan secara positif pada area lain pada kelima partisipan setelah intervensi dilakukan yaitu dalam perkembangan kepercayaan diri, kesadaran diri dan penyaluran energi/dorongan, keinginan untuk berinteraksi sosial dengan lingkungan serta kemampuan untuk berani tampil dan berdiskusi.